Showing posts with label The Lost Paradise Bali. Show all posts
Showing posts with label The Lost Paradise Bali. Show all posts
8:21 AM

Anak kita ingin minum air, bukan PESTISIDA!


"bumi ini tempat yang bebas. milikmu. milikku. milik ikan, pohon dan burung itu juga. kita boleh merusaknya. kita boleh menjualnya. kita boleh meracuninya. namun pikir sekali lagi pernahkah kita MEMBUAT-nya?"
- cinta alam anak alam


Baru saja seorang kawan mengirimkan pesan ke email saya, "De, kenapa nggak mengadakan pembersihan danau setiap bulan sekali saja? Libatkan masyarakat lokal, atau anak-anak, atau bahkan karang taruna?"

Aku baru ingat, bahwa sejak dulu kami tengah memikirkan itu, dan kenapa nama organisasi kita lalu Anak Alam ya karena itu, salah satu fokus kegiatan kita adalah Alam. tentu selain anak-anak.

telah beberapa kali aku menulis artikel tentang kerusakan ekosistem danau Batur (sampai bosan) dan juga kualitas air yang sudah tak layak minum karena COD (chemical on demand) yang telah melebihi ambang batas, dan hari ini aku merasa diingatkan lagi. o iya, lama kita tlah tak bercengkrama dengan alam, terakhir waktu GREEN CAMP I dengan geng lebay saja, kita melintas danau naik jukung dan membersihkan sampah plastik di pinggir danau batur pesisir utara.

oke, terpaksa sedari awal aku harus tekankan, aku tak sedang melarang orang untuk merusak danau (itu adalah hak kalian), aku hanya ingin melihat dari sisi berbeda, seperti sebuah koin yang memiliki 2 sisi yang juga haus kita lihat. sekali lagi ini hanya cara pandangku saja.

oke, pertama adalah kerusakan danau itu sudah pasti adalah hal yang penting untuk kita pikirkan. kedua melibatkan masyarakat lokal, dan karang taruna, saya akan coba namun saya pastikan di awal ini adalah pekerjaan yang sangat sulit walau belum tentu mustahil.

bagaimana mungkin mereka mau berhenti menggunakan pestisida, sementara dengannya mereka bisa hidup lebih layak secara ekonomi sekarang (walau di sisi lain hidup lebih buruk dari sisi kesehatan dan lingkungan alam termasuk karakter.) Selanjutnya untuk melibatkan lebih banyak orang muda di lingkungan pesisir danau yang notabene aku adalah satu diantaranya, sudah pernah aku coba di awal, ketika kegiatan pertama kita utarakan, dan pengalamanku adalah sebagian dari mereka 'apatis' dan menilai kegiatan lingkungan dan sosial adalah kegiatan yang tak penting. tak perlu untuk dikerjakan, dan tentu tak menghasilkan uang. sigh. maaf ini pengalaman saya. dan mudah-mudahan hal ini salah. semoga.

lalu apakah ide itu salah? jawabannya nggak sama sekali. BETUL! dan oleh karenanya kita akan mencoba mencarikan solusinya, bukan takut dan mengeluh karena hambatan-hambatan yang sebenarnya masih bisa diatasi tadi.

Sering pula saya tulis ungkapan Margaret Mead (namun saya tak kan pernah bosan) bahwa, kita tak butuh ribuan orang untuk merubah dunia. sedikit warga negara yang memiliki komitmen dan dedikasi telah bisa merubah dunia. dan selama ini hal seperti itulah yang selalu terjadi. dan hal itupun tak melulu hal-hal besar, hal-hal itu banyak di seputar kita.

kembali ke danau,

oke kawan, segera kita akan bersihkan danau. kau ingat lagu 'de ngaden awak bisa?'
"biar dikotori, nanti kita bersihkan lagi" kira-kira begitu bukan, pesannya? (oh, salah ya.... :) )
dan nanti sekalian aku bikin performing art, kalian main musik pake bambu, kita rekam video. kan?

Segera kita akan GREEN CAMP lagi, -dan kali ini adalah GREEN CAMP yang ke 3 kita-, dan kali ini akan kita sisipkan dua embel-embel pesan baru di ekornya: GREEN CAMP YOUTH LEADERSHIP CAMP + KISS AND CLEAN UP LAKE BATUR WITH LOVE + FREE THE BIRDS LET THEM SINGING LOUD!

segera kita akan bertemu lagi dalam kerja, karya, tentu tawa. berada di pangkuan alam yang menabur senyum kepada kita, melupakan sejenak hidup menjadi anak 'kota' lagi. menjadi diri kita yang sesederhana pagi, mentari yang mendaki bebukitan di timur danau.

air mata DEWI DANAU tak boleh terjatuh lagi. titik.





cinta,
pande
23/4/2010
11:00
denpasar

'i'am not a CHEMICAL lake'
7:45 AM

Semawang Pagi Ini

"kami telah cukup merasa kaya,
oleh mentari hangat pagi ini!"



Menyentuh kembali empuk pasir pantai Semawang setelah lebih dari 2 tahun terkahir kali meninggalkan jejak kaki di atasnya adalah hadiah yang tak terperi pagi ini. Apalagi kali ini kawan-kawan Anak Alam tampil hampir komplit. Maka lupakan sejenak kulit gosong karena matahari, pagi ini terlalu indah untuk tak dijamah.

Mengenang kembali kala itu - selesai kulaih - memilih untuk bercengkerama bersama alam sejenak daripada memilih langsung mencari kerja (bayangin puluhan tahun bersekolah pakai seragam, masa langsung kerja dan pakai seragam lagi...), membantu teman-teman di pantai menyewakan kano, menyewakan kursi buat berjemur, membantu mengangkat kano-kano itu kemudian ketika sore menjelang, menunggu pedagang lumpia lewat, atau jagung bakar, mengisi senang, mengisi rindu yang lama tertahan.. Sungguh terbalaskan.

Kini, dalam rutinitas sehari-hari yang cukup melelahkan, akhir pekan adalah saat-saat yang tentu kami juga tunggu, sepeti juga kalian. Keluar dari rutinitas pekerjaan, keluar dari kemacetan, keluar rumah, keluar dari ruangan kantor yang dikelilingi 4 tembok dan satu pintu. Kami telah mendaki bukit kemarin lalu. Kami telah melintas danau sebelumnya. Kami telah bermain di parit sawah minggu lalu. Tentu, pantai adalah pilihan yang logis hari ini.

Tema akhir pekan kami minggu ini "Wariskan Pantai Yang Bersih untuk Anak-Anak Kita." Sebuah pesan sederhana saja, sebuah pesan yang tulus dari hati, dan juga sebuah pesan yang 'mungkin' saja sangat susah untuk kita wujudkan. Sebuah tanda cinta dan kenangan kami akan keindahan masa lalu yang tak terukur itu.

Pantai semawang, dulu, sangat sederhana sekali. Mungkin kau masih ingat, di trotoar pinggir pantai, kala itu banyak kafe-kafe lokal, toko souvenir kecil, warung nasi bu Putu, Warung rujak Bu Made, banyak dagang lumpia wara - wiri, sate penyu (maaf dilarang), jagung bakar, bakso... Sembari menunggui kano teman-teman, tentu bermain volly di siang terik, dengan kacamata hitam, telanjang dada, serasa tak bakalan ada beban saja hidup ini hehe... Dan hiburan temen-temen cewek yang kemudian ikut bermain volly bersama-sama kami. wah,.. what a life? kami punya banyak teman dan bahkan keluarga baru di tempat ini.

Kini, hari ini, pantai bukan lagi tempat yang layak buat kita dan anak-anak kami bermain. Pantai bukan lagi tempat yang nyaman lagi untuk kami lintasi. Semua areal pantai telah dibeli investor, maaf lagi semua kenangan itu kini rata dengan tanah, menyisakan puing-puing dan tembok seng mengitari area pesisir pantai.

Walau tentu, sebagian dari kalian yang lain:
1. Terus tak peduli.
2. Menjadi penonton.
3. sebagian lagi tertawa.
4. yang lain balik merusak. (fiuuh....)

Sejatinya kita semua sudah bebal. manusia telah menasbihkan dirinya sebagai 'binatang' paling buas di bumi. (karena memiliki akal). Tak lagi ada 'cinta' tulus akan alam, kehidupan yang indah ini, dan juga anak-anak kami yang baru saja tumbuh dan melihat dunia.

Kelak ketika semua tanah ini telah dibeli, dan dibangun resort mewah di atasnya, tak ada lagi pantai untuk kami jejaki, tak ada lagi jalan bebas untuk kami lintasi dan tempat untuk memarkir kendaraan, maka aku menjadi orang asing, 'alien' di tanah ini.

Kalian lihatlah laut yang indah biru bening ini?
Kalian rasakanlah empuk pasir putih pantai ini?
Kalian rasakanlah hangat mentari pagi?
Kalian nikmatilah hembusan angin laut!
Keluarlah sejenak, lihat alam yang indah ini.
Apa kamu ingin memilikinya sendiri?

Dengan akal seharusnya kita lebih beradab, tapi kita malah semakin buas!

Sepantasnya, pantai menjadi tempat yang nyaman buat anak-anak kita bermain pasir. Sepantasnya pantai menjadi tempat yang nyaman buat burung tekukur mencari makan dan binatang lain sekedar meregangkan badan.

Semawang, telah membesarkan saya dengan caranya sendiri. Mungkin juga kalian. Ia telah mewariskan dalam benak saya 'cinta' alam bersahaja yang begitu indah. Kalau kalian pahami, kesederhanaan adalah puncak keindahan duniawi, maka ada baiknya biarkanlah ia seperti itu.

Biarkanlah ia indah. Akankah kita mewariskan keindahan yang sama untuk anak-anak kita???
Pantai ini telah menjadi pertanda.

(Waktu akan memberi jawab!)


Selamat Berkarya!


Pantai Semawang, 7 Sept 2009.

Salam Anak Alam,

Pande Putu Setiawan
Ketua
Komunitas Anak Alam
p: 0817265028
e: samsarik@yahoo.com
w: www.anakalam.org

terimakasih: Dika,Charnie, Gde, Ochan, Ria, Winda, Ayu, Dewi, Echa, Gus, Heri, Ngurah, Dadap yang telah ikut berbagi pagi. Tx buat kawan anak alam yang lain yang tak bisa datang minggu ini. Masih banyak kegiatan buat kalian tentu juga anak-anak.




"Kehidupan membutuhkan tempat dimana alam tak di atur oleh tangan-tangan manusia. Biarkan ia seperti idu adanya: sederhana - indah! Tangan kita terlalu kasar untuk wajah lembutnya."
~Author Unknown
7:12 AM

kerala: 'terkadang butuh air untuk menyalakan api!'


'terkadang butuh air untuk menyalakan api!'


Kerala, adalah sebuah wilayah distrik (setingkat propinsi) yang terletak di selatan India dan adalah salah satu destinasi wisata paling populer di India saat ini.

Lebih sering diidentikkan dengan 'God’s Own Country' (a.k.a. : Tanah Dewata) Kerala dinobatkan sebagai satu dari 50 destinasi sepanjang hayat oleh National Geographic Traveller dan satu dari 13 'surga dunia'. Kerala juga adalah salah satu destinasi yang memiliki kekayaan hayati terlengkap di dunia dan dimasukkan ke dalam salah satu dari 'The world's twenty-five biodiversity hotspots."

Sampai awal tahun 1980-an, kerala hanyalah sebuah wilayah di bagian selatan India yang relatif tidak dikenal dibandingkan dengan wilayah bagian Utara India yang lebih banyak dikunjungi wisatawan. Kerala hanyalah wilayah miskin di India dengan ruas-ruas sungai yang sepi dan 'sepertinya' tak menarik sama sekali.

Kerala Tourism Development Corporation sebuah badan pengelola pariwisata yang ditugaskan khusus untuk mengelola pariwisata Kerala kemudian melakukan promosi wisata yang lebih agresif, dan membuatkan rencana strategis sebagai fondasi awal untuk pengembangan industri pariwisata Kerala.

Dan kini setelah beberapa dekade berikutnya, hasilnya mereka mampu mangangkat Kerala menjadi salah satu tujuan wisata yang diminati di dunia.

Branding Kerala "God's Own Country" telah digunakan secara simultan dan luas sebagai tema promosi sentral Kerala dan akhirnya kini bersinonim dengan kata Kerala. Karya seni klasik, upacara-upacara penuh warna, kebudayaan dan kulinari unik, dan warisan Ayurveda -teknik kesehatan zaman purba- kini menjadikan Kerala salah satu dari jajaran destinasi wisata yang banyak dilirik.

Pada tahun 2006 saja, Kerala mampu mendatangkan 8.5 juta wisatawan asing per tahun, meningkat lebih dari 23 % membuat Kerala menjadi destinasi wisata yang mengalami pertumbuhan paling cepat di dunia. Dan tahun yang sama pantas saja Kerala mendapatkan predikat Superbrand India.


print-ad kerala tourism

print-ad kerala tourism

print-ad kerala tourism

print-ad kerala tourism


ribuan mil dari kerala,

Tersebutlah sebuah 'pulau wisata terbaik di dunia' versi Travel & Leisure Magazine yang bernama Bali.

Terakhir kali, tahun 2007 pemerintah provinsi Bali meluncurkan branding Shanti Shanti Shanti yang 'katanya' telah melibatkan 900 orang yang dianggap penting untuk memberikan suaranya sehingga terciptalah konsep branding Bali yang paling baik menurut mereka.

Dalam pembukaan Pesta Kesenian Bali kala itu yang juga dihadiri Presiden SBY, secara resmi Bali meluncurkan branding baru itu, menggantikan semua julukan yang berasosiasi dengan bali sebelumnya, hingga bahkan 'Pulau Dewata' a.k.a.: The Island's of the Gods yang legendaris itu.



dan kini, mari kita kembali ke kehidupan sehari-hari, rutinitas kita sebagai masyarakat yang menghuni pulau ini. Hidup di pulau 'dewata' ini, dengan segala atribut yang membuat julukan itu melekat kepadanya. kembali berjalan lagi menelusuri jalan, gang dan lorong kota denpasar dan tempat-tempat wisata: legian, kuta, seminyak, tanjung, nusa dua, bukit dan tebing-tebingnya. kembali bermain air di pantai berpasir putih, mengejar ombak yang tak henti menjabat tanganku dan mengajakku bermain.

sementara semua orang itu sibuk (entah apa) memasarkan pulau ini dengan segala cara (atau malah ala kadarnya???) dan mentari senja segera ditelan horizon ufuk barat.

Setelah sempat kecolongan dengan 'The New Bali' oleh Sri Lanka sebelumnya, kali ini Bali kembali hanya bisa menjadi penonton yang baik buat Kerala 'God's Own Country'-nya. Seperti kita tahu sendiri, Bali sebenarnya telah memakai julukan legendaris 'Pualu Dewata'-nya a.k.a. 'Island's of The Gods' sejak lama namun pemerintah provinsi Bali tak pernah awas akan hal ini.

dan kini, apakah Bali dengan shanti shanti shanti -nya telah berhasil membahasakan denyut nafas dan aura alam bali lebih baik, elegan dan cerdas kepada wisatawan dunia, dalam persaingan industri pariwisata dunia hari ini? (Indonesia tak jauh beda.. :) )

mmmmm... maaf jika kita harus tertinggal di belakang oleh sebuah distrik kumuh di india,
sebuah 'TANAH DEWATA' : kerala.


: maaf Bali.
kau harus bekerja lebih keras!
jangan terlalu lama mabuk darat!



........


copyrighted:
pande
bali
pagi ini


a good company is always lead by a brilliant and visionary leader,
not only it's abundance resources (and corruption).
7:11 AM

pariwisata bu (d) aya! (the confuse paradise)


welcome!


Jangan kaget ketika suatu kali anda sedang melintas di jalan raya di daerah Taro-Ubud dan tiba-tiba di depan anda ada seekor gajah melintas. Ya, anda sedang ada di Bali, bukan di Afrika atau India.

Coba sesekali Anda perhatikan berapa banyak pulau ini telah disesaki kebun binatang: ada taman reptil dan buaya, taman gajah, taman burung, kebun binatang, taman binatang, (malu ah sebut nama kan kalian udah tahu semua) belum lagi hutan kera di Sangeh, Alas Kedaton, Mongkey Forest Ubud. Atau masih ada Kebun Raya Bedugul yang jarang dikunjungi wisatawan asing. mmm.... dan masih ada yang lebih menyedihkan adalah Taman Budaya (Art Center) malah kita lupakan dan telantarkan. Ia hanya menjadi pasar malam pada waktu-waktu tertentu saja yaitu saat-saat Pesta Kesenian Bali digelar, atau saat-saat konser musik rock, dangdut, pop, dll.

Gajah-gajah dikirim ke Bali, macan juga, unta, ular phyton, siamang, orang utan, buaya, burung elang, dll. (barangkali mau jadi Afrika?). Okelah, itu kan salah satu sarana yang bisa menarik wisatawan dan memberikan lahan pekerjaan. Tapi burung-burung jalak Bali dicuri dan dijual. Hutan Bali Barat dibabat pembalak liar. Hutan di bukit Kintamani dibabat tanpa dipedulikan. Hutan di Bedugul juga tidak jauh beda, tak ada yang dibiarkan perawan.

Welcome to Bali sir.....! Apakah pariwisata Bali merupakan pariwisata budaya? Atau pariwisata Bingung!? Entah apa yang akan dijadikan ciri khas Bali: alam, petualangan, budaya, atau....buaya? Tuh kan, uang telah menjadi tuhan dan tuan, dan kita telah jadi budak. uang bisa merubah segalanya, termasuk kebijakan pemerintah. termasuk karakter. termasuk jati diri. termasuk apa saja. Uang yang masuk ke kantong jauh lebih penting daripada studi kelayakan dan kebutuhan. Selama itu menghasilkan uang buat kas daerah atau kantong ’.......’ , apa saja kemauan investor akan dituruti tanpa pertimbangan yang matang. Mungkin saja masih ada puluhan taman-taman yang lain yang sedang antri sedang mengajukan izin dan ingin segera dibuat. Dan pada akhirnya Bali selain disesaki orang dan motor juga kini disesaki binatang. hem......

Mau nyontek Singapore Zoo dengan Night Safari-nya? Atau Bali kekurangan obyek wisata lain sehingga harus mencetak obyek-obyek baru terus? Sedangkan obyek yang lain masih perlu diurusi dan dipromosikan dengan baik.

Boleh aja sih, perhatikan bahwa negara lain memang tidak memiliki atraksi dan tempat wisata selengkap Bali sehingga mereka harus mencetak apa saja yang mereka mau cetak. Sekali lagi, Bali sebenarnya sudah punya semuanya, tapi masih saja kita bingung. Atau karena punya kebanyakan itu yang membuat kita bingung?

Tampaknya tak bisa mem-foto-copy strategi negara lain lalu kita pakai di tempat kita tanpa perhitungan. Kalau mau mencari Gajah barangkali petualangan liar Afrika lebih baik? Lalu kalian bilang.... ”Ya kan biar lengkap di Bali semua ada...Tu...!” Oke deh. Apa mau loe. :) Apa lalu biar di Afrika lengkap, mereka minta kita kirim penari legong juga ke situ. Atau dikirim penari kecak. atau dikirim ayam betutu? Katanya yang jelas hingga memiliki ciri khas? Memangnya mereka datang ke Bali ingin melihat apa? Bukannya pantai, alam, budaya, adat-istiadat, keunikan Bali. Apa itu definisi positioning?

Sehebat-hebatnya gajah di Bali, masih lebih hebat gajah di Waikambas atau Thailand. Sekuat-kuatnya unta di Bali masih lebih kuat unta di Afrika sana atau Mesir. Jangan terlalu memaksakan diri.

Sesekali aku jalan di Ubud (asia's best city 2010 versi majalah conde nast traveler) dimana setiap hari ada pentas tari di wantilan, panggung-panggung tari di seputaran ubud termasuk Puri Peliatan dan di Puri Ubud dan beberapa balai banjar. Sanggar-sanggar tari berkembang dan anak-anak muda diajar mengenal budayanya sedari kecil.

Melihat ekspresi wisatawan yang menontonnya. Aku teringat ketika dalam satu kesempatan berdecak kagum melihat tarian tradisional yang ditarikan oleh wanita-wanita cantik dengan pakaian tradisionalnya yang eksotis di Laos. Begitu juga melihat para wanitanya masih mengenakan pakaian tradisional dalam kehidupan sehari-harinya termasuk ke sekolah. Kuil-kuil megah yang masih terawat dengan baik. Itulah yang menjadi daya tarik dan kelebihan mereka. Itulah yang buat aku terkagum. Budayanya. bukan yang lain.

Walau harus aku akui sawah, jurang dan hutan di Ubud kini sudah dikepung villa-villa. Begitu juga pantai-pantai Bali yang indah telah dikepung abrasi, pencemaran limbah, pengurukan, dan pengrusakan terumbu karang, tentu resort-resort mewah. Masih banyak hal lain yang membutuhkan investasi.

Alam Bali adalah sebenarnya harta berharga Bali selain budaya. Tanpa budaya tak ada peradaban. yang ada hanya perbudakan. Budaya adalah budi dan daya. tanpa budi manusia menjadi binatang. tanpa daya manusia hanya badan berjalan.

Berpikirlah lebih panjang ketika mengambil sebuah kebijakan, jangan hanya karena kepentingan sesaat lalu mengesampingkan hal-hal yang lebih besar dan manfaat untuk Bali secara keseluruhan.

Perhatikan sekarang data-data kunjungan wisatawan ke masing-masing kebun binatang tadi? Akhirnya akan sama-sama semaput! Segmen wisatawan penyuka petualang itu diperebutkan oleh masing-masing kebun binatang yang memberikan sesuatu yang hampir sama, burung, ular, macan, dll. Dan jangan sampai akhirnya karena itu perang harga dan tidak bisa menutupi biaya operasional bulanan. Dan akhirnya bubar. meninggalkan alam dengan ekosistem yang tak alami lagi.

Bagaimana kalau yang dibuat yaitu penangkaran penyu, taman wisata terumbu karang bawah laut yang alami, wisata pedesaan yang masih alami, bukankah itu yang lebih dibutuhkan BALI? Atau memikirkan promosi wisata yang lebih gress. memikirkan website pariwisata yang lebih fresh. Memikirkan tempta-tempat wisata yang masih perlu ditata. memikirkan penggerusan pantai dan tentu budaya. Walau bukan berarti saya menolak kebun binatang itu semua. Silahkan. Hanya mengharap sejenak kita duduk, menikmati sesesap kopi, nenatap mentari pagi atau senja, dan sama-sama BERPIKIR lagi.

Bagaimana dengan Taman Budaya kita? Masih adakah yang memikirkannya? Akankah ia dijadikan taman buaya? Atau tempat 'buaya' darat pacaran saat malam? :)

Welcome sir!
Welcome to Bali!


copyrighted:
pande
bali
malam ini

bali is flowing in my blood.
7:10 AM

bali: made in washington


sensasi glo-BALI-sasi


Mentari pagi masih bermimpi. Pasar Badung pagi itu telah ramai oleh pembeli. Terlihat seorang kakek tua sedang duduk menunggu pembeli diantara pisang jualannya yang sebagian telah matang dan sebagian lagi masih mentah dalam dua keranjang anyaman bambu, sedari tadi belum dihampiri pembeli.

Persis di sebelah tempat kakek tua itu berjualan, terdapat penjual buah yang memajang berkardus-kardus buah impornya dikemas dalam bungkus-bungkus plastik merah di atas dipan terlihat 'cantik-cantik' secantik wanita yang sedang menjaga lapak itu. Penjualnya adalah seorang ibu muda, bau wewangian parfum membiusku dari keajuahan tertiup angin pagi, seuntai kalung emas berat melingkar di lehernya dan puluhan gelang emas kecil-kecil melingkar di tangan kanannya. Ia dibantu oleh beberapa pegawai menimbang dan membungkus pesanan pembeli yang pagi itu sangat ramai.

Tampak buah apel Washington, pear Guang Dong, kiwi New Zealand, jeruk Mandarin, jambu Bangkok. Disana juga juga dijual kue-kue apem dan bolu black forest dengan hiasan cokelat Swiss. Di dipan yang ada di sebelahnya, berjejer tumpukan janur-janur yang baru tiba dari Banyuwangi.

Hingga siang bapak tua itu pulang membawa tumpukan pisang dalam dua keranjang anyaman bambu dengan sepeda gayungnya tanpa membawa uang sepeserpun buat istrinya yang sedang menunggu di rumah.

Bukankah upacara yang setiap hari dilakukan oleh orang Bali seharusnya secara ekonomis bisa memberi manfaat kepada orang-orang Bali seperti kakek tua itu?

Ini zaman baru. ini zaman kontemporer. Dengan buah-buahan dan janur itu nanti orang-orang itu akan membuat sesajen made in luar negeri di rumah. Belum lagi ayam boiler dan uang kepeng diganti dengan uang kertas seribuan, untung saja bukan dolar?

Ini cerita lama, ketika waktu itu burung tekukur masih biasa berbaur mencari sarapan pagi di halaman rumahku, ketika tanah-tanah sawah belum ditanami beton untuk ruko; sebagian orang masih menghasilkan sendiri kebutuhan hidup mereka: beras, pisang, kelapa, janur, ayam kampung.

Maka sesaji sebagai wujud persembahan bhakti yang tulus ikhlas orang Bali, isinya tak jauh dari benda-benda tadi itu: bunga, janur, daun pandan harum, buah pisang, ayam kampung panggang, kue apem, plus rasa bhakti yang TEBAL sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada Pencipta atas segala yang telah Ia buatkan buat kehidupan manusia. (aku nggak peduli bagaimanapun kita menggambarkan Pencipta itu, bagiku tak masalah).

Begitulah, ini pertanda zaman yang tidak kita bisa hindari termasuk dalam hal sesaji / persembahan suci yang tulus ikhlas. Sekarang zamannya glo-BALI-sasi, manusia hidup pada zaman industri yang serba instan, bukan lagi menghasilkan padi, tapi dolar. Masih untung, banten itu tidak diganti dengan selembar 10 USD itu saja. Itulah -seperti kata Charles Darwin- Evolusi! Hanya dua yang pasti di dunia ini, kematian dan perubahan. Tak kan aku pungkiri. Selama kau masih ingat Tuhan. :) (sekali lagi bagaimanapun kau membayangkan-Nya tak masalah!)

Tapi sebaiknya ada SATU hal yang tidak harus kita ubah: esensi sesaji itu sendiri. Esensi bhakti itu sendiri. Tulus! Tulus dalam berdoa, tanpa itu kita menipu orang lain, Tuhan, dan diri sendiri. Ritual hanya sekedar ritual jika tidak pernah dimaknai dan diamalkan.

Tentu jangan lupa juga, leluhur kita seniman bro. mereka punya prinsip "whatever you do do it in style! Whatever you do do it as a devotion!" sesaji juga untuk membiasakan kau mencintai seni, yang dinamis, yang persembahan, yang tak kaku, yang cantik.

Tulus! Persembahkanlah semua yang kamu ingin persembahkan dengan tulus. Mau apel Washington atau buah mangga dari kebunmu sendiri, sama saja. Kemudian, ada yang ambil mudahanya saja beli saja sesaji (canang), beli saja sesaji (banten) di tukang buatnya. Silahkan saja, toh itu juga memberi kehidupan buat orang lain. Walau (barangkali) sebenarnya kita terlalu malas atau sibuk, ya sudahlah. Padahal dalam masa membuat sesaji itulah esensi terbesar sesaji ada. disitulah orang bali bermeditasi waktu selama hidupnya.

Bhakti. Itulah esensinya. Kemudian ikhlas! Banyak sekali, terlalu banyak saya dengar ibu-ibu dan bapak-bapaknya yang MENGELUH, "terlalu banyak upacara di Bali, ya adat ya rerainan.....!" sampai membuat mereka pusing sendiri. Mereka saja yang memusingkan diri, menuntut agar membuat sesaji made in Washington terus, keluar uang banyak untuk yadnya, malu dengan tetangga-tetangga.

Malu? Apa Tuhan pernah memintamu untuk malu datang kepadaNya? Buat sesaji penuh dengan buah-buahan impor? Okelah, setidaknya kita jadi sehat karena sering makan buah apel. Ambil sisi positifnya saja.

Namun satu hal, ada hal yang paling mendasar yang sering kita 'lupa'-kan. Setiap saat kita melakukan ritual, setiap saat kita berdoa, tapi dalam kehidupan nyata kita tidak pernah mempraktekkannya. Menjelekkan orang lain, membaikkan diri sendiri, gila pujian, suka marah-marah, selalu mengeluh, korupsi uang negara, suka pamer, gengsi, mana itu esensi yadnya yang telah kau persembahkan?

Malah sekarang keterikatan kita akan keduniawian itu terlalu TEBAL. Selalu ingin terlihat lebih walau dengan cara apapun. Tiap saat kita berdoa, tapi tiap saat kita berdusta, dalam tindakan! Kadang sering kita begitu dungu bahwa hanya dengan berdoa semua urusan dengan Tuhan kita anggap sudah selesai? Tuhan tidak buta, hati kita saja yang buta! Bahwa kita hidup di dunia nyata, dan banyak juga hal-hal nyata yang berharga.

Dari hari ke hari kita merasa telah menjadi manusia paling berpahala karena semua ritual, doa (dan fanatisme, apapun itu bentuknya.) Seperti budayawan M. Sobari pernah bilang, padahal doa dan sekedar doa tidak akan pernah bisa merubah dunia!


copyrighted:
pande
bali
sore ini

kek, suplay ke supermarket saja besok pisangnya!
7:10 AM

Uyah Lengis (the better paradise)


you are what you eat!


Menurut penelitian tak ilmiahku, leluhur-leluhur kita, sepertinya jauh lebih cerdas dari kita, walau menurut penelitian ilmiah - otak manusia berkembang ke tingkat kecerdasan yang lebih baik. Bisa aku kata mereka jenius dalam kesederhanaannya. Belum tentu kita lebih baik darinya dalam kerumitan kita. Complicated dan sophisticatednya sains kita. Dan berkembangnya industri manufaktur dan produk pangan komersil kita. Mereka telah banyak meninggalkan kepada kita kearifan-kearifan lokal yang sederhana tapi cerdas dan juga alam yang sederhana namun cantik (tanpa make-up!)

Salah satu hal yang mereka beri kepadaku adalah uyah lengis. Adalah sebuah dietary pola hidup dan makan sederhana. Aku masih ingat kakek, berangkat ke sawah mulai pagi buta, sarapan ketela rebus, kemudian makan siang nasi, tempe, telur pindang, ikan teri, uyah lengis, saur dan air putih dalam kendi tanah liat sambil menjaga padi dari gubuk di tengah sawah, selesai bekerja saat matahari senja mulai akan terbenam, kemudian makan malam ketika petang mulai menyelimuti bumi bersama cucu - cucunya. Dan tidur nyenyak lebih awal! TV masih hitam putih.

Uyah lengis telah menjadi menu wajib kami kala itu. Uyah lengis adalah ungkapan dalam bahasa bali yang berarti garam dan minyak. Secuil garam dan beberapa tetes minyak kelapa jikalau saja kami tak memiliki lauk yang lain. Maka makanlah kami. Itulah peninggalannya selain tentunya, ia memberikan aku bapak yang luar biasa dan bapakku kini meninggalkan aku beberapa petak tanah untuk aku hidup. (mereka sungguh peduli generasi.)

Kembali ke kakek dan barangkali kakeknya kakek, bila ditilik lagi, mereka memasukkan elemen garam dan minyak kelapa ini dalam menu asupan makanan mereka sehari-hari. Garam merupakan sumber mineral yang sangat penting yang dibutuhkan oleh tubuh untuk pembentukan enzim yang membantu banyak pekerjaan elemen-elemen organ tubuh.

Dan minyak kelapa merupakan sumber antioksidan dan energi yang juga dibutuhkan sebagai penangkal penyakit. Makanya kemudian muncul istilah lengis melah yang digunakan sebagai media pengobatan tradisional karena dalam penelitian luar negeri tentang manfaat minyak kelapa dan sebuah penelitian oleh pakar laboratorium biologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ditemukan bahwa minyak kelapa murni merupakan sumber anti oksidan yang sangat baik sehingga sangat baik buat kesehatan tentunya juga air kelapa muda yang biasa mereka minum kala berteduh istirahat siang dari pekerjaannya di sawah merupakan isotonik alami yang sangat baik semacam kini P*cari Sweat sebuah merek isotonik dalam kemasan kaleng buatan Jepang yang tentu harganya mahal.

(Bukan minyak jelantah ala kini yang biasa dijadikan minyak untuk menggoreng oleh tukang pecel lele dan pisang goreng di jalan), yang kesehatannya sangat diragukan. (mudah-mudahan sekali lagi aku salah). Minyak yang telah digunakan menggoreng lebih dari sekali, maka molekul-molekulnya akan pecah, dan itu yang memungkinkan ia menjadi molekul radikal dalam tubuh. (sepengetahuanku.)

Dan kini produsen minyak sawit, minyak zaitun, dan minyak lain berlomba-lomba mengiklankan minyak sehat di TV. Dan kalian tahu, dulu tak ada penyakit stroke, tekanan darah tinggi, kolesterol, obesitas. Dulu semua kakek-kakek kami badannya six pack! ya mereka nggak pernah makan snack dan makanan cepat saji (junk food).

Perhatikan juga, pada jaman dulu kala, para orang-orang tua kita senang membuat sayur kacang-kacangan hijau tanpa banyak digoreng lalu diurap, dan juga masih ada sayur kacang undis. Sayur kacang-kacangan adalah sumber protein yang tinggi seperti kacang undis dan daun-daunan adalah sumber serat dan vitamin yang tinggi apalagi urap yang kandungan vitamin (khususnya vitamin A) dan gizinya masih terpelihara lebih baik daripada sayuran itu telah direbus matang-matang atau digoreng.

Lalu begitu juga dengan suplai asupan air ke dalam tubuh. Mereka memanfaatkan sumber mata air yang terlindung, atau memasaknya, kemudian mengendapkannya dalam gentong-gentong tanah liat atau kendi. Tauhukah anda dengan begitu zat-zat berat bisa diendapkan terlebih dahulu di dasar gentong atau kendi, kemudian mereka bisa mendapatkan air yang lebih murni. Bahwa air adalah elemen penting dalam tubuh dimana 2/3 bagian tubuh kita terdiri dari air. Dan bukankah air pula yang menjadi tirta/banyun cokor waktu sembahyang? Dan tahukan anda secara umum air dipakai media pengobatan di Indonesia dengan memberikan doa-doa kedalamnya? (entah apapaun itu doa-doa tersebut!)

Air adalah sumber hidup dan air sendiri adalah elemen yang hidup. Asumsinya dengan memenuhi kebutuhan air minum yang baik bagi tubuh maka 2/3 kesehatan tubuh kita bisa terjaga.

Tahukah anda bahwa bukan selalu Air Minum Dalam Kemasan adalah sumber minuman terbaik dimana bagaimanapun mereka membutuhkan zat untuk mengawetkannya untuk bisa disimpan dalam jangka waktu lama di dalam botol kemasan plastik. Air minum dari PDAM pun sebenarnya baik asal dimasak dan diendapkan dengan benar, seperti kala jaman dulu itu.

Lalu perhatikan apa yang terjadi saat ini. Perhatikan juga makanan yang kita makan sehari-hari. Kita sehari-hari lebih banyak menggunakan minyak goreng dalam kemasan yang dikemas oleh pabrik atau minyak curah dari kelapa sawit yang kualitasnya sebenarnya tidak lebih baik dari minyak kelapa itu dimana menurut sebuah penelitian setelah dipakai untuk menggoreng masakan beberapa kali rantai lemaknya sudah pecah dan bisa berakibat kurang baik buat kesehatan khususnya jantung.

Coba juga anda perhatikan pola makan kita sehari-hari saat ini? Makanan instan, snack, makanan cepat saji, tahu dengan pengawet formalin, zat pewarna, penyedap rasa, bir, minuman beralkohol. Bahkan bagi sebagian orang mereka mampu memberikan asupan makanan yang malah melebihi dari kebutuhan tubuh sehingga terciptalah kosakata aneh ini 'obesitas'. kakek barangkali tak tahu artinya.

Okelah, pada akhirnya kita tidak bisa mengelak untuk mengkonsumsi makanan-makanan tersebut tapi setidaknya bisa dikurangi. Mulai memanfaatkan kembali makanan-makanan alami yang selama ini kita kesampingkan dan kecilkan artinya karena tuntutan hidup serba instan tersebut.

Lalu apa pesan yang bisa dipetik dari peninggalan kakekku? dari warisan uyah lengis-nya? Kembalilah ke alam untuk hidup yang lebih sehat. Cintailah alam seperti kita mencintai diri kita sendiri. Jangan banyak makan pestisida. kembali ke kehidupan sederhana. Makanlah makanan-makanan yang bergizi dan bermanfaat khususnya buat masa pertumbuhan anak-anak kita.

Dan jangan lupa, jika kita hidup berkecukupan dan bisa makan lebih dari apa yang kita butuhkan, jangan tabung ia menjadi lemak di tubuhmu! Bagi ia untuk yang barangkali tak bisa makan hari ini dan juga berhak!


cinta,
pande
bali
malam ini

jika saja kau baca tulisan ini kek, sayang di surga tak ada internet!
7:09 AM

Tanya Kenapa? (the lost paradise)


jika kau ingin belajar arti kesabaran,
atau bahkan memeditasikan diri,
turunlah ke jalan naik kendaraanmu,
nanti kau akan paham sendiri.

-pande



Bali kini tentu berhak mendapatkan satu julukan baru: ”Pulau Seribu Macet”. Ya, betul! Paru-parunya semakin sesak untuk bernafas karena asap kendaraan (dan rokok). Padahal sebelumnya sudah sempat kena serangan jantung dan hampir stroke oleh travel warning, travel advise, travel ban dan terorisme.

Melintas di jalanan Bali khususnya di kota Denpasar dan beberapa wilayah di Legian dan Kuta jangan harap hidup anda akan normal-normal saja. Belum lagi jalan bebas hambatan bay pass ngurah rai Kuta hingga Sanur, lupakan saja. Melintas simpang siur depan Galeria kuta, definisi jalan by pass itu tak berlaku. Pada siang yang terik, melewati perempatan Jl. Gatsu Barat - Ubung, Macet! Ke selatan ke Jl. Cokroaminoto, Macet! Ke tengah kota Jl Gadjah Mada, macet! Ke pantai Kuta melalui Jl. Imam Bonjol, Macet! Ke Legian, macet! Kemanapun anda pergi, jangan berharap hidup anda akan mulus.

(bayangkan jika semua pemilik kendaraan secara kebetulan berbarengan turun ke jalan.)

Menurut data Gaikindo penjualan mobil baru di Bali mencapai 1.000 hingga 1.200 unit per bulan. Anda bisa hitung per tahunnya dan kalikan beberapa tahun, maka jalanan Bali terus disesaki oleh ribuan mobil baru. Belum lagi mobil bekas yang juga kita kirimkan ke Bali.

Ditambah lagi penjualan sepeda motor di Bali mencapai lebih dari 15.000 unit per bulan (kalau saya tidak salah hitung). Fantastis.! Sebagai pembanding bulan Januari 2008 saja di seluruh indonesia terjual 473.060 unit sepeda motor (menurut data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia / AISI) dan Bali memiliki sumbangan penjualan rata-rata 5% nasional. Jadi anda bisa menentukan penjualan sepeda motor bulan Januari saja di Bali.

Menurut data AISI, Jakarta dan Bali termasuk yang densitas kepemilikan sepeda motornya tinggi mencapai 2,8 dan 3,0 orang per sepeda motor terkait dengan kekuatan daya beli masyarakat di wilayah tersebut. Penggantian sepeda motor di Bali sangat cepat! Di Bali satu rumah tangga bisa memiliki 3-5 sepeda motor. Untuk memenuhi kebutuhan bapak, ibu dan anak-anaknya. Dan tentu dari tahun ke tahun kepemilikan sepeda motor di Bali tak pernah mengalami penurunan. Bisnis yang cukup manis.

Dalam sebuah laporan hasil survey kepemilikan sepeda motor oleh Nielsen Consumer Insight, diantara kota-kota yang disurvey terlihat Denpasar memiliki tingkat penetrasi sepeda motor paling tinggi, diikuti oleh kota-kota di Jawa seperti Yogyakarta, Sleman, Bantul, Surabaya, Gerbang Kertasila, dan Semarang. Tingkat penetrasi sepeda motor di Denpasar ini telah mencapai sekitar 85-90% yang artinya hampir 90% penduduk denpasar memiliki sepeda motor.

source: Nielsen Consumer Insight, Marketing 05/VIII/Mei/2008


Seiring saat ini begitu mudahnya untuk memiliki sepeda motor. Hanya dengan Rp. 500 ribu orang telah bisa membawa pulang sepeda motor baru dengan pembiayaan kredit tentunya.

Ironisnya, jalanannya malah yang itu-itu saja, malah banyak yang berkurang kapasitasnya karena banyaknya galian proyek, dan sebagian mulai rusak. Belum lagi banyaknya pusat-pusat perbelanjaan yang ada di Denpasar, dimana keluar-masuknya kendaraan selalu membuat kemacetan yang panjang. Lihat saja jalan Diponegoro dan ruas jalan Teuku Umar.

Apalagi kalau musim liburan, macetnya akan lebih panjang lagi! Kali ini malah macet total. Khususnya di beberapa tempat wisata seperti di depan Joger – Kuta, Jalan Legian, Jl. Pantai – Kuta, selain tentunya tempat-tempat wajib macet di Denpasar: Jl Gadjah Mada, Perempatan Jl Gatsu dan Ubung, Jl. Imam Bonjol, Jl. Nakula, Jl. Kartini, Jl. Yudistira, Jl. Werkudara, dll.

Untuk membuat jalan layang di Bali tidaklah mungkin. Untuk membuat jalur TREM (emang perlu?) membutuhkan biaya banyak untuk menyiapkan infrastrukturnya dan dibutuhkan kajian lebih tentang baik dan buruknya.

Berbicara masalah angkutan umum di Bali (jangan tanya aku PLEASE.....)

Jadi selamat Bali atas julukan tambahanmu!


cinta,
pande
bali
hari ini

cuaca berubah-ubah. (tapi jalanan tetep aja macet!)
7:09 AM

Karam (the lost paradise)

PROLOG: untuk buyan

courtesy: photo.net


Setelah semua hutan telah ditebang, semua sungai teracuni, dan semua ikan kau tangkap, maka uang tak kan berarti apa-apa.
-indian cree prophecy


Masih segar ingatan saya melewati jalanan bersih dan lebar di Vientiane – Laos kala itu, kembali mengingatkan saya romantisme keindahan pulau Bali puluhan tahun lalu ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Suara alam masih bisa saya dengar! Masih segar pula terekam di mata saya sebuah film Bali eksotis tahun 1930-an dari sekeping VCD, tak butuh 70-an tahun ia telah menjadi Bali modifikasi model baru.

Masih segar pula ingatan saya 3 tahun lalu ketika saya menolak untuk bekerja di luar negeri, memilih untuk kembali pulang ke kampung halaman saya, Bali, tempat lahir yang sangat saya sayangi, hanya karena kerinduan saya yang begitu besar akan kehidupan, alam, budaya dan segala ke-Bali-an yang pernah saya kecap dulu itu.

Dan kini ketika kepercayaan, kecintaan, kebanggaan itu memudar, luntur, saya merasa ’berdosa’ kepada diri saya sendiri, walau langsung saya maafkan..... Denpasar hiruk-pikuk, macet, dipenuhi manusia, kendaraan, ruko, nyamuk demam berdarah, anjing rabies, maling, masalah, banjir. Walau ketika sore hari lapangan Renon masih sedikit menghibur saya dengan rumput hijaunya, dan pedagang pepaya, jagung bakar dan kacang rebus yang selalu main kucing-kucingan dengan tibum.

Bali telah disulap menjadi luar negeri. Bali dikirimi binatang Afrika, orang utan, gajah, buaya, unta, dan sawah dibuatkan taman buaya dan binatang seolah bali butuh itu? Mall dibuat mencaplok pantai, klub-klub internasional, banyak yang seolah ingin menjadi pahlawan kesiangan, setelah (konon) mengeruk ‘isi perut’ pulau yang kecil dan mungil ini.

Siapa itu orang Bali?

“Siapa itu orang Bali?” Saya bertanya dalam hati. Karena sebagian pulau ini sudah tak bisa saya jejaki lagi. Uang telah menjadi Tuhan! Merubah manusia menjadi hantu. Masih segar pula dalam ingatan saya cerita para nenek moyang kita membangun kebudayaan dan peri kehidupan di pulau mungil ini dan kini malah tulang-tulangnya yang mengabu di laut, danau, tanah kita gadaikan atas nama Tuhan baru : Uang! Tri Hita Karana hanya pemanis bibir, gincu, esensi sejatinya tak pernah dijalankan! Hanya nama penghargaan lomba-lombaan hotel!

Sebegitu naifkah orang Bali? Dan siapa itu orang Bali? Masih saya pertanyakan dalam hati. Karena ia yang mendiami pulau ini tak peduli! (mudah-mudahan saya yang salah!) Selama ini kata-kata telah tertiup angin dan menjadi angin lalu. Anjing menggonggong, khafilah berlalu. Anjing ompong, biarin aja disitu. Manusia telah mati rasa dan buta hati. Dan manusia, telah menjadi ’binatang’ yang paling buas di bumi. Budak paling takut kepada ’Tuhan’ uang.

Masih segar ingatan saya janji-janji di papan baliho caleg, rebutan menjaga Bali (katanya), sekarang mana suara mereka? Semua bisu, apa memang bisu? Ketika berniat saja menjadi caleg seharusnya telah memiliki mental dan mulut ber-api yang digerakkan oleh otak berisi. Bicaralah, jangan bisu pun tuli!

Pemerintah? Siapa itu pemerintah? Memerintah atau melayani, ngayah atau ngamah? Demo tak menyelesaikan masalah, panas hati membakar diri. Masih berharap, pasti selalu berharap, karena saya masih percaya manusia masih punya hati. Semoga saja mata dan hati mereka terbuka, dan berani membuka diri. Pulau kecil ini bukan mainan.

Sesungguhnya Bali Tak Pernah Belajar!

Bali, Bali, Bali. Sebuah pulau yang tidak pernah percaya diri. Para eksekutif dan legislatif sudah sering berkunjung kerja keluar negeri (katanya), lalu apa yang mereka bawa pulang. Kemajuan, masa depan, kemunduran? Mereka semua mungkin, ’mungkin’ acuh toh ketika mereka diganti mereka sudah kenyang biarkan yang baru giliran peduli. Sesungguhnya, Bali tak pernah benar-benar belajar! Dari negara lain, dari masa lalu, dari masa kini, padahal semua merasa terpelajar! Lihat saja janji-janji di baliho, masih segar dalam ingatan saya!

Bali, Bali, Bali. Shanti, Shanti, Shanti. Sekedar slogan, dan proyek menghamburkan uang. Bali shity, shity, shity, pernah saya baca plesetan branding Bali itu di sebuah blog internet. Tentunya saya miris, tentunya harga diri saya merasa terinjak. betul. Tapi setelah saya lihat dengan mata kepala sendiri, saya rasa, saya olah pikir, Bali saya saat ini, saya harus rela menerimanya dengan lapang dada.

Saya ingat satu kutipan Mahatma Gandhi “Bumi telah menghasilkan cukup untuk setiap orang, tapi tidak cukup untuk orang serakah.”

Kelak semua dari kita akan benar-benar memahami pesan itu, ketika tulang-belulang kita sendiri yang harus digadaikan untuk uang! Good bye!


cinta,
pande
bali
malam ini

”Bumi ini bukan milik manusia, tapi manusia milik bumi!”
-sitting bull
7:08 AM

Taksu (the lost paradise)


Sira sane ngewangiang
Napi sane ngajegang
Bali maurip seni lan budaya

-ocha-taksu



taksu. salah satu lagu dengan lirik paling sederhana namun terindah yang pernah aku dengar, -sedikit mampu mengobati kerinduanku akan keindahan alam dan hidup puitis bali, dan apalagi malam ini lagu itu dinyanyikan oleh sekelompok lelaki buta yang menamakan diri mereka musikalitas di sebuah warung makan ikan bakar di bilangan renon. bermodalkan keyboard dan tentu kacamata hitam yang menghias mata 'maaf' buta mereka. aku mendengar taksu-nya ocha, hidup.

taksu, ia adalah energi. selembut suara ocha dan lelaki buta itu, nada-nada apa yang ia lagukan? energi. tanpa energi bagaimana kita bisa hidup? ia adalah cinta yang lekat menyelubungi yang Tak-Terhingga yang dengan gerak, rupa, kata hingga tampak, terdengar dan terbaca. Dan di bale bambu ini, aku malam ini mendengarnya.

Bali ada karena taksu, bukan yang lain. Ia ada dalam Lempad. Ia ada dalam Mario. Ia ada dalam Poleng. Ia ada dalam Made Djimat. Ia ada dalam ocha. Bukan bangunan seperti tampak megah ala baru dalam rupa resort, villa, sekolah internasional, ruko bertingkat, apartemen bertingkat 10, dan semua yang kita 'anggap' Bali.

Dan jika kini, itulah bali, aku tak akan menyesalinya.

*

mendengarkan arja dan bondres di RRI kala siang adalah salah satu hal terjenius yang aku bisa dapatkan sehari, seperti siang ini. (karena di antara kemacetan, kepenatan, cuaca yang berubah-ubah, dan dentuman musik di kafe pada malam tak pelak membosankan.) dan aku tahu pastilah aku yang mendengarnya dibilang lanturan, kuno, lebay, tak eksis.

disitu tersisa taksu itu, tenaga, spirit, pesan moral yang tak dijual. gratis. tak perlu bayar tiket. dan ia dilantunkan oleh orang-orang tua yang sebentar lagi tentulah salah satunya aku yang akan menggantikannya, selain kamu.

karena, nanti malam akan ada konser musik rock di taman budaya. (taman budaya, aku pikir untuk konser budaya............???? ah pikiranku salah lagi).

melupakan taksu lagi.

ah,.....

maaf nak, dan kini, selain gunung, jurang, bukit, sawah dan diri, aku juga telah menjual taksu itu dengan label BU (butuh uang). dan semoga saja kau paham!


Sami pinaka meyadnya
Bali kaloktah ke dura negara
Sami seantukan taksu

-ocha


pande,
siang ini
di tempat biasa
ada kucing warna emas dengan 'tangan' memanggil-manggil.

sekali lagi maaf, nak!
7:07 AM

Orang Miskin Dilarang Berwisata


welcome to the lost paradise!


Dan oleh karena itu hingga kini aku percaya, alam jauh lebih cantik tanpa transkrip dan narasi, dan kesederhanaan arsitektur alam jauh lebih memikat hatiku sampai kapanpun melebihi arsitektur yang manusia buat dalam rupa hotel, resort, club, lapangan golf, kota satelit, dan semua mimpi-mimpi semu dan jemu itu. Jemu.

Dari kejauhan bukit kapur hasil ukiran alat berat tampak memberi salam selamat datang, sementara orang-orang entah siapa itu, sibuk mengendarai mobil golf dengan caddy-nya berpindah dari satu lapangan ke lapangan lain memukul bola hingga melambung jauh. Bola itu melambung entah kemana. Jauh. Dan mereka tersenyum. Berpindah lagi dan begitu seterusnya.

Masih menelusuri jalan boulevard ini, yang di kanan kiri tanah masih ditumbuhi belukar, dan beberapa yang lain telah ditanami rumput golf dan ada danau-danau buatan menampung air entah hujan atau air tanah yang dinaikkan mesin bor. Cuaca cukup bersahabat, tak terik pun juga tak mendung, walau biru langit tak terlalu cerah.

Aku ingat kala itu, dulu, saat pulau ini masih bertabur senyum dimana-mana, pantai ini betul-betul tanah mimpi, seperti apa yang orang memberinya nama. Membawa sepeda motor, atau mobil kijang hijau, memasukkan papan surfing ke dalamnya, nyetir nggak pernah pakai baju, hingga tiba di ujung bukit. Dan dibawah pasir putih menyapa dengan senyum.

Meniti jalan menuruni tebing bebatuan karang dan itulah karenanya ia kami sebut ia pahatan alam, membawa papan surfing bersusah payah dan ketika menyentuh lembut pasir putih kami jeda sejenak menikmati orange juice segar di cafe2 sederhana yang bertebaran di bawah.

Hari ini aku menginjakkan kaki di tanah mimpi ini lagi, tanah yang benar-benar dunia mimpi kala itu. Aku masih ingat, bercengkerama dengan beberapa orang yang ‘maaf’ masih berani setengah telanjang, menganggap pantai ini rumah mereka.

Setelah tadi melintasi jalanan macet (padahal itu adalah jalan by pass) dan dalam seluruh perjalanan dengan hiasan artshop, toko, ruko, memenuhi jalan hingga Unud. dan ketika naik ke Unggasan, beberapa apartemen baru dibangun dengan jumlah ratusan kamar congkak menantang langit. Wajar saja, view dari kawasan bukit khususnya Ungasan memang cantik. Namun, cantik itu milik kita semua, (sejatinya tak baik diklaim oleh satu dua orang saja!)

Kini banyak bangunan ala Eropa berjejer di pinggir Ungasan, kebanyakan minimarket, drugstore ala barat, dan privat-privat villa yang menoktahi tanah-tanah kapur. Aku serasa seperti sedang di singapore atau Mui Wo Hong Kong melintasi jalanan ini. Ya, Mui Wo seperti ini, bangunan, semak, laut.

Pantai ini cuma satu kekurangannya, dasar pantai bukan pasir tetapi karang, maka ini bukan menjadi pantai favoritku untuk bermain surfing, tapi tentu pantai favorit untuk menghilangkan penat, keluar dari hiruk-pikuk kota denpasar yang majemuk.

Dulu masih banyak hotel-hotel kecil berdiri disini, persis berdiri di bibir tebing batu kapur ini, dan harga sewanya masih murah, bahkan masih bisa menginap dengan modal seratus ribuan. Banyak orang main volly kala sore, dan siapa saja boleh ikut, bahkan kamu! Dan kala malam jika kita ingin menggelar api unggunpun tanah mimpi ini adalah juaranya. Dan pantai ini adalah tempat para pecinta keindahan dan kedamaian berkumpul. pernah sekali waktu ketemu turis bule dari Afsel dengan rambut gimbal, dan kita ngobrol hanya bermodalkan orange juice doang.

ada juga seorang kakek yang kami sebut 'legend' karena dia ada dari semenjak pantai ini hanya dihuni mahluk entah apa hingga kini dipenuhi sosok manusia dari berbagai benua. Ia selalu akan bersuka hati berbagi cerita tentang romansanya mendiami pantai yang sunsetnya sangat cantik dan ungu ini.

*

Dan ini cerita hari ini. bukan lagi masa lalu. bukan lagi romansa. Jalan menurun tak lagi sama. Beton menambal tebing dimana-mana. Dan aku sudah seperti menjadi turis saja, -padahal aku orang Bali (hehe). Siapa yang turis siapa yang orang Bali sudah nggak jelas?

dan orang Bali sendiri yang tersisa, hanya menjadi tukang jaga karcis, tukang atur parkir, dan sebagian masih bisa sewakan bogie board, sementara seorang bapak masih mencoba mencari rumput hijau untuk sapi-sapinya di seputar resort.

Dan sekarang mohon dipikir lagi dengan baik-baik, apa yang anda banggakan dari Bali? Bali kita?



Aku tak dalam kapasitas menyalahkan orang kaya! Nggak sama sekali! apa yang salah dengan kaya? Nggak ada. Dan kaya adalah sebuah keharusan, kau betul. Cuma, aku ingin ada baiknya definisi kaya itu kita perbaiki sedikit saja, bahwa kekayaan bukan hanya emas, permata, uang, dan segala macam atribut fisik itu. Kaya adalah bagaimana kita bisa menikmati alam apa adanya, untuk kita semua. Kaya adalah mentari yang sama yang menelusup jendela timur rumah kita di pagi yang sama. Kaya adalah jika kekayaan kita berguna untuk orang lain. Kaya adalah jika kita kaya dan tak membiarkan orang lain miskin. Kaya adalah jika kita punya uang dan tak memaksakan kehendak kita kepada alam, yang malah sepantasnya kita harus cintai.

Sekali lagi, aku tak sedang menyalahkan uang kalian. Aku hanya orang biasa yang mencintai BUMI ini. siapa yang membuat bumi ini, kita? tentu bukan kan? Ada layaknya kita kembalikan ia sebaik waktu kita pinjam ia pertama kali, kepada yang Empunya.

Dan aku juga tak dalam kapasitas menyalahkan orang miskin. Tak sama sekali. Mereka ada, maka dari itu kita menjadi berguna. Bisa memberikan kemampuan, tenaga, pikiran, dan berbagi kebahagian dan kekayaan kita dengan mereka. Bayangkan jika kita kaya semua, lalu apa uang berarti??? Dan kita tak punya alam lagi untuk kita tempati!

Tanaman beton hingga kapanpun tak kan menghasilkan bebunga. Tanaman beton hingga kapanpun bukan naungan buat binatang berteduh kala siang, tempat burung bersarang kala malam. Tanaman beton tak kan memberi kita dedaun, bunga, buah, kayu, tak kan. Tanaman beton hingga kapanpun tak kan bisa memberikan naungan penggembala sapi yang ingin berteduh saat jeda menyabit rumput.

Dan aku masih ingat, kala malam lalu orang-orang menikmati dan merayakan kesemuan malam dalam nafas-nafas orang yang berdendang, riang, lupa daratan. Persis seperti kala siang ada orang berpindah dari satu rumput ke rumput lain memukul bola, lalu tertawa. "Bumi ini ada untuk dinikmati! bukan urusan kalau yang lain..."

Oke, sekali lagi aku tak sedang menyalahkan siapapun. Ini BUMI milik kita semua. Tak ada undang-undang melarang orang bahkan mau jungkir balikpun di sini. Tak ada.

Aku hanya ingin bertukar suara, bahwa ada baiknya kita hidup di BUMI yang kita miliki bersama-sama ini lebih bertanggungjawab. Jika keinginan dikejar, bahkan langitpun bukan batas! Jika uang dikejar, bahkan lautpun juga bukan batas. Jika keindahan dan kedamaian dikejar, ia ada bahkan disegala tempat diseputar kita, jika kita menghargainya.

Manusia diciptakan dengan kemampuan untuk menjadi bahkan memiliki sifat sebening Pencipta, atau menjadi manusia dengan kodrat manusia adanya, bahkan menjadi binatang! Kau tentu masih ingat ungkapan homo homini lupus "man is a wolf to [his fellow] man." Manusia yang satu merupakan serigala bagi manusia lainya. Silahkan pilih! Sekali lagi bebas!

Namun, adakah jalan yang sebenarnya kita bisa saling bertemu dan menghargai?
kaya - miskin. kita - alam. ha????????

tolong pikir ke-BALI-an anda sekali lagi? jika hanya diam!

Welcome to THE LOST LAST PARADISE, sir!

dreamland 4 tahun lalu

dreamland berubah hari ini

dreamland 4 tahun lalu

dreamland berubah hari ini


“Gemerlap pariwisata di pulau surga itu dicetak dan disemir lebih oleh industri pariwisata internasional daripada oleh orang Bali sendiri.”
_Lonely Planet


copyrighted ©
pande putu setiawan
mar 31, 2010i

maaf nak, kami tak bisa beri BALI yang indah untukmu!
6:01 AM

Ini BALI Bung!


Bukan darimana kamu berasal,
Tapi siapa kamu saat ini.


Sepertinya ini akan menjadi note favorite anda. Ini adalah tentang dimana sebagian dari kalian kini menjejak kaki, menghirup udara, meneguk air saban hari, bangun pagi, bekerja, menutup jendela rumah saban malam. Ini cerita tentang rumah kalian. Sebagai peraih beberapa penghargaan terbaik dunia berikut, pantas rasanya kalian harus bersyukur terlahir dan menjejak kaki di pulau kecil ini saat ini.

Bali adalah pemegang 9 kali predikat 'World’s Best Island' dengan 6 diantaranya berturut-turut mengalahkan rival-rivalnya pulau wisata favorit seperti Hawaii, Santorini dan Phuket, dalam jajak pendapat tahunan Travel+Leisure Magazine, US.

Bali juga memenangi 'Best Island' dalam sebuah survey Readers Travel Award oleh majalah Condé Nast, UK.

Pembaca majalah Time Internasional dalam survey tahunannya memberikan penghargaan 'Favorite Holiday Destination in Asia' kepada bali.

SmartTravelAsia.com memilih Bali sebagai 'Best Holiday Destination' semenjak tahun 2006.

Majalah Destin Asian yang bermarkas di Hong Kong memberikan penghargaan 'The Best Tourist Destination in Asia Pacific' kepada bali.

Luxury Travel yang berkantor pusat di London dan memiliki 27 cabang di seluruh dunia, termasuk China, Amerika Serikat dan Eropa, memberikan predikat 'The Best Exotic Destination' kepada Bali dalam salah satu jajak pendapat terhadap pembacanya.

Masih ada 'World’s Best Hotel' untuk Four Seasons Resort Bali at Sayan, Ubud, 'Best Hotel Spa Internasional' untuk Four Seasons Resort Bali at Jimbaran Bay dan ratusan penghargaan lain (tentu capek aku menulisinya disini semua, maka kalian bisa tanyakan ke disbudpar atau bali tourism board yang menyimpan semua predikat itu rapat-rapat di laci mejanya dan tak pernah mempublikasikannya kepada kalian… (sayang sekali.)

*

Namun, sekarang jika kita runut ulang, barangkali kalian akan berubah pikiran. Mungkin ini akan menjadi note yang paling anda tak favoritkan.

Menurut Lonely Planet, saat ini bali sudah 'too commercialized!’' a.k.a. terlalu komersil. Itu juga kemilap pariwisata bali lebih banyak disemir oleh pengusaha asing dan lokal berbondong-bondong dan sangat gampang melakukan bisnis di pulau kecil ini.

Dan ini akan membuat anda lebih tak enak perut lagi membacanya. Alam bali penuh ditanami bangunan beton hotel, villa, ruko, kost-kostan, apartemen, dll. Denpasar, jimbaran, kuta, seminyak, nusa dua, ubud sama saja, beda-beda tipis. Tempat-tempat wisata belum lagi terurus dengan baik dan beberapa telah tercemar sampah dan limbah, terumbu karang dirusak, dan tempat-tempat suci dikepung bangunan komersil. Eksodus penduduk pendatang telah memenuhi pulau yang kecil ini. Pencopet dan pencuri villa semakin banyak. Jalanan semakin dipenuhi asap kendaraan bermotor dimana Bali sendiri adalah konsumen kendaraan roda dua terbesar di Indonesia selain jakarta.

*
hup..hah....
mari kita menarik nafas sejenak, agar tak cepat-cepat kena serangan darah tinggi dan stoke lebih awal. tak baik untuk pesimis, kita harus tetap optimis, bahwa bali masih bisa baik-baik saja. bukan?

Seperti cerita lain ini, cerita tentang kehidupan marjinal di pulau wisata terbaik di dunia ini, yang terlupakan. Ketika kali pertama aku memperlihatkan foto anak-anak BALI ini kepada teman-teman yang lain, mereka semua pada sangsi, mengatakan aku mengada-ada:

"tu, ini bali tu?"
"haha,.. ya iya. "
"kamu serius, tu?"
"dua rius."
"ya, udah aku percaya..."
"kalau begitu ini bali tahun berapa?"
"yagh..... ini foto baru aku ambil beberapa minggu lalu..."
"mmmmm......."
saat itu, ia masih tak percaya. mana mungkin ini gambar ada di bali, yang di postcard wisata dan majalah-majalah wisata katanya semua tampak tersenyum, dan indah-indah, juga terkenal itu??

Hei,... kemana para pimpinan daerah, kemana petugas kesehatan, kemana dinas pendidikan, kemana orang-orang kaya itu sembunyi?

Ya ini bali bung. Mereka adalah juga penghuni dan pemilik pulau wisata terbaik di dunia ini. Yang tak pernah tahu, tak pernah diberitahu, dan barangkali dianggap tak perlu tahu bahwa pulau mereka bergelimang dolar.

Desa belandingan juga di BALI bung. Walau tak pernah tercatat baik-baik dalam peta wisata bali. Tak pernah diucap orang-orang seperti kuta, sanur, nusa dua, ubud. Desa yang katanya hanyalah sebuah desa yang tak penting, dan hanya tempat jin buang anak.

Disini ada anak-anak kita, yang barangkali nanti akan meneruskan arah perjalanan pulau kecil ini kelak. Atau negara secantik Indonesia ini. barangkali bagi kalian mereka hanyalah anak-anak kampung, dekil, kotor, bodoh. Kalian salah besar. aku jamin. Bagi aku mereka adalah talenta terang. mutiara yang kelak akan gemilang. (jika saja mereka mempercayai itu, dan kita membukakan jalan-jalan agar langkah mereka terayun ke arah itu.)

Ini bali bung. Ada kampung suci yang tak tercatat dalam peta. Ada hidup sahaja. Ada banyak cinta murni. Masih ada keramah-tamahan ala bali 'yang katanya mendunia itu.' Ada alam yang juga seindah taman surga. Walau hidup sungguh keras, mereka tak tampak hilang asa.

(aku dengar minggu depan ada dua pengusaha argentina yang akan membeli rumah-rumah saka 12 penduduk dan digantikan dengan bangunan beton. Dan aku dengar seorang pejabat negara akan segera membeli bukit yang mengelilingi kampung suci ini untuk dibangut resort. F*CKING IDIOT!)

Jangan bawakan mereka hal-hal idiot itu please. Bawakan mereka kehidupan.

puspasena - anak alam
puspasena - anak alam



love,
pande
belandingan, jan 14
i'll stand by you,...this life is a devotion.