8:36 PM

Anak Alam Bali

(dikirim oleh Ibu Lia Johan melalui email ke alamat email saya.
pada hari Pendidikan Nasiona 2 Mei 2009).


video

Terimakasih untuk Tati, Lorraine (teman baru dari Melbourne-Australia), Pande, Jro, Gde, ibu Ni Wyn Kartini, bpk Mantri, bapak kepala desa Blandingan, bpk I. Kt. Sidin, S.Pd, bpk I. Md. Sujendra guru di SDN Blandingan, kec. Kintamani, kab. Bangli, dan terakhir tentu tak bias saya lupakan teman baru dari Jakarta, Susi.



Cuaca hari ini begitu cerah. Kami beruntung. Perjalanan menuju desa Songan Kintamani, mengunjungi proyek ANAK ALAM langsung ditemani pendirinya PANDE PUTU SETIAWAN, menjadi perjalanan yang sangat menyenangkan untuk jarak tempuh 2 jam dari Denpasar.

Pemandangan batu lava di sepanjang jalan, danau Batur dan gunung Batur yang elok di kejauhan, sungguh merupakan hadiah yang sangat mengesankan pagi ini. The mystical hidden valley, ... wow. Thank GOD!.

Akhirnya kami sampai di rumah orang tua Pande dan bertemu ibu Kartini and Pak Nyoman Sadia yang biasa disapa pak Mantri (beliau adalah pensiunan Kepala Puskesmas Pembantu IV Kintamani - dan pernah menjadi paramedis teladan Bali 1983). Rehat sejenak, kemudian sesaat kami berjalan melewati perkebunan bawang untuk melihat-lihat danau. Mereka memberi tahu saya, bahwa beberapa tahun lalu pesisir danau ini sangat bersih, masih berupa pasir hitam halus, tak seperti saat ini, berlumpur. Banyak sampah saya lihat, khususnya plastik bekas kemasan pestisida yang digunakan para petani setempat. ... Lol….

Puas memandang pemandangan danau yang indah, kemudian kami harus menuju desa Blandingan yang berlokasi di utara bukit, menggunakan sepeda motor dalam jalan menanjak yang hanya cukup untuk satu mobil saja, dan berliku-liku (membayangkan bagaimana nantinya bakalan turun, huh….). Berselang 15 menit perjalanan, akhirnya kami sampai juga di salah satu desa di gugusan bintang danu tersebut. Pertama kami menuju Kantor Kepala Desa Blandingan, kemudian dilanjutkan ke wantilan, dan berakhir di SDN Blandingan.

Setelah sejenak merapikan beberapa bungkus plastik sumbangan pakaian bekas, buku bekas dan alat-alat tulis yang kami bawa, kami memasuki ruangan guru, kami bertemu dengan para pengajar (kebetulan kepala sekolahnya sedang ada urusan luar). Pande mulai memperkenalkan kami kepada mereka, dan menceritakan beberapa program ANAK ALAM, diikuti dengan pemutaran DVD foto klip Anak Alam (sebuah dokumentasi foto yang ternyata sudah diambil oleh Pande selama 2 tahun dan tanpa mereka ketahui.. surprise…) kemudian dilanjutkan pemutaran film ANAK RIMBA Butet Manurung sahabat karibnya.

Dan pada akhirnya, kita membicarakan kegiatan-kegiatan yang ingin kami lakukan untuk anak-anak di Blandingan.

Kegiatan paling dekat adalah kunjungan 24 anak-anak Sekolah Dyatmika di Denpasar pada tanggal 14 Mei. Pande berencana menunjukkan DVD itu kepada anak-anak (membayangkan bagaimana bakalan ekspresi mereka...).

Lalu hal yang paling menarik dari diskusi yang pada akhirnya mencair itu adalah:
1. Masalah terbesar mereka adalah AIR.
2. Re: anak-anak, masih banyak tantangan, ketika orang tua mereka menaruh pendidikan sebagai prioritas kedua setelah membantu mereka bekerja di ladang-ladang pertanian,. (tomat, bawang, cabai, kol dan yang lainnya).
3. Re: KF program (Keaksaraan Fungsional), mereka membutuhkan dukungan pemerintah dalam pendanaan (insentif untuk memacu mereka datang ke sekolah, 3 kali seminggu masing-masing dua jam.) Selain itu, banyak diantaranya adalah orang dewasa, dimana mereka juga memiliki kewajiban lain yang harus mereka lakukan, yang pada umumnya adalah urusan ekonomi keluarga.

Berita baiknya adalah, akan ada angkatan pertama yang terdiri dari 40 anak mengikuti KEJAR paket B (sejajar dengan SMP) yang akan menyelesaikan program tersebut, dan akan mengikuti UAN pada bulan Juni ini, untuk kemudian melanjutkan kejar paket C (sejajar dengan SMA).

Menurut pak Ketut Sidin - koordinator sekaligus pengajarnya - pendanaan insentif program tersebut telah dihentikan entah karena apa. Saat ini pemerintah hanya mendanai buku dan transport.

Biaya yang dibutuhkan hanya Rp. 25.000 per bulan per orang. Dengan kondisi perekonomian saat ini, mereka tentu mereka menbutuhkan bantuan insentif ini agar masih bisa menghidupi diri!

Hal menarik lainnya yang juga merupakan bagian terbaik dan paling menginspirasi adalah, cerita bapak Made Sujendra (Sujin). Pada tahun 1953-1954 ia sekolah di SR (Sekolah Rakyat) di Bangli. Ia tak melanjutkan sekolah lagi hanya sampai pada tingkat 4, sementara salah satu teman sekelasnya saat itu, saat ini menjabat kepala LPM (Lembaga Pengembangan Masyarakat) UNUD: prof. Tegeh Suryadi.

Ia kemudian mulai membangun desanya, dimulai dengan ikut mengerjakan pembangunan gedung sekolah di desa Pinggan. Setelah itu ia memiliki ide untuk kemudian membangun sekolah di desanya sendiri Blandingan, mengajukan ke UPTD (Unit Penghubung Tingkat Dasar), kemudian Camat, dan Kadis Pendidikan Kabupaten Bangli.

Ia pun pada akhirnya kemudian diikutkan dalam pembangunan sekolah yang kami kunjungi saat ini. Bagi kamiIa adalah Pahlawana Pendidikan dari Blandingan. Selain itu, ia juga turut serta dalam pembangunan jaringan listrik dan jalan yang pada akhirnya men jangkau desanya saat ini. Ia adalah seorang LEGENDA HIDUP!

Inspirasinya adalah:

Jika pak Made Sujendra yang tak seberuntung kita dan hanya menyelesaikan pendidikan sampai kelas 4 SR saja MAMPU memberikan kontribusi membuat pendidikan bisa tersedia bagi anak-anak di desa-desa seperti Blandingan, Apa yang kita (yang beruntung memiliki akses pendidikan yang lebih tinggi) telah kerjakan?... Tentu, semua dari kita BERTANGGUNGJAWAB, dan ini adalah WAKTUNYA KITA, SEKARANG!



Lia Johan
Human Resources consultant, education observer and supporter.
Living in Denpasar Bali since June 2004.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT