8:38 PM

CEPAT SEMBUH WAYAN! SENYUM ULFA!

.

"Menjadi tak dibutuhkan, terpinggirkan, terlupakan oleh orang,
Aku pikir adalah kelaparan yang lebih tinggi, kemiskinan yang lebih besar
dari tak memiliki apapun untuk dimakan."
-Mother Teresa


Malam
ini Wayan Pasek* (8th) terlihat kurang begitu bergairah. Sejak kemarin pagi ia sakit demam dan muntah-muntah. Beruntung ada Puskesmas yang memberi pengobatan gratis dan kemarin pagi Nenek Ririg membawa Wayan berobat ke puskesmas. Ia belum menyempatkan diri meminum obat generik yang diberikan dokter puskesmas. Obat generik warna-warni yang hanya dibungkus plastik bening 1/4 kilo. Pernah sekali waktu malam itu Kadek Ulfa yang sakit dan Nenek Ririg tak memiliki uang sepeserpun, namun untuk sebuah nyawa anak kecil ia memberanikan diri untuk membawa Kadek ke dokter dan bersyukur dokter tersebut masih punya hati dan mau membantu mengobati Kadek tanpa sepeser biaya pun untuk obatnya. (jika saja lebih banyak dokter yang sepertinya.)
*(wayan pasek adalah kakak kandung kadek ulfa yang sekarang sekolah kelas 1 SD)

Malam ini tak seperti malam sebelumnya, kedatanganku kembali ke rumah Kadek Ulfa ditemani oleh lebih banyak orang dan suasana di rumah ini menjadi ramai. Namun sayang aku tak membawa kamera poketku karena memori cardnya kena virus kemarin lalu dan belum sempat aku format, jadi biarkanlah hanya tulisan ini yang merekam malam yang haru itu.

"Dua tepuk tiyang jalane, gegeson tiyang mulih. suud medagang."
"mangkin tiyang polih medagang Rp. 15.000"
"Rp.10.000 anggon tiyang mayah hutang nyilih anggon modal medagang tuni semeng."
"Rp. 5.000 anggon tiyang mayah hutang meling baas ibi sanja aji Rp. 7000."
"Kari tiyang ngutang bin Rp.2000."
Nenek ririg menuturkan kepadaku hasil tentang hasil jualannya hari ini.

Ya, hari ini Nenek Ririg hanya dapat jualan Rp. 15.000 hasil dari keliling Ubud beberapa jam saja. Sakit rabun mata nenek ririg kumat. Ia lihat jalan yang ia lalui menjadi dua. Dan ia memutuskan untuk segera pulang saja bersama kadek ulfa. Dari uang hasil jualannya itu, Nenek Ririg menggunakan rp. 10.000 untuk membayar utang modal jualannya tadi pagi sementara sisanya rp. 5000 ia gunakan untuk membayar utang beli beras semalam, dan degannya kini ia hanya menyisakan sisa utang rp.2000 saja.

Seperti yang kita tahu sebelumnya bahwa nenek ririg menghidupi kedua anaknya dan kakek Adin dengan berjualan sayur keliling Ubud. Ia mendapatkan sayur mayur yang ia jual (bayam, daun jipang, daun labu, kangkung, dll) dengan cara membeli dari orang-orang kampung seharga rp.2000 / kg yang nantinya akan ia jual rp.3000 / kg kepada orang-orang yang ia temui di jalanan ubud. Dan saban hari rata-rata ia bisa membawa uang rp.30.000 itupun dengan modal rp.20.000 untuk membeli sayur-mayur di pagi hari.

Sepeninggal kedua orang tuanya, Kadek Ulfa dan Wayan pasek hanya dihidupi oleh nenek ririg. sesekali kakek Adin juga ikut membantu khususnya untuk biaya bulanan air dan listrik yang dengan sekuat tenaga ia pertahankan hanya agar tak disegel. ya, ia sangat menekankan kata itu ketika bercerita kepadaku.

"Tiyang akan lakukan apapun agar air dan listrik untuk pondok ini tak disegel"
"tanpa keduanya, apa lagi yang kami punya?"

Kakek Adin sakit-sakitan. sudah lama ia menderita penyakit ashma sehingga tak lagi bisa bekerja untuk menjadi penggarap sawah. pun juga ia tak memiliki sawah sendiri. Keseharian kakek adin beberapa tahun lalu dilakoni menjadi pemulung barang-barang bekas di seputaran ubud hingga sanggingan, memungut botol / kaleng / apa saja yang dibuang dari sisa-sisa rumah dan restoran di ubud. dengan itu ia selama ini membantu menafkahi keluarga kecilnya. Namun semenjak sakit ashmanya semakin parah, ia hanya bisa melewati keseharian dengan berada di rumah. sesekali ia pergi ke tempat sabungan ayam, memungut bulu-bulu ayam yang mati karena kalah, yang kemudian ia jual rp. 1000 / ikatnya kepada pengepul.

Dengan itu ia memberi bekal kepada Wayan Pasek ke sekolah saban hari rp.1000 rupiah sementara nenek Ririg akan menambahkan rp.2000 hingga Wayan bisa membeli nasi di sekolahnya saban pagi. Uang rp.3000 itu biasanya ia belikan nasi rp. 2000 dan rp.1000 lainnya biasanya ia belikan oreo snack favoritnya.

dan kini, pekerjaan kakek adin dilanjutkan oleh Wayan Pasek. jika ia tak sakit seperti saat ini, ia biasanya pergi keliling ke seputar desanya memungut botol-botol air mineral dan kaleng dan saban hari ia rata-rata dapat mengumpulkan 1 kresek yang kemudian ia berikan kepada kakeknya. sebuah pertautan semangat yang tak terputus. sebuah energi yang selalu menyala, dalam kegelapan.

Sementara kadek ulfa lebih senang untuk mengikuti nenek ririg kemanapun ia pergi menjajakan dagangan sayur mayurnya, dan sembari memungut bunga-bunga kamboja yang ia temui di jalan. ia memiliki ketertarikan akan bunga, dan semoga ini pertanda baik di hari-hari kehilangannya, untuk anak yang baru saja ingin mengenal hidup. sesekali jika ada uang lebih, nenek ririg membelikan ulfa nasi rp. 2000 dan sate rp. 1000 di pasar ubud.

Pernah sekali waktu orang menyodorkan uang rp.5000 untuk nenek ririg di jalan dan ia terima, namun sekalipun ia tak pernah menengadahkan tangan untuk meminta. dan sandal, sesekali kaos, pakaian untuk wayan, dan satu-satunya buku tulis yang dimiliki Wayan pasek yang aku temui di tas sekolahnya pun dapat dari sumbangan orang, tak luput tas bergambar megaloman itu. ketika aku tanya wayan

"berapa kamu memiliki baju"
"banyak" jawabnya
"darimana kamu dapat?"
"dapat dari orang" sahutnya.


Keluarga Besar

tak seperti keluarga-keluarga lainnya, pekarangan rumah nenek ririg dihuni oleh 8 kepala keluarga dengan 8 bangunan yang rata-rata hanya bertembok batako, beberapa yang di cat sudah tampak sangat usang. 8 keponakan kakek adin bekerja menjadi buruh pembuat ukiran bingkai kayu ala bali.

Lantai pekarangan masih berupa tanah, dan sebagian besar keluarga menggunakan tungku api untuk keperluan memasak sehari-hari. selain menjual sayur keliling, nenek ririg saban sore pergi ke sawah dan ladang untuk mencari ranting-ranting kayu, sesekali pergi ke para pembuat figura kayu yang banyak tersebar di kampungnya dan memungut kayu-kayu sisa untuk ia jadikan kayu bakar.

Dapur nenek ririg tak bisa saya tuliskan dengan kata-kata yang baik. saya sendiri malu untuk menuliskannya. malu membayangkan bahwasanya di ubud masih ada dapur seperti itu. bak kamar mandi bekas yang tak berisi air. lantai semen tak terurus dan berserak kayu. tembok legam karena asap kayu bakar.

Dalam keseharian mereka makan dengan standar lauk tempe tahu, sementara karena kasihan kepada Kadek Ulfa nenek ririg membeli ayam kepada penjual daging yang sering lewat ke kampungnya rp.2000. terkadang nenek ririg juga membeli sayur-sayuran yang sudah jadi ketika ia tak sempat memasakkan lauk untuk cucu-cucunya.

Hari ini aku ditemani Nenek Ririg, Kadek Ulfa, Wayan Pasek, Kakek Adin lengkap. ada serta juga Nenek Lemeh saudara kakek adin dan anaknya Made Candra beserta dua cucunya. di dekapan nenek Lemeh ada seorang cucunya yang gagu Wayan Werdi yang ketika umur 4 tahun kala itu, demam tinggi hingga step dan semenjak saat itu ia menjadi gagu. namun secara fisik ia tumbuh seperti normal, seumuran ia yang kini 12 tahun, dan ketika ia bicara saja ia akan tampak cacat. Ia mencoba berbicara walau dengan sangaaaaaattttt lamban. namun aku masih mengerti kata-kata yang ia ucapkan.

Ketika ditanya ayahnya bekerja dimana, ia menunjukkan kaos hitam bertuliskan I LOVE BALI DOG tempat dimana ayahnya bekerja. ia menarik kaosnya bagian depan dan menunjukkannya kepadaku. sementara ibunya Wayan Candri lumpuh setengah badan saat punya anak ke dua karena stroke. kini anak keduanya telah berumur 2 tahun.


Sepeda Butut

malam ini tak tampak sepeda butut Wayan Pasek di kamar kakek adin yang kemarin lalu ada tergeletak. ternyata kakek adin membawakan sepeda cucunya itu ke bengkel sepeda dekat rumahnya. namun apa lacur, sepeda itu sudah tak bisa lagi debetulkan. tak pelak sepeda itu dititipkan saja di bengkel. tak memilih untuk dibawa kembali pulang. sementara kadek ulfa tak mau kalah dengan kakaknya ingin menunjukkan sepedanya kepadaku. namun apa yang ia tunjukkan kepadaku malam itu, tak lebih dari 'rongsokan' sepeda anak yang roda belakang kanannya telah patah.

dan diantara beberapa sumbangan dari teman-teman yang aku bawakan malam itu kepada mereka, Wayan Pasek paling suka topi plastik motif bola-bola yang berisi kaca mata itu.

"saya akan bawa ke sekolah."
"saya akan bawa mencari botol"
kilahnya.

sementara kadek ulfa tak mau lepas dari satu tas kertas yang berisi beberapa potong pakaian bekas layak pakai berwarna warni sumbangan dari kawan-kawan kita di sekolah perancis kerobokan yang kala itu dititipkan kepadaku. aku titip pesan untuk mencucinya terlebih dahulu sebelum digunakan.

tak terasa sudah jam 8 malam. aku tak mau mengganggu istirahat keluarga mereka lebih lama. namun mereka serempak berucap "tidak kok. pak putu tak mengganggu malam kami. malah kami yang harusnya berkata sebaliknya, kami yang telah mengambil waktu istirahat pak putu".


pande
pagi ini 10:00am

terimakasih tak terperi kalam.
keluarga ini pantas untuk kita temani. hingga panjang.
download flier kadek ulfa: http://www.ziddu.com/download/14655232/KADEKULFADEWIYANTI.pdf.html

12:51 AM

Ketakpedulain kita yang kronis.


untuk Kadek Ulfa

ketut rigin

ada yang berlebihan. ada yang kekurangan.
ada yang kehilangan. ada hati.
kenapa kita tak saling memberi?

Senja yang bening. Cuma 2 kilometer dari pusat Ubud, hidup berjalan sangat pelan. Kehidupan disini mengingatkanku tentang romansa Bali ketika aku masih sangat kecil dulu. Lugu. Bangau putih beterbangan kembali pulang ke sarang memberi anak-anak makan, sementara penduduk kampung baru pulang dari pesawahan sambil mejunjung sekeranjang rumput di atas kepala.

Sementara tak jauh dari desa lengang ini, waktu berlari, membalap apa saja, berjalan cepat di Ubud. Turis-turis berlalu lalang di jalan monkey forest, butik-butik sibuk, restoran-restoran sibuk, hotel dan villa di pinggir jurang dan sawah bersolek.

Sore ini, barangkali ini adalah hari pertamaaku bisa melihat wajah Tuhan secara langsung di rumah berlantai tanah milik seorang nenek tua. Tuhan yang tersenyum melalui seorang nenek yang berlarian tersengal-sengal dari kejauhan ingin segera bertatap muka denganku. Tuhan yang tersenyum lewat bibir seorang anak perempuan kecil yang ketika pertama kali aku temui kemarin lalu berwajah sangat datar. Tuhan yang tersenyum lagi melalui seorang kakek yang menyusul duduk dan nimbrung bersama kami yang tiba-tiba bertanya dengan kerasnya, “Bapak dariamana?” Tuhan yang hingga aku pulang tak bisa aku beri nama.

Pertemuanku pertama kali dengan Kadek Ulfa dan neneknya kala itu terjadi tak sengaja (atau barangkali Tuhan menjadikannya sengaja....?) ketika aku baru berangkat kerja dan berpapasan dengan seorang anak kecil di genggaman tangannya membawa plastik bening berisi bunga kamboja menemani neneknya bergegas pulang di trotoar jalan Dewi Sita. Aku tak kuasa menahan laju motorku terhenti. Pengennya sih hanya mengambil foto saja dan bertegur sapa, namun perkenalan itu memberi aku lebih dari apa yang aku bayangkan, sebuah cerita haru. kehilangan. Pertemuan pertama itu aku janji akan dilanjutkan pertemuan-pertemuan berikutnya, tentu kali nanti mengunjungi mereka ke rumahnya di Petulu Gunung sana.

“Adan tiyange Ketut rurug. Kurenan tiyange ketut Adin. Niki cucun tiyange Kadek ulfa dewiyanti. Bapane sampun ten kari. adan bapane wayan wenten. umah tiyange di Petutu gunung dajan bale banjar, ring sisin margi ring kanan wenten dagang rujak. ten joh uling rika....." nenek tua itu menceritakan jati dirinya kepadaku.

*terjemahan bebas: Rumah saya di sebelah utara Balai Banjar. Jika melihat ada penjual rujak di sebelah kanan, masuk ke timur disitu rumah saya. Nama saya………………, nama suami saya……………., nama anak ini Kadek Ulfa Dwi Yanti, nama bapaknya yang sudah meninggal. Nama ibunya”

Sore ini aku memiliki waktu luang dan memutuskan untuk mengunjungi mereka. "Setelah melewati pelang selamat datang di wisata kokokan selamat datang di petulu gunung. terus saja maka kau akan menemui balai banjar petulu gunung di sebelah kiri jalan. dan sekali lagi sesui dengan petunjuk nenek rurug, cari pedagang rujak di sebelah kanan maka tanya saja disana, rumah nenek rurug tak jauh dari situ."

dan pedagang rujak ini adalah warung rujak pertama yang aku temui setelah melewati balai banjar. tampak 2 orang anak sedang menunggu pesanannya, dan seorang anak perempuan yang lain berbaju pink yang ternyata adalah penjual rujaknya. aku menghentikan motorku di pinggir jalan persis di sebelah warung rujak itu.

"Gek, mau tanya dimana rumahnya Kadek Ulfa ya.....?" sembari aku menunjukkan foto anak itu yang masih tersimpan dalam kamera sakuku.

"Oh,.... ini pak. ini kok rumahnya. tinggal naik aja, terus lurus yang paling ujung itu rumah kadek ulfa" perempuan kecil itu menunjuk tangga berundak tinggi yang menuju ke sekumpulan rumah berjejeran. sepasang anjing warna hitam datang ke gerbang dan mulai menyalak melihat orang asing yang bertandang. terpaksa deh anak penjual rujak itu yang menghantarkanku masuk menuju rumah itu....... (trims ya dik....)

melewati lorong jalan tanah, di kanan kiri penghuni rumah sedang melakukan aktifitasnya masing-masing. di pekarangan itu ada sekitar 5 rumah yang berdiri sendiri, dan rumah kadek ulfa adalah yang ke 6 dan berada paling ujung, di teba begitu orang bali menyebutnya.

rumah-rumah ini sekali lagi mengingatkanku akan rumah kakek-nenekku dulu. hampir sama persis. bayangkan? itu sudah beberapa puluh tahun yang lalu, dan hari ini, disini memori itu live. dua anjing hitam itu masih menyalak. aku berjalan sembari sesekali berhenti ketika anjing itu mendekat. penghuni rumah-rumah itu membantuku mengusir anjing-anjing itu hingga diam. dan aku tiba di ujung rumah. sebuah rumah batako, sepi, dan TV samsung flat (yang belakangan aku tahu hasil sumbangan) hidup di teras semen itu tanpa ada yang menonton.

tak lama berselang tampak seorang lelaki muda separuh baya membuka pintu dan menghampiri aku dengan senyum. huh... syukur dengan senyum....

"Pak, saya mau bertemu dengan kadek ulfa."
"saya dari yayasan." bohongin dikit aja... hehe....
bapak itu sumringah dan mempersilakan aku duduk dengan terlebih dahulu membukan gulungan karpet hijau dan menggelarnya di atas lantai yang hanya plesteran tersebut.

(jangan berharap kamu akan disuguhkan kopi untuk kunjunganmu, hehe... jangan sama sekali. untuk makan sendiri aja mereka masih mikir...)

"oh, kadek ulfanya lagi keluar bersama neneknya" lelaki itu menimpali. kemudian, seorang nenek lain yang tinggal di rumah yang ada di depan bergegas, mengambil inisiatif untuk mencarikan nenek rugig dan kadek ulfa.

tak lama berselang, wajah nenek tua namun penuh semangat itu muncul. dengan bersengal-sengal ia berlari, diikuti kadek ulfa, dan diikuti kakeknya menuju rumahnya yang disana telah ada aku sebentar menunggu. tak tampak kakak lelaki Ulfa, karena ia sedang bermain entah kemana.

suasana sore itu sangat berbeda dengan pertemuan kami kali pertama di jalan raya. kadek Ulfa menyungging senyum. aku suka. setidaknya tidak datar seperti kala itu. neneknya menyapa aku dan tak sangka kakeknya juga ikut malahan kakeknya yang menjadi jubir sore itu.

"Pak putu dari mana?"
"Pak putu kerja dimana?"
"Siapa orang tuanya pak putu?"
bergegas mengambil akte perkawinan almarhum dan almarhumah ayah&ibu kadek ulfa dengan bersemangat ia menunjukkan wajah kedua orang tua ulfa.
"yah, barangkali kelak akta ini pak putu butuhkan" imbuhnya.

"ya pak. kemarin lalu ketika itu saya bertemu dengan ulfa dan neneknya saat pulang jualan sayur di ubud"
"saya jajnji akan datang dan berkunjung ke sini, kapan saja saya ada waktu dan teman-teman saya menyumbang."
"saya bukan orang kaya pak. namun banyak teman-teman saya yang barangkali bisa membantu"
"ini saya kirimkan, kemarin itu setelah fotonya ulfa saya kirim ke internet ada yang menyumbang untuk ulfa dan nenek. tapi alakadarnya ya pak. 50 ribu, atau seratus ribu atau berapa aja, mohon dimaklumi."

kakek itu merapikan duduknya, "wah pak putu, jangan bicara seperti itu. apa saja bantuan yang kami terima kami pantas syukuri. sungguh kami sangat kekurangan, jadi kedatangan pak putu sore itu kami sangat senang...."

*

Beginilah jika bisa digambarkan kehidupan mereka sehari-hari. Kakek dari kadek Ulfa yang sudah lama tak bisa bertani lagi karena sakit batuk, kedua orang tua yang sudah meninggal, seorang kakak yang sedang duduk di kelas 2 SD, dan neneknya adalah satu-satunya orang yang masih bisa mencari penghasilan.

Nah sekarang masalahnya seberapa besar penghasilannya? saban siang sampai sore mencari sayur-sayuran yang bisa dijual, kemudian ia akan jual keesokan harinya berkeliling Ubud. masalah yang lain muncul karena, hari gini, siapa juga yang mau membeli sayur-sayuran semacam daun labu yang nenek itu bawa keliling setiap hari. dan sampai di sini aku tak bisa menemukan jawaban bagaimana cara mereka makan jika pas kebetulan satu hari nenek ulfa tak dapat jualan sama sekali.

Maka jangan tanya lagi yang lain, memperbaiki rumah, dapur, membeli boneka, membeli sepeda, apalagi makan enak. jangan pernah. makan untuk empat orang yang tinggal di rumah sangat sederhana itu seperti sebuah game; kadang menang dan sering kali kalah.

Semenjak pertemuan yang tak sengajaku dengan Ulfa ketika itu dan aku mengirimkan foto-foto mereka lewat FB, telah ada 2 diantara 3.000.000 - an penduduk bali yang peduli. Mereka adalah 2 perempuan berhati baja. Hanya Aung San Suu Kyii dan Mother Teresa yang memiliki kualitas ini. Mereka berdua adalah Sang Ayu dan Gek Nanda. Mereka, aku tahu bukanlah orang-orang sangat kaya, namun mereka pastilah orang-orang yang berhati KAYA.

Kemana jutaan orang-orang Bali yang lain sembunyi????

Ini waktunya kalian, SEKARANG!

Pande
siang ini
ubud

Foto-foto selengkapnya....