12:51 AM

Ketakpedulain kita yang kronis.


untuk Kadek Ulfa

ketut rigin

ada yang berlebihan. ada yang kekurangan.
ada yang kehilangan. ada hati.
kenapa kita tak saling memberi?

Senja yang bening. Cuma 2 kilometer dari pusat Ubud, hidup berjalan sangat pelan. Kehidupan disini mengingatkanku tentang romansa Bali ketika aku masih sangat kecil dulu. Lugu. Bangau putih beterbangan kembali pulang ke sarang memberi anak-anak makan, sementara penduduk kampung baru pulang dari pesawahan sambil mejunjung sekeranjang rumput di atas kepala.

Sementara tak jauh dari desa lengang ini, waktu berlari, membalap apa saja, berjalan cepat di Ubud. Turis-turis berlalu lalang di jalan monkey forest, butik-butik sibuk, restoran-restoran sibuk, hotel dan villa di pinggir jurang dan sawah bersolek.

Sore ini, barangkali ini adalah hari pertamaaku bisa melihat wajah Tuhan secara langsung di rumah berlantai tanah milik seorang nenek tua. Tuhan yang tersenyum melalui seorang nenek yang berlarian tersengal-sengal dari kejauhan ingin segera bertatap muka denganku. Tuhan yang tersenyum lewat bibir seorang anak perempuan kecil yang ketika pertama kali aku temui kemarin lalu berwajah sangat datar. Tuhan yang tersenyum lagi melalui seorang kakek yang menyusul duduk dan nimbrung bersama kami yang tiba-tiba bertanya dengan kerasnya, “Bapak dariamana?” Tuhan yang hingga aku pulang tak bisa aku beri nama.

Pertemuanku pertama kali dengan Kadek Ulfa dan neneknya kala itu terjadi tak sengaja (atau barangkali Tuhan menjadikannya sengaja....?) ketika aku baru berangkat kerja dan berpapasan dengan seorang anak kecil di genggaman tangannya membawa plastik bening berisi bunga kamboja menemani neneknya bergegas pulang di trotoar jalan Dewi Sita. Aku tak kuasa menahan laju motorku terhenti. Pengennya sih hanya mengambil foto saja dan bertegur sapa, namun perkenalan itu memberi aku lebih dari apa yang aku bayangkan, sebuah cerita haru. kehilangan. Pertemuan pertama itu aku janji akan dilanjutkan pertemuan-pertemuan berikutnya, tentu kali nanti mengunjungi mereka ke rumahnya di Petulu Gunung sana.

“Adan tiyange Ketut rurug. Kurenan tiyange ketut Adin. Niki cucun tiyange Kadek ulfa dewiyanti. Bapane sampun ten kari. adan bapane wayan wenten. umah tiyange di Petutu gunung dajan bale banjar, ring sisin margi ring kanan wenten dagang rujak. ten joh uling rika....." nenek tua itu menceritakan jati dirinya kepadaku.

*terjemahan bebas: Rumah saya di sebelah utara Balai Banjar. Jika melihat ada penjual rujak di sebelah kanan, masuk ke timur disitu rumah saya. Nama saya………………, nama suami saya……………., nama anak ini Kadek Ulfa Dwi Yanti, nama bapaknya yang sudah meninggal. Nama ibunya”

Sore ini aku memiliki waktu luang dan memutuskan untuk mengunjungi mereka. "Setelah melewati pelang selamat datang di wisata kokokan selamat datang di petulu gunung. terus saja maka kau akan menemui balai banjar petulu gunung di sebelah kiri jalan. dan sekali lagi sesui dengan petunjuk nenek rurug, cari pedagang rujak di sebelah kanan maka tanya saja disana, rumah nenek rurug tak jauh dari situ."

dan pedagang rujak ini adalah warung rujak pertama yang aku temui setelah melewati balai banjar. tampak 2 orang anak sedang menunggu pesanannya, dan seorang anak perempuan yang lain berbaju pink yang ternyata adalah penjual rujaknya. aku menghentikan motorku di pinggir jalan persis di sebelah warung rujak itu.

"Gek, mau tanya dimana rumahnya Kadek Ulfa ya.....?" sembari aku menunjukkan foto anak itu yang masih tersimpan dalam kamera sakuku.

"Oh,.... ini pak. ini kok rumahnya. tinggal naik aja, terus lurus yang paling ujung itu rumah kadek ulfa" perempuan kecil itu menunjuk tangga berundak tinggi yang menuju ke sekumpulan rumah berjejeran. sepasang anjing warna hitam datang ke gerbang dan mulai menyalak melihat orang asing yang bertandang. terpaksa deh anak penjual rujak itu yang menghantarkanku masuk menuju rumah itu....... (trims ya dik....)

melewati lorong jalan tanah, di kanan kiri penghuni rumah sedang melakukan aktifitasnya masing-masing. di pekarangan itu ada sekitar 5 rumah yang berdiri sendiri, dan rumah kadek ulfa adalah yang ke 6 dan berada paling ujung, di teba begitu orang bali menyebutnya.

rumah-rumah ini sekali lagi mengingatkanku akan rumah kakek-nenekku dulu. hampir sama persis. bayangkan? itu sudah beberapa puluh tahun yang lalu, dan hari ini, disini memori itu live. dua anjing hitam itu masih menyalak. aku berjalan sembari sesekali berhenti ketika anjing itu mendekat. penghuni rumah-rumah itu membantuku mengusir anjing-anjing itu hingga diam. dan aku tiba di ujung rumah. sebuah rumah batako, sepi, dan TV samsung flat (yang belakangan aku tahu hasil sumbangan) hidup di teras semen itu tanpa ada yang menonton.

tak lama berselang tampak seorang lelaki muda separuh baya membuka pintu dan menghampiri aku dengan senyum. huh... syukur dengan senyum....

"Pak, saya mau bertemu dengan kadek ulfa."
"saya dari yayasan." bohongin dikit aja... hehe....
bapak itu sumringah dan mempersilakan aku duduk dengan terlebih dahulu membukan gulungan karpet hijau dan menggelarnya di atas lantai yang hanya plesteran tersebut.

(jangan berharap kamu akan disuguhkan kopi untuk kunjunganmu, hehe... jangan sama sekali. untuk makan sendiri aja mereka masih mikir...)

"oh, kadek ulfanya lagi keluar bersama neneknya" lelaki itu menimpali. kemudian, seorang nenek lain yang tinggal di rumah yang ada di depan bergegas, mengambil inisiatif untuk mencarikan nenek rugig dan kadek ulfa.

tak lama berselang, wajah nenek tua namun penuh semangat itu muncul. dengan bersengal-sengal ia berlari, diikuti kadek ulfa, dan diikuti kakeknya menuju rumahnya yang disana telah ada aku sebentar menunggu. tak tampak kakak lelaki Ulfa, karena ia sedang bermain entah kemana.

suasana sore itu sangat berbeda dengan pertemuan kami kali pertama di jalan raya. kadek Ulfa menyungging senyum. aku suka. setidaknya tidak datar seperti kala itu. neneknya menyapa aku dan tak sangka kakeknya juga ikut malahan kakeknya yang menjadi jubir sore itu.

"Pak putu dari mana?"
"Pak putu kerja dimana?"
"Siapa orang tuanya pak putu?"
bergegas mengambil akte perkawinan almarhum dan almarhumah ayah&ibu kadek ulfa dengan bersemangat ia menunjukkan wajah kedua orang tua ulfa.
"yah, barangkali kelak akta ini pak putu butuhkan" imbuhnya.

"ya pak. kemarin lalu ketika itu saya bertemu dengan ulfa dan neneknya saat pulang jualan sayur di ubud"
"saya jajnji akan datang dan berkunjung ke sini, kapan saja saya ada waktu dan teman-teman saya menyumbang."
"saya bukan orang kaya pak. namun banyak teman-teman saya yang barangkali bisa membantu"
"ini saya kirimkan, kemarin itu setelah fotonya ulfa saya kirim ke internet ada yang menyumbang untuk ulfa dan nenek. tapi alakadarnya ya pak. 50 ribu, atau seratus ribu atau berapa aja, mohon dimaklumi."

kakek itu merapikan duduknya, "wah pak putu, jangan bicara seperti itu. apa saja bantuan yang kami terima kami pantas syukuri. sungguh kami sangat kekurangan, jadi kedatangan pak putu sore itu kami sangat senang...."

*

Beginilah jika bisa digambarkan kehidupan mereka sehari-hari. Kakek dari kadek Ulfa yang sudah lama tak bisa bertani lagi karena sakit batuk, kedua orang tua yang sudah meninggal, seorang kakak yang sedang duduk di kelas 2 SD, dan neneknya adalah satu-satunya orang yang masih bisa mencari penghasilan.

Nah sekarang masalahnya seberapa besar penghasilannya? saban siang sampai sore mencari sayur-sayuran yang bisa dijual, kemudian ia akan jual keesokan harinya berkeliling Ubud. masalah yang lain muncul karena, hari gini, siapa juga yang mau membeli sayur-sayuran semacam daun labu yang nenek itu bawa keliling setiap hari. dan sampai di sini aku tak bisa menemukan jawaban bagaimana cara mereka makan jika pas kebetulan satu hari nenek ulfa tak dapat jualan sama sekali.

Maka jangan tanya lagi yang lain, memperbaiki rumah, dapur, membeli boneka, membeli sepeda, apalagi makan enak. jangan pernah. makan untuk empat orang yang tinggal di rumah sangat sederhana itu seperti sebuah game; kadang menang dan sering kali kalah.

Semenjak pertemuan yang tak sengajaku dengan Ulfa ketika itu dan aku mengirimkan foto-foto mereka lewat FB, telah ada 2 diantara 3.000.000 - an penduduk bali yang peduli. Mereka adalah 2 perempuan berhati baja. Hanya Aung San Suu Kyii dan Mother Teresa yang memiliki kualitas ini. Mereka berdua adalah Sang Ayu dan Gek Nanda. Mereka, aku tahu bukanlah orang-orang sangat kaya, namun mereka pastilah orang-orang yang berhati KAYA.

Kemana jutaan orang-orang Bali yang lain sembunyi????

Ini waktunya kalian, SEKARANG!

Pande
siang ini
ubud

Foto-foto selengkapnya....

0 comments:

Post a Comment