9:35 AM

Kawan Anak Alam: 'muda beda dan berbahaya!'

Eunice Olsen (lahir 24 Oktober 1977), sebaga mantan pemenang Miss Singapore Universe 2000, saat ini adalah anggota parlemen termuda Singapura. Ia adalah pembawa acara TV terkenal “Wheel of Fortune” versi Singapura. Ia juga tampil dalam drama TV “A Child’s Hope.”

Pada saat berumur 27 tahun, November 2004, ia dinobatkan menjadi salah satu dari sembilan Nominated Member of parliament (NMP) Singapura, dan menjadikannya anggota parlemen termuda Singapura. Ia selalu menyuarakan isu-isu anak muda. Ia secara aktif menjadi sukarelawan sebuah lembaga nirlaba untuk masalah perempuan dan anak-anak korban masalah keluarga.

Baru-baru ini ia dipilih menjadi salah satu world's most beautiful women in politics and government." dalam sebuah polling yang dilakukan oleh The Strait Times.

Februari 2008, dalam pertemuan 14th ASEAN youth Day meeting and Youth Day Award di Vientiane - Laos, saya memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya.



Rehat dari presentasi dan kegiatan lain selama 3 hari, kami memiliki waktu melepas malam bersama-sama. Eunice adalah seorang wanita 'evercharming', tak lepas dari senyum dan bersahaja. Bersama kawan-kawan muda ASEAN yang lain, kami menikmati makanan khas Laos di sebuah resto klasik di tengah kota Vientiane, menghabiskan waktu berbagi cerita, cinderamata, sampai lewat tengah malam. Keesokan paginya kami harus berpisah untuk kembali pulang.

Hari ini, menginjakkan kaki dan menghirup udara disini - di negeri ini, kami baru saja memulai langkah.
Tentu kalian telah menjadi pupuk yang membuat pucuk-pucuk muda mimpi ini selalu tumbuh.

Untuk negri ini,
kami pulang untuk MEMBERI,
karena kalau bukan kita SIAPA LAGI?

Oya,....
Kalau saja Eunice di Indonesia, pastilah ia memilih menjadi artis sinetron saja!
He...he......!


Bravo Eunice!
Bravo anak-anak muda giat Indonesia!



Salam anak alam,
Pande Putu Setiawan
Ketua Komunitas Anak Alam Indonesia
email: pande@anakalam.org

link: www.anakalam.org
www.komunitasanakalam.blogspot.com

JOIN US!

more Eunice:

9:33 AM

an amazing productive saturday

This is a glimpse of the Balinese children story lived in rural underdeveloped village, who never see outside world, and never taste the tourism impact. This story sent to me by Lia Johan, Human Resources consultant, living in Denpasar Bali , who one day has visiting my project and see the children with her colleagues.

Amazing Productive Saturday

(Lia Johan, on National Education Day : 2009, 2nd of May).

Thanks to Tati, Lorraine (new friend from Melbourne-Australia, Pande, Jro, Gde, ibu Ni Wyn Kartini, bpk Mantri, bpk head of village of Songan, bpk I. Kt. Sidin, S.Pd, bpk I. Md. Sujendra teachers of SDN Blandingan, kec. Kintamani, kab. Bangli, last but not least my new friend from Jakarta, Susi.

In this clear weather Saturday, we went to Songan village in Kintamani, visiting the project of ANAK ALAM as introduced by PANDE PUTU SETIAWAN, the founder.

On the way there, we saw the amazing beautiful scenery of Mount and Lake Batur. The mystical hidden valley, ... wow. Thank GOD!.

First we went to the residence house of Anak Alam (that unfortunately owned by the parents of Pande). We meet ibu Kartini and bapak Nyoman Sadia so called pak Mantri (he is the awarded the most dedicated nurse in Bali 1983 and now he has retired). Then we walked through shallot plants to visit the Lake. They told us that 3 years ago, they could see the sand on the lake side, but not longer like that. Lots of garbage, especially plastic and pesticide container used in the plantation.

Then we had to ride motorbike on the steep 1 car fit zig zag road (imagine the returning way down, huh......). It took 15 minutes to go up the we arrived at Blandingan village on the top of the hill. 1st we visit the Kantor Kepala Desa (head of the village office), then the Blandingan elementary school, and finally the wantilan (hall).

We take time a bit to take a deep breath, preparing our donation that is used clothes, books, sandals, etc. on plastic bags before we get in. In the school office, we met the teachers. Pande started to indrocing us to the teachers, followed by watching their VCD (photo documentary involving the Blandingan school students, taken since 2 years ago... surprise..), then another inspiring documentary ANAK RIMBA from his fellow Butet Manurung teaching in the Suku Anak Dalam, Sumatera.

At the end, we had a discussion with the leaders there, re: what this organization will do for the school in the future.

The nearest project will be the visit from 24 elementary student of Dyatmika School in Denpasar on May 14th. Pande plan to show the VCD to the students (wondering how their expressions will be....).

Then the most interesting discussion was then lively and naturally held:

1. Their major problem is about WATER.
2. Re: the students, there is still a challenge, since the parents put aside education as 2nd priority after the demand to help them working in the garden (tomato, chilli, cabbage, shallot and many more).
3. Re: KF program (Keaksaraan Fungsional/ functional literary), they require govt. Support (in funding) especially for students' incentive (to motivate them to attend the class, 3 times per week 2 hours each. Besides, most of them are adults with their own duties and responsibilities, mainly economic/financial.

The good news is that there will be the 1st batch of about 40 student of KEJAR B package (equal to SMP/Jr. High School) completed the program, and will take the exam in June, to continue to KEJAR C package (equal to SMA/ Sr. High School).

According to pak Ketut Sidin, the coordinator and teacher himself, the program funding stopped after 6 months. The government only paid for the tutor's books and transport. But they never paid for the incentive money promised for the participants.

The cost need to be paid is only IDR 25,000 per month per person. But due to bad economic condition, they need support.

Another interesting and also the best part and inspiring, is the story of bapak Made Sujendra (Sujin). In 1953-1954 he studied in SR (Sekolah Rakyat/ Public School) in Bangli. He quit from grade 4th, while his classmate at that time becoming the head of LPM (Lembaga Pengembangan Masyarakat/ Society Development Institution) UNUD: prof. Tegeh Suryadi.

It started when he was involved in building the school in Pinggan, then he initiatively brought his idea to build a school in Blandingan, proppsed to UPTD (Unit Penghubung Tingkat Dasar), then Camat/ head of village, ministry of Education Bangli region.

He then be involved in building the school we visited today. He is the Education hero from Blandingan. Additional to that, he involved in making the road development and electricity available in the village. Such a LIVING LEGEND..

The inspiration is that:

If pak Made Sujendra who was unfortunate by only completed his 4th grade CAN contribute in making the education available for a village like Songan and Blandingan. What we (who are fortunate to have access to higher education) have done?...
Each of us is RESPONSIBLE, and it's OUR TIME, NOW!.


Salam,
Pande Putu Setiawan
Founder & Chairman
Komunitas Anak Alam (Children of Nature Community)
Bali - Indonesia
Ph. +62 817 265028
email: pande@anakalam.org / samsarik@yahoo.com


*note:

anak = children
alam = nature

Unfortunately our website is still in Bahasa indonesia, and still try hard to make an English edition of it. But as an insight you could see:

www.anakalam.org

this is the only English website that we have. This is a trekking we made, to supporting Anak Alam project : www.mysticalhiddenvalley.c
om
9:32 AM

Suatu Hari dalam Hidup

Teman-teman tercinta,

Sekelumit cerita berikut adalah potret nyata anak-anak Bali. Di tengah gemerlap kehidupan pariwisata di “Pulau Wisata Terbaik di Dunia” ini, anak-anak ini tak pernah melihat dunia luar, dan terus berjuang mendapatkan hak hidup mereka yang lebih layak.

“Sabtu Paling Produktif Seumur Hidupku!”

Ditulis oleh: Ibu Lia Johan
pada tanggal 2 Mei 2009, saat hari pendidikan nasional.

Terimakasih untuk Tati, Lorraine (teman baru dari Melbourne-Australia), Pande, Jro, Gde, ibu Ni Wyn Kartini, bpk Mantri, bapak kepala desa Blandingan, bpk I. Kt. Sidin, S.Pd, bpk I. Md. Sujendra guru di SDN Blandingan, kec. Kintamani, kab. Bangli, dan terakhir tentu tak bias saya lupakan teman baru dari Jakarta, Susi.


Cuaca hari ini begitu cerah. Kami beruntung. Perjalanan menuju desa Songan Kintamani, mengunjungi proyek ANAK ALAM ditemani pendirinya PANDE PUTU SETIAWAN, menjadi perjalanan yang sangat menyenangkan untuk jarak tempuh 2 jam dari Denpasar.

Pemandangan batu lava di sepanjang jalan, danau Batur dan gunung Batur yang elok di kejauhan, sungguh merupakan hadiah yang sangat mengesankan pagi ini. Really the mystical hidden valley, ... wow. Thanks GOD!.

Akhirnya kami sampai di residensi Anak Alam (kebetulan rumah milik orang tua Pande) bertemu ibu Kartini and Pak Nyoman Sadia yang biasa disapa pak Mantri (beliau adalah pensiunan Kepala Puskesmas Pembantu IV Kintamani - dan adalah paramedis teladan Bali 1983). Rehat sejenak, kemudian sesaat kami berjalan melewati perkebunan bawang untuk melihat-lihat danau. Mereka memberi tahu saya, bahwa beberapa tahun lalu pesisir danau ini sangat bersih, masih berupa pasir hitam halus, tak seperti saat ini, berlumpur. Banyak sampah saya lihat, khususnya plastik bekas kemasan pestisida yang digunakan para petani setempat. ... Lol….

Puas memandang pemandangan danau yang indah, kemudian kami menuju desa Blandingan lokasi proyek Rumah Baca Anak Alam yang berlokasi di utara bukit, menggunakan sepeda motor dalam jalan menanjak yang hanya cukup untuk satu mobil saja, dan berliku-liku (membayangkan bagaimana nantinya bakalan turun, huh….). Berselang 15 menit perjalanan, akhirnya kami sampai juga. Pertama kami menuju Kantor Kepala Desa Blandingan, kemudian dilanjutkan ke wantilan, dan berakhir di SDN Blandingan.

Setelah sejenak merapikan beberapa bungkus plastik sumbangan pakaian bekas, buku bekas dan alat-alat tulis yang kami bawa, kami memasuki ruangan guru, kami bertemu dengan para pengajar (kebetulan kepala sekolahnya sedang ada urusan luar). Pande mulai memperkenalkan kami kepada mereka, dan menceritakan beberapa program ANAK ALAM, diikuti dengan pemutaran DVD foto klip Anak Alam (sebuah dokumentasi foto yang ternyata sudah diambil oleh Pande selama 2 tahun dan tanpa mereka ketahui.. surprise…) kemudian dilanjutkan pemutaran film ANAK RIMBA Butet Manurung sahabat karibnya.

Dan pada akhirnya, kita membicarakan kegiatan-kegiatan yang ingin kami lakukan untuk anak-anak di Blandingan.

Kegiatan paling dekat adalah kunjungan 24 anak-anak Sekolah Dyatmika Denpasar pada tanggal 14 Mei. Pande berencana menunjukkan DVD itu kepada anak-anak (membayangkan bagaimana bakalan ekspresi mereka...).

Lalu hal yang paling menarik dari diskusi yang pada akhirnya mencair itu adalah:
1. Masalah terbesar mereka adalah AIR.
2. Re: anak-anak, masih banyak tantangan, ketika orang tua mereka menaruh pendidikan sebagai prioritas kedua setelah membantu mereka bekerja di ladang-ladang pertanian,. (tomat, bawang, cabai, kol dan yang lainnya).
3. Re: KF program (Keaksaraan Fungsional), mereka membutuhkan dukungan pemerintah dalam pendanaan (insentif untuk memacu mereka datang ke sekolah, 3 kali seminggu masing-masing dua jam.) Selain itu, banyak diantaranya adalah orang dewasa, dimana mereka juga memiliki kewajiban lain yang harus mereka lakukan, yang pada umumnya adalah urusan ekonomi keluarga.

Berita baiknya adalah, akan ada angkatan pertama yang terdiri dari 40 anak mengikuti KEJAR paket B (sejajar dengan SMP) yang akan menyelesaikan program tersebut, dan akan mengikuti UAN pada bulan Juni ini, untuk kemudian melanjutkan kejar paket C (sejajar dengan SMA).

Menurut pak Ketut Sidin - koordinator sekaligus pengajarnya - pendanaan insentif program tersebut telah dihentikan entah karena apa. Saat ini pemerintah hanya mendanai buku dan transport.

Biaya yang dibutuhkan hanya Rp. 25.000 per bulan per orang. Dengan kondisi perekonomian saat ini, mereka tentu mereka menbutuhkan bantuan insentif ini agar masih bisa menghidupi diri!

Hal menarik lainnya yang juga merupakan bagian terbaik dan paling menginspirasi adalah, cerita bapak Made Sujendra (Sujin). Pada tahun 1953-1954 ia sekolah di SR (Sekolah Rakyat) di Bangli. Ia tak melanjutkan sekolah lagi hanya sampai pada tingkat 4, sementara salah satu teman sekelasnya saat itu, saat ini menjabat kepala LPM (Lembaga Pengembangan Masyarakat) UNUD: prof. Tegeh Suryadi.

Ia kemudian mulai membangun desanya, dimulai dengan ikut mengerjakan pembangunan gedung sekolah di desa Pinggan. Setelah itu ia memiliki ide untuk kemudian membangun sekolah di desanya sendiri Blandingan, mengajukan ke UPTD (Unit Penghubung Tingkat Dasar), kemudian Camat, dan Kadis Pendidikan Kabupaten Bangli.

Ia pun pada akhirnya kemudian diikutkan dalam pembangunan sekolah yang kami kunjungi saat ini. Bagi kamiIa adalah Pahlawana Pendidikan dari Blandingan. Selain itu, ia juga turut serta dalam pembangunan jaringan listrik dan jalan yang pada akhirnya men jangkau desanya saat ini. Ia adalah seorang LEGENDA HIDUP!

Inspirasinya adalah:

Jika pak Made Sujendra yang tak seberuntung kita dan hanya menyelesaikan pendidikan sampai kelas 4 SR saja MAMPU memberikan kontribusi membuat pendidikan bisa tersedia bagi anak-anak di desa-desa seperti Blandingan, Apa yang kita (yang beruntung memiliki akses pendidikan yang lebih tinggi) telah kerjakan?... Tentu, semua dari kita BERTANGGUNGJAWAB , dan ini adalah WAKTUNYA KITA, SEKARANG!


Oleh: Lia Johan
Human Resources consultant, education observer and supporter.
Living in Denpasar Bali since June 2004.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Pande Putu Setiawan: Pendiri dan Ketua Komunitas Anak Alam Indonesia bersama Butet Manurung: Pendiri dan pengajar Sokola Rimba, penerima penghargaan Heroes of Asia.
9:14 AM

Leadership Training: 'melompat lebih tinggi!'

INVITATION (FREE)

dear kawan-kawan anak alam,
anak-anak 'muda' berdedikasi Indonesia.


Mencetak pemimpin-pemimpin muda masa depan telah menjadi komitmen kuat komunitas anak alam. Pemimpin yang baik adalah ia yang mencetak pemimpin yang jauh lebih hebat dari dirinya. Guru yang baik akan mencetak murid yang lebih pintar dari dirinya.

Saat ini ada beberapa institusi ingin bekerjasama dengan komunitas anak alam dalam kegiatannya. Dan kebetulan kali ini great people education memiliki misi yang sama dengan kami dalam hal pemberian pelatihan kepemimpinan khususnya untuk anak-anak muda. Maka kegiatan ini kami sisipkan untuk memulai tahun 2010-2011 anak alam.

Tujuan dari pelatihan ini adalah memotivasi para pelajar dan mahasiswa, karyawan dan profesional guna mendorong dan memaksimalkan potensi kecerdasan dan keahliannya.

Untuk itu, saya mengundang seluruh KAWAN ANAK ALAM dalam kegiatan: pelatihan kepemimpinan untuk anak muda (pelajar, mahasiswa, umum) dengan tema 'GOING TO THE HIGHEST LEVEL memaksimalkan potensi diri dan kepemimpinan anda.'

ACARA: LEADERSHIP TRAINING WITH MARTIN REMMERT
HARI/TANGGAL: JUMAT, 12 MARET 2010 (hari ini)
WAKTU: 18:00 - SELESAI
TEMPAT: T.B. TOGA MAS, WANTILAN MUSEUM SIDIK JARI, JL. HAYAM WURUK 175 DENPASAR
BIAYA: (FREE) KHUSUS KAWAN ANAK ALAM

pakaian: bebas.

Sampai bertemu nanti malam seperti biasa dengan SENYUM :)




cinta,
pande
KOMUNITAS ANAK ALAM
info: 0817 265028
9:12 AM

Beri aku elang!


"bawakan aku elang,
bukan bebek!"

-pande


Dan hari ini aku benar-benar sedang menguji teori Thomas Alfa Edisson salah satu role modelku itu. Seperti yang ia pernah ucap (entah benar atau gak): 'cobalah sekali lagi saja niscaya kau akan menemukan keberuntunganmu....'. Ketika itu Edisson telah mencoba 2.999 kali percobaan dan kehilangan seluruh teman profesor lain -yang ikut meneliti dan ingin menemukan lampu pijar bersama dengannya- menyerah karena mendapatkan penelitian dan percobaan yang mereka lakukan tampak mustahil bin tak mungkin.

Namun keberuntungan itu muncul. hah,... akhirnya pada percobaan ke 3.000 ia menemukan lampu pijar. EUREKA! Dan seperti yang kalian semua tahu, hari ini penemuannya selalu menemani malam-malam kita di rumah, di jalan raya, begitu juga malam-malam ribuan milyar manusia yang menghuni bumi ini di belahan bumi lain. Satu orang, dengan satu usaha lagi, memberi perbedaan besar.

Hari ini lampu di seputar jl. hayam wuruk mati, barangkali ada pemadaman bergilir (tentu tak ada hubungannya dengan teori Edisson diatas.) Dengan terpkasa LEADERSHIP TRAINING 'melompat lebih tinggi' pak martin harus dipindahkan ke daerah renon di sebuah tempat di jl Tukad Unda. Karena aku harus pulang sejenak mengambil HP yang ketinggalan, ibu Martin memberiku alamat tempat tersebut, dan aku akan menyusulnya segera.

Alih-alih mau datang tepat waktu, sebagai contoh leader yang baik :), aku muter-muter bilangan renon hampir setengah jam untuk mencari alamat yang diberikan, Jl. tukad Unda VII no. (x) sementara lokasi tempat itu yang betul adalah Jl. Tukad Unda VIII no. (x). aku jadi tampak idiot, bagaimana mau disandingkan dengan Edisson? Nyari alamat satu saja sudah mau menyerah!

Mau muter 2.999 kali juga aku tak kan menemukan alamat yang diberikan kepadaku. Ya jelas, alamat itu salah! Jujur kesabaranku sudah hampir habis dan seperti Edisson kali ini aku biarkan untuk menyisakan satu usaha lagi. Iseng coba lewat Jl Tukad Unda VIII eh tanpa sengaja tempat itu ketemu, walau dengan keringat yang sudah mengucur deras ditambah badan yang mulai semriwing karena sedikit flu. aku akhirnya tiba di tempat pelatihan kita. jelas lega.

Usaha ini ternyata tak sia-sia. Pelatihan baru saja dimulai. Ini adalah pelatihan kepemimpinan. Saban hari kami melakukan tindakan apa yang disebut pak martin sebagai sebuah kepemimpinan itu, namun baru kali ini kepemimpinan itu 'ditelanjangi' dalam kata-kata, bukan tindakan. Walau menurutku 'action speak louder than words' tapi tetap teori ini aku butuhkan agar esok aku bisa membagikannya kepada kalian semua. Keringat tadi terbayarkan oleh materi pelatihan yang menarik.

Sayang karena mungkin masalah skedul yang terlalu mepet dan barangkali karena 'kepemimpinan' adalah hal yang tak kawan-kawan butuhkan, yang datang pada pelatihan ini cuma beberapa puluh orang saja. Tapi, bukankah selama ini orang-orang seperti itu yang merubah dunia??? the show must go on bro....

Semua dari kita dilahirkan menjadi seorang pemimpin. Yah, setidaknya menjadi pemimpin untuk diri sendiri. semua dari kita diberikan kesempatan untuk terbang, namun tak semua memilih untuk terbang. (lebih suka memotong sayap dan merangkak.) Semua dari kita di'halal'kan untuk bermimpi, namun sebagian dari kita memilih untuk "tak usah mimpi tinggi aja, nanti jatuhnya sakit!"

Sekali lagi hidup adalah PILIHAN bro, bukan kesempatan. pilihanmu menentukan jalan yang akan kau lewati. jalan yang kau lewati adalah penunjuk arah, tempat yang kau ingin capai. (pikirkan sekali lagi jalan itu, agar kau dapat apa yang terbaik yang kau bisa dapat.)

nah, sekarang jika kau telah tentukan arah, siapkan mentalmu dengan keyakinan penuh. Seekor elang akan menjelajah jauh! Ia akan menjelajah...

Kau adalah perahu bro. kita. Perahu yang bersandar memang aman dari hempasan badai, tapi bukan untuk itu perahu dibuat. Ia dibuat untuk berlayar. Ada pulau lain untuk dijelajahi. Ada puncak gunung untuk didaki. Hingga kau bisa membuka lebih lebar bingkai pikiranmu, horizon mata hatimu, melihat sesuatu dari tempat yang lebih tinggi, hingga jelas kau tahu ada lembah-lembah lain di balik pinggang gunung.

Dan hanya saat berani merentangkan sayap, kau tahu seberapa jauh kau bisa terbang bukan?

bersiaplah! rentangkan LAYAR. ujung ufuk sudah berona jingga. ini pagi. bangun!



"berikan aku 1000 orang tua niscaya aku akan cerabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 orang pemuda, niscaya akan aku guncang DUNIA."
-Soekarno


sampai bertemu dengan pelatihan YOUNG LEADER berikutnya: 'muda, beda dan berbahaya!'



cinta,
Pande
dps,
mar 13th 2010