Showing posts with label Anak Alam dalam Cerita. Show all posts
Showing posts with label Anak Alam dalam Cerita. Show all posts
8:38 PM

CEPAT SEMBUH WAYAN! SENYUM ULFA!

.

"Menjadi tak dibutuhkan, terpinggirkan, terlupakan oleh orang,
Aku pikir adalah kelaparan yang lebih tinggi, kemiskinan yang lebih besar
dari tak memiliki apapun untuk dimakan."
-Mother Teresa


Malam
ini Wayan Pasek* (8th) terlihat kurang begitu bergairah. Sejak kemarin pagi ia sakit demam dan muntah-muntah. Beruntung ada Puskesmas yang memberi pengobatan gratis dan kemarin pagi Nenek Ririg membawa Wayan berobat ke puskesmas. Ia belum menyempatkan diri meminum obat generik yang diberikan dokter puskesmas. Obat generik warna-warni yang hanya dibungkus plastik bening 1/4 kilo. Pernah sekali waktu malam itu Kadek Ulfa yang sakit dan Nenek Ririg tak memiliki uang sepeserpun, namun untuk sebuah nyawa anak kecil ia memberanikan diri untuk membawa Kadek ke dokter dan bersyukur dokter tersebut masih punya hati dan mau membantu mengobati Kadek tanpa sepeser biaya pun untuk obatnya. (jika saja lebih banyak dokter yang sepertinya.)
*(wayan pasek adalah kakak kandung kadek ulfa yang sekarang sekolah kelas 1 SD)

Malam ini tak seperti malam sebelumnya, kedatanganku kembali ke rumah Kadek Ulfa ditemani oleh lebih banyak orang dan suasana di rumah ini menjadi ramai. Namun sayang aku tak membawa kamera poketku karena memori cardnya kena virus kemarin lalu dan belum sempat aku format, jadi biarkanlah hanya tulisan ini yang merekam malam yang haru itu.

"Dua tepuk tiyang jalane, gegeson tiyang mulih. suud medagang."
"mangkin tiyang polih medagang Rp. 15.000"
"Rp.10.000 anggon tiyang mayah hutang nyilih anggon modal medagang tuni semeng."
"Rp. 5.000 anggon tiyang mayah hutang meling baas ibi sanja aji Rp. 7000."
"Kari tiyang ngutang bin Rp.2000."
Nenek ririg menuturkan kepadaku hasil tentang hasil jualannya hari ini.

Ya, hari ini Nenek Ririg hanya dapat jualan Rp. 15.000 hasil dari keliling Ubud beberapa jam saja. Sakit rabun mata nenek ririg kumat. Ia lihat jalan yang ia lalui menjadi dua. Dan ia memutuskan untuk segera pulang saja bersama kadek ulfa. Dari uang hasil jualannya itu, Nenek Ririg menggunakan rp. 10.000 untuk membayar utang modal jualannya tadi pagi sementara sisanya rp. 5000 ia gunakan untuk membayar utang beli beras semalam, dan degannya kini ia hanya menyisakan sisa utang rp.2000 saja.

Seperti yang kita tahu sebelumnya bahwa nenek ririg menghidupi kedua anaknya dan kakek Adin dengan berjualan sayur keliling Ubud. Ia mendapatkan sayur mayur yang ia jual (bayam, daun jipang, daun labu, kangkung, dll) dengan cara membeli dari orang-orang kampung seharga rp.2000 / kg yang nantinya akan ia jual rp.3000 / kg kepada orang-orang yang ia temui di jalanan ubud. Dan saban hari rata-rata ia bisa membawa uang rp.30.000 itupun dengan modal rp.20.000 untuk membeli sayur-mayur di pagi hari.

Sepeninggal kedua orang tuanya, Kadek Ulfa dan Wayan pasek hanya dihidupi oleh nenek ririg. sesekali kakek Adin juga ikut membantu khususnya untuk biaya bulanan air dan listrik yang dengan sekuat tenaga ia pertahankan hanya agar tak disegel. ya, ia sangat menekankan kata itu ketika bercerita kepadaku.

"Tiyang akan lakukan apapun agar air dan listrik untuk pondok ini tak disegel"
"tanpa keduanya, apa lagi yang kami punya?"

Kakek Adin sakit-sakitan. sudah lama ia menderita penyakit ashma sehingga tak lagi bisa bekerja untuk menjadi penggarap sawah. pun juga ia tak memiliki sawah sendiri. Keseharian kakek adin beberapa tahun lalu dilakoni menjadi pemulung barang-barang bekas di seputaran ubud hingga sanggingan, memungut botol / kaleng / apa saja yang dibuang dari sisa-sisa rumah dan restoran di ubud. dengan itu ia selama ini membantu menafkahi keluarga kecilnya. Namun semenjak sakit ashmanya semakin parah, ia hanya bisa melewati keseharian dengan berada di rumah. sesekali ia pergi ke tempat sabungan ayam, memungut bulu-bulu ayam yang mati karena kalah, yang kemudian ia jual rp. 1000 / ikatnya kepada pengepul.

Dengan itu ia memberi bekal kepada Wayan Pasek ke sekolah saban hari rp.1000 rupiah sementara nenek Ririg akan menambahkan rp.2000 hingga Wayan bisa membeli nasi di sekolahnya saban pagi. Uang rp.3000 itu biasanya ia belikan nasi rp. 2000 dan rp.1000 lainnya biasanya ia belikan oreo snack favoritnya.

dan kini, pekerjaan kakek adin dilanjutkan oleh Wayan Pasek. jika ia tak sakit seperti saat ini, ia biasanya pergi keliling ke seputar desanya memungut botol-botol air mineral dan kaleng dan saban hari ia rata-rata dapat mengumpulkan 1 kresek yang kemudian ia berikan kepada kakeknya. sebuah pertautan semangat yang tak terputus. sebuah energi yang selalu menyala, dalam kegelapan.

Sementara kadek ulfa lebih senang untuk mengikuti nenek ririg kemanapun ia pergi menjajakan dagangan sayur mayurnya, dan sembari memungut bunga-bunga kamboja yang ia temui di jalan. ia memiliki ketertarikan akan bunga, dan semoga ini pertanda baik di hari-hari kehilangannya, untuk anak yang baru saja ingin mengenal hidup. sesekali jika ada uang lebih, nenek ririg membelikan ulfa nasi rp. 2000 dan sate rp. 1000 di pasar ubud.

Pernah sekali waktu orang menyodorkan uang rp.5000 untuk nenek ririg di jalan dan ia terima, namun sekalipun ia tak pernah menengadahkan tangan untuk meminta. dan sandal, sesekali kaos, pakaian untuk wayan, dan satu-satunya buku tulis yang dimiliki Wayan pasek yang aku temui di tas sekolahnya pun dapat dari sumbangan orang, tak luput tas bergambar megaloman itu. ketika aku tanya wayan

"berapa kamu memiliki baju"
"banyak" jawabnya
"darimana kamu dapat?"
"dapat dari orang" sahutnya.


Keluarga Besar

tak seperti keluarga-keluarga lainnya, pekarangan rumah nenek ririg dihuni oleh 8 kepala keluarga dengan 8 bangunan yang rata-rata hanya bertembok batako, beberapa yang di cat sudah tampak sangat usang. 8 keponakan kakek adin bekerja menjadi buruh pembuat ukiran bingkai kayu ala bali.

Lantai pekarangan masih berupa tanah, dan sebagian besar keluarga menggunakan tungku api untuk keperluan memasak sehari-hari. selain menjual sayur keliling, nenek ririg saban sore pergi ke sawah dan ladang untuk mencari ranting-ranting kayu, sesekali pergi ke para pembuat figura kayu yang banyak tersebar di kampungnya dan memungut kayu-kayu sisa untuk ia jadikan kayu bakar.

Dapur nenek ririg tak bisa saya tuliskan dengan kata-kata yang baik. saya sendiri malu untuk menuliskannya. malu membayangkan bahwasanya di ubud masih ada dapur seperti itu. bak kamar mandi bekas yang tak berisi air. lantai semen tak terurus dan berserak kayu. tembok legam karena asap kayu bakar.

Dalam keseharian mereka makan dengan standar lauk tempe tahu, sementara karena kasihan kepada Kadek Ulfa nenek ririg membeli ayam kepada penjual daging yang sering lewat ke kampungnya rp.2000. terkadang nenek ririg juga membeli sayur-sayuran yang sudah jadi ketika ia tak sempat memasakkan lauk untuk cucu-cucunya.

Hari ini aku ditemani Nenek Ririg, Kadek Ulfa, Wayan Pasek, Kakek Adin lengkap. ada serta juga Nenek Lemeh saudara kakek adin dan anaknya Made Candra beserta dua cucunya. di dekapan nenek Lemeh ada seorang cucunya yang gagu Wayan Werdi yang ketika umur 4 tahun kala itu, demam tinggi hingga step dan semenjak saat itu ia menjadi gagu. namun secara fisik ia tumbuh seperti normal, seumuran ia yang kini 12 tahun, dan ketika ia bicara saja ia akan tampak cacat. Ia mencoba berbicara walau dengan sangaaaaaattttt lamban. namun aku masih mengerti kata-kata yang ia ucapkan.

Ketika ditanya ayahnya bekerja dimana, ia menunjukkan kaos hitam bertuliskan I LOVE BALI DOG tempat dimana ayahnya bekerja. ia menarik kaosnya bagian depan dan menunjukkannya kepadaku. sementara ibunya Wayan Candri lumpuh setengah badan saat punya anak ke dua karena stroke. kini anak keduanya telah berumur 2 tahun.


Sepeda Butut

malam ini tak tampak sepeda butut Wayan Pasek di kamar kakek adin yang kemarin lalu ada tergeletak. ternyata kakek adin membawakan sepeda cucunya itu ke bengkel sepeda dekat rumahnya. namun apa lacur, sepeda itu sudah tak bisa lagi debetulkan. tak pelak sepeda itu dititipkan saja di bengkel. tak memilih untuk dibawa kembali pulang. sementara kadek ulfa tak mau kalah dengan kakaknya ingin menunjukkan sepedanya kepadaku. namun apa yang ia tunjukkan kepadaku malam itu, tak lebih dari 'rongsokan' sepeda anak yang roda belakang kanannya telah patah.

dan diantara beberapa sumbangan dari teman-teman yang aku bawakan malam itu kepada mereka, Wayan Pasek paling suka topi plastik motif bola-bola yang berisi kaca mata itu.

"saya akan bawa ke sekolah."
"saya akan bawa mencari botol"
kilahnya.

sementara kadek ulfa tak mau lepas dari satu tas kertas yang berisi beberapa potong pakaian bekas layak pakai berwarna warni sumbangan dari kawan-kawan kita di sekolah perancis kerobokan yang kala itu dititipkan kepadaku. aku titip pesan untuk mencucinya terlebih dahulu sebelum digunakan.

tak terasa sudah jam 8 malam. aku tak mau mengganggu istirahat keluarga mereka lebih lama. namun mereka serempak berucap "tidak kok. pak putu tak mengganggu malam kami. malah kami yang harusnya berkata sebaliknya, kami yang telah mengambil waktu istirahat pak putu".


pande
pagi ini 10:00am

terimakasih tak terperi kalam.
keluarga ini pantas untuk kita temani. hingga panjang.
download flier kadek ulfa: http://www.ziddu.com/download/14655232/KADEKULFADEWIYANTI.pdf.html

12:51 AM

Ketakpedulain kita yang kronis.


untuk Kadek Ulfa

ketut rigin

ada yang berlebihan. ada yang kekurangan.
ada yang kehilangan. ada hati.
kenapa kita tak saling memberi?

Senja yang bening. Cuma 2 kilometer dari pusat Ubud, hidup berjalan sangat pelan. Kehidupan disini mengingatkanku tentang romansa Bali ketika aku masih sangat kecil dulu. Lugu. Bangau putih beterbangan kembali pulang ke sarang memberi anak-anak makan, sementara penduduk kampung baru pulang dari pesawahan sambil mejunjung sekeranjang rumput di atas kepala.

Sementara tak jauh dari desa lengang ini, waktu berlari, membalap apa saja, berjalan cepat di Ubud. Turis-turis berlalu lalang di jalan monkey forest, butik-butik sibuk, restoran-restoran sibuk, hotel dan villa di pinggir jurang dan sawah bersolek.

Sore ini, barangkali ini adalah hari pertamaaku bisa melihat wajah Tuhan secara langsung di rumah berlantai tanah milik seorang nenek tua. Tuhan yang tersenyum melalui seorang nenek yang berlarian tersengal-sengal dari kejauhan ingin segera bertatap muka denganku. Tuhan yang tersenyum lewat bibir seorang anak perempuan kecil yang ketika pertama kali aku temui kemarin lalu berwajah sangat datar. Tuhan yang tersenyum lagi melalui seorang kakek yang menyusul duduk dan nimbrung bersama kami yang tiba-tiba bertanya dengan kerasnya, “Bapak dariamana?” Tuhan yang hingga aku pulang tak bisa aku beri nama.

Pertemuanku pertama kali dengan Kadek Ulfa dan neneknya kala itu terjadi tak sengaja (atau barangkali Tuhan menjadikannya sengaja....?) ketika aku baru berangkat kerja dan berpapasan dengan seorang anak kecil di genggaman tangannya membawa plastik bening berisi bunga kamboja menemani neneknya bergegas pulang di trotoar jalan Dewi Sita. Aku tak kuasa menahan laju motorku terhenti. Pengennya sih hanya mengambil foto saja dan bertegur sapa, namun perkenalan itu memberi aku lebih dari apa yang aku bayangkan, sebuah cerita haru. kehilangan. Pertemuan pertama itu aku janji akan dilanjutkan pertemuan-pertemuan berikutnya, tentu kali nanti mengunjungi mereka ke rumahnya di Petulu Gunung sana.

“Adan tiyange Ketut rurug. Kurenan tiyange ketut Adin. Niki cucun tiyange Kadek ulfa dewiyanti. Bapane sampun ten kari. adan bapane wayan wenten. umah tiyange di Petutu gunung dajan bale banjar, ring sisin margi ring kanan wenten dagang rujak. ten joh uling rika....." nenek tua itu menceritakan jati dirinya kepadaku.

*terjemahan bebas: Rumah saya di sebelah utara Balai Banjar. Jika melihat ada penjual rujak di sebelah kanan, masuk ke timur disitu rumah saya. Nama saya………………, nama suami saya……………., nama anak ini Kadek Ulfa Dwi Yanti, nama bapaknya yang sudah meninggal. Nama ibunya”

Sore ini aku memiliki waktu luang dan memutuskan untuk mengunjungi mereka. "Setelah melewati pelang selamat datang di wisata kokokan selamat datang di petulu gunung. terus saja maka kau akan menemui balai banjar petulu gunung di sebelah kiri jalan. dan sekali lagi sesui dengan petunjuk nenek rurug, cari pedagang rujak di sebelah kanan maka tanya saja disana, rumah nenek rurug tak jauh dari situ."

dan pedagang rujak ini adalah warung rujak pertama yang aku temui setelah melewati balai banjar. tampak 2 orang anak sedang menunggu pesanannya, dan seorang anak perempuan yang lain berbaju pink yang ternyata adalah penjual rujaknya. aku menghentikan motorku di pinggir jalan persis di sebelah warung rujak itu.

"Gek, mau tanya dimana rumahnya Kadek Ulfa ya.....?" sembari aku menunjukkan foto anak itu yang masih tersimpan dalam kamera sakuku.

"Oh,.... ini pak. ini kok rumahnya. tinggal naik aja, terus lurus yang paling ujung itu rumah kadek ulfa" perempuan kecil itu menunjuk tangga berundak tinggi yang menuju ke sekumpulan rumah berjejeran. sepasang anjing warna hitam datang ke gerbang dan mulai menyalak melihat orang asing yang bertandang. terpaksa deh anak penjual rujak itu yang menghantarkanku masuk menuju rumah itu....... (trims ya dik....)

melewati lorong jalan tanah, di kanan kiri penghuni rumah sedang melakukan aktifitasnya masing-masing. di pekarangan itu ada sekitar 5 rumah yang berdiri sendiri, dan rumah kadek ulfa adalah yang ke 6 dan berada paling ujung, di teba begitu orang bali menyebutnya.

rumah-rumah ini sekali lagi mengingatkanku akan rumah kakek-nenekku dulu. hampir sama persis. bayangkan? itu sudah beberapa puluh tahun yang lalu, dan hari ini, disini memori itu live. dua anjing hitam itu masih menyalak. aku berjalan sembari sesekali berhenti ketika anjing itu mendekat. penghuni rumah-rumah itu membantuku mengusir anjing-anjing itu hingga diam. dan aku tiba di ujung rumah. sebuah rumah batako, sepi, dan TV samsung flat (yang belakangan aku tahu hasil sumbangan) hidup di teras semen itu tanpa ada yang menonton.

tak lama berselang tampak seorang lelaki muda separuh baya membuka pintu dan menghampiri aku dengan senyum. huh... syukur dengan senyum....

"Pak, saya mau bertemu dengan kadek ulfa."
"saya dari yayasan." bohongin dikit aja... hehe....
bapak itu sumringah dan mempersilakan aku duduk dengan terlebih dahulu membukan gulungan karpet hijau dan menggelarnya di atas lantai yang hanya plesteran tersebut.

(jangan berharap kamu akan disuguhkan kopi untuk kunjunganmu, hehe... jangan sama sekali. untuk makan sendiri aja mereka masih mikir...)

"oh, kadek ulfanya lagi keluar bersama neneknya" lelaki itu menimpali. kemudian, seorang nenek lain yang tinggal di rumah yang ada di depan bergegas, mengambil inisiatif untuk mencarikan nenek rugig dan kadek ulfa.

tak lama berselang, wajah nenek tua namun penuh semangat itu muncul. dengan bersengal-sengal ia berlari, diikuti kadek ulfa, dan diikuti kakeknya menuju rumahnya yang disana telah ada aku sebentar menunggu. tak tampak kakak lelaki Ulfa, karena ia sedang bermain entah kemana.

suasana sore itu sangat berbeda dengan pertemuan kami kali pertama di jalan raya. kadek Ulfa menyungging senyum. aku suka. setidaknya tidak datar seperti kala itu. neneknya menyapa aku dan tak sangka kakeknya juga ikut malahan kakeknya yang menjadi jubir sore itu.

"Pak putu dari mana?"
"Pak putu kerja dimana?"
"Siapa orang tuanya pak putu?"
bergegas mengambil akte perkawinan almarhum dan almarhumah ayah&ibu kadek ulfa dengan bersemangat ia menunjukkan wajah kedua orang tua ulfa.
"yah, barangkali kelak akta ini pak putu butuhkan" imbuhnya.

"ya pak. kemarin lalu ketika itu saya bertemu dengan ulfa dan neneknya saat pulang jualan sayur di ubud"
"saya jajnji akan datang dan berkunjung ke sini, kapan saja saya ada waktu dan teman-teman saya menyumbang."
"saya bukan orang kaya pak. namun banyak teman-teman saya yang barangkali bisa membantu"
"ini saya kirimkan, kemarin itu setelah fotonya ulfa saya kirim ke internet ada yang menyumbang untuk ulfa dan nenek. tapi alakadarnya ya pak. 50 ribu, atau seratus ribu atau berapa aja, mohon dimaklumi."

kakek itu merapikan duduknya, "wah pak putu, jangan bicara seperti itu. apa saja bantuan yang kami terima kami pantas syukuri. sungguh kami sangat kekurangan, jadi kedatangan pak putu sore itu kami sangat senang...."

*

Beginilah jika bisa digambarkan kehidupan mereka sehari-hari. Kakek dari kadek Ulfa yang sudah lama tak bisa bertani lagi karena sakit batuk, kedua orang tua yang sudah meninggal, seorang kakak yang sedang duduk di kelas 2 SD, dan neneknya adalah satu-satunya orang yang masih bisa mencari penghasilan.

Nah sekarang masalahnya seberapa besar penghasilannya? saban siang sampai sore mencari sayur-sayuran yang bisa dijual, kemudian ia akan jual keesokan harinya berkeliling Ubud. masalah yang lain muncul karena, hari gini, siapa juga yang mau membeli sayur-sayuran semacam daun labu yang nenek itu bawa keliling setiap hari. dan sampai di sini aku tak bisa menemukan jawaban bagaimana cara mereka makan jika pas kebetulan satu hari nenek ulfa tak dapat jualan sama sekali.

Maka jangan tanya lagi yang lain, memperbaiki rumah, dapur, membeli boneka, membeli sepeda, apalagi makan enak. jangan pernah. makan untuk empat orang yang tinggal di rumah sangat sederhana itu seperti sebuah game; kadang menang dan sering kali kalah.

Semenjak pertemuan yang tak sengajaku dengan Ulfa ketika itu dan aku mengirimkan foto-foto mereka lewat FB, telah ada 2 diantara 3.000.000 - an penduduk bali yang peduli. Mereka adalah 2 perempuan berhati baja. Hanya Aung San Suu Kyii dan Mother Teresa yang memiliki kualitas ini. Mereka berdua adalah Sang Ayu dan Gek Nanda. Mereka, aku tahu bukanlah orang-orang sangat kaya, namun mereka pastilah orang-orang yang berhati KAYA.

Kemana jutaan orang-orang Bali yang lain sembunyi????

Ini waktunya kalian, SEKARANG!

Pande
siang ini
ubud

Foto-foto selengkapnya....

7:48 PM

Majalah Respect edisi 7 / Artikel " Pande Putu Setiawan, Membangun Bali Lewat Mimpi Anak-Anak."

.





page 26-27

silahkan klik gambar di atas untuk tampilan lebih besar. kemudian klik sekali lagi untuk men-zoom. :)

tx. rera/kophi atas interviewnya.


pande
ubud
25/2/2011
8:59 PM

kanvas putih di jari anak anak belandingan (seni soma project)




di mata anak-anak tak ada 7 keajaiban dunia
yang ada 7.000.000 keajaiban dunia.

"nah, sekarang kakak mau tanya, siapa dari kalian yang pernah ke denpasar???" aku mencoba menerka. namun ini diluar dugaanku, semua anak-anak diam, bisu, satupun tak ada yang mengacungkan tangan.
"lho,....."
hatiku menggumam:
"kalian anak-anak Bali?"
"harusnya kalian berhak melihat bali kalian, bukan hanya turis-turis itu......"

oh dear bapak ibu pemerintah, jangan lupakan anak-anakmu ini. pliz......!
(semoga kita masih punya hati. atau sudah dijual kepada orang luar negeri?)

anak-anak belandingan. anak-anak yang tak seberuntung kawan-kawan mereka di kota , namun di balik kesederhanaannya, keterbatasannya, kekurangannya, ada hidup yang sebenar-benarnya. yang jujur. baik dan buruk belum kabur. senyum menyungging. ada harapan besar di balik mata bening mereka walau tak terkatakan.

pagi: pagi sekali, kabut masih enggan pergi, anak-anak berlarian menghambur mengikuti aku kemanapun aku pergi. ya, telah sebulan lebih aku tak datang untuk menemui mereka di belandingan dan barangkali saja kerinduan mereka memuncak. kesibukan akademis, pribadi, sesekali hilang menemukan jalan, membuat kakiku terikat lebih banyak di ubud / denpasar. (namun tenang nak, hati kakak tlah menetap di kemapungmu melingkupimu. kakak ada terus disitu.)

hujan deras mengguyur belandingan pagi-pagi. aku segera berteduh di sekolah. anak-anak mengikuti aku, tampak sebagian dari mereka -yang kebanyakan perempuan- sedang menggendong adik-adik mereka. yang lain tentu sedang di ladang. ada darmawan dan yudayana serta beberapa anak laki-laki lain. beberapa minggu lalu aku berikan mereka 10 kanvas ukuran 40 x 40 cm untuk dilukis, cat akrilik, kuas, dan cangkir teh yang kemarin aku gunakan untuk mencampur warna. menunggu hujan yang tak pasti akan reda, kenapa tak isi waktu saja?

"oya, dar.... kanvas yang kemarin kakak beri itu sudah dilukis belum?"
"sudah kak. ada di rumah saya."
"mmm... kalau begitu boleh kamu ambil. kakak mau lihat"

rumah darmawan tak jauh dari sekolah. dalam hujan ia memayungi dirinya dengan daun pisang, dan kembali dengan kanvas-kanvas lukis itu dalam bungkus plastik.

"lho, kok gak diwarnai?"

(dan inipun yang kembali kepadaku hari ini cuma 7 kanvas saja, yang lainnya entah kemana...)

aku kaget karena ternyata akrilik, cangkir pengaduk cat masih terbungkus rapi dalam kresek putih kecil seperti kemarin, dan kanvas-kanvas itu ternyata hanya dilukis menggunakan pensil. namun tak apa, toh coretan-coretan pensil mereka sunguh cantik. kalau begitu kenapa nggak mewarani bareng saja pagi ini.

ternyata aku baru sadar, mereka tak tahu menggunakan kuas dan cat akrilik. merekapun tak tahu bahwa campuran cat akrilik itu adalah air, bukan minyak. dan mereka memilih untuk tak menggunakannya. pilihan yang tepat.

ada dua lukisan yang paling menarik mataku pagi itu. milik ni wayan seni soma dan komang trisna wangi. hehe... lagi2 perempuan menang. mereka menulis namanya besar-besar di pinggiran kanvas. ternyata mereka tak ada di kerumunan anak-anak pagi itu. wayan tik mendatangi aku dan berniat akan mencarikan mereka berdua ke rumahnya, ketika aku bertanya dimanakah gerangan kedua pemilik lukisan pensil ini. sembari sejenak menunggu hujan reda.

akhirnya mereka berdua datang. wajah-wajah yang sering aku lihat dan aku kenal, namun tak ku sangka mereka pintar melukis. mereka berdua tampak bingung ada apa gerangan aku menyuruh mereka datang ke sekolah. namun ketika mengetahui bahwa hari ini kita akan mewarnai lukisan mereka masing-masing, mereka sumringah. aku bukakan alat-alat lukis, mereka berdua duduk di bangku sekolah yang pagi itu sepi karena masih liburan hari raya.

"sekarang kita mewarnai lukisan kalian berdua ya"
"kakak suka lukisan kalian."
"bagus."

sementara teman-temannya yang lain mengerubungi.

namun berhubung hanya tersedia tiga kuas beda ukuran, maka seni soma yang mendapat giliran pertama untuk mewarnai.

walau akhirnya trisna wangi segera menyusul dan aku tak bisa menghentikan mereka berbagi kuas. ini adalah pelajaran paling mendasar, cara memegang kuas, mencampur warna, mengolesi cat, memilih warna yang disukai untuk digunakan menggambar gunung, ayam, dll.

dan setelahnya mereka terbang dalam goresan-goresan kuas, warna dan imaji. seni soma lebih menyukai warna pastel sementara trisna wangi lebih suka yang kontras.

hingga akhirnya mendekat senja aku di sekolah, seni soma menemukan sesuatu yang baru dalam kanvasnya (sebenarnya kami berdua yang menemukannya) dalam ikan-ikan teri yang memencar sesuka hatinya memenuhi kanvas.

untuknya akan aku buatkan project khusus SENI SOMA PROJECT. mau bantu kan? jika kalian ingin terlibat, sangat mudah caranya hanya dengan cara menyumbangkan ia kanvas dan cat akrilik. sebanyak-banyaknya kanvas. sebanyak itu ia akan melukis. dan setelahnya kita akan pamerkan kelak. (BARANGKALI SAJA hehe...) atau mau mengajari mereka melukis???? :)

seni soma, aku baru tahu selain pintar di kelas, ia adalah calon pelukis wanita sangat berbakat dari belandingan - BALI. jika dilihat dengan mata kasat, mereka hanya anak anak gunung, tapi jika dilihat dengan MATA HATI, mereka TALENTA TALENTA TERANG!




sekranjang cinta untukmu pahlawan-pahlawan kecil.


pande
dps
pagi ini

teruslah bermimpi Nak...

kembali ke HOME (halaman depan blog) :)

5:16 AM

anak-anak kita besok masuk tivi. (SABTU & MINGGU, jam 13:30 WITA. Si BOLANG TRANS 7) catat di jadwal kalian!






Si Bolang atau bocah petualang adalah salah satu program petualangan anak-anak di TRANS7.

Program ini mencoba mendekatkan kembali anak-anak di seluruh Nusantara dengan alam dan budayanya. Bagaimana Si anak berinteraksi dengan alam, budaya, dan bermain dengan beraneka ragam permainan tradisional. Selain itu, sisi-sisi human interest sang tokoh ketika menghadapi suatu masalah juga ditampilkan di Film semi dokumenter ini.

Si Bolang adalah sebutan dari seorang anak setempat yang memimpin teman-temannya berpetualang di sekitar tempat tinggalnya. Hampir disetiap episodenya, bocah-bocah dan tokoh Si Bolang akan menampilkan petualangan-petualangan seru.

Dunia anak-anak adalah masa yang luar biasa. Penuh tawa dan khayalan. Kebanyakan orang di belahan bumi, memiliki kenangan indah dimasa itu.

Alam dan budaya tempat tinggal menjadi faktor penting dalam pembentukan karakternya, terutama bagi anak yang kerap bermain di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.

Saat ini, alam dan budaya tradisional cenderung tak dilirik dan nyaris ditinggalkan oleh sebagian anak negeri. Permainan-permainan elektronik yang muncul dewasa ini mulai menggantikan permainan tradisional.Dampak dari fenomena tersebut, anak-anak calon penerus bangsa seakan lupa pada budaya dan alamnya sendiri.

so, jangan lewatkan dan nongkrong di depan TV anda:
ajak semua keluarga serta menonton.

si Bolang anak alam,
sabtu & minggu 24 & 25 Juli 2010.
waktu: siang (13:30 WITA).



tolong di SHARE ke kawan-kawan lain ya.
tx.







sekeranjang cinta.

KOMUNITAS ANAK ALAM
dps
mlm ini
10:42 PM

Merawat Bunga Mimpi I Nyoman Rawat

Bunga Mimpi (I Nyoman Rawat)



”...dan saya sangat senang akhirnya bisa melanjutkan ke SMP”


disalin dari tulisan tangan i nyoman rawat:

Salam sejahtera. Nama: i nyoman rawat. Lulus dari: SD ingin melanjutkan ke SMP saya sangat berterimakasih kepada kakak-kakak yang telah membantu saya untuk melanjutkan saya ke SMP meskipun saya berjalan kaki sekitar 2 kilo. Pertama-tama saya ingin mengucapkan banyak terimakasih kpd kakak2 pertama kpd kak putu yang sangat membatu saya.

Saya kedua ini ingin menyapaikan kesan dan kesan kpd kakak-kakak saya dan saya sangat-sangat berterimakasih dan saya sangat senang akhirnya bisa melanjukan ke sekolah SMP.

Cita-cita saya ingin menjadi dokter dan saya sekolah karna ingin terus mencapai cita-cita saya mudah-mudahan kakak saya mau mendoakan saya biar bisa bersekolah dan sukses bersekolah.

Mukin saya bisa mengejar cita-cita saya tapi mukin tidak sukses karna orang tua saya tidak mampu mukin kakak kakak bisa membantu saya biar bisa sukses.

Dan saya ingin menyapaikan banyak terimakasih atas bantuan kakak-kakak

Atas perhatian kakak semua saya ingin mengucapkan terimakasih


i nyoman rawat
belandingan, july10
08:30pm




10:41 PM

Sesobek Catatan Kecil Gadis Kecil


(*untuk kalam atas keringat kalian)
bintang paling terang bersinar dari langit paling gelap!





“sekarang saya lebih semangat lagi sekolah
padahal saya sudah tak ingin lagi sekolah...”


Perasaan saya senang karna saya sudah bisa sekolah di SMP itu semua ka putu sudah menyekolahkan saya saya sangat senang bisa bertemu dng teman-teman saya seperti made ayu setya wati dia yang paling jauh rumah saya dengan rumah dia saya sangat senang senang bertemu dengan dia dan saya semangat sekolah demi ilmu yang tunggu-tunggu saya sekarang saya lebih semangat lagi sekolah padahal saya sudah tak ingin sekolah lagi karna orang tua saya tidak bisa menyekolahkan saya karna orang tua saya tidak mempunyai uang untuk menyekolahkan saya lebih tingi untung ka putu membantu saya untuk sekolah saya sangat senang bisa sekolah lagi terimakasih ka putu dan teman-temannya ka putu aku sangat berterimakasih cuma itu yang bisa saya sampaikan.


ni made sani
belandingan,
july 10,
08:00 pm

semalam. menulis catatan.

ni made sani saat kelas 6 SDN Belandingan

hari pertama masuk SMPN 4 Kintamani di songan

kala itu. suatu ketika.

made sani dan adik-adiknya.

memberi beasiswa anak alam, tas dari telkomsel dan baju dari Atik

made sani dan adiknya

baju sumbangan dari kalam Atik

made sani dan teman-temannya

rumah made sani

rumah made sani
5:59 AM

Karena Aku Perempuan? (2 jam untuk 4 hidup)


SDN Belandingan, 11 januari 2010. 09:06 am

"pendidikan -yang baik- adalah hak setiap anak manusia. tanpa terkecuali. perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam hal menggapai kapasitas terbaik yang mereka mampu. titik.”
anak alam


Bersyukur kamera poketku merekam gambar anak-anak kelas 6 SDN Belandingan ini. Kala itu mereka tengah berbaris dan bersiap masuk ke ruang kelas. yang berdiri di depan di tengah-tengah barisan adalah wayan sepiawan (ketua kelas). Sementara keenam perempuan di baris paling kanan -dilihat dari depan- adalah made sani, arniti, made ayu, made ariani, ketut simpen, dan di ujung belakang barisan paling tengah adalah wayan badeng.

Dan hari ini foto itu tlah menjadi sebuah kenangan yang sangat berharga, sepenggal sejarah, apalagi buat anak-anak kelas 6 SDN Belandingan itu. Kamera ini (tak peduli SLR atau poket, mahal atau murah : tak penting sama sekali) ia tlah menjadi salah satu mesin kemanusiaan paling berharga buatku, selain pena mimpi, laptop acer aspire, modem dengan kartu XL atau Telkomsel, honda supra DK 5611 PF tanpa STNK, sepeda motor yamaha biru dengan suara super berisik, tentu hati berlentera, dan ester-C (suplemen vitamin selama di gunung. :) )!

Jadwalku beberapa minggu ini benar-benar padat, merapat, menumpuk bahkan menggunung, sibuk! (fiuh....) Menemani tiga anak-anak alam songan syuting Si Bolang Trans 7 keliling Bali, benar-benar menguras energi lagipula sebenarnya itu diluar skedulku. "Bli, sepertinya bli harus ada di sini, anak-anak tak mau akting tanpa bli. mereka sepertinya kaget lihat banyak orang dan tempat-tempat bagus!" mbak Ira membujukku untuk ikut jadi artis. week.... (gw jd malu lihat muka sendiri...) Jadilah aku ikut skedul mereka 12 hari. hem.. Ini salah satu pekerjaan terberat -walau juga menyenangkan- khususnya mengurusi si bolang made berlian yang rada autis (hiperaktif). tapi, itulah kriteria Si Bolang!

maka tak pelak aku hilang dari peredaran dan lupa bahwa anak-anak sudah mau masuk sekolah dan tlah selesai liburan. aku lupa bahwa tanggung jawab dan janji kami kepada anak-anak kelas 6 SDN belandingan bahwa akan menyekolahkan mereka ke SMP menunggu untuk ditepati. aku lupa ini tlah awal juli. (ini sebuah tanda segera butuh asisten pribadi... :) )

Lega. Hari ini syuting selesai. aku bisa kembali ke basecamp anak alam songan karena Deborah Mawsen (kalam dari Belanda) yang menginap selama 10 hari di basecamp telah menungguku. ia tlah booking bahwa akan tinggal di basecamp jauh-jauh hari. aku jadi merasa bersalah. walau ia tak marah! akhirnya kami bersua, setelah sebelumnya hanya berkomunikasi lewat email saja.

Ia aku tugaskan untuk mengajar anak-anak bahasa inggris saban hari, membersihkan sampah plastik di danau, sekaligus menemani mereka beraktifitas semacam latihan gamelan anak-anak.

Hari ini hari minggu. aku pergi ke sekolah untuk menemui bapak kepala sekolah SMPN 4 Kintamani di Songan. Ya ini minggu, aku tak salah baca kalender. Hehe.. kebetulan hari ini anak-anak masuk sekolah untuk gladi bersih, sementara hari ini aku membawa Made Sani, Badeng, Arniti, dan Simpen untuk mendaftar sekolah.

pendaftaran sekolah, 11 juli 2010

Sehari sebelumnya kebetulan aku tlah lebih dulu mengunjungi bapak Nengah Selamat di rumahnya untuk memberitahukan perihal terlambatnya anak-anak ini untuk mendaftarkan diri karena alasan tak sampainya informasi kami bahwa mereka telah kami siapkan uang untuk pendaftaran sekolahnya. Dan kebetulan pak Selamat memang seorang figur pendidik yang baik dan beliau tak mempermasalahakan sama sekali keterlambatan ini.

”Datanglah ke sekolah esok, silahkan mereka bisa langsung gabung dengan teman-temannya dan nanti saya bantu untuk mengurusi perihal berkas-berkas pendaftaran di tata usaha.”

malam harinya, aku mengajak deborah untuk menemui anak-anak alam di belandingan. sekalian mengecek keadaan anak-anak perempuan yang tadi pagi tak aku temui di sekolah SMP. "Bukannya di daftar beasiswa kami ada 12 anak, tapi kok yang muncul cuma 6 anak dan itupun yang laki-laki saja. sisanya dimana???" pikirku.

berkunjung ke rumah made badeng memberi uang pendaftaran, tas sumbangan dan sumbangan pakaian sekolah dari atik

dan ternyata, 2 minggu itu aku lupa dan hampir saja melewatkan satu janji kemarin lalu. mengurusi sekolah anak-anak. dan sepertinya informasi itu belum sampai kepada semua anak. hingga 4 anak perempuan tak tahu menahu dan memutuskan untuk tak melanjutkan sekolah karena tak punya biaya. sedang made ayu, dengan usaha keras kakaknya bisa mendaftar sekolah. sementara made ariani memang tak bisa kami selamatkan karena orang tuanya menginginkan ia kerja ke denpasar dan menjadi pembantu rumah tangga. (ada kalanya kita tak bisa berbuat apa-apa!)

oke, semalam aku mengunjungi rumah wayan badeng, made sani, arniti (yang kebetulan menginap di bubung) dan aku hanya menyampaikan pesan lewat orang tuanya di desa, serta terakhir ketut simpen yang tinggal di banjar bantas, sekitar 1 kilometer selatandesa belandingan. hingga malam itu semua orang tuanya mengizinkan anak-anak perempuan mereka SEKOLAH!

Dan sekali lagi aku harus bersyukur kembali. 2 jam waktu yang aku gunakan untuk mengunjungi satu-per satu rumah mereka benar-benar telah merubah jalan sejarah. Bukan sejarahku, bukan sejarah kita, tapi sejarah hidup bagi 4 anak perempuan dari 6 anak perempuan kelas 6 SDN Belandingan ini.

hari pertama sekolah, senin 12 juli 2010

tadi pagi mereka semua tampak sumringah. bangun sepagi-paginya berangkat ke sekolah beramai-ramai berjalan sekitar 1 jam menuruni bebukitan di barat desa menelusuri jalanan berpasir bekas sungai kering.

setidaknya keempat anak perempuan inilah yang tlah menjadi buah dari keringat kita, bunga dari tunas-tunas yang kemarin kita pupuk, jejak-jejak tangan kita, hasil dari pengorbanan kita, jawaban dari waktu yang tlah kita beri dan segala yang kita curahkan buat mereka.

Empat anak (ditambah dengan anak-anak kelas 6 SDN Belandingan lain yang kini bisa melanjutkan sekolah ke SMP seperti mimpi mereka) ini adalah harapan masa depan desa mereka. Empat anak ini semoga kelak akan melahirkan generasi-generasi terbaik untuk Bali dan Indonesia dalam kehidupan seperti apapun yang kelak mereka lalui (aku tak akan memprediksikan masa depan, lebih baik mencurahkan tenaga untuk hari ini) seiring perjuangan hidup mereka hingga mencapai tolak awal menggapai mimpi ini setidaknya memberi kesan buat jalan hidup mereka seterusnya.

Sepulang sekolah seperti biasa, mereka tetaplah anak-anak alam. Anak-anak yang hidup di alam. Anak-anak yang tingal di kampung terpencil dengan orang tua yang secara ekonomi kekurangan. Dan anak-anak ini tetap akan bekerja seperti biasa, menyabit rumput, menjaga adik mereka, mencari air di bak penampungan.

Terimakasih Garuda Bali atas beasiswa untuk anak-anak kelas 6 SDN Belandingan dan mbak dewi utari project leader beasiswa anak alam serta doa semua kalam, jejak tangan kita tak sia-sia. jejak tangan kita telah berbuah HIDUP! Jika saja semakin banyak orang mau berbagi untuk ribuan hidup anak-anak yang lain???


bersambung…


sekeranjang cinta,

Pande
basecamp anak alam songan
malam ini
13/7/2010
8:18 AM

Bintang Paling Terang!


"kita akan taklukkan gemintang, nak!"
untuk Wiranti


Sungguh ini adalah hari paling terhormat bagiku, bertemu dengan kalian, melihat kalian bermain, melihat kalian tertawa, dan tentunya bertemu dengan gadis ini Ni Ketut Wiranti, ia yang aku menangkan dalam lomba puisi pagi ini. Bahkan aku jauh lebih merasa terhormat menyaksikan penampilanmu nak, di depan mataku daripada gelar dosen di universitas yang sepertinya sebentar lagi aku sandang.

Semalam aku bergadang hingga jam dua menuntaskan puisi 'imaji ungu'-ku, dan hari ini pagi-pagi sekali aku harus bisa bangun. Maklum jam 9 kalian sudah mulai lomba di belandingan sementara kakak masih tidur nyenyak di denpasar. maka tak pelak jam weker aku setel jam 6 pagi, itupun aku kelewatan hingga jam 8 baru bangun.

tanpa mandi dulu (mahaf), namun menyempatkn meneguk segelas air putih, aku segera memanaskan motor anak alamku yang setia, untuk aku geber ala fast and furious mengejar jam 9 waktu belandingan. tentulah ini mustahil bin ajaib, tapi setidaknya aku coba menarik gas sekencang-kencangnya.

kali ini aku mengambil jalan lewat kintamani, kemudian belok kanan di penulisan untuk melewati sisi utara kaldera, melintas di desa pinggan dan akhirnya aku tiba di belandingan tepat jam 10:00. ya, tepat terlambat 1 jam. Namun tadi pagi aku sudah telepon dodik untuk memulai acara olah raga lebih awal saja, sedang yang akademik dijadwalkan belakangan. Dan taktik ini berhasil sempurna.

Baru tiba, beberapa anak-anak melihatku dan seperti biasa mereka menghampiriku dan bertanya, "kak, kok baru datang!!!!!!" Sementara, aku segera bergegas mencari Dodik agar segera mempersiapkan lomba akademik yang hari ini dilaksanakan.

Ya, hari ini karang taruna desa belandingan mengadakan lomba kegiatan anak-anak serangkaian ulang tahun mereka, dan khusus acara anak-anak ini tentu mereka harus kami bantu. Ini adalah tanggung jawab kami. 100%. Kami bantu mereka finansial, hadiah 200 lembar buku tulis, 100 penggaris plastik, sabun, pasta gigi, pensil, bolpoin, rautan yang tentu kesemua itu adalah sumbangan kalian Kawan Anak Alam yang sangat saya banggakan pula. Dan tak lupa sertifikat untuk hadiah. (biar karang taruna itu saja yang menandatangani sertifikat ini, kami sudah menandatanganinya dengan HATI.)

Kali ini kami mengadakan lomba akademik dan olah raga. lomba akademik dibagi menjadi 4 yaitu: 1. Menulis dan membaca cerita mini. 2. Menulis dan Membaca Puisi. 3. Menulis dan membaca Pantun. 4. Menjawab soal MIPA. Sementara olah raga dibagi menjadi 2 yaitu: futsal dan bola volly tentu ala anak-anak.

Kali ini (hei Kawan... kita telah meretas sejarah baru!), anak-anak alam kita bertambah. Legiun anak alam bertambah dengan kehadiran anak-anak dari SDN 1 Songan, SDN 3 Songan, SDN 1 Pinggan, SDN 4 Sukawana yang kini menjadi anak-anak alam kita, anak-anak yang tentu dengannya kita akan berbagi hidup.

Namun ada satu hal yang paling membuat hari ini menjadi spesial. Ia adalah anak ini. Ia adalah Ni Ketut Wiranti anak kelas 5 SDN 1 Songan. Ini untukmu nak: " Nak, kau telah menjadikan hari ini hari terindah. Menyaksikan penampilanmu hari ini, kakak seperti terlahir kembali! Kakak janji, kau akan ada di hati kakak sampai kapanpun. Kelak kakak menikah, kau adalah anak kakak juga!"

Anak ini adalah pemenang lomba puisi. Ia membacakan puisi dengan tema guru dengan ekspresi yang tak aku prediksikan di awal akan dipentaskan oleh anak-anak alamku. Lihat air matanya, ia menangis. Ia menangis. Dan ini menangis betulan. Penghayatan yang sangat luar biasa, dilakukan oleh seorang anak yang juga sangat luar biasa.

Berbincang-bincang dengan guru-gurunya, "memang anak ini adalah anak yang berprestasi", kata mereka. baik itu di bidang seni khususnya sastra maupun di bidang sains dan sedang disiapkan untuk olimpiade sains.

Sekali lagi, kakak bangga denganmu. Karenanya, kakak tak kan pernah pergi dari kalian.
Dan kawan, maukah kau menjadi keluarga baru untuk Wiranti?



cinta,
pande
belandingan
25 maret 2010
didedikasikan untuk seorang anak dengan bintang paling terang yang pernah aku temui.

tidurlah nak! esok kita bercerita lagi. yang nyenyak...
seperti juga kakak...
8:15 AM

Kartupos dari Surga: Cinta memberi, bukan menerima


CINTA : MEMBERI, BUKAN MENERIMA
i nyoman armada (10)

armada bersama adiknya
Ia yang bekerja menggunakan tangannya adalah buruh.
Ia yang bekerja menggunakan tangan dan pikirannya adalah pekerja.
Ia yang bekerja menggunakan tangan, pikiran dan hatinya adalah seniman.
-Louis Nizer
Nama saya I Nyoman armada. Nama ayah saya I Made Mudita umur 56 tahun nama ibu saya Ni Ketut Yem umur 42 saya punya saudara 6 yaitu: Ni Luh mara, I Made darmawan, I Nyoman Armada, Ni Ketut Budi, I Wayan Brata dan Kadek Anton

Sekarang saya kelas 4 SDN Belandingan. Saya bangun pagi sekitar jam 6 setelah bangun saya membelikan adik bubur di warung Wa Jro Guris. Saya membawa uang Rp. 1000 dan saya membeli bubur Rp. 500 untuk saya bagi berdua dengan adik dan sisanya saya belikan jajan. Setelah beli bubur saya mencuci muka langsung memakai pakaian sekolah langsung pergi ke sekolah. Sampai di sekolah saya mengurus teman yang tugas piket karena saya sebagai ketua kelas. Setelah itu saya belanja ke kantin, setelah belanja bapak guru menyuruh kami sembahyang. Di kelas saya mendapatkan mata pelajaran matematika lalu mengaso setelah itu masuk lagi dapat pelajaran bahasa Indonesia dan lagi dapat PPKN.

Saya pulang jam 12:00, saya mengganti baju terus saya makan dan saya langsung pergi ke ladang di balik bukit untuk menyabit. Setelah itu saya di suruh menjaga adik saya oleh bapak saya. Saya senang menjaga adik karena adik saya tidak suka menangis. Saat menjaga adik, saya membawa dia indeng-indeng (keliling-keliling) di mana saja sampai adik saya menangis. Setelah menangis diberikan ibu saya. Saya lebih senang mendapat tugas menjaga adik daripada menyabit karena saya tidak suka menyabit. Saya pulang dari balik bukit sekitar jam 5 sore bersama saudara saya, ayah dan juga ibu saya. Sampai di rumah saya memberikan ayam makan, mencuci pakaian adik saya sambil saya mandi.
armada sedang menjaga adiknya saat hujan di depan tungku api

Kakak saya I Made Darmawan berhenti sekolah tahun lalu karena orang tua tidak punya uang untuk menyekolahkan. Sekarang pekerjaan sehari-hari kakak saya menyabit dan mencangkul kerja menanam tomat dan itu agar mengasilkan uang. Untuk makan ia mengambil air di bak air akan di gunakan untuk memasak dan mencari kayu bakar untuk membuat api untuk memasak. Kami memiliki ladang di bubung tamblang dan di pupuan. Kakak saya kerja di situ. Kami punya sapi satu, kakak saya menyabitkan dia supaya besar dan bisa di jual.

Mulai 2 bulan lalu kakak saya bersekolah kejar paket B di gedung SDN Belandingan Kakak saya pergi ke sekolah jam 1 sore dan pulang jam 5 sore. Sekolah kejar paket tidak bayar dan mendapat buku pelajaran dari bapak guru.

Kakak saya yang lain bekerja di songan sebagai buruh harian mutbut bet bawang (mencabut gulma di ladang bawang) dan dia berjalan kaki ke sana.

Pekerjaan ayah saya mencangkul, menyabit dan meburuh (menjadi buruh tani) ke Songan karena tak punya uang untuk membiayai keluaga. Ibu memasak, setelah memasak ibu saya langsung ke ladang di pupuan untuk mutbutin bet bawang

Cita-cita saya ingin menjadi guru pelukis karena saya bisa melukis di sekolah. Saya senang melukis taman. Jika bisa terus sekolah saya ingin sekolah melukis agar bisa menjadi guru melukis.

Demikianlah cerita saya, terimakasih.

*

Note:

rumah armada di balik bukit
keluarga armada


Menemani Nyoman Armada beberapa hari ini benar-benar membuat aku kagum dengan anak ini, pun juga tak habis pikir, dan ia telah mengajariku pelajaran berharga tentang arti ‘tulus’ dan ‘tanpa lelah’. Waktu itu hanya untuk menemaniku di ladang, sambil menjaga adiknya ia tak makan nasi dari pagi hingga sore, (hanya makan mangga kecil yang ia pungut di jalan dan satu bungkus kecil biskuat cokelat yang aku beri yang dimakan oleh adiknya.) Mereka berdua tak mengeluh sedikitpun ketika menuruni bukit untuk sampai ke desa. Walau aku lihat mereka berdua sudah sangat kelelahan dan tentunya lapar. Setibanya di desa Belandingan, aku membelikan Armada pisang goreng untuk ia makan. Armada tak mau memakannya, ia hanya memberikannya kepada adiknya. Barangkali ia telah dididik untuk tidak suka minta-minta kepada orang lain (bahkan itu dari aku….)

Semalam kami bertemu lagi, seperti biasa ia selalu senang berada dekat denganku. Anak-anak lain sedang main ‘cedar-cedaran’ menggunakan busi sepeda motor dan kulit korek api, sementara aku dan dia memiliki cukup waktu bercerita dan ia bisa menuliskannya dalam selembar kertas dibantu oleh Puspasena. Malam itu ia memberiku hadiah ekstra sebuah lukisan dalam lembar kertas lain setelah ia menyelesaikan tulisannya.
lukisan armada malam itu

Ketika ia memegang pensil, tak ada satupun yang bisa menghentikannya. Teman-temannya pada meledek lukiannya yang katanya aneh, jelek, tak jelas, namun ia tetap melukis dengan suntuk tanpa peduli hingga ia merasa selesai. Namun buatku lukisan ini sangat bagus, figur-figur yang ia lukis memiliki karakter khas Armada.

Aku janji -pada diriku sendiri-, aku akan belikan ia crayon/pensil warna dan buku gambar, (sesekali kanvas dan cat akrilik) agar ia bisa melukis, melukis dan melukis seperti apa yang ia mimpikan.

Aku pastikan tak kan pernah malu sedikitpun (sebaliknya aku bangga.), jika kelak aku akan memajang satu lukisan yang ia buat di atas kanvas ukuran 1 x 1 meter di kamar tamu rumahku, atau di basecamp anak alam, bahwa lukisan itu dibuat oleh anak laki-laki dengan cinta menggunung yang hanya ia curahkan kepada adiknya dan lukisan-lukisannya.

Untuk kegiatan ‘bangun, buka mata, lihat dunia’ hari minggu berikutnya, aku pikir akan ajak ia ke museum NEKA untuk melihat-lihat lukisan. Aku ingin memicu hasratnya dengan karya-karya seniman besar, hingga matanya terbelalak, hasratnya menyala, hingga ia bangga dengan cita-citanya menjadi guru pelukis, dan bahkan mungkin kelak ia menjadi salah satu dari seniman besar itu, dan karyanya terpajang di museum. nothing is impossible.



love,
pande
Belandingan, jan 21
You are absolutely a real HERO for me son……