5:59 AM

Karena Aku Perempuan? (2 jam untuk 4 hidup)


SDN Belandingan, 11 januari 2010. 09:06 am

"pendidikan -yang baik- adalah hak setiap anak manusia. tanpa terkecuali. perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam hal menggapai kapasitas terbaik yang mereka mampu. titik.”
anak alam


Bersyukur kamera poketku merekam gambar anak-anak kelas 6 SDN Belandingan ini. Kala itu mereka tengah berbaris dan bersiap masuk ke ruang kelas. yang berdiri di depan di tengah-tengah barisan adalah wayan sepiawan (ketua kelas). Sementara keenam perempuan di baris paling kanan -dilihat dari depan- adalah made sani, arniti, made ayu, made ariani, ketut simpen, dan di ujung belakang barisan paling tengah adalah wayan badeng.

Dan hari ini foto itu tlah menjadi sebuah kenangan yang sangat berharga, sepenggal sejarah, apalagi buat anak-anak kelas 6 SDN Belandingan itu. Kamera ini (tak peduli SLR atau poket, mahal atau murah : tak penting sama sekali) ia tlah menjadi salah satu mesin kemanusiaan paling berharga buatku, selain pena mimpi, laptop acer aspire, modem dengan kartu XL atau Telkomsel, honda supra DK 5611 PF tanpa STNK, sepeda motor yamaha biru dengan suara super berisik, tentu hati berlentera, dan ester-C (suplemen vitamin selama di gunung. :) )!

Jadwalku beberapa minggu ini benar-benar padat, merapat, menumpuk bahkan menggunung, sibuk! (fiuh....) Menemani tiga anak-anak alam songan syuting Si Bolang Trans 7 keliling Bali, benar-benar menguras energi lagipula sebenarnya itu diluar skedulku. "Bli, sepertinya bli harus ada di sini, anak-anak tak mau akting tanpa bli. mereka sepertinya kaget lihat banyak orang dan tempat-tempat bagus!" mbak Ira membujukku untuk ikut jadi artis. week.... (gw jd malu lihat muka sendiri...) Jadilah aku ikut skedul mereka 12 hari. hem.. Ini salah satu pekerjaan terberat -walau juga menyenangkan- khususnya mengurusi si bolang made berlian yang rada autis (hiperaktif). tapi, itulah kriteria Si Bolang!

maka tak pelak aku hilang dari peredaran dan lupa bahwa anak-anak sudah mau masuk sekolah dan tlah selesai liburan. aku lupa bahwa tanggung jawab dan janji kami kepada anak-anak kelas 6 SDN belandingan bahwa akan menyekolahkan mereka ke SMP menunggu untuk ditepati. aku lupa ini tlah awal juli. (ini sebuah tanda segera butuh asisten pribadi... :) )

Lega. Hari ini syuting selesai. aku bisa kembali ke basecamp anak alam songan karena Deborah Mawsen (kalam dari Belanda) yang menginap selama 10 hari di basecamp telah menungguku. ia tlah booking bahwa akan tinggal di basecamp jauh-jauh hari. aku jadi merasa bersalah. walau ia tak marah! akhirnya kami bersua, setelah sebelumnya hanya berkomunikasi lewat email saja.

Ia aku tugaskan untuk mengajar anak-anak bahasa inggris saban hari, membersihkan sampah plastik di danau, sekaligus menemani mereka beraktifitas semacam latihan gamelan anak-anak.

Hari ini hari minggu. aku pergi ke sekolah untuk menemui bapak kepala sekolah SMPN 4 Kintamani di Songan. Ya ini minggu, aku tak salah baca kalender. Hehe.. kebetulan hari ini anak-anak masuk sekolah untuk gladi bersih, sementara hari ini aku membawa Made Sani, Badeng, Arniti, dan Simpen untuk mendaftar sekolah.

pendaftaran sekolah, 11 juli 2010

Sehari sebelumnya kebetulan aku tlah lebih dulu mengunjungi bapak Nengah Selamat di rumahnya untuk memberitahukan perihal terlambatnya anak-anak ini untuk mendaftarkan diri karena alasan tak sampainya informasi kami bahwa mereka telah kami siapkan uang untuk pendaftaran sekolahnya. Dan kebetulan pak Selamat memang seorang figur pendidik yang baik dan beliau tak mempermasalahakan sama sekali keterlambatan ini.

”Datanglah ke sekolah esok, silahkan mereka bisa langsung gabung dengan teman-temannya dan nanti saya bantu untuk mengurusi perihal berkas-berkas pendaftaran di tata usaha.”

malam harinya, aku mengajak deborah untuk menemui anak-anak alam di belandingan. sekalian mengecek keadaan anak-anak perempuan yang tadi pagi tak aku temui di sekolah SMP. "Bukannya di daftar beasiswa kami ada 12 anak, tapi kok yang muncul cuma 6 anak dan itupun yang laki-laki saja. sisanya dimana???" pikirku.

berkunjung ke rumah made badeng memberi uang pendaftaran, tas sumbangan dan sumbangan pakaian sekolah dari atik

dan ternyata, 2 minggu itu aku lupa dan hampir saja melewatkan satu janji kemarin lalu. mengurusi sekolah anak-anak. dan sepertinya informasi itu belum sampai kepada semua anak. hingga 4 anak perempuan tak tahu menahu dan memutuskan untuk tak melanjutkan sekolah karena tak punya biaya. sedang made ayu, dengan usaha keras kakaknya bisa mendaftar sekolah. sementara made ariani memang tak bisa kami selamatkan karena orang tuanya menginginkan ia kerja ke denpasar dan menjadi pembantu rumah tangga. (ada kalanya kita tak bisa berbuat apa-apa!)

oke, semalam aku mengunjungi rumah wayan badeng, made sani, arniti (yang kebetulan menginap di bubung) dan aku hanya menyampaikan pesan lewat orang tuanya di desa, serta terakhir ketut simpen yang tinggal di banjar bantas, sekitar 1 kilometer selatandesa belandingan. hingga malam itu semua orang tuanya mengizinkan anak-anak perempuan mereka SEKOLAH!

Dan sekali lagi aku harus bersyukur kembali. 2 jam waktu yang aku gunakan untuk mengunjungi satu-per satu rumah mereka benar-benar telah merubah jalan sejarah. Bukan sejarahku, bukan sejarah kita, tapi sejarah hidup bagi 4 anak perempuan dari 6 anak perempuan kelas 6 SDN Belandingan ini.

hari pertama sekolah, senin 12 juli 2010

tadi pagi mereka semua tampak sumringah. bangun sepagi-paginya berangkat ke sekolah beramai-ramai berjalan sekitar 1 jam menuruni bebukitan di barat desa menelusuri jalanan berpasir bekas sungai kering.

setidaknya keempat anak perempuan inilah yang tlah menjadi buah dari keringat kita, bunga dari tunas-tunas yang kemarin kita pupuk, jejak-jejak tangan kita, hasil dari pengorbanan kita, jawaban dari waktu yang tlah kita beri dan segala yang kita curahkan buat mereka.

Empat anak (ditambah dengan anak-anak kelas 6 SDN Belandingan lain yang kini bisa melanjutkan sekolah ke SMP seperti mimpi mereka) ini adalah harapan masa depan desa mereka. Empat anak ini semoga kelak akan melahirkan generasi-generasi terbaik untuk Bali dan Indonesia dalam kehidupan seperti apapun yang kelak mereka lalui (aku tak akan memprediksikan masa depan, lebih baik mencurahkan tenaga untuk hari ini) seiring perjuangan hidup mereka hingga mencapai tolak awal menggapai mimpi ini setidaknya memberi kesan buat jalan hidup mereka seterusnya.

Sepulang sekolah seperti biasa, mereka tetaplah anak-anak alam. Anak-anak yang hidup di alam. Anak-anak yang tingal di kampung terpencil dengan orang tua yang secara ekonomi kekurangan. Dan anak-anak ini tetap akan bekerja seperti biasa, menyabit rumput, menjaga adik mereka, mencari air di bak penampungan.

Terimakasih Garuda Bali atas beasiswa untuk anak-anak kelas 6 SDN Belandingan dan mbak dewi utari project leader beasiswa anak alam serta doa semua kalam, jejak tangan kita tak sia-sia. jejak tangan kita telah berbuah HIDUP! Jika saja semakin banyak orang mau berbagi untuk ribuan hidup anak-anak yang lain???


bersambung…


sekeranjang cinta,

Pande
basecamp anak alam songan
malam ini
13/7/2010

2 comments:

ayumi said...

Wuah, awalnya saya baca blog ini saya sempet deg-degan pas tahu anak-anak gak di daftarin ke SMP padahal waktunya mepet amat kak (saya merasakan detik-detik ketegangan itu karena adek saya juga ada yang sibuk banged dari jauh-jauh hari ngurusin masuk SMP) ^_^

Leganya bisa mendengar anak-anak itu akhirnya resmi jadi murid SMP (yey!)

Tapi kasian yang dua orang lagi yang akhirnya ngga bisa mengenyam nikmatnya bangku sekolah. Huhuhu, semoga orang-orang yang seperti itu berkurang ya Kak ^_^

Komunitas Anak Alam said...

tx 4 d support ayumi. :)

Post a Comment