Dunia pendidikan di Bali, selain memiliki prestasi nasional, di lain sisi dihantui oleh ribuan anak-anak putus sekolah. Tahun lalu sejumlah 1.315 anak putus sekolah dicatat oleh Disdikpora, tersebar di seluruh kabupaten di Bali. Sungguh ironis. Sementara Bali dikenal dengan predikat Pulau Wisata Terbaik di Dunia oleh salah satu majalah wisata.
Gerakan 1.000.000 Alat Tulis Untuk Anak Indonesia
Dunia pendidikan di Bali, selain memiliki prestasi nasional, di lain sisi dihantui oleh ribuan anak-anak putus sekolah. Tahun lalu sejumlah 1.315 anak putus sekolah dicatat oleh Disdikpora, tersebar di seluruh kabupaten di Bali. Sungguh ironis. Sementara Bali dikenal dengan predikat Pulau Wisata Terbaik di Dunia oleh salah satu majalah wisata.
1000 School Uniforms for 1000 Less Fortunate Indonesian Students

FOR IMMEDIATE RELEASE:
On August 17th, bridges Bali, in support of “Komunitas Anak Alam” (The Community of the Children of Nature) will host a special Independence Day fundraising exhibition of photography taken by the children of the community as well as a knitting project. It is a day of fun, music and dance by the children; great Indonesian food served buffet style at the front entrance of bridges, and much more. Also, everyone is invited to drop clothing, blankets, toys, etc. It is an occasion to make a difference.
Komunitas Anak Alam is supported by a community that consists of Balinese, Indonesian and International volunteers who are empowering youth through community development, the protection of the environment and social projects for the education of children especially those living in the more remote villages of Bali. ‘Every step is a small step toward creating opportunities for many of these children especially in the disadvantaged Kintamani area to continue their education’, said Pande Putu Setiawan, initiator of the program.
One of the current goals is to be able to donate school uniforms to 1000 of these children whose families cannot even afford their basic school needs. The photography and knitting projects are designed for empowering the local children. All proceeds from their work will benefit the support in purchasing 1,000 uniforms and on that day, a percentage of the food and drink sales at bridges will be donated to Komunitas Anak Alam.
‘BRIDGING FOR THE LESS FORTUNATE’ has helped different organizations to raise funds for their project; it is bridges Bali’s way to give back to the community.
More Information:
Contact Hani
E. marketing@bridgesbali.com
T. 361.970095
SEMARAK KEMERDEKAAN. UBUD 17 AGUSTUS 2011
jangan tanya apa yang negara bisa berikan kepadamu,
tapi tanya apa yang kamu bisa berikan untuk negaramu!
-JFK
tak sangka, kongkow-kongkow kami senja itu di pematang sawah Uma Pacung Ubud dengan beberapa seniman muda, sambil menikmati kopi bali pahit, terbersit ide untuk merayakan 17 Agustus di pesawahan ini. Bahwasanya kemerdekaan itu adalah seperti ini. Sawah masih hijau. Burung bangau terbang bebas mencari makan. Petani riang menggumuli padi. Mari kita rayakan 'kemerdekaan' itu sebelum nanti investor merebutnya. dimana disini akan terpasang banyak pelang -no trespassing. PRIVAT PROPERTY.- dan setelahnya bahkan hanya untuk menaikkan layang-layang kita harus naik tiang listrik, atau ranting pohon, atau atap genteng karena tak ada lagi ladang bermain?
Maka dari itu kami dengan kerendahan hati mengundang semua teman-teman (TERBUKA UNTUK UMUM /EVERYONE WELCOME) untuk datang beramai-ramai ke sawah Uma Pacung - Jl. Sriwedari Ubud (peta dilampirkan) nanti pada Tanggal 17 Agustus 2011 mulai pukul 8:00 pagi hingga petang.
Kami harap ini akan menjadi salah satu helatan paling unik yang kalian dapat ikuti untuk menghormati merah putih, dan merayakan kemerdekaan kita. bersama bangau, kodok, capung dan kala malam kunang-kunang. tentu juga bersama para seniman, fotografer, anak-anak kecil, masyarakat umum, pedagang bakso, dan bule-bule.
Berikut adalah jadwal kegiatan untuk kalian selengkapnya:
SEMARAK MERAH PUTIH UBUD 17 AGUSTUS 2011
1. UPACARA BENDERA DI PEMATANG SAWAH 09:00 - 10:00 pagi
upacara bendera akan dilakukan persis di tengah sawah dengan urutan-urutan upacara normal. semua orang yang melintas pagi itu diharapkan untuk ikut menghormati merah putih.
2. FUN BIKE (KELILING UBUD DENGAN SEPEDA BERBENDERA MERAH PUTIH) 10:00 - 12:00
ini akan menjadi cara paling unik merayakan kemerdekaan. berkendara sepeda beramai-ramai keliling Ubud dengan sepeda yang diisi bendera merah putih. membagi semangat merah putih kepada semua orang. dengan itu kami mengundang semua klub sepeda untuk berpartisipasi. didukung oleh BALI LOW RIDER.
anak-anak ubud bermain saat senja sembari menikmati pemandangan sawah, sebelum wajah sawah itu berubah bangunan villa.
3. RED AND WHITE RIDER 09:00 - 12:00
nah untuk yang pengen ikut namun naik sepeda motor, bisa juga. akan dipandu oleh Safety Riding dari VIBER sehingga kalian bisa tertib nanti keliling Ubudnya. ayoooo......
4. PENTAS SENI ANAK ANAK DAN LOMBA LAYANG LAYANG ANAK ANAK 08:00 - 17:00
hari ini kita akan memberikan anak-anak kesempatan untuk bermain sepuas-puasnya di sawah, beramai-ramai. mulai dari pentas barong, tarian anak-anak dan tentunya menaikkan layang-layang bersama-sama. setiap anak yang hadir akan mendapatkan satu paket hadiah alat tulis yang disumbangkan oleh BALI DOG LOVER.
5. PAMERAN FOTO PINGGIR JALAN PERKIS (PERJUANGAN ANAK KAMPUNG INGIN SEKOLAH). "INI INDONESIAKU" 08:00 - 20:00
saksikan pula pameran foto dari keliwon, di pinggir sawah pacung. sementara ia menyaipkan foto-foto ini untuk dipamerkan ke Melbourne - Australia. sekalian membantu anak-anak PERKIS ini untuk terus melanjutkan perjuangannya?
6. PEMOTRETAN MODEL SESSION
bagi teman-teman fotografer yang mau motret, akan diadakan sesi lomba pemotretan model. modelnya hingga kini masih dirahasiakan? kejutan? hadiahnya juga masih dirahasiakan.... mari datang beramai-ramai...
7. PENTAS MUSIK DAN PUISI 19:00 - 22:00
akan menampilkan para pemusik tampil di atas dermaga kayu dalam naungan wajah rembulan. seru tentunya. didukung oleh PENTATONIC ART COMMUNITY.
8. NONTON FILEM LAYAR LEBAR 19:00 - 22:00
belum pernah nonton film di tengah sawah kan? ayo kali ini jangan lewatkan kesempatan itu. pasca senja lewat kita akan adakan pemutaran film layar lebar. didukung oleh PENTATONIC ART COMMUNITY.
9. MAKAN KERUPUK
lomba ini diharapkan akan diikuti oleh bule-bule dan anak-anak. semoga semarak...
PETA LOKASI:
jl. SRIWEDARI - UBUD. uma pacung- junjungan.
BAGI YANG MAU BERPARTISIPASI, MENYUMBANG NASI / AQUA / SNACK / APA SAJA, KAMI AKAN SANGAT BERSENANG HATI! AYOO.... SIAPA YANG MEMULAI...............
Terimakasih kepada:
- Donald / pentatonic art community
- Gek Nanda / Bali Dog Lover
- Yosep / Yudi VIBER
- Yayuk Sumadewi
- yang lain semoga menyusul...........
kontak: 0817265028
Dipersembahkan oleh:
KOMUNITAS ANAK ALAM http://www.anakalam.org | http://komunitasanakalam.org
PENTATONIC ART COMMUNITY
LUDENS ART COMMUNITY
BALI DOG LOVER
BALI LOW RIDER
VIBER
dan MASYARAKAT UBUD
RIDE 4TH CHARITY. VIBER - KOMUNITAS ANAK ALAM

Never doubt that a small group of thoughtful,
committed citizens can change the world; indeed, it's the only thing that ever has.
Margaret Mead
aku sedang membayangkan, bagaimana jadinya kalau 350 pengendara Vario itu numplek di belandingan, sementara jumlah KK di belandingan cuma 140 KK. haha..... belum lagi mereka memarkir Vario mereka berjejeran di jalan utama belandingan dan semua warga tumpah ke jalan, maka jalan itu tak kan bisa dilalui kendaraan lagi.
terimakasih untuk VIBER (Vario Bali Riders) yang pada akhirnya menjadi komunitas motor pertama yang menjejakkan kakinya di belandingan setelah sebelumnya komunitas VW Montogen dengan komandan Bli Kodrat telah mendaratkan kodok-kodok dan combi mereka di atas bukit. sebuak pengalaman yang sangat berkesan tentunya buat para riders dan anak-anak alam. kedatangan 'mahluk-mahluk' aneh itu.
dan ini adalah surpise mereka yang kedua, setelah pertemuan kami beberapa hari lalu di Dunkin T.Umar (maaf, biar gampang ngumpul aja) bahwa diantara semua yang nanti mereka akan sumbangkan, akan ada 24 ekor (2 lusin) ayam kampung yang akan dihibahkan untuk anak-anak alam sebagai pilot project program Ekonomi anak alam, membantu mereka untuk mengembangkan usaha telur ayam kampung.
namun jika teman-teman lain masih mau menambahkan satu dua ekor ayam lagi, tentu sangat dipersilahkan, disarankan yang betina ya.... namanya juga prokek ayam petelur. dulu kami selalu memimpikannya, dan sempat hampir terwujud, dan kini VIBER yang memecahkan telur itu. hehe... great job brow.... dan sekali lagi ketika kita berani menjaga mimpi itu, maka seperti apa yang buku The Secret dan Alchemist tulis, semesta akan bahu-membahu membantu kamu mewujudkan mimpimu. terimakasih untuk kalian yang masih berani menjaganya.....
setelah rekor sebelumnya 100 Kalam saat tahun baru 2 tahun lalu, sepertinya ini akan menjadi rekor baru jumlah kawan anak alam yang datang dalam satu kegiatan anak alam di belandingan. jadi, BRAVO untuk VIBER!
sejatinya, saya bangga dengan VIVER. digawangi anak-anak muda (seperti halnya KALAM) dan sepertinya kerjasama ini akan terus berlanjut, setelah selama ini perayaan ulang tahunnya dirayakan dengan pesta di rumah, manggang ikan, kali ini mereka turun gunung dan berbagi kebahagiaan bersama anak-anak kami yang barangkali tlah memendam rindu lama, tak sempat kami kunjungi.
dan sekaligus kami mengundang kawan-kawan anak alam yang memiliki waktu luang untuk ikut berpartisipasi dalam acara:
RIDE FOURTH CHARITY
Lokasi: Desa Belandingan - Kintamani
Hari: Minggu
Tanggal: 10 Juli 2011
Pukul: acara dimuali pukul 12:00 (keberangkatan bisa diatur masing-masing)
Peserta: 350 orang riders (BALI - JAWA - LOMBOK)
Acara: pembagian sumbangan ayam, pakaian bekas, buku, dll kepada anak-anak alam. bermain bersama anak-anak alam.
So,..... minggu depan jika tak ada yang kalian kerjakan. tancep MOTOR kalian (gak hanya vario) ke belandingan bersama-sama. kalian juga bisa berangkat sendiri dan langsung ngumpul di BASECAMP ANAK ALAM - Songan sebelum jam 12:00 kemudian berangkat bersama-sama ke belandingan.
sekali lagi, kegiatan ini kami persembahkan untuk para PEMIMPI! kalian.......
salam anak indonesia,
ANAK ALAM
CEPAT SEMBUH WAYAN! SENYUM ULFA!

"Menjadi tak dibutuhkan, terpinggirkan, terlupakan oleh orang,
Aku pikir adalah kelaparan yang lebih tinggi, kemiskinan yang lebih besar
dari tak memiliki apapun untuk dimakan."
-Mother Teresa
Malam ini Wayan Pasek* (8th) terlihat kurang begitu bergairah. Sejak kemarin pagi ia sakit demam dan muntah-muntah. Beruntung ada Puskesmas yang memberi pengobatan gratis dan kemarin pagi Nenek Ririg membawa Wayan berobat ke puskesmas. Ia belum menyempatkan diri meminum obat generik yang diberikan dokter puskesmas. Obat generik warna-warni yang hanya dibungkus plastik bening 1/4 kilo. Pernah sekali waktu malam itu Kadek Ulfa yang sakit dan Nenek Ririg tak memiliki uang sepeserpun, namun untuk sebuah nyawa anak kecil ia memberanikan diri untuk membawa Kadek ke dokter dan bersyukur dokter tersebut masih punya hati dan mau membantu mengobati Kadek tanpa sepeser biaya pun untuk obatnya. (jika saja lebih banyak dokter yang sepertinya.)
*(wayan pasek adalah kakak kandung kadek ulfa yang sekarang sekolah kelas 1 SD)
Malam ini tak seperti malam sebelumnya, kedatanganku kembali ke rumah Kadek Ulfa ditemani oleh lebih banyak orang dan suasana di rumah ini menjadi ramai. Namun sayang aku tak membawa kamera poketku karena memori cardnya kena virus kemarin lalu dan belum sempat aku format, jadi biarkanlah hanya tulisan ini yang merekam malam yang haru itu.
"Dua tepuk tiyang jalane, gegeson tiyang mulih. suud medagang."
"mangkin tiyang polih medagang Rp. 15.000"
"Rp.10.000 anggon tiyang mayah hutang nyilih anggon modal medagang tuni semeng."
"Rp. 5.000 anggon tiyang mayah hutang meling baas ibi sanja aji Rp. 7000."
"Kari tiyang ngutang bin Rp.2000."
Nenek ririg menuturkan kepadaku hasil tentang hasil jualannya hari ini.
Ya, hari ini Nenek Ririg hanya dapat jualan Rp. 15.000 hasil dari keliling Ubud beberapa jam saja. Sakit rabun mata nenek ririg kumat. Ia lihat jalan yang ia lalui menjadi dua. Dan ia memutuskan untuk segera pulang saja bersama kadek ulfa. Dari uang hasil jualannya itu, Nenek Ririg menggunakan rp. 10.000 untuk membayar utang modal jualannya tadi pagi sementara sisanya rp. 5000 ia gunakan untuk membayar utang beli beras semalam, dan degannya kini ia hanya menyisakan sisa utang rp.2000 saja.
Seperti yang kita tahu sebelumnya bahwa nenek ririg menghidupi kedua anaknya dan kakek Adin dengan berjualan sayur keliling Ubud. Ia mendapatkan sayur mayur yang ia jual (bayam, daun jipang, daun labu, kangkung, dll) dengan cara membeli dari orang-orang kampung seharga rp.2000 / kg yang nantinya akan ia jual rp.3000 / kg kepada orang-orang yang ia temui di jalanan ubud. Dan saban hari rata-rata ia bisa membawa uang rp.30.000 itupun dengan modal rp.20.000 untuk membeli sayur-mayur di pagi hari.
Sepeninggal kedua orang tuanya, Kadek Ulfa dan Wayan pasek hanya dihidupi oleh nenek ririg. sesekali kakek Adin juga ikut membantu khususnya untuk biaya bulanan air dan listrik yang dengan sekuat tenaga ia pertahankan hanya agar tak disegel. ya, ia sangat menekankan kata itu ketika bercerita kepadaku.
"Tiyang akan lakukan apapun agar air dan listrik untuk pondok ini tak disegel"
"tanpa keduanya, apa lagi yang kami punya?"
Kakek Adin sakit-sakitan. sudah lama ia menderita penyakit ashma sehingga tak lagi bisa bekerja untuk menjadi penggarap sawah. pun juga ia tak memiliki sawah sendiri. Keseharian kakek adin beberapa tahun lalu dilakoni menjadi pemulung barang-barang bekas di seputaran ubud hingga sanggingan, memungut botol / kaleng / apa saja yang dibuang dari sisa-sisa rumah dan restoran di ubud. dengan itu ia selama ini membantu menafkahi keluarga kecilnya. Namun semenjak sakit ashmanya semakin parah, ia hanya bisa melewati keseharian dengan berada di rumah. sesekali ia pergi ke tempat sabungan ayam, memungut bulu-bulu ayam yang mati karena kalah, yang kemudian ia jual rp. 1000 / ikatnya kepada pengepul.
Dengan itu ia memberi bekal kepada Wayan Pasek ke sekolah saban hari rp.1000 rupiah sementara nenek Ririg akan menambahkan rp.2000 hingga Wayan bisa membeli nasi di sekolahnya saban pagi. Uang rp.3000 itu biasanya ia belikan nasi rp. 2000 dan rp.1000 lainnya biasanya ia belikan oreo snack favoritnya.
dan kini, pekerjaan kakek adin dilanjutkan oleh Wayan Pasek. jika ia tak sakit seperti saat ini, ia biasanya pergi keliling ke seputar desanya memungut botol-botol air mineral dan kaleng dan saban hari ia rata-rata dapat mengumpulkan 1 kresek yang kemudian ia berikan kepada kakeknya. sebuah pertautan semangat yang tak terputus. sebuah energi yang selalu menyala, dalam kegelapan.
Sementara kadek ulfa lebih senang untuk mengikuti nenek ririg kemanapun ia pergi menjajakan dagangan sayur mayurnya, dan sembari memungut bunga-bunga kamboja yang ia temui di jalan. ia memiliki ketertarikan akan bunga, dan semoga ini pertanda baik di hari-hari kehilangannya, untuk anak yang baru saja ingin mengenal hidup. sesekali jika ada uang lebih, nenek ririg membelikan ulfa nasi rp. 2000 dan sate rp. 1000 di pasar ubud.
Pernah sekali waktu orang menyodorkan uang rp.5000 untuk nenek ririg di jalan dan ia terima, namun sekalipun ia tak pernah menengadahkan tangan untuk meminta. dan sandal, sesekali kaos, pakaian untuk wayan, dan satu-satunya buku tulis yang dimiliki Wayan pasek yang aku temui di tas sekolahnya pun dapat dari sumbangan orang, tak luput tas bergambar megaloman itu. ketika aku tanya wayan
"berapa kamu memiliki baju"
"banyak" jawabnya
"darimana kamu dapat?"
"dapat dari orang" sahutnya.
Keluarga Besar
tak seperti keluarga-keluarga lainnya, pekarangan rumah nenek ririg dihuni oleh 8 kepala keluarga dengan 8 bangunan yang rata-rata hanya bertembok batako, beberapa yang di cat sudah tampak sangat usang. 8 keponakan kakek adin bekerja menjadi buruh pembuat ukiran bingkai kayu ala bali.
Lantai pekarangan masih berupa tanah, dan sebagian besar keluarga menggunakan tungku api untuk keperluan memasak sehari-hari. selain menjual sayur keliling, nenek ririg saban sore pergi ke sawah dan ladang untuk mencari ranting-ranting kayu, sesekali pergi ke para pembuat figura kayu yang banyak tersebar di kampungnya dan memungut kayu-kayu sisa untuk ia jadikan kayu bakar.
Dapur nenek ririg tak bisa saya tuliskan dengan kata-kata yang baik. saya sendiri malu untuk menuliskannya. malu membayangkan bahwasanya di ubud masih ada dapur seperti itu. bak kamar mandi bekas yang tak berisi air. lantai semen tak terurus dan berserak kayu. tembok legam karena asap kayu bakar.
Dalam keseharian mereka makan dengan standar lauk tempe tahu, sementara karena kasihan kepada Kadek Ulfa nenek ririg membeli ayam kepada penjual daging yang sering lewat ke kampungnya rp.2000. terkadang nenek ririg juga membeli sayur-sayuran yang sudah jadi ketika ia tak sempat memasakkan lauk untuk cucu-cucunya.
Hari ini aku ditemani Nenek Ririg, Kadek Ulfa, Wayan Pasek, Kakek Adin lengkap. ada serta juga Nenek Lemeh saudara kakek adin dan anaknya Made Candra beserta dua cucunya. di dekapan nenek Lemeh ada seorang cucunya yang gagu Wayan Werdi yang ketika umur 4 tahun kala itu, demam tinggi hingga step dan semenjak saat itu ia menjadi gagu. namun secara fisik ia tumbuh seperti normal, seumuran ia yang kini 12 tahun, dan ketika ia bicara saja ia akan tampak cacat. Ia mencoba berbicara walau dengan sangaaaaaattttt lamban. namun aku masih mengerti kata-kata yang ia ucapkan.
Ketika ditanya ayahnya bekerja dimana, ia menunjukkan kaos hitam bertuliskan I LOVE BALI DOG tempat dimana ayahnya bekerja. ia menarik kaosnya bagian depan dan menunjukkannya kepadaku. sementara ibunya Wayan Candri lumpuh setengah badan saat punya anak ke dua karena stroke. kini anak keduanya telah berumur 2 tahun.
Sepeda Butut
malam ini tak tampak sepeda butut Wayan Pasek di kamar kakek adin yang kemarin lalu ada tergeletak. ternyata kakek adin membawakan sepeda cucunya itu ke bengkel sepeda dekat rumahnya. namun apa lacur, sepeda itu sudah tak bisa lagi debetulkan. tak pelak sepeda itu dititipkan saja di bengkel. tak memilih untuk dibawa kembali pulang. sementara kadek ulfa tak mau kalah dengan kakaknya ingin menunjukkan sepedanya kepadaku. namun apa yang ia tunjukkan kepadaku malam itu, tak lebih dari 'rongsokan' sepeda anak yang roda belakang kanannya telah patah.
dan diantara beberapa sumbangan dari teman-teman yang aku bawakan malam itu kepada mereka, Wayan Pasek paling suka topi plastik motif bola-bola yang berisi kaca mata itu.
"saya akan bawa ke sekolah."
"saya akan bawa mencari botol"
kilahnya.
sementara kadek ulfa tak mau lepas dari satu tas kertas yang berisi beberapa potong pakaian bekas layak pakai berwarna warni sumbangan dari kawan-kawan kita di sekolah perancis kerobokan yang kala itu dititipkan kepadaku. aku titip pesan untuk mencucinya terlebih dahulu sebelum digunakan.
tak terasa sudah jam 8 malam. aku tak mau mengganggu istirahat keluarga mereka lebih lama. namun mereka serempak berucap "tidak kok. pak putu tak mengganggu malam kami. malah kami yang harusnya berkata sebaliknya, kami yang telah mengambil waktu istirahat pak putu".
pande
pagi ini 10:00am
terimakasih tak terperi kalam.
keluarga ini pantas untuk kita temani. hingga panjang.
download flier kadek ulfa: http://www.ziddu.com/download/14655232/KADEKULFADEWIYANTI.pdf.html
Ketakpedulain kita yang kronis.
untuk Kadek Ulfa

ada yang berlebihan. ada yang kekurangan.
ada yang kehilangan. ada hati.
kenapa kita tak saling memberi?
Senja yang bening. Cuma 2 kilometer dari pusat Ubud, hidup berjalan sangat pelan. Kehidupan disini mengingatkanku tentang romansa Bali ketika aku masih sangat kecil dulu. Lugu. Bangau putih beterbangan kembali pulang ke sarang memberi anak-anak makan, sementara penduduk kampung baru pulang dari pesawahan sambil mejunjung sekeranjang rumput di atas kepala.
Sementara tak jauh dari desa lengang ini, waktu berlari, membalap apa saja, berjalan cepat di Ubud. Turis-turis berlalu lalang di jalan monkey forest, butik-butik sibuk, restoran-restoran sibuk, hotel dan villa di pinggir jurang dan sawah bersolek.
Sore ini, barangkali ini adalah hari pertamaaku bisa melihat wajah Tuhan secara langsung di rumah berlantai tanah milik seorang nenek tua. Tuhan yang tersenyum melalui seorang nenek yang berlarian tersengal-sengal dari kejauhan ingin segera bertatap muka denganku. Tuhan yang tersenyum lewat bibir seorang anak perempuan kecil yang ketika pertama kali aku temui kemarin lalu berwajah sangat datar. Tuhan yang tersenyum lagi melalui seorang kakek yang menyusul duduk dan nimbrung bersama kami yang tiba-tiba bertanya dengan kerasnya, “Bapak dariamana?” Tuhan yang hingga aku pulang tak bisa aku beri nama.

“Adan tiyange Ketut rurug. Kurenan tiyange ketut Adin. Niki cucun tiyange Kadek ulfa dewiyanti. Bapane sampun ten kari. adan bapane wayan wenten. umah tiyange di Petutu gunung dajan bale banjar, ring sisin margi ring kanan wenten dagang rujak. ten joh uling rika....." nenek tua itu menceritakan jati dirinya kepadaku.
*terjemahan bebas: Rumah saya di sebelah utara Balai Banjar. Jika melihat ada penjual rujak di sebelah kanan, masuk ke timur disitu rumah saya. Nama saya………………, nama suami saya……………., nama anak ini Kadek Ulfa Dwi Yanti, nama bapaknya yang sudah meninggal. Nama ibunya”
Sore ini aku memiliki waktu luang dan memutuskan untuk mengunjungi mereka. "Setelah melewati pelang selamat datang di wisata kokokan selamat datang di petulu gunung. terus saja maka kau akan menemui balai banjar petulu gunung di sebelah kiri jalan. dan sekali lagi sesui dengan petunjuk nenek rurug, cari pedagang rujak di sebelah kanan maka tanya saja disana, rumah nenek rurug tak jauh dari situ."

"Gek, mau tanya dimana rumahnya Kadek Ulfa ya.....?" sembari aku menunjukkan foto anak itu yang masih tersimpan dalam kamera sakuku.
"Oh,.... ini pak. ini kok rumahnya. tinggal naik aja, terus lurus yang paling ujung itu rumah kadek ulfa" perempuan kecil itu menunjuk tangga berundak tinggi yang menuju ke sekumpulan rumah berjejeran. sepasang anjing warna hitam datang ke gerbang dan mulai menyalak melihat orang asing yang bertandang. terpaksa deh anak penjual rujak itu yang menghantarkanku masuk menuju rumah itu....... (trims ya dik....)


tak lama berselang tampak seorang lelaki muda separuh baya membuka pintu dan menghampiri aku dengan senyum. huh... syukur dengan senyum....
"Pak, saya mau bertemu dengan kadek ulfa."
"saya dari yayasan." bohongin dikit aja... hehe....
bapak itu sumringah dan mempersilakan aku duduk dengan terlebih dahulu membukan gulungan karpet hijau dan menggelarnya di atas lantai yang hanya plesteran tersebut.
(jangan berharap kamu akan disuguhkan kopi untuk kunjunganmu, hehe... jangan sama sekali. untuk makan sendiri aja mereka masih mikir...)
"oh, kadek ulfanya lagi keluar bersama neneknya" lelaki itu menimpali. kemudian, seorang nenek lain yang tinggal di rumah yang ada di depan bergegas, mengambil inisiatif untuk mencarikan nenek rugig dan kadek ulfa.
tak lama berselang, wajah nenek tua namun penuh semangat itu muncul. dengan bersengal-sengal ia berlari, diikuti kadek ulfa, dan diikuti kakeknya menuju rumahnya yang disana telah ada aku sebentar menunggu. tak tampak kakak lelaki Ulfa, karena ia sedang bermain entah kemana.
suasana sore itu sangat berbeda dengan pertemuan kami kali pertama di jalan raya. kadek Ulfa menyungging senyum. aku suka. setidaknya tidak datar seperti kala itu. neneknya menyapa aku dan tak sangka kakeknya juga ikut malahan kakeknya yang menjadi jubir sore itu.
"Pak putu dari mana?"
"Pak putu kerja dimana?"
"Siapa orang tuanya pak putu?"
bergegas mengambil akte perkawinan almarhum dan almarhumah ayah&ibu kadek ulfa dengan bersemangat ia menunjukkan wajah kedua orang tua ulfa.
"yah, barangkali kelak akta ini pak putu butuhkan" imbuhnya.
"ya pak. kemarin lalu ketika itu saya bertemu dengan ulfa dan neneknya saat pulang jualan sayur di ubud"
"saya jajnji akan datang dan berkunjung ke sini, kapan saja saya ada waktu dan teman-teman saya menyumbang."
"saya bukan orang kaya pak. namun banyak teman-teman saya yang barangkali bisa membantu"
"ini saya kirimkan, kemarin itu setelah fotonya ulfa saya kirim ke internet ada yang menyumbang untuk ulfa dan nenek. tapi alakadarnya ya pak. 50 ribu, atau seratus ribu atau berapa aja, mohon dimaklumi."
kakek itu merapikan duduknya, "wah pak putu, jangan bicara seperti itu. apa saja bantuan yang kami terima kami pantas syukuri. sungguh kami sangat kekurangan, jadi kedatangan pak putu sore itu kami sangat senang...."
*
Beginilah jika bisa digambarkan kehidupan mereka sehari-hari. Kakek dari kadek Ulfa yang sudah lama tak bisa bertani lagi karena sakit batuk, kedua orang tua yang sudah meninggal, seorang kakak yang sedang duduk di kelas 2 SD, dan neneknya adalah satu-satunya orang yang masih bisa mencari penghasilan.
Nah sekarang masalahnya seberapa besar penghasilannya? saban siang sampai sore mencari sayur-sayuran yang bisa dijual, kemudian ia akan jual keesokan harinya berkeliling Ubud. masalah yang lain muncul karena, hari gini, siapa juga yang mau membeli sayur-sayuran semacam daun labu yang nenek itu bawa keliling setiap hari. dan sampai di sini aku tak bisa menemukan jawaban bagaimana cara mereka makan jika pas kebetulan satu hari nenek ulfa tak dapat jualan sama sekali.
Maka jangan tanya lagi yang lain, memperbaiki rumah, dapur, membeli boneka, membeli sepeda, apalagi makan enak. jangan pernah. makan untuk empat orang yang tinggal di rumah sangat sederhana itu seperti sebuah game; kadang menang dan sering kali kalah.
Semenjak pertemuan yang tak sengajaku dengan Ulfa ketika itu dan aku mengirimkan foto-foto mereka lewat FB, telah ada 2 diantara 3.000.000 - an penduduk bali yang peduli. Mereka adalah 2 perempuan berhati baja. Hanya Aung San Suu Kyii dan Mother Teresa yang memiliki kualitas ini. Mereka berdua adalah Sang Ayu dan Gek Nanda. Mereka, aku tahu bukanlah orang-orang sangat kaya, namun mereka pastilah orang-orang yang berhati KAYA.
Kemana jutaan orang-orang Bali yang lain sembunyi????
Ini waktunya kalian, SEKARANG!
Pande
siang ini
ubud
RIO HELMI's exhibition on Bali, "The Seen and the Unseen" at the Four Seasons in Jakarta 27th of April 2011

Coming up on the 27th of April 2011, RIO HELMI's exhibition on Bali, "The Seen and the Unseen" at the Four Seasons in Jakarta. He also donating a substantial portion of the proceeds to the Komunitas Anak Alam project (www.anakalam.org/ or http://komunitasanakalam.b
terimakasih banyak atas sumbangsihnya Pak Rio Helmi untuk anak-anak Bali yang tak pernah melihat pulaunya sendiri. Anak-anak Indonesia yang tidak bisa menikmati cantiknya negeri mereka sendiri.
Pande
Majalah Respect edisi 7 / Artikel " Pande Putu Setiawan, Membangun Bali Lewat Mimpi Anak-Anak."


page 26-27
silahkan klik gambar di atas untuk tampilan lebih besar. kemudian klik sekali lagi untuk men-zoom. :)
tx. rera/kophi atas interviewnya.
pande
ubud
25/2/2011
PAMERAN FOTOGRAFI AMAL "UNTOLD STORY OF BALI"
Jl Puputan I, no 13A, Renon Denpasar 80235
15 - 31 Januari 2011

denah lokasi pameran:
Allianz Francaise

Sebuah potret desa dibalik bukit dengan kehidupan yang jauh dari glamornya pariwisata Bali. Disini terdapat anak-anak yang jauh dari kata 'berkecukupan' dan disaat anak-anak seumuran mereka bisa bisa menikmati fasilitas pendidikan lengkap, gizi yang cukup, bermain play station, jalan-jalan ke mall, makan makanan cepat saji, ke salon setiap akhir bulan, anak-anak Desa Belandingan melewati keseharian dengan rutinitas yang sama, me...mbantu orang tua untuk menambah penghasilan tambahan, bekerja di lahan pertanian, menjaga adik-adiknya, mengambil air dari bak yang berjarak beberapa kilometer untuk dibawa pulang, bermain dengan mainan sangat sederhana, atau berjualan makanan kecil keliling kampung.
Sejak momen yang menyentuh itu kami bermimpi suatu ketika kelak bagaimana caranya agar kami bisa membantu mereka sehingga memiliki kesempatan untuk melihat dunia luar seperti anak-anak yang lain, memberikan pengalaman hidup yang lebih baik, akses terhadap pengetahuan, membentuk masa depan yang lebih layak. Dan dengan memulai hanya bermodalkan mimpi itu dan semangat, kami berharap mampu mewujudkan mimpi itu, tentu juga bersama kalian, meninggalkan jejak keringat kita bersama-sama!
Kita diajak melihat-lihat potret Desa Belandingan dari 6 sudut pandang anak-anak Desa Belandingan yang jujur dan polos. Tentang rumah, keluarga, teman, dan kegiatan mereka sehari-hari yang terekam dalam karya fotografi anak-anak.
Tempat : Alliance Française Denpasar, Jl Puputan I, no 13A, Renon Denpasar 80235
Waktu :
- Opening : 15 Januari 2011 (18.00 - 22.00)
- Photography discussion : 22 Januari 2011 (18.00 - 22.00)
- Movie screening : 29 Januari 2011 (18.00 - 22.00)
Contact :
- Anggara Mahendra (081 856 36 73)
- Vifick (0856 580 254 17)
kanvas putih di jari anak anak belandingan (seni soma project)

di mata anak-anak tak ada 7 keajaiban dunia
yang ada 7.000.000 keajaiban dunia.
"nah, sekarang kakak mau tanya, siapa dari kalian yang pernah ke denpasar???" aku mencoba menerka. namun ini diluar dugaanku, semua anak-anak diam, bisu, satupun tak ada yang mengacungkan tangan.
"lho,....."
hatiku menggumam:
"kalian anak-anak Bali?"
"harusnya kalian berhak melihat bali kalian, bukan hanya turis-turis itu......"
oh dear bapak ibu pemerintah, jangan lupakan anak-anakmu ini. pliz......!
(semoga kita masih punya hati. atau sudah dijual kepada orang luar negeri?)
anak-anak belandingan. anak-anak yang tak seberuntung kawan-kawan mereka di kota , namun di balik kesederhanaannya, keterbatasannya, kekurangannya, ada hidup yang sebenar-benarnya. yang jujur. baik dan buruk belum kabur. senyum menyungging. ada harapan besar di balik mata bening mereka walau tak terkatakan.
pagi: pagi sekali, kabut masih enggan pergi, anak-anak berlarian menghambur mengikuti aku kemanapun aku pergi. ya, telah sebulan lebih aku tak datang untuk menemui mereka di belandingan dan barangkali saja kerinduan mereka memuncak. kesibukan akademis, pribadi, sesekali hilang menemukan jalan, membuat kakiku terikat lebih banyak di ubud / denpasar. (namun tenang nak, hati kakak tlah menetap di kemapungmu melingkupimu. kakak ada terus disitu.)
hujan deras mengguyur belandingan pagi-pagi. aku segera berteduh di sekolah. anak-anak mengikuti aku, tampak sebagian dari mereka -yang kebanyakan perempuan- sedang menggendong adik-adik mereka. yang lain tentu sedang di ladang. ada darmawan dan yudayana serta beberapa anak laki-laki lain. beberapa minggu lalu aku berikan mereka 10 kanvas ukuran 40 x 40 cm untuk dilukis, cat akrilik, kuas, dan cangkir teh yang kemarin aku gunakan untuk mencampur warna. menunggu hujan yang tak pasti akan reda, kenapa tak isi waktu saja?
"oya, dar.... kanvas yang kemarin kakak beri itu sudah dilukis belum?"
"sudah kak. ada di rumah saya."
"mmm... kalau begitu boleh kamu ambil. kakak mau lihat"
rumah darmawan tak jauh dari sekolah. dalam hujan ia memayungi dirinya dengan daun pisang, dan kembali dengan kanvas-kanvas lukis itu dalam bungkus plastik.
"lho, kok gak diwarnai?"
(dan inipun yang kembali kepadaku hari ini cuma 7 kanvas saja, yang lainnya entah kemana...)
aku kaget karena ternyata akrilik, cangkir pengaduk cat masih terbungkus rapi dalam kresek putih kecil seperti kemarin, dan kanvas-kanvas itu ternyata hanya dilukis menggunakan pensil. namun tak apa, toh coretan-coretan pensil mereka sunguh cantik. kalau begitu kenapa nggak mewarani bareng saja pagi ini.
ternyata aku baru sadar, mereka tak tahu menggunakan kuas dan cat akrilik. merekapun tak tahu bahwa campuran cat akrilik itu adalah air, bukan minyak. dan mereka memilih untuk tak menggunakannya. pilihan yang tepat.

ada dua lukisan yang paling menarik mataku pagi itu. milik ni wayan seni soma dan komang trisna wangi. hehe... lagi2 perempuan menang. mereka menulis namanya besar-besar di pinggiran kanvas. ternyata mereka tak ada di kerumunan anak-anak pagi itu. wayan tik mendatangi aku dan berniat akan mencarikan mereka berdua ke rumahnya, ketika aku bertanya dimanakah gerangan kedua pemilik lukisan pensil ini. sembari sejenak menunggu hujan reda.
akhirnya mereka berdua datang. wajah-wajah yang sering aku lihat dan aku kenal, namun tak ku sangka mereka pintar melukis. mereka berdua tampak bingung ada apa gerangan aku menyuruh mereka datang ke sekolah. namun ketika mengetahui bahwa hari ini kita akan mewarnai lukisan mereka masing-masing, mereka sumringah. aku bukakan alat-alat lukis, mereka berdua duduk di bangku sekolah yang pagi itu sepi karena masih liburan hari raya.
"sekarang kita mewarnai lukisan kalian berdua ya"
"kakak suka lukisan kalian."
"bagus."
sementara teman-temannya yang lain mengerubungi.

namun berhubung hanya tersedia tiga kuas beda ukuran, maka seni soma yang mendapat giliran pertama untuk mewarnai.
walau akhirnya trisna wangi segera menyusul dan aku tak bisa menghentikan mereka berbagi kuas. ini adalah pelajaran paling mendasar, cara memegang kuas, mencampur warna, mengolesi cat, memilih warna yang disukai untuk digunakan menggambar gunung, ayam, dll.
dan setelahnya mereka terbang dalam goresan-goresan kuas, warna dan imaji. seni soma lebih menyukai warna pastel sementara trisna wangi lebih suka yang kontras.

hingga akhirnya mendekat senja aku di sekolah, seni soma menemukan sesuatu yang baru dalam kanvasnya (sebenarnya kami berdua yang menemukannya) dalam ikan-ikan teri yang memencar sesuka hatinya memenuhi kanvas.
untuknya akan aku buatkan project khusus SENI SOMA PROJECT. mau bantu kan? jika kalian ingin terlibat, sangat mudah caranya hanya dengan cara menyumbangkan ia kanvas dan cat akrilik. sebanyak-banyaknya kanvas. sebanyak itu ia akan melukis. dan setelahnya kita akan pamerkan kelak. (BARANGKALI SAJA hehe...) atau mau mengajari mereka melukis???? :)
seni soma, aku baru tahu selain pintar di kelas, ia adalah calon pelukis wanita sangat berbakat dari belandingan - BALI. jika dilihat dengan mata kasat, mereka hanya anak anak gunung, tapi jika dilihat dengan MATA HATI, mereka TALENTA TALENTA TERANG!

sekranjang cinta untukmu pahlawan-pahlawan kecil.
pande
dps
pagi ini
teruslah bermimpi Nak...
kembali ke HOME (halaman depan blog) :)
Yang Lain, Yang Terlewatkan di Bali.
Membiarkan sekolah ini tak beratap lebih dari 8 bulan?
Aku tak sedang dalam kapasitas menyalahkan siapapun,
kau sudah tahu jawabannya,
aku sedang mempertanyakan ke-BALI-an kita?
Ketakpedulian kita?
Omong kosong kita?
Selama ini.
Akhir pekan kemarin aku pulang ke kampung halaman tercinta di Denbukit, hanya untuk melepas penat dan kerinduan setelah menghabiskan beberapa pekan terakhir dalam kekisruhan skripsi dan ujian sidang yang walaupun aku petik dengan kepuasan di akhir. Setelah melakukan beberapa survey untuk program 1kamera 1000senyum di Belandingan bersama bli Pande dan Richard Piscioneri, aku lanjutkan perjalanan di hari Sabtu itu kearah Singaraja.
Aku pulang. Menghabiskan sore itu dengan mengabadikan keindahan panorama tebing-tebing denbukit yang masih perawan belum terjamah hingar bingarnya pesta pariwisata, walaupun hanya berjarak beberapa kilometer dari pusat pariwisata Buleleng, Lovina. Entah kenapa aku selalu merasa melankolis dan romantis ketika menghabiskan detik-detik waktuku di sini, di tempat yang kusebut Rumah.
Nyanyian Jangkrink, makan malam, senda gurau,singkong rebus, sungguh menghanyutkan. Sampai pada akhrihya aku mendengar kabar dari pamanku yang seorang wartawan bahwa salah satu sekolah dasar dekat rumahku beberapa bangunanya rubuh, beliau menawariku untuk meliput kesana, sambil mengabadikan beberapa gambar, mungkin ini bisa jadi liputan jurnalistikku yang pertama, walaupun di bantu oleh paman, setidaknya kabar ini bisa ku komersilkan menjadi sebuah berita, itulah hal yang pertama kali terlintas dalam benakku.
Pagi di hari minggu, begitu cerah, kamera, pulpen dan notebook sudah kusiapkan di Tas, akupun pergi menuju SDN 4 kaliasem, salah satu sekolah paling terpencil di salah satu desa pariwisata terkenal di Buleleng. Aku tidak pernah mengharapkan akan menemukan “SDN Belandingan” yang lain di belahan bumi Bali tercinta ini, namun apa yang kujumpai disini benar-benar berhasil meruntuhkan harapanku itu.
Kondisi sebuah bangunan yang kupertanyakan kelayankannya disebut sekolah. Ini hanya 2 buah bangunan, memanjang, yang hanya terdiri dari 6 ruangan, dan 1 kamar mandi, dan bahkan kini separuh dari bangunan itu hancur rubuh entah karena usia, atau cuaca, tidak pernah terpikirkan olehku untuk bisa menerima pengetahuan di tempat yang seperti itu. Sungguh sangat pernah miris melihat mereka belajar di lapangan terbuka.. Entah jika hujan turun atau panas menyengat, masih bisakah mereka menerima pengetahuan?
Aku kagum dengan mereka, para bocah-bocah desa. Aku pernah dengar orang mengatakan, Pendidikan dan pengetahuan bisa menjadi harta yang sangat berharga melebihi apapun. Mampukah mereka mendapatkan pendidikan dan pengetahuan dengan kondisi seperti ini?. Pertanyaan demi pertanyaan terus mengalir di kepalaku. Kesempatan berbincang-bincang dengan kepala sekolah pun sedikitnya memberitahuku keadaan yang sebenarnya.
"Ruangan-ruangan ini sudah rubuh semenjak Februari lalu dik” kata beliau.
Februari? Berarti sudah 8 bulan anak-anak ini dibiarkan belajar dengan kondisi seperti di pengungsian ini. (setidaknya itu yang saya bayangkan).
“kemarin bapak ke denpasar, untungnya biaya untuk pembangunan sudah disetujui oleh pemerintah, yaah, walaupun sebenarnya secara itung-itungan kurang, mau apa lagi, ya kita kanggoin aja, kita maksimalkan dana yang ada dik, daripada tidak ada sama sekali”.
Ah, sungguh menyedihkan, dimana di satu sisi perencanaan pembangunan gedung wakil rakyat dengan Spa dan Kolam renang bisa di setujui dalam kurun waktu yang relative cepat, kenapa pembangunan fasilitas pembangun generasi depan bangsa harus memerlukan waktu sampai 8 bulan?, ironis sekali memang.
Bincang-bincang saya pun berlanjut, dan sungguh kabar yang tidak mengenakan kembali saya dapatkan. “ anak-anak disini kalo sudah tamat SD tidak melanjutkan ke SMP dik, bahkan 2 tahu terakhir satupun dari lulusan sekolah ini tidak ada yang melanjutkan ke SMP, yahh, sudah bica baca tulis, cukuplah”.
Hhhhh, sungguh, saya tidak tau harus berkomentar apa. Saya jadi membandingkan, bahkan anak-anak di SD Belandingan pun yang di atas gunung ada beberapa yang melanjutkan ke SMP, tapi SD Punggang ini yang notabene hanya berjarak beberapa kilometer dari Kawasan Lovina dengan akses yang bisa dibilang mudah, tidak ada yang melanjutkan sekolah. Saya hanya bisa menghela nafas mendengar kabar itu.
Ide untuk meng”komersil”kan cerita mereka sirna begitu saja. Hal pertama yang terbersit adalah “Anak Alam Distrik Singaraja HARUS SEGERA DIAKTIFKAN”. Setidaknya saya dan kawan kawan anak alam bisa berbuat sesuatu untuk mereka. Tempat yang saya sebut rumah, ternyata memiliki cerita yang sungguh tidak saya prediksi sama sekali.
Kakak tidak janji bisa membangun gedung sekolah yang megah untuk kalian, kakak juga ga janji akan membiayai kalian untuk melanjutkan sekolah kalian ke SMP, tapi setidaknya kakak janji, kakak akan berbuat, dan berusaha, agar kalian bisa tersenyum kembali, belajar di tempat yang layak dan mampu melanjutkan pendidikan kalian...
(sementara tahan senyummu ada, nak!)
Selamat berkarya kawan-kawan anak alam Singaraja. Selamat berkarya anak-anak muda terbaik Indonesia.
teks & pic.: dwi cahya
editor: pande putu setiawan
sekeranjang cinta.
pande & dwi
Komunitas Anak Alam
Sumbangsih kecil untuk negeri secantik Indonesia.
Testimonial Kawan Anak Alam
-Irenita Indarto
"Makasih jg kak atas kesempatan bt kami untuk mengenal mereka lbh dekat, dan memberi sdikit perhatian pada negeri kcl kita. Semangattt...!"
-Mega Trisna
"Perjalanan terspektakuler dalam hidupku. Kan kukabarkan pada dunia. cerita bapak ini lebih seru daripada bu mus laskar pelangi"
-sms Charnie Meriel ke hp-ku, 15/2/2010
"Siiip markosiip. didi jd bangga kuliah buad jd seorang pendidik!klo libur didi pgn ikut ksana.. wekeke kalo ad acra mohon di info ..... hehe"
-Didi Marsinta Ari
"Bravo, Pande :) wonderfull!Sampaikan salam hangatku untuk anak2mu, ya.. selamat ulang tahun, semoga tumbuh semakin besar.
-Tri Liliana Ulfa 1/2/2010, 10:54pm
"Turut berbahagia, dan dengan rasa bangga dan salut ku ucapkan selamat ulang tahun untuk Komunitas Anak Alam,
I LOVE U :)"
-Renny Pearl
"Seru banget.. tetaplah begitu.. tetaplah membumi.. jadikan dirimu inspirasi untuk kami yang tak sampai di situ..
-Purnama Yanthi
"aku rasaaaaaaaa....negara kita justru akan maju oleh orang2 aneeeeehhhhhhh. lanjutkaaaaaaaaaaaaannnnn!!!!!!!!!"
-Hermawati Wiriadinata
"Letih, lelah...karena esok tak akan kutemui lagi alam surga dan jiwa-jiwa kecil yang bermimpi besar...... eerrggh jakarta.. how i don't want to come"
-Imelda Naomi, 27/01/2010
"...dengan itu kita dapat merangkai bagaimana kita menata anak bangsa ke depannya sehingga semuanya memiliki kesempatan yang sama, sekalipun mereka berada di penjuru yang paling pelosok di negeri ini."
-I Nyoman Arus, guru SDN 2 Songan
"terharu & salut membaca usaha yang dilakukan untuk memajukan pendidikan anak-anak kita di Br Alengkong."
-Ni Made Sri Andani
"NUN....JAUH DISANA""""Terharuuu!!!!"
-Pande Ayu Wijayanti
"mudah2an dengan adana kelas jauh ini, ada bapak prof. pujawan berikutnya, oya dulu guru besar termuda ITS sekarang SDna kan disini!!!!"
-Putu Celagi
"mmm, if i could...it would be a honour 4 me...if i could make another unforgetable moment 4 u n another kids in belandingan..i hope so..just wait n keep in faith..:)"
i love u kids..
-Dewi Pande
"Mengesankan!"
-Wahyu Prasetya Gede
"Indah"
-lovegreen
"semangat pantang menyerahnya, cita2 dan keikhlasannya patut ditiru..dan satu hal yang paling penting..tetap bersyukur dalam keadaan apapun.:)"
-Kirei Trisna
"Pande...kamu emang sajuta satu dari manusia...teruslah berbuat untuk membahagiakan orang lain...karena itu indah.."
-Julie Suryati Simanjuntak
"Hidup Anak Alam! Semangat terus ya... Jangan pernah berhenti bermimpi...you can be whatever you wanna be...
teruslah berjuang....salam."
-Miria Mulia
"harapan demi harapan pasti akan tergapai dengan merangkak, berjalan, berlari"
-Yongky Adi
"Semua untuk kita karena mereka adalah senyum kita..."
-I gde Ngurah Yudi Saputra
"mmmmmmm...walaupun terpencil tapi hati mereka tidak kecil dengan penuh semangat ingin maju...semoga pahlawan tanpa tanda jasa lahir" dan lahir tuk melahirkan anak" bangsa yang cerdas.....
-waduk Segara
"hari yang tak kan pernah terlupakan seumur hidup..hal kecil, tempat yang tak tercatat dalam peta (kata kak putu), namun telah menunjukan keindahan tak terhingga. masih q berharap, waktu berhenti. dan aq masih bs memandang senyum" polos mereka.. banyak yang q pelajari, dan aq makin mencintai alam n anak" seperti aku sangat cinta pada sahabat" terbaiku. Terimakasih kak putu, telah mengajarkan kami ttg kehidupan...i already miss this place..."
-Dian Sukma Dewi
"kenangan malam pengantin yg nggak bakalan pernah aq lupain,,,,,,,,,next time mdhn KMFH bisa gbung lg ma komunitas anak alam d event berikutna.......
-Dwi Tusidhi
"untuk pertama kalinya, malam taon baru yang merupakan hari mabuk sedunia, aku rayakan tanpa alkohol.....saloet bwt komunitas anak alam.."
-Sunu Graha
anak alam dan sang putri (terimakasih kak Ayu Diandra Sari)
"seorang wanita cantik hanyalah kecelakan alamiah penciptaan saja,
namun seorang wanita tua cantik adalah karya seni."
-louis nizer
teruslah, teruslah bermimpi nak. yakinlah peri itu kelak akan datang untukmu. bermimpilah, terus, karena dalam mimpimu ada senyuman kami. tuh kan, jika waktunya tiba, ia akan tiba. ibu peri datang.
hari ini adalah hari yang spesial buat anak-anak. pahlawan-pahlawan kecil kita dikunjungi oleh Ayu Diandra Sari runner up putri indonesia 2008 dan puteri bali 2008 bersama kakak-kakak mereka yang lain. mereka semua bergemuruh, tak melewatkan pandangan matanya setitikpun dari wajah dea ketika Dea aku beri kesempatan untuk memperkenalkan diri.
"halo adik-adik....."
"nama kakak, kak Dea."
"jujur tadi kakak pas mau berangkat ke desa kalian ini capek jalan kaki dan naik mobil pickup, namun sekarang kakak merasa sangat senang sekali. melihat wajah-wajah kalian yang begitu bersemangat. melambaikan tangan kepada kakak dari atas wantilan ketika kakak baru datang. kakak sungguh senang."
"izinkan kakak datang lagi ya lain kali..............."
anak-anak menjawab serempak:
"iya kaaaaaaaaaaaaaakk........"
dea larut dalam riang anak-anak.
hari ini kami berhasil 'mengerjai' Dea, aku memintanya untuk bernyanyi di depan anak-anak alam di wantilan desa belandingan. anak-anak request lagu keong racun, namun akhirnya Dea memilih untuk menyanyikan lagu puteri cening ayu. betul berarti kata bu muryati soedibyo: beauty, brain, behavior. setidaknya ia masih mencintai budayanya sendiri. "keong racun bukan lagu untuk anak-anak" tegasnya.
perjalanan denpasar - songan dengan mobil all new jazz putih untuk siapa saja pasti menyenangkan. namun bukan itu inti dari perjalanan Dea hari ini. bukan di mobil ber-AC, dengerin musik, bercanda dengan teman-teman. namun ketika kali ini harus mendaki jalan di bubung dengan mobil pickup ia sedang memulai petualangan yang sebenar-benarnya. ujian keberanian sisi kemanusiaan kita.
Dea datang ditemani kawankawan anak alam Fak Kedokteran Universitas Udayana, cok devi, wistya, arim, dath, eko, yang ingin bergabung dalam pembagian beasiswa bulanan kami kepada anak-anak. kebetulan juga dari dulu sebenarnya Dea berkeinginan bertemu langsung dengan anak-anak namun baru kali ini mimpinya terwujud.
Dea berkesempatan membagikan beasiswa itu kepada anak-anak satu per satu kemudian disusul oleh teman-temannya membagikan pakaian bekas yang beberapa bulan ini kami kumpulkan dari kawan-kawan anak alam termasuk tiket movie screening kemarin lalu di toga mas. di sela-sela pembagian sumbangan, Dea menyempatkan diri mengirim fotonya bersama anak-anak lewat blackberry dan ia berbisik kepadaku, "bli, saya ingin membantu lebih banyak lagi, mencarikan sponsor."
"tx for anticipating your support dea.......". kebetulan juga pameran fotografi kami kami rencanakan akan diadakan di danes art veranda dan Dea adalah teman dari bu melati istri pemilik danes art veranda maka jadilah kontribusi dea bertambah lagi. membawakan proposal pameran ke bu melati. "once again another thanks...."
bonus untuk dea hari ini adalah, berjalan kaki lagi, mendaki bubung batu barak seperti biasa setelah pembagian sumbangan selesai. sayang hari itu kabut tebal menyelimuti sisi timur bubung, namun keceriaan kami tak pudar. tentu juga untuk Dea. apalagi anak-anak alam.
ketika petang segera menjelang, dan akhirnya kini aku sendiri yang harus menjadi sopir pickup itu berhubung sopirnya sedang main volly, maka petualangan ini akan dituntaskan dengan tibanya mobil ini dengan selamat di basecamp, menuruni jalanan terjal. Dea barangkali di belakang berucap doa sangat panjang agar sopir baru ini menjalankan tuganya dengan baik, namun sebagai petualang sejati, menyopiri pickup turun gunung belumlah tantangan yang memberatkan.
aku dengar Dea nangis tadi di jalan, takut jalan turunan, namun setelah dikonfiormasi ulang, ia bilang lelahnya terbalaskan oleh wajah-wajah lucu anak-anak. hup hah......
"kak, kami menunggu kak Dea datang lagi....."
"jangan lupa mahkota putri dan tongkat ibu peri....."
terimaksih tak terperi kak.
salam anak alam,
salam anak indonesia
pande
kawan-kawan anak alam
anak-anak alam
dps, siang ini.
MOVIE SCREENING (PEMUTARAN FILM) ANAK ALAM. "NYANYI SUNYI BALI" 28 agustus 2010. pkl. 3 sore.
EVERYONE ARE INVITED!
apa yang anda lihat di permukaan itu bukan bali.
bali bukan glamour pariwisatanya. hiburan malamnya. macetnya. ter-BALI-k!
BALI sebenar-benarnya ada di sesuatu yang tak tampak,
di gending pipit yang terbang bebas
di suara padi tertiup angin di sawah
di hati orang-orang BALI yang bening.
barangkali ini adalah kesempatan TERBAIK kalian semua mengenal anak alam lebih jauh, lebih dalam, tentu lebih dekat. Nyanyi Sunyi Bali tajuk yang kami beri untuk helatan sederhana -namun bagi kami sangat besar artinya ini- karena ini waktunya kesunyian-kesunyian itu bernyanyi. kata-kata yang tak terdengar itu berteriak. (semoga kuping dan hati kalian masih peka....???)
FILM telah menjadi salah satu media terbaik, apa pasal: pertama ia bergerak. yang kedua ia adalah visual yang bisa dicerna oleh semua indera yang kalian miliki termasuk indera keenam: HATI.
MOVIE SCREENING (PEMUTARAN FILM ANAK ALAM)
"nyanyi sunyi bali"
TOGA MAS, Jl. HAYAM WURUK 175 DENPASAR
SABTU, Pkl. 3 sore - 6 sore.
undangan ini kami tulis hitam putih, bahwasanya ingatkah kalian: BINTANG PALING TERANG AKAN BERSINAR DARI LANGIT PALING GELAP. waktunya kita saksikan bintang-bintang kita lebih dekat. sejarak tempat anda duduk dengan layar. namun percayalah, film-film yang kalian nanti akan tonton semuanya full color tentu dengan teknologi pengeditan dari yang paling kini hingga yang paling jadul. ya jadul... (hanya itu yg gw bisa...)
namun itulah kita. bukannya itu kita? teknis nomer sekian, namun passion, kepekaan, cinta adalah hal utama. semua karya ini ada karena itu semua. dan semua karya ini adalah sumbangsih kami untuk hal-hal yang tak tampak itu. hal-hal yang bisu itu. agar ia terlihat. agar ia berbicara. syukur-syukur kalian lihat. syukur-syukur kalian dengar...
- EMPAT MENTARI BELANDINGAN, empat gadis kecil yang mengajari kita sari buku the secret.
- 1000 CITA-CITA, untuk 1000 kemungkinan. setidaknya langkah pertama dari sebuah perjalanan panjang tlah berani kalian ambil nak!
- I'M NOT A HERO! bumi tak butuh pahlawan, hnya pecinta. bukannya kita semua punya?
- KARMA, hariku adalah karya. karyaku adalah karma.
- MIMPI DARI BALIK BUKIT, bagaimana mungkin kau mendengar desah angin di balik bukit, jika telingamu tuli oleh gemuruh kota?
- BINTANG PALING TERANG, dalam keterbatasan ada sisi-sisi ketakterbatasan. ia adalah prestasi.
- SERENADE KAMPUNG HALAMAN, sebuah surga yang lain. sebuah rumah yang lain.
- MENTARI YANG SAMA, memberi hangat yang berbeda!
- dll (sekitar 15 FILM / klip pendek)... kuraangg....?????
oya, kalian juga bisa beli 'SIGNATURE' MERCHANDISE ANAK ALAM, PIN, T-SHIRT, tentu juga membawa pulang copy-an masing-masing dari film itu pulang. mau diputerin di rumah lagi untuk saudara, kolega, keluarga, silahkan.......
jangan lupa bawa tiket seperti biasa:
- pakaian bekas,
- buku bekas,
- alat-alat tulis
- BERAS.
- atau apa saja yang ingin kalian sumbangkan.
atau sekali lagi anda akan bisu!
life is a choice, once again....
hem......... selamat untuk BALI atas generasi-generasi apatismu!
semoga tak segera KARAM!
sekeranjang cinta,
dari kami yang mencintaimu dalam-dalam
untuk BALI.
Pande
27 agustus 2010
pagi hari

ART INSTALLATION: "PADI. LILIN. BULAN. BUNDA." 22 Agustus 2010. 6:00 pm. sawah anyelir. PLZ COME WITH SMILES ON!
"Siapa yang lebih memalukan, anak-anak yang takut gelap, atau kita yang takut cahaya???"
~Maurice Freehill
cahaya jiwa yang mana? siapa? aku. kamu. kami. kita? semua adalah lilin-lilin. cahaya. penerang gelap di pinggir kota. bukan merkuri terang di tugu perempatan. ia sepercik api matahari. BUNGA-BUNGA api. menyala. tertiup angin. bertahan. atau mati? namun dikenang. ada padi sumber hidup. baru saja tumbuh. ia masih kecil. mengapung bayangannya di atas air yang mengaliri parit. air bening tempat cahaya bercermin. air bening tempat bebek-bebek mandi dan berenang.
siapa yang lebih memalukan? memiliki lilin tak dihidupkan? atau lilin menyala dan habis tertiup angin? minyak ada untuk dihabiskan dan menyalakan lampu.
ada padi baru tumbuh. panen masih jauh. purnama sudah dekat. apakah aku punya hak untuk merindu? kita? melihat wajah sendiri, melihat hati sendiri, cinta, bercermin pada pantulan cahaya bulan dalam air?
BUNDA bertanya-tanya? apakah anak-anaknya telah sarapan tadi pagi? sudah mandi? tumbuh? mencinta? apa adanya. hingga kelak pohon padi masing-masing berbuah, matang, dan merunduk. menghidupi. memberi. KEKAL!
maka jika malam ini GELAP. siapa yang takut? anak-anak itu? atau kita yang takut terang? MALAM ini datanglah kawan! pandangi parit padi. cahaya lilin bukan MERKURI di tugu perempatan. ia kecil namun ABADI. seperti cinta. aku. kita. ABADI!
cinta ada: dalam pertemuan lilin dan bayang-bayang bulan yang dipantulkan oleh air yang menumbuhkan padi.
di situ BUNDA tersenyum! tawar. BUMI. BUNDA. BUNGA!
INVITATION FOR EVERYONE
boleh bawa kolega, pacar, saudara, teman, adik, kakak, kakek, nenek, setan, malaikat!
Art Installation: PADI. LILIN. BULAN. BUNDA
lokasi: Sawah Jalan Anyelir Gang Rama. tempat Festival layang-layang Anak Alam
waktu: mulai jam 18:00 - 23:00 malam atau sampai semua lilin padam.
jangan lupa membawa sumbangan 1 pack lilin (isi 12) ukuran 5 centimeter yang bontok itu lho.. harganya kurang lebih 12 ribu. WAJIB!
dan jangan lupa bawa senyum BUNDA!
sampai bertemu di sawah dengan lilin, bulan, dan (semoga) ada kunang-kunang!
sekeranjang cinta,
pande
di suatu tempat yg hilang
mlm ini.









