2:30 AM

MEMBERI TANPA MEMBUNUH JIWA!




Pernahkah Anda mengalami satu kejadian yang membuat Anda dongkol, karena orang yang Anda bantu akhirnya kerap kali mendatangi Anda, orang yang sama, tidak pernah ada  perubahan dalam hidupnya. Pernahkan Anda memberi sesuatu yang menurut Anda itu baik, namun pada akhirnya kekacauan yang terjadi.

Seorang berkewarganegaraan Singapore memiliki anak asuh, perempuan cantik berumur 5 tahun bernama Intan. Orang tua Intan bekerja sebagai buruh di suatu hotel kelas Melati 3 di sebuah desa parawisata.  Intan anak yang cukup cerdas dan memiliki talenta, disekolahkan di sekolah internasional ternama tidak jauh dari tempat mereka tinggal, oleh orang tua Singapore nya. Apa yang Anda lihat dari fenomena ini? Pernahkah terbayangkan bagaimana perasaan orang tua Intan ketika ia harus menghadiri rapat orang tua. Sadarkah bahwa Intan kelak akan merasakan kesenjangan sosial dalam lingkungan pergaulannya. Apakah  akan ada perasaan malu  dan rendah diri ketika Intan memperkenalkan orang tuanya kepada teman-temannya kelak. Sadarkah bahwa bukan hanya Intan yang perlu bimbingan dalam tugas-tugas sekolahnya. Dibutuhkan bimbingan bagi orang tuanya yang tidak memiliki kapasitas untuk memahami sistem maupun situasi lingkungan sosial yang bukan dari kalangannya. Apa salahnya dengan sekolah negeri?

Tini, adalah orang tua tunggal dengan dua anak. Tini tidak memiliki pekerjaan tetap, namun ia memiliki banyak talenta dan sangat mudah bergaul, sehingga dengan kemampuan yang ia miliki ia dapat mencari pekerjaan yang cukup layak dengan sangat mudah. Kenyataannya tidaklah demikian, ia memilih jalan yang cukup meresikokan dirinya maupun kedua anaknya. Tini menjual kesusahannya kepada teman-temannya yang berlebih secara financial, dan Tini seringkali mendapatkan bantuan yang tidak sedikit, baik itu secara financial maupun karir, dari orang disekelilingnya. Sekian banyak suport yang ia terima tidak membuatnya dan kedua anaknya hidup lebih baik. Ada yang salah dari orang-orang di sekelilingnya, mereka gagal melihat bahwa yang mereka bantu bukanlah orang yang tepat, karena Tini tidak mampu mengolah semua pemberian yang ia dapatkan sehingga selalu dalam keadaan kekurangan. Orang-orang disekelilingnya merasa telah membuang garam ke lautan.

Cerita di atas hanyalah sebagian kecil contoh “salah memberi”.  Ada cerita menarik dari salah satu rekan aktivis yang mendirikan LSM yang berfokus memperjuangkan persamaan kesempatan bagi masyarakat yang termarjinalisasi. Ia memaparkan informasi kepada saya bahwa ternyata kemiskinan telah dikapling kapling oleh banyak LSM baik itu dalam dan luar negeri. Hm, apa maksudnya? Mereka telah menjual kemiskinan, dan saya baru tahu bahwa saat ini kemiskinan dapat dijadikan komoditi untuk dijual kepada CSR perusahaan besar, pemerintah negara asing, ataupun individu yang sangat dermawan.  LSM seperti ini berjuang untuk kepentingan pribadi, mengeruk keuntungan. Dampak buruk yang dirasakan adalah ketika masyarakat yang dibantu oleh LSM gadungan tersebut mengalami kerusakan mental. Bangga akan kemiskinannya dan merasa harus terus diberi, tak ada upaya untuk memajukan diri.

Hal lain yang saya perhatikan ketika saya terlibat dalam berbagai kegiatan sosial adalah jenis sumbangan buku, pakaian dan mainan anak. Buku adalah jendela dunia, tidak salah. Dapatkan Anda memahami bahwa kemampuan orang untuk menerima informasi sangat bervariasi? Informasi seperti apa yang layak dibagi kepada mereka yang tinggal di pedesaan yang miskin atau di pedalaman yang masih murni dan jauh dari dunia kapitalis? Mereka perlu buku-buku pengetahuan yang dapat membantu mereka memahami keadaan dan keluar dari kebodohan, bukan buku-buku yang menstimulasi keinginan yang tidak dapat mereka capai. Apa jadinya bagi Ulil, anak perempuan berumur lima tahun, berasal dari Indonesia bagian Timur dengan rambut keriting kecil-kecil dan kulit hitam manis ketika membaca buku Barbie, yang disebut cantik karena memiliki warna kulit terang, berambut lurus berbibir tipis. Akankah konsepsi Ulil tentang dirinya yang cantik alami terancam? Banyak Ulil dewasa yang  menghabiskan uang ratusan ribu rupiah untuk rebonding.  Dan ini kenyataan bahwa informasi, belum tentu dapat diolah dengan semestinya bagi kebanyakan orang.

Pakaian sumbangan diberikan secara acak, ada pakaian cantik diantaranya. Diberikan kepada seorang anak perempuan saja, karena memang hanya ada satu. Kecemburuan sosial yang tidak sengaja terbentuk. Membentuk harapan dalam diri anak-anak lain untuk mendapatkan barang yang sama bagusnya. Begitu pula mainan anak. Apa salahnya mengajarkan mereka membuat kereta dari kulit semangka? Mainan anak yang membuat mereka lebih menyatu dengan alam dan lingkungan tenpat mereka tinggal harus menjadi prioritas.

Maka, memberilah dengan tepat, pahamilah bahwa apa yang Anda beri tidak lebih dari bekal memperbaiki kehidupan secara mandiri dan pahamilah bahwa memberi harus sesuai dengan kemampuan menerima yang diberi bantuan.  Memberi pun bukan hal yang mudah, alih-alih berderma, Anda secara tidak sadar telah membunuh karakter mereka.  Yang harus dipahami adalah bahwa kita harus pandai menempatkan diri pada posisi orang lain

Saring, dan sederhanakan! Kami menunggu kamu, dalam pemberian!
Salam anak alam,


by: ananta/kalam


9:31 PM

Gerakan 1.000.000 Alat Tulis Untuk Anak Indonesia


Dunia pendidikan di Bali, selain memiliki prestasi nasional, di lain sisi dihantui oleh ribuan anak-anak putus sekolah. Tahun lalu sejumlah 1.315 anak putus sekolah dicatat oleh Disdikpora, tersebar di seluruh kabupaten di Bali. Sungguh ironis. Sementara Bali dikenal dengan predikat Pulau Wisata Terbaik di Dunia oleh salah satu majalah wisata.
Lebih buruk lagi, selain lokasi sekolah yang jauh, kondisi ekonomi keluarga yang kurang mampu, edukasi orang tua yang rendah, banyak diantara mereka yang masih minum air hujan, sakit kulit, sarana dan prasarana sekolah minim, tak memiliki seragam sekolah, tak beralas kaki, seperti apa yang terjadi pada anak-anak di Balik Bukit Kintamani, Kab, Bangli.
Bermula di tahun 2006 di desa Belandingan, Kintamani, Komunitas Anak Alam telah bahu-membahu, menjadi gerakan masyarakat yang dimotori kaum muda, mendedikasikan penuh kegiatannya mengirimkan buku, seragam, beasiswa, pakaian bekas layak pakai, alat-alat tulis, susu, dll, membantu mereka agar mendapatkan kembali hak-haknya, pendidikan yang baik dan kehidupan yang lebih layak.
Program terbaru Anak Alam Gerakan 1.000.000 Alat Tulis Untuk Anak Indonesia, - yang termotivasi oleh 1.315 anak putu sekolah tadi.
Bahwasanya mimpi kami agar kelak tak ada lagi anak-anak yang kehilangan haknya. Untuk bergabung dengan kegiatan ini mudah. Silahkan mengumpulkan buku tulis, alat-alat tulis, baju seragam, sepatu bekas, dll untuk bersama kita kirimkan kepada anak-anak kurang mampu di pelosok bali.
Kini waktunya kita terlibat…

Info:
HP: 0817265028
PIN: 28AE83F5
Fb: Komunitas Anak Alam
Twitter: @anak_alam
Alamat pengiriman bantuan: Jl, Kenyeri Gang Abimanyu no. 1 Denpasar, Bali
9:22 PM

1000 School Uniforms for 1000 Less Fortunate Indonesian Students

 

















FOR IMMEDIATE RELEASE:

On August 17th, bridges Bali, in support of “Komunitas Anak Alam” (The Community of the Children of Nature) will host a special Independence Day fundraising exhibition of photography taken by the children of the community as well as a knitting project. It is a day of fun, music and dance by the children; great Indonesian food served buffet style at the front entrance of bridges, and much more. Also, everyone is invited to drop clothing, blankets, toys, etc. It is an occasion to make a difference.

Komunitas Anak Alam is supported by a community that consists of Balinese, Indonesian and International volunteers who are empowering youth through community development, the protection of the environment and social projects for the education of children especially those living in the more remote villages of Bali. ‘Every step is a small step toward creating opportunities for many of these children especially in the disadvantaged Kintamani area to continue their education’, said Pande Putu Setiawan, initiator of the program.

One of the current goals is to be able to donate school uniforms to 1000 of these children whose families cannot even afford their basic school needs. The photography and knitting projects are designed for empowering the local children. All proceeds from their work will benefit the support in purchasing 1,000 uniforms and on that day, a percentage of the food and drink sales at bridges will be donated to Komunitas Anak Alam.

‘BRIDGING FOR THE LESS FORTUNATE’ has helped different organizations to raise funds for their project; it is bridges Bali’s way to give back to the community.

More Information:
Contact Hani
E. marketing@bridgesbali.com
T. 361.970095