Showing posts with label Founder story. Show all posts
Showing posts with label Founder story. Show all posts
7:48 PM

Majalah Respect edisi 7 / Artikel " Pande Putu Setiawan, Membangun Bali Lewat Mimpi Anak-Anak."

.





page 26-27

silahkan klik gambar di atas untuk tampilan lebih besar. kemudian klik sekali lagi untuk men-zoom. :)

tx. rera/kophi atas interviewnya.


pande
ubud
25/2/2011
9:16 PM

Inspirasi Sukses Bagi Indonesia. (Majalah Reader's Digest edisi Agustus 2010). Selamat Berburu!


dearset,


Aku dedikasikan note kali ini untuk kawan-kawan anak alam, dan anak-anak muda indonesia yang BERANI, kalian yang akan dan (telah) mencetak sejarah untuk hidup kalian sendiri. jelas, Hidup butuh keberanian!

nukilan:
Inspirasi sukses bagi Indonesia. Mereka adalah orang-orang biasa yang menjadi luar biasa karena tekad dan kerja keras. Berkat mereka pula Merah putih harum semerbak. Banyak inspirasi yang bisa kalian petik. Singgih Susilo Kartono 'Radio Lokal Selera Global'. Risa Susanty 'Berpikir positif dan Jadilah Juara'. Oke Rosgana 'Merambah Dunia Lewat Yoyo'. tentu juga 'Berbagi dan Menginspirasi' dan hal-hal yang tak pernah kalian tahu tentang Pande Putu Setiawan ada disitu. :)






Sepertinya kalian harus mengorbankan kocek 20 ribu, untuk memburu majalah Reader's Digest versi Indonesia edisi Agustus 2010 ini. Majalah Reader's Digest terbit dalam 50 Edisi dan 21 Bahasa di seluruh dunia.

bisa didapat di lapak-lapak koran besar, Gramedia, Carefour, dll di seluruh INDONESIA.

selamat berburu!


sekeranjang cinta,
untuk indonesia.

P
dps
hari ini
10:43 PM

Para Pembuat Sejarah. Penulis Legenda Pribadi. Para Kalam.




“bebaskan dirimu dari bermental budak. tak ada orang lain yang bisa membebaskan pikiran kita sendiri selain diri sendiri .”
redemption song - bob Marley


Organisasi ini ada tentu atas sebuah ideal dan pesan yang jelas. Ia bukan kumpulan para budak. tapi para pembuat sejarah. inilah kalian. inilah kita. kita bukan bukan pohon bambu yang bimbang terbawa angin. tapi tunas yang tumbuh karena riang mencari mentari, lalu berbunga, berbuah dan membiarkan buah itu menjadi kerja dan pemberian kita. memiliki jati diri.

Kalianlah kaum muda yang nanti menentukan masa depan pulau kecil ini. Tentu negri cantik Indonesia. tentu juga masa depan anak-anak kita, dedaun hijau yang baru saja tumbuh. Untuk itu kita bekerja. Bukan untuk kemahsyuran. atau melakukan segala cara agar dikenal sebagai pekerja sosial, haus pujian, haus apresiasi orang, haus juara ini dan itu. Bekerja, berdedikasi, itu jauh lebih penting. Facebook hanyalah media. Blog hanyalah media. Project-project hanyalah media. Yang nyata adalah: siapa ANDA! Apa yang kalian kerjakan. Itu jauh lebih esensial.

Bukan material yang kalian gunakan dalam bekerja sosial yang lebih penting, namun pemahaman, passion, jati diri, kesahajaan, jauh lebih penting. Itulah kita. Bayangkan jika kita memiliki banyak material dan dana namun nggak memiliki pemahaman, keinginan, dan hati yang berapi, maka itu hanya akan menjadi pemanis bibir a.k.a gincu. dan kerja kita akan kehilangan warna yang harusnya mendasarinya.

Bayangkan jika nyanyi di panggung dan lip sync. Terdengar indah namun sama sekali tak esensial. tak penting. mengejar kesenangan pasar. namun memungkiri diri. pikirkanlah proses yang harus kalian lalui. bukan sedari awal bermimpi hanya hasil. kau dilihat dari hal-hal kecil yang kau kerjakan dan percaya dengannya.

Kemudian bayangkan suatu ketika kita mau bekerja sosial dan tak membawa material kerja apapun untuknya -selain diri kita sendiri-. bahkan alam di seputar kitapun bisa menjadi alat jika kita datang dengan hati yang paham dan sadar atas definisi pekerja sosial. untuk sebuah tujuan. untuk sebuah pemberian.

Itu akar kita. Itu nafas kita. sahaja saja. kita bukan untuk mencetak para penakut. pengecut. selebritis. idol. bukan. tapi ia yang memiliki pemahaman, kesadaran, yang sederhana. sesederhana mentari pagi di timur. bukan seglamour namun selelah mentari di barat. ini GENERASI kita. Ini waktunya kita.

Kita tlah lama mabuk. Kita tlah lama terlelap. Kita tlah lama dibuai mimpi. Pulau kecil ini tlah jadi ajang banyak kepentingan bisnis, pribadi, dan orang-orang bali sendiri seperti menjadi penonton setia saja. Anda tak sadar karena anda ada didalam lingkaran. Sesekali keluar lingkaran anda akan melihat apa yang ada di dalamnya. Sesekali naik puncak gunung untuk mengerti lembah. Naik ke awan untuk mengerti puncak gunung. Dan berpikirlah dengan hati yang bijak jika ingin memahami awan? Penting agar mata hati harus dibuat melek, bukan hanya kedua bola mata.

Sesekali jadi tukang parkir, tukang ambil karcis, yang lebih beruntung menjadi waiter/tress. Kemudian beberapa jadi manajer hotel dan restoran. Itu bukan hal yang membanggakan. Sesekali cari tahu siapa pemiliknya? Kemana uang itu lari? Ke tempat jauh. Ke orang yang perutnya sudah buncit. Pernahkah ia menyumbang pakaian sekolah untuk 1 anak saja? (semoga jawabannya Ya. bahkan ribuan baju sekolah!) aku memiliki harapan jika saja bekerja kalian memberi banyak hal untuk pulau kalian sendiri. dan sari-sari tanah 'dewata' ini untuk memupuk tanah yang sama. hingga bunga-bunga pulau selalu bisa tumbuh riang! bekerja bukan hanya sekedar mencari uang!

Jauh lebih membanggakan bagiku melihat kesahajaan pulau kecil ini dahulu. Walau tanpa hotel, resort, villa, lapangan golf, club exclussive, gelimang dollar. Pemudaran jati diri yang tlah ditukar beberapa botol bir. Beberapa lembar uang yang kita gunakan berjudi. Beberapa sisanya yang kita gunakan untuk pergi ke karaoke. Dan beberapa lembar lain hasil korupsi yang kita gunakan untuk memberi makan anak istri dan diri sendiri.

Bagaimana kita bisa berenang dan menemukan daratan? Jika kita berputar pada arus yang sama dan kemudian terseret dan tenggelam. Bagaimana kita bisa bertumbuh? Jika semua yang kita makan tertelan angin? dan kita tak sadar 1/2 pulau ini di selatan sudah hilang. di timur digerus laut. di barat pohon ditebang. di utara anak-anak tak makan.

Ini generasi kita. Ini waktunya kita. Setidaknya berpikir lebih jernih saja. Lalu sebisanya hidup lebih bersahaja tampak lebih indah bagiku. Itulah tantangan kita. Mengambil secukup yang kita butuhkan. Bukan berlebihan. Bumi sejatinya tlah memberi cukup bagi setiap orang, tapi tak cukup untuk orang-orang serakah. Sekali waktu Gandhi pernah berucap. Masih ingatkah?

Buka jendela kamar di pagi hari. Rasakan hangat mentari pagi. Sesap angin yang berhembus lembut dari timur. Itu semua diciptakan oleh IA yang mencipta untuk kita semua. Bayangkan jika akhirnya kita melintas di pasir putih, dan kita diusir satpam, atau disuruh bayar mahal?

Ini waktunya kalian. Ini generasi kita. Ini waktunya kita. Melek mata hati. Bumi butuh angin segar. Butuh pikiran segar. Bukan udara, tanah, air yang kotor. Bukan pikiran yang kotor. Pun juga perilaku kotor. Bumi bosan dengan itu semua. Bumi butuh hati segar. Bukan hati yang tak menancap ke akar. Lupa daratan. Bagaimana ia bisa tumbuh bunga?

”Revolusi dimulai dari diri sendiri”
bono, U2

sekeranjang cinta,

pande
dps
july 17, 2019
08:00 pm

gunakan ini sebagai dasar kerjamu selanjutnya. seterusnya.
ini generasi kita. waktunya kita.
selamat berkarya untuk indonesia!


10:12 PM

leadership on a DIFFERENT level




"Kami memang tidak menerbangkan manusia ke bulan. Juga tak menemukan vaksin penyakit mematikan. Tapi setidaknya kami berbuat sesuatu yang kami bisa sumbangkan untuk negri."
Komunitas Anak Alam


dear Kawan Anak Alam,


Dan kini ia telah menjelajah negeri bahkan benua. anak pikiran kita: ANAK ALAM. Ia adalah 'sekolah para pemimpin masa depan' pemimpin yang tangguh, ulet namun juga memiliki empati yang membumi. mencinta bumi.

Komunitas Anak Alam aku dirikan dengan bekal bahan bakar yang cukup. Aku tentu salah satu bahan bakar itu. dan apa yang telah aku tambahkan ke tangki itu?

Menjadi muda dan menyelesaikan studi di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada dan University of Victoria British Columbia Canada telah menjadi dasar fondasi berpikir logika untuk cetak biru ANAK ALAM. Bahwasanya kita bekerja tentu dengan 'passion' itu tak diragukan lagi, tentu juga didasari oleh logika berpikir kuat dan matang. Semua itu tentu aku dapat dengan penuh pengorbanan, dan kini ia yang 'mahal' itu kalian bisa dapatkan gratis di ANAK ALAM. ini sebuah komitmen. ini sebuah dedikasi pribadi.

Tentu sebagai seorang seniman sastra dan rupa hal ini telah memberikan nafas kreatifitas dan keleluasaan untuk menjadi berbeda, ala kita, yang telah menjelma menjadi kegiatan-kegiatan ANAK ALAM yang mengejutkan banyak orang. 1 Buku untuk 1000 Mimpi. 1 Camera for 1000 Smiles australia. BANGUN, BUKA MATA, LIHAT DUNIA (TM), GREEN CAMP ANAK ALAM, RUMAH BACA ANAK ALAM, BEASISWA DAN PROGRAM ORANG TUA ASUH ANAK ALAM, CERITA SURAT UNTUK INDONESIA, BERBAGI DAN MENGINSPIRASI, I am not a plastic island (TM), KONSER AMAL ANAK ALAM, BUKU ANAK ALAM, dan masih banyak kegiatan yang lain. Ini hasil dari sebuah imaji dan kreatifitas yang didasari oleh logika yang kuat. Dan kalian berada di kapal yang kuat dengan pelayar-pelayar kuat. Dan tentu imajinasi dan pemikiran kalian adalah bahan bakar berharga berikutnya. bahan bakar yang jumlahnya tak terkira jika kita bersama. (bukankah INDONESIA akan tersenyum olehnya?)

Tentu sebagai seorang pecinta kesahajaan hidup, aku mencintai nilai spiriatualias hidup yang sederhana. Aku orang yang terlalu mencintai keserhanaan, walau hidup dan besar di dunia yang spohisticated ini. Ini telah menjadi warna lain dalam ANAK ALAM. Bahwasanya bekerja sosial tak butuh atribut dan tetek bengek list keanggotaan yang njelimet.

Siapapun kita yang memiliki 'cinta', ia adalah Kawan Anak Alam. siapapun ia yang 'muda' tak hanya foya-foya dan berani memberi tanpa menerima, berani 'bekerja' tanpa digaji untuknya, berani memberi tanpa berharap pahala, ia Kawan Anak Alam.

Waktu telah membawaku ke beberapa ragam ranah hidup manusia. Terakhir kali bekerja untuk 14.000 kk atas nama UNITED NATIONS WORLD FOOD PROGRAMME (Badan Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa) adalah sebuah pengalaman tak ternilai harganya. bukan selalu uang, emas, berlian yang bernilai. Pengalaman juga. Tentu ia juga adalah harta. kan?

tentu itu juga yang aku berikan untuk ANAK ALAM. Ada code of conduct training, sexual harassment training, dan UN system yang kalian bisa unduh darinya, gratis tanpa biaya. iya! :)

Dua tahun lalu entah karena keberuntungan atau karena memang kita yang membuat keberuntungan itu ada, aku menjadi youth representatif dalam 14th ASEAN Youth Day meeting dan Youth Award di Vientiane Laos. Waktu itu aku berdiri di atas panggung, di depan forum ASEAN Youth atas nama kawan-kawan muda kita di Indonesia dan menceritakan apa yang kita lakukan di negeri yang kita cintai ini: Indonesia, tentu juga menceritakan tentang sampah kain yang kawanku pungut dan ia jadikan barang berharga yang membawa temanku itu memenangkan Young Entrepreneur Kementrian Pemuda dan Olahraga waktu itu.

Itu bahan bakar yang ada di tangki itu. Gunakan ia untuk menyalakan lentera kalian.

Ini masalah mendasar kepemimpinan. Kepemimpinan adalah sesuatu yang besar oleh ujian, waktu dan tentu oleh komitmen dan oleh konsistensi. Ia tak terjadi dalam hitungan hari.

Aku telah dan akan terus ada di depan saat-saat badai, membuka bajuku, melawannya hingga kita bisa belajar banyak darinya. Belajar sesuatu yang belum pernah kita dengar dan tahu. dan tentu aku akan senang kelak duduk manis sambil meminum segelas kopi hangat melihat kalian bermain di taman kecil tempat bebunga mimpi kita tlah bertumbuh, berbunga, berbuah. Ada kalian serta yang juga tlah bertumbuh bersama mimpi kalian.

Dan SEJARAH kini ada ditangan kita. akan kita apakan ia? aku ingin kalian semua menjadi pencetak-pencetak sejarah itu! bukan selalu menjadi penyaksinya. Aku ingin kalian semua menjadi pemain bolanya, bukan selalu komentator atau penontonnya. Kita yang akan menanam benih-benih bunga itu dengan tangan kita sendiri. Takut kotor karena tanah? lupakan.

Dan ketika kelak bebunga yang kalian tanam itu juga sudah bertumbuh, waktunya kalian yang minum kopi, sambil baca novel di bawah sebuah pohon. Ada cerita tentang jejak-jejak sejarah kalian sendiri di taman. ada pohon jambu rindang.

Sebuah pohon yang bahkan tak pernah memakan buahnya sendiri, semua ia berikan untuk orang lain bahkan yang tak pernah berucap terimakasih untuknya. dan saban malam ia tersenyum karena telah memberi hadiah.

tongkat itu kini di tangan kalian.
CETAKLAH SEJARAH-SEJARAH BARU untuk indonesia yang sangat kita cintai ini.



salam anak indonesia
salam anak alam


pande
dps-bali
17/5/2010

Lebih dekat dengan Pande Putu Setiawan dan ANAK ALAM, sebuah komunitas anak-anak muda berani dan berkomitmen untuk mengorbankan waktu, tenaga, peluh dan dirinya untuk masa depan anak-anak tak mampu khususnya dalam hal pendidikan? Malam ini Tommy & Riri Show pkl: 22:00 - 24:00 di Hard Rock Radio Bali 87,8 FM. stay tune! don't be missed!

University of Victoria British Columbia Canada
University of Victoria British Columbia Canada
Vientiane Laos. 14th ASEAN youth meeting adn youth award.
United Nations World Food Programme. ah, what a huge love here..
United Nations World Food Programme. ah, what a huge love here..
Indonesia International Work Camp
Indonesia International Work Camp
Thank You! See u again!
7:30 AM

GREEN CAMP 'di sebuah tempat terindah di bumi' (prolog)




"aku ingin terbang, aku ingin berlari."
wayan kerani anak alam

Pada suatu hari di bubung pegat aku melihat seorang anak kecil yang sedang menyabit rumput, aku menghentikan langkahku, menghamparinya dan menyapanya. Lima tahun berlalu, suatu pagi aku bertemu kembali dengan anak itu yang sedang berjalan menuruni jalanan bukit untuk menuju ke sekolahnya. Saat itu ia telah masuk Sekolah Dasar. Aku sempatkan bertanya “Dik, cita-citamu apa?” dan ia menjawab sumringah “Mau menjadi tukang mencabit [menyabit] kak!” ”....mmmm... oke...” gumamku dalam hati. 20 tahun berselang aku bertemu lagi dengan anak itu dan kini ia telah dewasa. Ia masih mengenaliku, “Kak Putu, anak alam? Apa kabar kak....?” Dan aku bahagia ia masih mengingatku dan tentu lebih bangga kini ia telah memiliki peternakan sapi dan memelihara lebih dari 1000 ekor sapi di ladangnya di atas bukit bersama warga desa! Dan darinya pula aku medapatkan kabar bahwa teman-temannya yang lain telah ada yang menjadi dokter, perawat, dan seorang teman dekatnya Wayan Kerani ia kini telah menjadi pengusaha telur ayam kampung. Aku masih ingat cita-cita mereka dulu saat aku tanyakan mereka kala itu di wantilan. Tentu aku juga masih ingat saat sama-sama kita manjat pohon nangka di sebuah kebun milik seorang anak dalam hujan, lalu berpesta di pos milik kelompok tani Sari Karya sembari membuat api unggun dari ranting kayu cemara.

*

Di halaman wantilan, dalam lingkaran penuh anak-anak ini merangkaikan tangan dan membiarkan kami berada di tengah, (tentu mereka tak sedang menonton sabungan orang) mereka dengan seksama mendengarkan setiap kata yang kami ucapkan, setiap pesan yang diantaranya kami selipkan, setiap percik api yang kami pantik untuk membakar semangat mereka, anak-anak alam.

Aku teringat kembali kala malam tahun baru lalu, dengan pijaran ratusan kembang api yang menerangi langit malam belandingan, aku membacakan sebuah puisi Rabindranath Tagore yang aku rubah di sana-sini agar puisi itu lebih gampang dicerna pesannnya oleh anak-anak, sebuah puisi tentang mimpi dan seorang teman. Tentang harapan dari atas bukit. Tentang kemungkinan apa saja yang bisa terwujud.

Dan malam ini kesempatan itu terulang untuk yang kedua kali. Kutipan cerita di atas, ’seorang anak kecil yang kini telah memiliki peternakan sapi dengan 1000 sapinya’, sekali lagi merupakan rekaan hasil dari sebuah spontanitas, saat aku harus kembali membuat akal-akalan, memanasi malam dingin itu dengan cerita heroik sederhana yang pemerannya adalah mereka-mereka juga, dan keluarlah cerita ’Bermimpi’ tersebut. (Ada pelajaran berharga kita bisa petik bahwa selain pekerja seni dan dalam industri kreatif, bahkan bagi seorang pekerja sosial dan kemanusiaan pun juga harus memiliki kreatifitas yang tinggi. Kreatif adalah salah satu bibit yang harus terus kami tumbuhkan.)

”Dik, jadi apapun mimpi kalian, bahkan jika itu hanya ingin menyabit, berpimpilah! Tak salah!”
”Dan 20 tahun lagi saat kak Putu bertemu kalian dan saat itu kalian telah menjadi orang sukses tentu kak Putu akan bangga, tentu juga kalian kan?.
”Dan saat itu kalian boleh melupakan kak Putu dan kakak-kakak yang lain yang pernah datang bertemu kalian. Namun satu hal yang tak boleh ’dan sangat tabu’ untuk kalian lupakan, kalian harus terus membantu adik-adik kalian yang lain. Seperti kami mengorbankan banyak hal buat kalian.”
”Itu tugas kalian!”
”Kalian dengar!”
”Karena kak Putu dan kakak-kakak yang lain juga harus membantu teman-teman kalian di kampung yang lain.”
Mereka terdiam membatu mendengarkan pesanku masih dalam posisi merangkai tangan, dalam dingin, di bawah naungan kubah langit yang diselimuti ribuan gemintang di ketinggian desa Belandingan, sebuah desa 'yang tak tercatat dalam peta.' Sementara aku berkeliling di dalam lingkaran.

”Jadi tugas kalian adalah harus berani apa......??????”
”BERMIMPI!” mereka semua menjawab dengan serempak dan kencang.

(oke, malam ini sudah mulai panas dan aku senang!)



bersambung...

foto lebih banyak

8:18 AM

Bintang Paling Terang!


"kita akan taklukkan gemintang, nak!"
untuk Wiranti


Sungguh ini adalah hari paling terhormat bagiku, bertemu dengan kalian, melihat kalian bermain, melihat kalian tertawa, dan tentunya bertemu dengan gadis ini Ni Ketut Wiranti, ia yang aku menangkan dalam lomba puisi pagi ini. Bahkan aku jauh lebih merasa terhormat menyaksikan penampilanmu nak, di depan mataku daripada gelar dosen di universitas yang sepertinya sebentar lagi aku sandang.

Semalam aku bergadang hingga jam dua menuntaskan puisi 'imaji ungu'-ku, dan hari ini pagi-pagi sekali aku harus bisa bangun. Maklum jam 9 kalian sudah mulai lomba di belandingan sementara kakak masih tidur nyenyak di denpasar. maka tak pelak jam weker aku setel jam 6 pagi, itupun aku kelewatan hingga jam 8 baru bangun.

tanpa mandi dulu (mahaf), namun menyempatkn meneguk segelas air putih, aku segera memanaskan motor anak alamku yang setia, untuk aku geber ala fast and furious mengejar jam 9 waktu belandingan. tentulah ini mustahil bin ajaib, tapi setidaknya aku coba menarik gas sekencang-kencangnya.

kali ini aku mengambil jalan lewat kintamani, kemudian belok kanan di penulisan untuk melewati sisi utara kaldera, melintas di desa pinggan dan akhirnya aku tiba di belandingan tepat jam 10:00. ya, tepat terlambat 1 jam. Namun tadi pagi aku sudah telepon dodik untuk memulai acara olah raga lebih awal saja, sedang yang akademik dijadwalkan belakangan. Dan taktik ini berhasil sempurna.

Baru tiba, beberapa anak-anak melihatku dan seperti biasa mereka menghampiriku dan bertanya, "kak, kok baru datang!!!!!!" Sementara, aku segera bergegas mencari Dodik agar segera mempersiapkan lomba akademik yang hari ini dilaksanakan.

Ya, hari ini karang taruna desa belandingan mengadakan lomba kegiatan anak-anak serangkaian ulang tahun mereka, dan khusus acara anak-anak ini tentu mereka harus kami bantu. Ini adalah tanggung jawab kami. 100%. Kami bantu mereka finansial, hadiah 200 lembar buku tulis, 100 penggaris plastik, sabun, pasta gigi, pensil, bolpoin, rautan yang tentu kesemua itu adalah sumbangan kalian Kawan Anak Alam yang sangat saya banggakan pula. Dan tak lupa sertifikat untuk hadiah. (biar karang taruna itu saja yang menandatangani sertifikat ini, kami sudah menandatanganinya dengan HATI.)

Kali ini kami mengadakan lomba akademik dan olah raga. lomba akademik dibagi menjadi 4 yaitu: 1. Menulis dan membaca cerita mini. 2. Menulis dan Membaca Puisi. 3. Menulis dan membaca Pantun. 4. Menjawab soal MIPA. Sementara olah raga dibagi menjadi 2 yaitu: futsal dan bola volly tentu ala anak-anak.

Kali ini (hei Kawan... kita telah meretas sejarah baru!), anak-anak alam kita bertambah. Legiun anak alam bertambah dengan kehadiran anak-anak dari SDN 1 Songan, SDN 3 Songan, SDN 1 Pinggan, SDN 4 Sukawana yang kini menjadi anak-anak alam kita, anak-anak yang tentu dengannya kita akan berbagi hidup.

Namun ada satu hal yang paling membuat hari ini menjadi spesial. Ia adalah anak ini. Ia adalah Ni Ketut Wiranti anak kelas 5 SDN 1 Songan. Ini untukmu nak: " Nak, kau telah menjadikan hari ini hari terindah. Menyaksikan penampilanmu hari ini, kakak seperti terlahir kembali! Kakak janji, kau akan ada di hati kakak sampai kapanpun. Kelak kakak menikah, kau adalah anak kakak juga!"

Anak ini adalah pemenang lomba puisi. Ia membacakan puisi dengan tema guru dengan ekspresi yang tak aku prediksikan di awal akan dipentaskan oleh anak-anak alamku. Lihat air matanya, ia menangis. Ia menangis. Dan ini menangis betulan. Penghayatan yang sangat luar biasa, dilakukan oleh seorang anak yang juga sangat luar biasa.

Berbincang-bincang dengan guru-gurunya, "memang anak ini adalah anak yang berprestasi", kata mereka. baik itu di bidang seni khususnya sastra maupun di bidang sains dan sedang disiapkan untuk olimpiade sains.

Sekali lagi, kakak bangga denganmu. Karenanya, kakak tak kan pernah pergi dari kalian.
Dan kawan, maukah kau menjadi keluarga baru untuk Wiranti?



cinta,
pande
belandingan
25 maret 2010
didedikasikan untuk seorang anak dengan bintang paling terang yang pernah aku temui.

tidurlah nak! esok kita bercerita lagi. yang nyenyak...
seperti juga kakak...
8:12 AM

Kartupos dari Surga: Kartupos untuk Ayah (2)



Selama aku bertemu dengan anak ini, ini kali pertama aku lihat made ratih tersenyum. Aku telah mencoba membolak-balik semua file, melihat-lihat lagi semua foto anak-anak, hanya dalam foto kali ini, senyum made ratih mengembang lebar.


Tak kusangka, perjalananku walau baru beberapa hari, namun ia memberi jauh lebih dari apa yang aku kira. Dari gubuk ni made ratih- di atas bukit batu barak, sekarang aku dapat memahami kenapa siddharta gautama memilih untuk menjadi Buddha, keluar dari istana. Kenapa pula Mahatma Gandhi memilih untuk menjadi orang biasa untuk membebaskan India. Banyak (terlalu banyak) kehidupan orang di luar sana yang tak kita bisa lihat jika otak, pikiran, hati, dan tubuh kita terbatasi tembok rumah yang sempit, yang membuat kita lena namun merasa sempurna. Cahaya lampu telah menyilaukan mata kita hingga kita tak bisa lagi mengenali mana bintang mana kunang-kunang.

Hari ini aku sengaja menghabiskan waktuku menemani made ratih di ladang seperti janjiku semalam. Hari ini pula betapa perjalanan ini -yang ternyata telah dikerjakan oleh orang tuaku sendiri sejak lama-, (nah lo.). Ya, bapakku sendiri yang telah lebih dari 40 tahun naik turun desa-desa di bukit dalam tugasnya sebagai paramedis di kampung terpencil ini ternyata telah menjadi ‘living hero’ bagi mereka. Seorang kakek tua menghentikan perjalananku dan mengenali aku anaknya Pak Mantri tanpa sekalipun aku mengenal wajahnya.

Ia memberi pesan dengan bahasa belandingan kepadaku, “Bes keberatan anake keto, dangin desa, delod desa, waiiih…… mekencang-mekencang, kayang itungane mekencang-kencang. Ngitungan dangin, dauh. To keberatane.” ("bapak itu bekerja sangat keras, timur desa, barat desa, fiuhhh….. semua saling tarik-menarik tangannya, seperti pekerjaannya juga begitu. Memikirkan timur, barat. Begitulah ia bekerja sedari dulu hingga kini."). Setiap orang-orang tua, kakek, nenek, keluarga yang aku temui bercerita bahwa sering beliau dibonceng oleh warga dengan sepeda motor ke jalan tanah yang aku lalui tadi untuk mengobati warga-warga yang sakit, yang tinggal menyebar di punggung-punggung bukit (tak bisa kubayangkan??? bagaimana ia bisa melakukan itu, se-lama itu. note tentang ia aku tulis terpisah)

Perjalanan siang ini kami mulai seperti janji semalam adalah sepulang made ratih dari sekolah. Jam 12 lebih lima menit, ratih dan ketut catri beserta wayan kerani telah menungguku di depan rumahnya. Mereka bertiga tampak bersemangat karena kali ini ada aku ikut dalam rombongannya. Barangkali mereka butuh hiburan dalam perjalanan mendaki setapak bukit batu barak, atau mereka sudah siap dengan pose foto andalannya, karena mereka tau persis aku selalu pergi dengan kamera poket (sahabat karibku).

Di tengah perjalanan menyusul ada dua orang anak lain yang juga akan pergi ke ladang, dan lengkaplah 5 pahlawan kecilku hari ini.

Kebanyakan ladang penduduk desa terletak di punggung bukit yang mengitari sisi timur desa belandingan. Batu barak bisa ditempuh melalui jalan setapak di timur desa, kemudian menelusuri bukit hingga sampai di bubung. Ambil jalan setapak yang ke kiri di persimpangan bubung, telusuri setapak kecil menurun itu, itulah ladang milik ibu made ratih.

Setiba di bubung, tanpa komando mereka langsung berlarian menuju gundukan karung-karung plastik yang berisi pupuk kandang. Semetara dua anak yang tadi ikut serta dalam rombongan kita pergi ke gubuk mereka. Catri dan kerani mengambil karung itu duluan untuk mereka junjung menggunakan kepala, untuk dibawa ke ladang, dimana ibu ratih dan keluarganya sedang menyiangi tanah ladang.

Untuk anak seumuran ratih, aku yakin karung yang berisi pupuk kandang itu pastilah berat. Ia tampak bersusah payah memindahkan karung plastik itu ke kepalanya, hingga mencoba dua kali (dan akhirnya harus aku bantu). Sementara catri dan kerani telah terlebih dahulu bisa mengangkat karung plastik itu sendiri.

Catri dan kerani berlarian menelusuri jalanan menurun itu, sementara ratih berada di barisan paling belakang, sebelum aku.

berkenalan dengan keluarga mereka sungguh sesuatu yang menyenangkan siang itu. sontak semua menghentikan kerjanya sejenak menghampiri aku, dan mempersilakan aku untuk duduk menunggu di gubuk saja, bukan di ladang. mereka takut aku kotor lah, merasa tak sopan lah, dan banyak (-lah) yang lain, seperti biasa. yah, demi menghormati mereka yang menghormati aku, aku turuti keinginan mereka kali ini.

sudah kusangka, ini akan jadi hari sakit perut lagi. Ibu made ratih menanakkan air hujan di ketel dengan tungku api, membuatkan aku kopi, air gula, bahkan menghidangkan nasi. "ini waktunya makan siang pak putu, pastilah pak putu sudah lapar. apalagi tadi habis naik jalan di bebukitan. marilah, mahaf hanya seadanya. (nasi ini isinya sambal pare dan kerutuk jagung.., tentu sayur jipang:) ). "Wah ibu, saya merepotkan sekali. terimakasih banyak." Ia tak suka aku berkata demikian, "kami yang harus berkata demikian, telah merepotkan pak putu oleh anak-anak kami"

siang itu, setelah beberapa kali bolak-balik mengangkut pupuk dari bubung ke ladang, akhirnya anak-anak disuruh menemani aku bermain, melihat-lihat sekitar, mencari buah nangka seperti biasa (buah nagka tlah menjadi makanan pokokku seminggu ini). aha, ini menjadi hadiah tak terperi.

tahukan anda legenda SHAMBHALA di tibet, pegunungan himalaya. konon disebuah tempat yang masih diteliti kebenarannya hingga kini oleh para ilmuwan, ada sebuah tempat yang maha indah, dan di tempat itu waktu berjalan sangat lambat sehingga semua penduduk di sana awet muda. dan, sepertinya jika saja di belandingan ada legenda yang sama, aku pastikan aku telah menemukannya. aku sebut ia dengan nama RED STONE HILL (biar sedikit serem..hehe..)

aku terpaksa pulang duluan, sehubung ratih dan ibunya masih harus bekerja, aku ditemani keranyi dan lanying untuk turun kembali ke belandingan, menyelesaikan dan merapikan file-file baruku lagi.

GOD. thanks for the moment. i was just enlightened.


Terimakasih buat kawan-kawan yang telah memberi respon terhadap note made ratih sebelumnya. Betul, ia tak hanya membutuhkan simpati, tapi bantuan nyata. Saya pikir tak susah rasanya masing-masing dari kita menyisihkan gaji, uang makan, tabungan kita Rp.10.000 / bulan untuk kita jadikan beasiswa untuknya, bukan? Dan jikapun itu masih memberatkan, mohon kabarkan kepada orang lain, dengan ini pula kalian telah berbagi kesempatan untuk memberi. Saya percaya itu sudah merupakan usaha yang sangat bernilai.


(aku menulis setengah bagian dari note ini malam ini dari rumah made ratih, dan sampai jam 7:00 pm sekarang ia belum pulang dari ladang.)


love,
pande
belandingan, jan 12
8:09 AM

Diari Anak Alam 4: Karia Sang Penunjuk Jalan


it is not a story about sadness,
it is about HOPE


ini adalah hari kelima bagi aku menemani mereka bersama, dan benar sekali, sepertinya pilihanku untuk tinggal bersama mereka tak salah. dari beberapa waktu kebersamaan ini, apa yang sebaiknya aku lakukan untuk mereka sedikit demi sedikit mulai terkuak. ternyata memang harus dengan tinggal bersama mereka dan menjadi mereka kemudian aku bisa memahami kebutuhan mereka lebih dekat dan mencarikan solusi yang paling tepat. bukan hanya duduk di meja dan memikirkan mereka dari jauh.

tiga hari in aku banyak menghabiskan waktu di bubung tamblang, yang berlokasi di balik bukit utara desa belandingan. praktis aku harus setiap hari mendaki berjalan kaki mendaki bukit, kebetulan juga beberapa hari ini hujan dan demi Karia dua hari ini aku rela kehujanan saat turun dari bukit.

luas wilayah desa belandingan tak terlalu besar jika dibandingkan dengan desa tetngganya, songan. maka sebagian besar warga memiliki ladang di balik bukit. saat-saat musim hujan seperti ini, semua warga mengosongkan desa setiap pagi hari untuk bercocok tanam, sementara hanya anak-anak di sekolah dan warung saja masih terlihat ada aktivitas.

I Nyoman Karia, begitu nama anak itu. Aku sangat familiar dengan wajahnya karena sejak dulu ternyata kamera pocketku telah menangkap cukup banyak wajahnya. saat itu aku masih sangat ingat ketika ia mengambil air di bak penampungan air yang berjarak 3 kilometer di selatan desa untuk dibawa kerumahnya.

dua hari lalu aku bertemu dengan Keliwon, kakaknya, saat itu berteduh di rumah I Wayan Mara. Dan ternyata betul, desa belandingan selebar daun kelor, Keliwon ternyata kakak kandung Karia. Saat itu ia menitipkan tulisan Postcard From Heaven-nya kepadaku. oke, tanggung ketemu ujung dan pangkal diantara mereka berdua, seperti saat hari-hari pertama aku menghabiskan waktu dengan Kadek Samiasih dan adiknya Komang Trisna Wangi, kali ini aku melakukan hal yang sama terhadap Keliwon dan karia. Seri postcard from heaven hari ini bakalan milik Keliwon dan Karia, begitu juga diary anak alam.

menuju ladang Karia, kami berangkat bertiga ada aku karia dan Mara. Sementara Keliwon ternyata sudah ada di ladang di balik bukit lebih dulu. untuk mencapai ladang, kita harus melewati jalan tanah yang menembus hutan di manik muncar.

ternyata di perjalanan, ada dua orang anak yang juga sedang akan berangkat ke ladang mereka. jadilah, perjalanan kami kali ini berjumlah 5 orang. Hehe,.. dasar anak-anak, ketika mereka melihat aku keberatan menggendong tas punggung beserta laptopku, (rencananya aku akan sedikit membuat tulisan dari ladang), ketika aku bilang laptop itu harganya cukup mahal, mereka menjaga barang 'ALIEN' itu bahkan melebihi jiwa raga mereka. mereka menandu laptopku, persis seperti para prajurit RI menandu Jenderal Soedirman kala perang revolusi waktu itu. dan ketika mereka sedikit meleset oleh jalan yang licin karena hujan beberapa hari ini, mereka lebih memilih menyelamatkan laptopku daripada dirinya sendiri. (ok,..ok,... kali ini kalian emang anak alam sejati.)


untuk mencapai ladang karia, kita menmpuh perjalanan kaki sekitar satu jam. tentu itu sudah termasuk jeda beberapa kali memberi mereka waktu untuk meregangkan otot pundak dan kaki.

dari kejauhan anjing putih dan anjing kecil belang milik Karia menyalak kencang. namun kali ini suaranya segera berhenti ketika melihat wajah-wajah yang sudah mereka kenal ini termasuk aku, karena dua hari ini aku telah menginjakkan kaki di ladang ini sebelumnya.

bapak karia terlihat sedang menggali tanah untuk membuat bak penampungan air menggunakan terpal, sementara ibunya sedang menyabit rumput dan daun pohon cmara untuk makan dua sapi mereka.

tak membuang waktu lama, sejenak mnaruh benda ALIEN yang mereka tandu, Karia bergegas menghampiri adik kecilnya Wayan Susan, kemudian bersama-sama mengambil keranjang untuk menyabit rumput bersama-sama. Ya, keseharian Karia dilewati oleh kegiatan rutin menyabit rumput sepulang ia sekolah. (aku masih ingat, dua hari lalu saat aku suruh ia menulis postcard from heaven, setelah bebepara menit aku tunggu, pena yang aku beri tak beranjak dari titik pertama dimana pena itu menancap. lalu akhirnya memang tertulis beberapa kata, namaun kata-kata itu betul-betul tak memiliki arti, hanya kata: 'saya' yang masih aku bisa artikan. bayangkan dia sudah kelas 4 SD dan masih tak fasih menulis, bagaimana ia lulus tingkat sebelumnya yah..??)

ia tampak melakukannya dengan gembira. selalu melempar senyum kepadaku. selalu seperti itu. dan setiap kali aku mau foto, ia berusaha melakukan pose terbaiknya (diam). hari itu ia telah menyelesaikan tiga keranjang rumput sebelum gerimis mulai turun yang diawali oleh kabut menyelimuti ladang.

dalam balutan kabut, ladang menjadi tampak begitu indah. keberuntungan dua hari ini berpihak kepadaku. setelah sebelumnya aku mendapatkan gambar dalam kabut bersama Sepiawan kemarin, kini kabut melatari wajah Karia dan adiknya Wayan Susan. Oh, sebelum hujan kami menyempatkan diri melakukan foto session, dan bahkan wayan susanfun sangat nyaman dengan teriakan kamera, rolling, action-ku dari jauh. ya, mereka telah menganggap aku teman.


sebelum hujan deras turun, kami semua telah berada di gubuk peristirahatan keluarga Karia di ladang. (sepertinya mereka tau aku lapar), nenek Karia segera mengambil ubi ketela hasil panen mereka beberapa hari lalu, untuk direbus dan dihidangkan sebagai penghormatan kepadaku. dan tau,.. ada pula ekstra bonus POPCORN WITH HEART. mereka mengambil jagung kering utuh, kemudain menyangrainya dalam penggorengan untuk membuat popcorn rasa pedas ala nenek karia. (ini adalah popcorn terlezat yang pernah aku makan.).


sepertinya mereka sangat bahagia akan kedatanganku, namun juga was-was. "kenapa pak putu mau datang ke hutan seperti ini, barangkali pak putu jiwanya terganggu?" mereka bertanya kepadaku. wakakak... aku tertawa dalam hati, dan aku jawab, "nek, aku sudah pernah tinggal di apartemen tingkat 28, dan tinggal di kota besar. dibandingkan dengan tempat tinggal kalian ini, kota dan apartemen itu jauh lebih buruk. macet pula."

Dan mereka walau dengan merenung sejenak, akhirnya bisa menerima alasanku. sekitar dua jam hujan deras turun dan makanan ngalir-mengalir datang di hadapanku dalam piring besi. makanan spesial ketela rebus dan krutuk jagung. asal kalian tahu, sehari-hari Karia dan adiknya hanya makan nasi keras dan sambal secuil sebagai makan siang. dan kali ini ada menu khusus di piring mereka: kerupuk. itu sudahlah makanan cukup mewah. aku lihat dengan mata kepala sendiri. aku diam sejenak, mengheningkan cipta, turut berkabung. maka jika saban hari kalian bisa makan enak, sarapan roti panggang ditambah telur dan sereal, makan siang ayam bakar, makan malam nongkrong di Mc.D, KFC, Pizza Hut dan restoran, sebaiknya kalian mensyukuri hidup kalian. betul.....

Setelah dua jam hujan mulai reda walau masih gerimis. Keliwon masih menyempatkan diri mencuci baju sekolahnya dengan air hujan yang ditampung dalam sebuah drum. air hujan ini pula sumber air mandi buat Karia, kakak dan adiknya. Air hujan ini pula barangkali yang baru saja digunakan merebus ketela yang aku makan. hehe...


dalam hujan gerimis akhirnya kami memutuskan untuk pulang kembali ke desa belandingan, dan tugas berat mereka kali ini adalah bagaimana menyelamatkan benda ALIEN-ku hingga tak basah sampai di belandingan???



mereka betul-betul miskin. (namun tampak bahagia.) buat Karia dan keluarga: terimakasih telah mengajari aku jalan cerah hari ini. jika aku punya sumbangan/bantuan, maka kalian adalah orang-orang pertama yang akan mendapatkan hak.

love,
pande
belandingan, jan 9
tx again for the briliant wetaher god...
8:08 AM

Diary Anak Alam 3 : barangkali bapak kelak akan datang ke alengkong?



dengan buku, kau bisa menghidupi satu generasi.


...sembari menunggu hujan reda, aku memutuskan untuk berteduh di perpustakaan SDN Belandingan saja. Perpustakaan ini baru jadi sebulan lalu, dan baru kali ini aku lihat pintunya terbuka lebar. aku melihat ada seorang guru dan dua anak-anak sedang mencari buku disana.

Aku memperkenalkan diri, dan beliau membalas sapaanku. "Nama saya Jero Dinarta. Mari pak, silahkan masuk." Kebetulan beliau ditugaskan pak kepala sekolah SDN Belandingan untuk mengelola perpustakaan sekolah. Hari ini beliau sedang merapikan dan menempatkan buku-buku yang merupakan hibah pemerintah daerah bali, melalui badan perpustakaan daerah bali di rak-rak buku kosong. Tampak ia sedang menempel cetakan tulisan kategori buku di masing-masing rak.

Sebenarnya ia telah bertemu dengan aku 6 bulan lalu ketika itu ibu-ibu alam sekolah dyatmika berkujung ke SDN belandingan bersamaku, namun saat kedatanganku kali ini ia baru memiliki waktu bercerita denganku lebih banyak. dan menyampaikan keluh kesahnya.

“Pak putu, apakah kegiatan anak alam hanya tingkat desa atau sekolah?” ia mengutarakan pertanyaan yang telah ia pendam selama enam bulan lamanya itu.
"Nggak juga pak jero. Kami bisa di mana saja sesuai dengan kondisi pendidikan anak-anak disana." aku mencoba mencaritahu apakah maksud dari pertanyaannya itu.
“Oh iya, sebenarnya waktu itu, waktu pak putu datang enam bulan lalu saya ingin bercerita, namun setelah itu saya tak lihat lagi pak putu datang, jadi saya urungkan niat saya kala itu. sebenarnya pak, di banjar saya keadaanya tak jauh berbeda dengan belandingan. kalau pak putu punya waktu lain kali, datanglah berkunjung dan bertemu dengan anak-anak kami..." ia tampak memiliki harapan besar agar kami suatu ketika datang ke kampungnya.
"kampung saya bernama Alengkong. lengkapnya banjar alengkong, desa songan. itu, letaknya di timur bukit itu." tangannya menunjuk ke arah selatan, ke sisi bukit sebelah timur danau.

Aku baru tahu. apalagi selama ini kami masih harus berkutat dan berada di belandingan setidaknya beberapa tahun ke depan. misi kami panjang. hasil kerja kami baru bisa diukur hasilnya beberapa tahun kedepan. saat dari belandingan terlahir dokter, fotografer, penulis, pelukis, guru, dan puluhan profesi lain. baru saat itu kami merasa berhasil. masih jauh jalan mesti dilibas...

"Oke pak, barangkali setelah belandingan kami pasti akan ke banjar alengkong bertemu dengan anak-anak. Namun sekarang sampaikan salam saya dan kawan-kawan kepada anak-anak dulu ya. kami pasti datang." aku mencoba meyakinkan pak jero.

"Kali ini saya boleh minta bantuan bapak nggak, mohon bapak buatkan sedikit cerita kepada saya dengan tulisan tangan tentang keadaan banjar alengkong dan harapan bapak untuk kami”

Mata pak Jero berbinar, dan dengan cepat ia balas “siap pak putu!”

(sebelum minggu depan aku akan sisipkan alengkong dalam diary ini)

zz…zzzz…zzzz…….


Love,
Pande
belandingan, jan 7
i need a break tonite...
8:04 AM

Kartupos dari Surga: Mara Tak Berbahaya

dalam kegiatan seperti ini, bersiaplah akan kejutan-kejutan tak terduga. kau bukan turis yang datang hanya untuk mengambil foto.



Hujan gerimis mengguyur belandingan sejak tadi siang. Kebetulan I Wayan Mara beserta I Made Keliwon baru saja terlihat pulang melewati tegalan yang baru ditanamani bawang, masih lengkap dengan seragam sekolahnya.

Aku memanggil-manggil mereka dari kejauhan, dan mereka merespon lambaian tanganku dengan segera berhenti sejenak. Aku berlari menerjang gerimis kemudian kita bersama-sama berteduh di rumahnya.

Rumah Mara dan rumah Keliwon berada dalam satu pekarangan. Rumah-rumah di sini unik. Tersusun dalam blok-blok. Masing-masing blok kemudian dilintasi oleh jalan kecil atau lebih layak disebut gang. Tak ada pembatas tembok diantara rumah mereka.

Mara terlihat tinggal sendiri di rumahnya. Ia segera menaruh tas punggungnya diatara gundukan baju dan selimut dalam keranjang plastik hijau dekil. Siang ini Mara masak sayur jipang. Ia mengerjakan semuanya sendiri. Tak aku lihat orang tuanya atau satupun saudaranya ada di rumah. Ia memotong, mengiris, mengupas jipang, kemudian menyalakan tungku api dan menanak nasi. Tampak Keliwon sesekali membantunya meniup api di tungku dengan bilah bambu 'semprong'.

Sembari menunggu hujan reda, kami memutuskan untuk menulis POSTCARD FROM HEAVEN oleh I Wayan Mara. Cerita tentang keseharianya dan cita-citanya. Keliwon ikutan nimbrung, meminta balpoin dan kertas kepada mara dan kemudian menyusulnya menulis cerita.

Mara di depan rumahnya saat baru pulang sekolah


Sore harinya, kami dan anak-anak memutuskan untuk jalan-jalan ke bubung tower saja. Mereka mencariku dan menyambit tanganku bersama-sama. Trekking ke tower ini juga diikuti oleh seorang anak kecil berumur 3 tahun hingga mereka kumpul puluhan orang. jarak bubung tower tak jauh dari desa, yang saat inipun jalannya sudah diplester semen (tak seperti dulu masih tanah). Anak-anak membawa serta mainan bambunya, masing-masing dari mereka saling bergantian mendorong 'motor-motoran' bambu sementara teman-teman mereka naik di atas bilah bambu itu.
anak-anak main 'motor-motoran' bambu di bubung tower


Tugasku hanyalah teriak saja menyemangati, hehe... tak ikut mendorong mainan mereka. tapi mereka tak komplain kok, ya kan dik. Di ujung bukit itu berdiri tower BTS XL. Bagi mereka itu adalah tempat wisata, bagi aku itu mengganggu pemandangan indah di bukit. menghabiskan waktu beberapa lama, dan kita turun ketika senja datang segera membawakan malam.

foto ini diambil oleh seorang anak dan mereka memotong ujung kepalaku, :)

Malam ini sudah aku rencanakan untuk menginap di rumah Mara, sembari bercerita-cerita dengan keluarga mereka. Semua gadgetku aku boyong dalam tas punggungku. Jarak rumah Mara dengan Kadek Samiasih tempat aku menginap semalam tak terlalu jauh. Ada ayah dan ibu Mara yang terkejut akan kehadiranku. Sebetulnya mereka sudah bersiap mau tidur, namun ketika melihat aku datang mereka urung. Memberikan dipan itu untuk tempat aku duduk, apalagi ketika mereka dengar aku akan menginap, mereka segera mengambil sapu lidi membersihkan hingga cling dipan itu (yang tak ada kasurnya), yang dilapisi selembar karpet hijau. Tungku api tampak hidup oleh beberapa batang kayu bakar menghangatkan badan.

ugh,... (sedih rasanya) aku membatalkan diri untuk menginap di rumah Mara malam itu. Ayahnya ternyata batuk menahun, sementara aku masih harus berada di sini dalam jangka waktu beberapa lama, kesehatanku juga aku harus pikir. Mereka menyadari itu, dan berjanji aku akan datang lagi siang harinya kesana menemui Mara.

lesson: terkadang kita harus mengambil tindakan tepat di saat-saat dibutuhkan dengan logika.

huahm...

zzz....zzz....zzzzz.....

copyrighted: pabde
jan 6
trims buat POSTCARD FROM HEAVEN-nya Mara. salam buat bapak/ibu...