10:43 PM

Para Pembuat Sejarah. Penulis Legenda Pribadi. Para Kalam.




“bebaskan dirimu dari bermental budak. tak ada orang lain yang bisa membebaskan pikiran kita sendiri selain diri sendiri .”
redemption song - bob Marley


Organisasi ini ada tentu atas sebuah ideal dan pesan yang jelas. Ia bukan kumpulan para budak. tapi para pembuat sejarah. inilah kalian. inilah kita. kita bukan bukan pohon bambu yang bimbang terbawa angin. tapi tunas yang tumbuh karena riang mencari mentari, lalu berbunga, berbuah dan membiarkan buah itu menjadi kerja dan pemberian kita. memiliki jati diri.

Kalianlah kaum muda yang nanti menentukan masa depan pulau kecil ini. Tentu negri cantik Indonesia. tentu juga masa depan anak-anak kita, dedaun hijau yang baru saja tumbuh. Untuk itu kita bekerja. Bukan untuk kemahsyuran. atau melakukan segala cara agar dikenal sebagai pekerja sosial, haus pujian, haus apresiasi orang, haus juara ini dan itu. Bekerja, berdedikasi, itu jauh lebih penting. Facebook hanyalah media. Blog hanyalah media. Project-project hanyalah media. Yang nyata adalah: siapa ANDA! Apa yang kalian kerjakan. Itu jauh lebih esensial.

Bukan material yang kalian gunakan dalam bekerja sosial yang lebih penting, namun pemahaman, passion, jati diri, kesahajaan, jauh lebih penting. Itulah kita. Bayangkan jika kita memiliki banyak material dan dana namun nggak memiliki pemahaman, keinginan, dan hati yang berapi, maka itu hanya akan menjadi pemanis bibir a.k.a gincu. dan kerja kita akan kehilangan warna yang harusnya mendasarinya.

Bayangkan jika nyanyi di panggung dan lip sync. Terdengar indah namun sama sekali tak esensial. tak penting. mengejar kesenangan pasar. namun memungkiri diri. pikirkanlah proses yang harus kalian lalui. bukan sedari awal bermimpi hanya hasil. kau dilihat dari hal-hal kecil yang kau kerjakan dan percaya dengannya.

Kemudian bayangkan suatu ketika kita mau bekerja sosial dan tak membawa material kerja apapun untuknya -selain diri kita sendiri-. bahkan alam di seputar kitapun bisa menjadi alat jika kita datang dengan hati yang paham dan sadar atas definisi pekerja sosial. untuk sebuah tujuan. untuk sebuah pemberian.

Itu akar kita. Itu nafas kita. sahaja saja. kita bukan untuk mencetak para penakut. pengecut. selebritis. idol. bukan. tapi ia yang memiliki pemahaman, kesadaran, yang sederhana. sesederhana mentari pagi di timur. bukan seglamour namun selelah mentari di barat. ini GENERASI kita. Ini waktunya kita.

Kita tlah lama mabuk. Kita tlah lama terlelap. Kita tlah lama dibuai mimpi. Pulau kecil ini tlah jadi ajang banyak kepentingan bisnis, pribadi, dan orang-orang bali sendiri seperti menjadi penonton setia saja. Anda tak sadar karena anda ada didalam lingkaran. Sesekali keluar lingkaran anda akan melihat apa yang ada di dalamnya. Sesekali naik puncak gunung untuk mengerti lembah. Naik ke awan untuk mengerti puncak gunung. Dan berpikirlah dengan hati yang bijak jika ingin memahami awan? Penting agar mata hati harus dibuat melek, bukan hanya kedua bola mata.

Sesekali jadi tukang parkir, tukang ambil karcis, yang lebih beruntung menjadi waiter/tress. Kemudian beberapa jadi manajer hotel dan restoran. Itu bukan hal yang membanggakan. Sesekali cari tahu siapa pemiliknya? Kemana uang itu lari? Ke tempat jauh. Ke orang yang perutnya sudah buncit. Pernahkah ia menyumbang pakaian sekolah untuk 1 anak saja? (semoga jawabannya Ya. bahkan ribuan baju sekolah!) aku memiliki harapan jika saja bekerja kalian memberi banyak hal untuk pulau kalian sendiri. dan sari-sari tanah 'dewata' ini untuk memupuk tanah yang sama. hingga bunga-bunga pulau selalu bisa tumbuh riang! bekerja bukan hanya sekedar mencari uang!

Jauh lebih membanggakan bagiku melihat kesahajaan pulau kecil ini dahulu. Walau tanpa hotel, resort, villa, lapangan golf, club exclussive, gelimang dollar. Pemudaran jati diri yang tlah ditukar beberapa botol bir. Beberapa lembar uang yang kita gunakan berjudi. Beberapa sisanya yang kita gunakan untuk pergi ke karaoke. Dan beberapa lembar lain hasil korupsi yang kita gunakan untuk memberi makan anak istri dan diri sendiri.

Bagaimana kita bisa berenang dan menemukan daratan? Jika kita berputar pada arus yang sama dan kemudian terseret dan tenggelam. Bagaimana kita bisa bertumbuh? Jika semua yang kita makan tertelan angin? dan kita tak sadar 1/2 pulau ini di selatan sudah hilang. di timur digerus laut. di barat pohon ditebang. di utara anak-anak tak makan.

Ini generasi kita. Ini waktunya kita. Setidaknya berpikir lebih jernih saja. Lalu sebisanya hidup lebih bersahaja tampak lebih indah bagiku. Itulah tantangan kita. Mengambil secukup yang kita butuhkan. Bukan berlebihan. Bumi sejatinya tlah memberi cukup bagi setiap orang, tapi tak cukup untuk orang-orang serakah. Sekali waktu Gandhi pernah berucap. Masih ingatkah?

Buka jendela kamar di pagi hari. Rasakan hangat mentari pagi. Sesap angin yang berhembus lembut dari timur. Itu semua diciptakan oleh IA yang mencipta untuk kita semua. Bayangkan jika akhirnya kita melintas di pasir putih, dan kita diusir satpam, atau disuruh bayar mahal?

Ini waktunya kalian. Ini generasi kita. Ini waktunya kita. Melek mata hati. Bumi butuh angin segar. Butuh pikiran segar. Bukan udara, tanah, air yang kotor. Bukan pikiran yang kotor. Pun juga perilaku kotor. Bumi bosan dengan itu semua. Bumi butuh hati segar. Bukan hati yang tak menancap ke akar. Lupa daratan. Bagaimana ia bisa tumbuh bunga?

”Revolusi dimulai dari diri sendiri”
bono, U2

sekeranjang cinta,

pande
dps
july 17, 2019
08:00 pm

gunakan ini sebagai dasar kerjamu selanjutnya. seterusnya.
ini generasi kita. waktunya kita.
selamat berkarya untuk indonesia!


0 comments:

Post a Comment