6:52 AM

Yang Lain, Yang Terlewatkan di Bali.



Membiarkan sekolah ini tak beratap lebih dari 8 bulan?
Aku tak sedang dalam kapasitas menyalahkan siapapun,
kau sudah tahu jawabannya,
aku sedang mempertanyakan ke-BALI-an kita?
Ketakpedulian kita?
Omong kosong kita?
Selama ini.

Akhir pekan kemarin aku pulang ke kampung halaman tercinta di Denbukit, hanya untuk melepas penat dan kerinduan setelah menghabiskan beberapa pekan terakhir dalam kekisruhan skripsi dan ujian sidang yang walaupun aku petik dengan kepuasan di akhir. Setelah melakukan beberapa survey untuk program 1kamera 1000senyum di Belandingan bersama bli Pande dan Richard Piscioneri, aku lanjutkan perjalanan di hari Sabtu itu kearah Singaraja.

Aku pulang. Menghabiskan sore itu dengan mengabadikan keindahan panorama tebing-tebing denbukit yang masih perawan belum terjamah hingar bingarnya pesta pariwisata, walaupun hanya berjarak beberapa kilometer dari pusat pariwisata Buleleng, Lovina. Entah kenapa aku selalu merasa melankolis dan romantis ketika menghabiskan detik-detik waktuku di sini, di tempat yang kusebut Rumah.

Nyanyian Jangkrink, makan malam, senda gurau,singkong rebus, sungguh menghanyutkan. Sampai pada akhrihya aku mendengar kabar dari pamanku yang seorang wartawan bahwa salah satu sekolah dasar dekat rumahku beberapa bangunanya rubuh, beliau menawariku untuk meliput kesana, sambil mengabadikan beberapa gambar, mungkin ini bisa jadi liputan jurnalistikku yang pertama, walaupun di bantu oleh paman, setidaknya kabar ini bisa ku komersilkan menjadi sebuah berita, itulah hal yang pertama kali terlintas dalam benakku.

Pagi di hari minggu, begitu cerah, kamera, pulpen dan notebook sudah kusiapkan di Tas, akupun pergi menuju SDN 4 kaliasem, salah satu sekolah paling terpencil di salah satu desa pariwisata terkenal di Buleleng. Aku tidak pernah mengharapkan akan menemukan “SDN Belandingan” yang lain di belahan bumi Bali tercinta ini, namun apa yang kujumpai disini benar-benar berhasil meruntuhkan harapanku itu.

Kondisi sebuah bangunan yang kupertanyakan kelayankannya disebut sekolah. Ini hanya 2 buah bangunan, memanjang, yang hanya terdiri dari 6 ruangan, dan 1 kamar mandi, dan bahkan kini separuh dari bangunan itu hancur rubuh entah karena usia, atau cuaca, tidak pernah terpikirkan olehku untuk bisa menerima pengetahuan di tempat yang seperti itu. Sungguh sangat pernah miris melihat mereka belajar di lapangan terbuka.. Entah jika hujan turun atau panas menyengat, masih bisakah mereka menerima pengetahuan?

Aku kagum dengan mereka, para bocah-bocah desa. Aku pernah dengar orang mengatakan, Pendidikan dan pengetahuan bisa menjadi harta yang sangat berharga melebihi apapun. Mampukah mereka mendapatkan pendidikan dan pengetahuan dengan kondisi seperti ini?. Pertanyaan demi pertanyaan terus mengalir di kepalaku. Kesempatan berbincang-bincang dengan kepala sekolah pun sedikitnya memberitahuku keadaan yang sebenarnya.

"Ruangan-ruangan ini sudah rubuh semenjak Februari lalu dik” kata beliau.

Februari? Berarti sudah 8 bulan anak-anak ini dibiarkan belajar dengan kondisi seperti di pengungsian ini. (setidaknya itu yang saya bayangkan).

“kemarin bapak ke denpasar, untungnya biaya untuk pembangunan sudah disetujui oleh pemerintah, yaah, walaupun sebenarnya secara itung-itungan kurang, mau apa lagi, ya kita kanggoin aja, kita maksimalkan dana yang ada dik, daripada tidak ada sama sekali”.

Ah, sungguh menyedihkan, dimana di satu sisi perencanaan pembangunan gedung wakil rakyat dengan Spa dan Kolam renang bisa di setujui dalam kurun waktu yang relative cepat, kenapa pembangunan fasilitas pembangun generasi depan bangsa harus memerlukan waktu sampai 8 bulan?, ironis sekali memang.

Bincang-bincang saya pun berlanjut, dan sungguh kabar yang tidak mengenakan kembali saya dapatkan. “ anak-anak disini kalo sudah tamat SD tidak melanjutkan ke SMP dik, bahkan 2 tahu terakhir satupun dari lulusan sekolah ini tidak ada yang melanjutkan ke SMP, yahh, sudah bica baca tulis, cukuplah”.

Hhhhh, sungguh, saya tidak tau harus berkomentar apa. Saya jadi membandingkan, bahkan anak-anak di SD Belandingan pun yang di atas gunung ada beberapa yang melanjutkan ke SMP, tapi SD Punggang ini yang notabene hanya berjarak beberapa kilometer dari Kawasan Lovina dengan akses yang bisa dibilang mudah, tidak ada yang melanjutkan sekolah. Saya hanya bisa menghela nafas mendengar kabar itu.

Ide untuk meng”komersil”kan cerita mereka sirna begitu saja. Hal pertama yang terbersit adalah “Anak Alam Distrik Singaraja HARUS SEGERA DIAKTIFKAN”. Setidaknya saya dan kawan kawan anak alam bisa berbuat sesuatu untuk mereka. Tempat yang saya sebut rumah, ternyata memiliki cerita yang sungguh tidak saya prediksi sama sekali.

Kakak tidak janji bisa membangun gedung sekolah yang megah untuk kalian, kakak juga ga janji akan membiayai kalian untuk melanjutkan sekolah kalian ke SMP, tapi setidaknya kakak janji, kakak akan berbuat, dan berusaha, agar kalian bisa tersenyum kembali, belajar di tempat yang layak dan mampu melanjutkan pendidikan kalian...

(sementara tahan senyummu ada, nak!)

Selamat berkarya kawan-kawan anak alam Singaraja. Selamat berkarya anak-anak muda terbaik Indonesia.


teks & pic.: dwi cahya
editor: pande putu setiawan


sekeranjang cinta.


pande & dwi
Komunitas Anak Alam
Sumbangsih kecil untuk negeri secantik Indonesia.