Showing posts with label Latest News. Show all posts
Showing posts with label Latest News. Show all posts
7:48 PM

Majalah Respect edisi 7 / Artikel " Pande Putu Setiawan, Membangun Bali Lewat Mimpi Anak-Anak."

.





page 26-27

silahkan klik gambar di atas untuk tampilan lebih besar. kemudian klik sekali lagi untuk men-zoom. :)

tx. rera/kophi atas interviewnya.


pande
ubud
25/2/2011
6:44 PM

PAMERAN FOTOGRAFI AMAL "UNTOLD STORY OF BALI"

Alliance Francaise Denpasar,
Jl Puputan I, no 13A, Renon Denpasar 80235
15 - 31 Januari 2011



denah lokasi pameran:
Allianz Francaise



Sebuah potret desa dibalik bukit dengan kehidupan yang jauh dari glamornya pariwisata Bali. Disini terdapat anak-anak yang jauh dari kata 'berkecukupan' dan disaat anak-anak seumuran mereka bisa bisa menikmati fasilitas pendidikan lengkap, gizi yang cukup, bermain play station, jalan-jalan ke mall, makan makanan cepat saji, ke salon setiap akhir bulan, anak-anak Desa Belandingan melewati keseharian dengan rutinitas yang sama, me...mbantu orang tua untuk menambah penghasilan tambahan, bekerja di lahan pertanian, menjaga adik-adiknya, mengambil air dari bak yang berjarak beberapa kilometer untuk dibawa pulang, bermain dengan mainan sangat sederhana, atau berjualan makanan kecil keliling kampung.

Sejak momen yang menyentuh itu kami bermimpi suatu ketika kelak bagaimana caranya agar kami bisa membantu mereka sehingga memiliki kesempatan untuk melihat dunia luar seperti anak-anak yang lain, memberikan pengalaman hidup yang lebih baik, akses terhadap pengetahuan, membentuk masa depan yang lebih layak. Dan dengan memulai hanya bermodalkan mimpi itu dan semangat, kami berharap mampu mewujudkan mimpi itu, tentu juga bersama kalian, meninggalkan jejak keringat kita bersama-sama!

Kita diajak melihat-lihat potret Desa Belandingan dari 6 sudut pandang anak-anak Desa Belandingan yang jujur dan polos. Tentang rumah, keluarga, teman, dan kegiatan mereka sehari-hari yang terekam dalam karya fotografi anak-anak.

Tempat : Alliance Française Denpasar,
Jl Puputan I, no 13A, Renon Denpasar 80235
Waktu :
- Opening : 15 Januari 2011 (18.00 - 22.00)
- Photography discussion : 22 Januari 2011 (18.00 - 22.00)
- Movie screening : 29 Januari 2011 (18.00 - 22.00)

Contact :
- Anggara Mahendra (081 856 36 73)
- Vifick (0856 580 254 17)
9:47 PM

anak alam dan sang putri (terimakasih kak Ayu Diandra Sari)


"seorang wanita cantik hanyalah kecelakan alamiah penciptaan saja,
namun seorang wanita tua cantik adalah karya seni."

-louis nizer


teruslah, teruslah bermimpi nak. yakinlah peri itu kelak akan datang untukmu. bermimpilah, terus, karena dalam mimpimu ada senyuman kami. tuh kan, jika waktunya tiba, ia akan tiba. ibu peri datang.

hari ini adalah hari yang spesial buat anak-anak. pahlawan-pahlawan kecil kita dikunjungi oleh Ayu Diandra Sari runner up putri indonesia 2008 dan puteri bali 2008 bersama kakak-kakak mereka yang lain. mereka semua bergemuruh, tak melewatkan pandangan matanya setitikpun dari wajah dea ketika Dea aku beri kesempatan untuk memperkenalkan diri.

"halo adik-adik....."
"nama kakak, kak Dea."
"jujur tadi kakak pas mau berangkat ke desa kalian ini capek jalan kaki dan naik mobil pickup, namun sekarang kakak merasa sangat senang sekali. melihat wajah-wajah kalian yang begitu bersemangat. melambaikan tangan kepada kakak dari atas wantilan ketika kakak baru datang. kakak sungguh senang."
"izinkan kakak datang lagi ya lain kali..............."

anak-anak menjawab serempak:
"iya kaaaaaaaaaaaaaakk........"
dea larut dalam riang anak-anak.

hari ini kami berhasil 'mengerjai' Dea, aku memintanya untuk bernyanyi di depan anak-anak alam di wantilan desa belandingan. anak-anak request lagu keong racun, namun akhirnya Dea memilih untuk menyanyikan lagu puteri cening ayu. betul berarti kata bu muryati soedibyo: beauty, brain, behavior. setidaknya ia masih mencintai budayanya sendiri. "keong racun bukan lagu untuk anak-anak" tegasnya.

perjalanan denpasar - songan dengan mobil all new jazz putih untuk siapa saja pasti menyenangkan. namun bukan itu inti dari perjalanan Dea hari ini. bukan di mobil ber-AC, dengerin musik, bercanda dengan teman-teman. namun ketika kali ini harus mendaki jalan di bubung dengan mobil pickup ia sedang memulai petualangan yang sebenar-benarnya. ujian keberanian sisi kemanusiaan kita.

Dea datang ditemani kawankawan anak alam Fak Kedokteran Universitas Udayana, cok devi, wistya, arim, dath, eko, yang ingin bergabung dalam pembagian beasiswa bulanan kami kepada anak-anak. kebetulan juga dari dulu sebenarnya Dea berkeinginan bertemu langsung dengan anak-anak namun baru kali ini mimpinya terwujud.

Dea berkesempatan membagikan beasiswa itu kepada anak-anak satu per satu kemudian disusul oleh teman-temannya membagikan pakaian bekas yang beberapa bulan ini kami kumpulkan dari kawan-kawan anak alam termasuk tiket movie screening kemarin lalu di toga mas. di sela-sela pembagian sumbangan, Dea menyempatkan diri mengirim fotonya bersama anak-anak lewat blackberry dan ia berbisik kepadaku, "bli, saya ingin membantu lebih banyak lagi, mencarikan sponsor."

"tx for anticipating your support dea.......". kebetulan juga pameran fotografi kami kami rencanakan akan diadakan di danes art veranda dan Dea adalah teman dari bu melati istri pemilik danes art veranda maka jadilah kontribusi dea bertambah lagi. membawakan proposal pameran ke bu melati. "once again another thanks...."

bonus untuk dea hari ini adalah, berjalan kaki lagi, mendaki bubung batu barak seperti biasa setelah pembagian sumbangan selesai. sayang hari itu kabut tebal menyelimuti sisi timur bubung, namun keceriaan kami tak pudar. tentu juga untuk Dea. apalagi anak-anak alam.

ketika petang segera menjelang, dan akhirnya kini aku sendiri yang harus menjadi sopir pickup itu berhubung sopirnya sedang main volly, maka petualangan ini akan dituntaskan dengan tibanya mobil ini dengan selamat di basecamp, menuruni jalanan terjal. Dea barangkali di belakang berucap doa sangat panjang agar sopir baru ini menjalankan tuganya dengan baik, namun sebagai petualang sejati, menyopiri pickup turun gunung belumlah tantangan yang memberatkan.

aku dengar Dea nangis tadi di jalan, takut jalan turunan, namun setelah dikonfiormasi ulang, ia bilang lelahnya terbalaskan oleh wajah-wajah lucu anak-anak. hup hah......

"kak, kami menunggu kak Dea datang lagi....."
"jangan lupa mahkota putri dan tongkat ibu peri....."

terimaksih tak terperi kak.

salam anak alam,
salam anak indonesia

pande
kawan-kawan anak alam
anak-anak alam
dps, siang ini.

10:07 AM

di ujung ufuk INDONESIA. mengindonesiakan Merah Putih!


"Keep your love of nature, for that is the true way to understand art more and more."
Vincent van Gogh


huahmm.....

kabut tebal menyelimuti bebukitan pagi itu. bukit yang memagari sisi timur kaldera seperti lenyap. ada yang hilang, songan sunrise yang terkenal itu, tak dapat dilihat oleh kawan-kawan anak alam yang bermalam di basecamp anak alam semalam. namun, keberuntungan datang, dan berharap seterusnya begitu buat ANAK ALAM kita. trims buat IA!

mentari menyibak kabut sepotong demi sepotong. bubung pegat mulai tampak samar-samar. sementara mendung gelap di selatan bergeser, tak lupa mendung yang sama di sisi utara. "tak usah mandi, mari kita nikmati pagi!" aku mengajak kawan-kawan untuk segera beranjak, masuk mobil semua dan kabur ke lava di barat toya bungkah.

pagi adalah pagi dengan kecantikannya. pagi adalah pagi dengan segala kesederhanaannya. dan pagi ini dengan kabut beberapa masih melinting cemara, beberapa lainnya beranjak pelan, pagi memberikan lukisan terindahnya untuk kami. kini percaya kan alam adalah lukisan yang sangat indah? - yang dilukis hanya oleh helai kabut. ada tiada. tiada ada. kabut.

helai daun rumput liar tertiup angin danau. air danau tenang dalam mimpi pagi. kami memuaskan hasrat kenarsisan kami dengan berfoto-foto diantara ilalang. diantara rerumputan. diantara lava gunung.

hingga pagi membawa kita ke jam 7:30 yang berarti harus segera kembali beranjak ke basecamp untuk persiapan upacara bendera. semalam, Rawat memberitahuku bahwa upacara bendera akan dimulai jam 9:00. namun pagi ini, puspasena mengirim SMS bahwa upacara dimajukan menjadi jam 8:00. (puspasena kami ajak ikut pulang, dengan selembar surat sakti kita kirimkan ke sekolahnya, tak bisa ikut upacara bendera di SMK erlangga.) 30 menit adalah waktu yang tak banyak untuk bersiap-siap. akhirnya kami memang terlambat datang. 30 menit lepas jam 8 kami baru tiba di sekolah, namun ternyata upacara juga baru mulai pukul 8:35. it's just in time...! (apa memang mereka semua sengaja mengundurkan upacara karena menunggu kita? serasa bupati aja ditunguu-tunggu.... berkhayal. mode on. :) )

pagi itu kalam mulai berdatangan. gustra terlihat pertama, sendiri, kemudian disusul oleh rombongan bule perancis bersama mbak dayu, dan anggara bersama teman-teman. komposisi kami pagi itu cukup mengejutkan guru-guru SDN belandingan yang berseragam batik hijau lengan panjang.

anak-anak tampak sudah siap semua. dua bendera merah putih bertengger, berkibar di atas tiang bambu. sementara bendera lain dengan bangga dipangku oleh seorang anak perempuan SDN belandingan yang diapit oleh dua teman laki-lakinya di sisi barat. sementara di sisi timur lapangan, kernet bersama teman-teman mendapat giliran membaca undang-undang dasar 45, doa, pancasila, dan membawa acara.

"urutan pertama,... pemimpin upacara memasuki lapangan upacara!" anak yang bertugas membawakan acara mengambil alih tugasnya. semua bersiap termasuk para Kalam yang ikut berbaris di barisan paling barat di sisi kiri anak-anak kelas 1. barangkali ini adalah upacara 17-an pertama bagi mereka mendapatkan 'tamu' dalam barisan murid-muridnya.

kami semua mengikuti upacara dengan khidmat, sesekali tersenyum dalam hati menyaksikan anak-anak kita yang kali itu hampir lebih dari setengahnya mengenakan sepatu, topi, dasi, dan semua berpakaian seragam merah putih. sering sebelumnya aku lihat anak-anak itu menggunakan pakaian yang tak sama. sebagian pakaian pramuka 'dekil', sebagian baju olah raga biru langit 'kebanggaan mereka', sementara yang lain mengenakan pakaian putih mereka yang tlah berubah cokelat. hari ini pemandangan paling beda aku lihat.

namun belakangan aku tahu ternyata sebagian dari mereka saling meminjamkan topi, baju, sepatu. "kak, ini topi pinjaman" begitu kata salah seorang dari mereka, ketika kita mau ganti topi mereka tersebut dengan topi baru. dan topi itu rencananya kita ambil dan kita 'museumkan'.

hari itu kami menyanyikan lagu INDONESIA RAYA lagi. ya, INDONESIA RAYA! dengan mulut sendiri, bukan dengar dan lihat dari TV. oh.....

setelah upacara selesai, jamuan ala pak Guru Dangka sudah disiapkan di ruang guru. jamuannya adalah air putih saja. cukup. namun perkenalan kalam dengan guru-guru SDN belandingan adalah jamuan sebenarnya. kami saling berkenalan, berbagi cerita dan kesan khususnya bagi kawan-kawan yang baru pertama kali ini datang ke belandingan!

"Menyenangkan!"
"Terharu!"
"Akan datang lagi!"
"Apa yang bisa kami bantu!"
"dingin!'

itulah komentar yang keluar dari kawan-kawan yang baru pertama kali ini bertemu dengan anak-anak kita di kampung damainya ini. begitu juga kenal guru-gurunya.

mentari beranjak, waktunya kami mengajak mereka ke atas bubung tower. kami merubah rencana awal, alih-alih berjalan ke utara tower yang cukup jauh, kami pilih pos kelompok tani sari karya saja - yang berada persis di ujung jalan plesteran semen itu- sebagai tempat untuk membagi 130 pasang pakaian sekolah baru buat mereka. pakaian ini adalah sumbangan dari Mas Antok, yang juga tlah menyumbang 2 sepeda gunung untuk digunakan oleh puspasena dan karmajaya sekolah di denpasar. Mas Antok, kata-kata tak bisa lagi mewakili terima kasih kami. kami bangga!

perjalanan kali ini diikuti ratusan anak-anak SDN belandingan. barangkali baru kali ini kami bertemu anak-anak itu di luar sekolah mereka lengkap!

.... bersambung....

huahm......

sekeranjang cinta,
dari atas bukit.


part 2


"We have the power to make this the best generation of mankind in the history of the world - or to make it the last."

John F. Kennedy

berlari. berlari. berlari...


mereka semua sumringah meniti jalan nenanjak yang diplester semen itu menuju pos kelompok tani sari karya, untuk menunggu jatah sepasang baju sekolah BARU. aku masih ingat jalan ini, jalan yang dulu pernah membuat nyangkut karimun hitam pelat B itu kala naomi sengaja datang bertemu anak-anak alam kita jauh-jauh dari jakarta. pun juga jalan yang saban hari aku lewati ketika awal tahun ini hilang menemukan jalan di kedamaian belandingan. menjadi mereka. menjadi sama.

hari ini, akan menjadi hari terakhir aku bisa mengambil foto anak-anak ini dengan pakaian dekilnya. serasa ada kenangan yang hilang. namun bukankah memberikan mereka baju baru adalah mimpimu? pikiranku mendebat diriku sendiri. maka dari itu, aku akan menghabiskan kenangan itu disini hari ini. namun tenang, kamera-kamera yang kalam bawa telah 'memuseumkan' mereka semua. tunggu hingga waktunya kalian akan saksikan lebih dekat dalam sebuah pameran.

anak-anak alam masih seperti dulu. akan menyambit tangan kakak-kakaknya -persis seperti anak-anak di panti asuhan yang bertemu orang yang berkunjung-, berbagi senyum, ingin berbagi cerita, berbagi cinta. mereka masih sama walau telah lebih dari sebulan aku tak bertatap muka dengan malaikat-malaikat kecil kita ini. mereka yang kelak akan menggantikan kemunafikan kita. ya. kita.

jalanan menyusuri rimbun bambu itu akhirnya berakhir persis setelah kelokan terakhir yang menanjak. tampak beberapa warga sedang merapikan keranjang yang berisi tomat-tomat merah matang. tomat-tomat ini sepertinya akan jadi makanan sapi saja hari ini. kenapa? karena tomat yang matang tak lagi bisa dijual ke pasar. sampai pasar ia akan busuk. sementara pelajaran pengolahan tomat yang matang ini tak pernah diberikan di sekolah. pun juga mereka tak tamat sekolah dasar. begitu juga pelatihan yang sama tak diberikan oleh dinas pertanian tingkat 2, tingkat 1, nasional, apalagi dunia kepada warga-wagra desa yang (mungkin) sengaja dibiarkan bodoh ini. semoga saja pikiranku salah.

mereka butuh ilmu. bukan uang 100 ribu (pembodohan) saat pencontrengan kepala daerah langsung saja... fiuh.... (menyeka keringat sejenak!)

ruang sempit pos kelompok tani sari karya itu kini dipenuhi ratusan anak-anak SDN belandingan dari kelas 1 sampai 6. terpaksa pembagian pakaian dilakukan di halaman depan pos. tentu ruangan sempit itu tak bisa menampung semua anak-anak, kawan-kawan dan juga tas kresek pakaian. (aku menyebutnya halaman walau kenyataannya ini lebih berupa tempat kosong di bibir pos yang dipagari semak-semak saja. biar mereka semua senang.)

satu per satu anak-anak ini menerima seragam baru mereka. dengan sangat memohon kami mengambil beberapa pakaian 'bersejarah' mereka itu untuk kami museumkan. anak-anak tak pernah berkata 'tidak' untuk sesuatu yang mereka yakini baik yang kami inginkan kerjakan untuk mereka. apalagi hanya baju bekas mereka.

130 pakaian siang itu habis. dasi juga. topi juga. pos sari karya sepi. petani desa melambaikan salam dan memberi salam dari jauh. mereka bersiap kembali memutar roda hidupnya di balik bukit bersama sapi-sapi dan ladang tomatnya. memutar nasib. berharap. anak-anak pulang. menunggu barangkali nanti akan ada hadiah lain yang masih kami bisa berikan untuk mereka.

sementara team BEASISWA ANAK ALAM baru saja datang....

hari ini masih berlanjut!

...bersambung...

makan dulu.


sekeranjang cinta,

dari atas bukit


part 3


"kak putu, ada BERITA BURUK. made sani tak mau sekolah lagi. ia sekolah tiga kali saja seminggu. beasiswa belum datang. ia tak mau sekolah!"

-sms dari Rawat ke HPku.

whaaatttttttttttttt?????


ini benar-benar berita buruk. buruk benar-benar! maaf nak, kami agat terlambat. bagaimana pun juga kami semua memiliki kesibukan. namun jaga selalu semangat itu. mimpi itu. ada 1000 alasan kenapa kamu harus terus sekolah.

upacara bendera telah selesai, pembagian seragam sekolah telah selesai, lapar, haus, maka basecamp anak alam adalah mimpi paling diidam-idamkan oleh kalam yang manapun saat-saat seperti itu.

aku dapat tugas menyetir mobil mbak Dayu, berhubung katanya dia akan melepas setir jika saja ia yang menyetir dalam tanjakan, kelokan, dan jalan berlubang tersebut. maka aku, jika diberi setir, ini adalah obsesiku yang lain. hobiku yang lain. merasakan gerak ban dan putaran ban dari respon yang diberikan oleh tangan dan kaki yang menekan pedal gas dan kopling. butuh hati. seperti MENCINTA. walau sesekali akan seperti film Fast and Furious saat hati terbakar. :)

anak-anak baru saja pulang dari upacara bendera dan pembagian seragam sekolah di pos kelompok tani sari karya, dan ini akan menyulitkan kami memberikan beasiswa kepada anak-anak yang tinggal di balik bukit seperti Rata dan Ribut, tentunya akan lebih mudah bagi anak-anak yang tinggal di desa dimana rumahnya bisa kami kunjungi satu per satu siang itu.

namun walau sama saja, siang hari biasanya sebagian besar dari mereka akan pergi ke ladang membantu orang tua mereka masing-masing bercocok tanam, memberi makan ayam, atau menyabit rumput.

pilihan terburuk namun juga teraman adalah memilih orang yang tepat pegang amplop beasiswa tersebut untuk kemudian dibagikan kepada teman-temannya jika saja nanti mereka telah pulang. Ada Made Ratih dan Mara saat itu terlihat jadi sisa amplop beasiswa yang tak bisa kami berikan kami titipkan ke anak-anak ini. sebagian lagi kami titip ke Nopik, karena ia serumah dengan Made Sani.

Siang itu mbak Dewi, Pak Gde, Bu Rusma dari Surfer girl dan bapak satu lagi (aku lupa namanya) berkesempatan datang langsung memberikan beasiswa itu satu per satu. sungguh kerja yang tak mudah, sungguh kerja yang membutuhkan dedikasi, sungguh kerja yang hanya dibahan bakari oelh passion, hanya dengannya BEASISWA ini terus jalan dan itu dengan sangat berhasil selama ini dilakukan seorang wonderwoman macam Mbak Dewi Utari yang sangat didukung oleh Pak Gde suaminya. aku jadi ingat Bu Putu dan Wayan... bagaimana kabarnya malam ini???

BEASISWA ANAK ALAM adalah salah satu tulang punggung. beasiswa barangkali adalah salah satu program yang paling dibutuhkan anak-anak selain tentunya bantuan-bantuan yang lain. Beasiswa ini pula yang selama ini dinanti-nanti anak anak kita di belandingan yang sangat membutuhkannya.

nah, giliran siapa berikutnya mau datang. giliran siapa berikutnya yang mau bergandengan tangan dengan Rata dan teman-temannya yang berjalan kaki dari balik bukit untuk mengikuti upacara bendera 17 agustus-an di sekolahnya, (sementara kita malah ingin memisahkan MERAH dari PUTIHnya indonesia? whaaaatttt??????)

Harusnya kalian berani jawab: AKU!

aku akan datang. aku SEKARANG!

-end-

sekeranjang cinta
dari atas bukit

pande
dps
mlm ini.


6:37 AM

KEGIATAN ANAK ALAM AGUSTUS 2010: UNTUK CANTIK MERAH PUTIH. UNTUK SENYUM IBU BUMI.



merayakan merah putih


dearest kalam,

berikut adalah kegiatan ANAK ALAM bulan agustus.
jika A = sukses dalam hidup maka A = V + W + X + Y + Z.
V = belajar
W = bekerja
X = bermain
Y = bekerja sosial
Z = tutup mulutmu. :)

menjadilah bagian dari kegiatan, sejarah, kesenangan, malam dalam naungan bulan dalam agustus. bulannya MERAH PUTIH yang cantik dan berhias.

catat:

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kamis, 11 Agutus 2010

Launching MERCHANDISE ANAK ALAM
"untuk pertama kalinya merchandise resmi anak alam akan diluncurkan online via blog/FB. kalian dapat menjadi bagian dari senyum dan kebahagiaan anak-anak alam, hanya dengan membeli merchandise anak alam yang keseluruhan (100%) hasil dari penjualannya akan digunakan untuk kegiatan-kegiatan anak alam. merchandise terdiri dari: pin, stiker, t-shirt, dll."

WORK OF LOVE, WORK OF PEACE! be part of us. be the change!

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Rabu, 17 Agutus 2010


MERAYAKAN MERAH PUTIH. MENCETAK SEJARAH DI ATAS BUKIT. DENGAN RENDAH HATI.
17 Agutus 2010. upacara bendera di atas bubung tower dengan latar belakang desa belandingan, di atas awan, di ‘bawah kaki’ kita memapar pemandangan indah. hari ini, kita akan memuseumkan 'ketakpedulian kita. pembagian sumbangan 130 setel pakaian seragam sekolah sumbangan dari MAS ANTOK beserta keluarga. ya, kita cetak sejarah untuk anak-anak gunung ini. ada juga lomba melukis di atas kanvas dengan cat akrilik.

SEMUA KALAM DIHARAPKAN BISA HADIR! 1 TAHUN SEKALI. UNTUK ANAK-ANAK. UNTUK MERAH PUTIH!

note: ANAK ALAM DISTRIK TABANAN juga melaksanakan kegiatan merayakan 17 Agustus ri Rumah Baca Abdi Maha Cendana Anak Alam, dusun mandung, desa sembung gede, kerambitan, tabanan. bisa berbagi senyum di sini juga dengan anak-anak manis kami di tabanan.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

24 Agutus 2010 06:00 PM


Bagi kawan-kawan yang beragama hindu, sembahyang bersama di pura jagat natha, denpasar. setelah setahun lebih bekerja, kini saatnya bertemu tuhan dan sejenak bercermin ke hati paling dalam. Anak Alam bukanlah organisasi keagamaan. namun ada baiknya apapun agama kita, tetap merindu tuhannya.

SETETES AIR, DARI LAUTAN LEPAS! MERINDU!

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

24 Agutus 2010 malam.


“PEACE IS BEAUTIFUL” Padi. Lilin. Bulan. Bunda. Art Installation by: pande putu setiawan.
Lokasi: jl. Sawah jalan anyelir gang rama denpasar. dengan 193 lilin kita akan terangi padi. terangi malam. terangi hati. jika kita melihat dengan mata kasat ini tampak sebagai hal yang aneh. namun jika kita lihat pakai mata hati, kita akan melihatnya lebih bening.

BELAJAR MENGGUNAKAN MATA HATI!

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

to be confirmed...


Opening TREEANA HANDICRAFT.
Lokasi: jl Raya Andong Ubud Bali. Everybody are invited. yea... akhirnya ini akan menjadi jejak awal wirausaha muda bali yang mendedikasikan sebagian besar penghasilannya untuk anak-anak alam. semoga tuhan mendengar doa bilah-bilah bambu ini. ia ingin memberi senyum juga untuk anak-anak ini.

BAGAIMANA DENGAN KITA???


be a part of the HISTORY!


sekeranjang cinta,

pande
dps
malam ini

http://komunitasanakalam.blogspot.com/
9:16 PM

Inspirasi Sukses Bagi Indonesia. (Majalah Reader's Digest edisi Agustus 2010). Selamat Berburu!


dearset,


Aku dedikasikan note kali ini untuk kawan-kawan anak alam, dan anak-anak muda indonesia yang BERANI, kalian yang akan dan (telah) mencetak sejarah untuk hidup kalian sendiri. jelas, Hidup butuh keberanian!

nukilan:
Inspirasi sukses bagi Indonesia. Mereka adalah orang-orang biasa yang menjadi luar biasa karena tekad dan kerja keras. Berkat mereka pula Merah putih harum semerbak. Banyak inspirasi yang bisa kalian petik. Singgih Susilo Kartono 'Radio Lokal Selera Global'. Risa Susanty 'Berpikir positif dan Jadilah Juara'. Oke Rosgana 'Merambah Dunia Lewat Yoyo'. tentu juga 'Berbagi dan Menginspirasi' dan hal-hal yang tak pernah kalian tahu tentang Pande Putu Setiawan ada disitu. :)






Sepertinya kalian harus mengorbankan kocek 20 ribu, untuk memburu majalah Reader's Digest versi Indonesia edisi Agustus 2010 ini. Majalah Reader's Digest terbit dalam 50 Edisi dan 21 Bahasa di seluruh dunia.

bisa didapat di lapak-lapak koran besar, Gramedia, Carefour, dll di seluruh INDONESIA.

selamat berburu!


sekeranjang cinta,
untuk indonesia.

P
dps
hari ini
10:44 PM

Panduan Kawan Anak Alam 2010 - 2011




perlu untuk dijadikan panduan dalam semua kegiatan anak alam, dan hal-hal sahaja yang juga tak boleh luput dari pikiran:

  1. Kita bukan turis. kita pekerja sosial. jika ingin datang ke belandingan atau ke semua tempat kegiatan ANAK ALAM bahwa anda datang untuk bekerja sosial. jika ingin berwisata ada tempat dan waktunya. jika ingin pemotretan ada baiknya anda sewa model cakep dan lalukan di studio kan lebih seru? datang untuk memberi. bawa pulang hanya senyum dan kenangan. tinggalkan hanya mimpi-mimpi kita dan jejak-jejak kaki saja.

  2. Selalu gunakan ID CARD anak alam dalam semua kegiatan yang kalam lakukan. itu adalah identitas pekerja sosial kalian. itu adalah bendera yang kalian harus kibarkan. di dalamnya merah putih terajut kuat. itu tanda kebanggaan kalian atas diri kalian sendiri. indonesia.

  3. Perlu dari awal diketahui, bagi yang ingin melakukan pemotretan di kegiatan anak alam dilarang menggunakan foto-foto tersebut untuk kepentingan KOMERSIL (kecuali untuk kepentingan fund raising). anak-anak itu bukan model gratisan. untuk mereka kita ada. mereka adalah fotografer masa depan kita. dan juga Anak Alam berhak menggunakan foto-foto yang kalian ambil untuk kepentingan publikasi anak alam. bukan deal yang berat bukan?

  4. Anak alam didanai mandiri, walau ada kemungkinan kelak akan mendapatkan funding dari luar. jadi passion, dedikasi, dan konsistensi adalah ujian yang kita semua harus lewati bersama-sama. sebuah organisasi besar yang kuat dihuni oleh anak-anak muda yang tlah melewati ujian itu. bukan masalah kuantitas. tapi kualitas.

  5. Semua kegiatan Anak Alam harus bersahaja. tak usah glamour. kerjakan kegiatan yang memang pantas, penting dan layak untuk dikerjakan. kreatifitas adalah nafas dari semua kegiatan kita. ala muda. ala kita. bebas tapi bertanggungjawab. sederhana. di seputar kita. banyak hal. apa saja. tak ekslusif. anak alam tak bekerja latah. hidup bukan balapan antara diri kita dengan orang lain. tapi balapan antara diri kita dengan diri kita sendiri. antara kita dengan MIMPI-MIMPI kita. that's it!

  6. Anak alam adalah organisasi kepemudaan. 'youth social humanitarian organization'. berkaryalah ketika kalian masih muda, karena setelah kesenangan usia remaja dan beban usia tua bumi akan memeluk kita. jangan menunggu nanti. kerjakan ia sekarang. ini generasi kita. ini waktunya kita.

  7. Kalian semua secara individu bertanggungjawab terhadap diri kalian, keselamatan, kesehatan dan semua hal pribadi kalian. jadi penting untuk mempersiapkan diri dalam semua kegiatan, semisal jaket, sepatu, fit, dan tentu bawa uang :)

  8. Fokus kegiatan kita adalah pengembangan karakter pemuda/i, pendidikan non formal untuk anak-anak dan cinta lingkungan dan semua project-project yang berhubungan dengan tiga hal utama tersebut diatas. Anak Alam terbebas dari kepentingan bisnis (non-profit organization), politik (non-political organization) dan agama (non-religious organization). kita adalah organisasi kemanusiaan. kemanusian jelas definisinya. universal. sederhana.

  9. Anak alam adalah sumbangsih kecil untuk negri secantik indonesia. ia adalah sekolah 'alam' tempat para muda ditempa. kelak kita berharap bisa mencetak pemimpin-pemimpin muda bersahaja untuk negri ini. pemimpin yang memiliki inteligensia, spiritualitas sederhana, berdedikasi dan juga membumi. mereka adalah kalian.



selamat bekerja.
selamat berkarya untuk indonesia.
salam anak alam,

july 17, 2010

pande
komunitas anak alam
jagalah bumimu, cintai anak-anakmu
www.anakalam.org
5:59 AM

Karena Aku Perempuan? (2 jam untuk 4 hidup)


SDN Belandingan, 11 januari 2010. 09:06 am

"pendidikan -yang baik- adalah hak setiap anak manusia. tanpa terkecuali. perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam hal menggapai kapasitas terbaik yang mereka mampu. titik.”
anak alam


Bersyukur kamera poketku merekam gambar anak-anak kelas 6 SDN Belandingan ini. Kala itu mereka tengah berbaris dan bersiap masuk ke ruang kelas. yang berdiri di depan di tengah-tengah barisan adalah wayan sepiawan (ketua kelas). Sementara keenam perempuan di baris paling kanan -dilihat dari depan- adalah made sani, arniti, made ayu, made ariani, ketut simpen, dan di ujung belakang barisan paling tengah adalah wayan badeng.

Dan hari ini foto itu tlah menjadi sebuah kenangan yang sangat berharga, sepenggal sejarah, apalagi buat anak-anak kelas 6 SDN Belandingan itu. Kamera ini (tak peduli SLR atau poket, mahal atau murah : tak penting sama sekali) ia tlah menjadi salah satu mesin kemanusiaan paling berharga buatku, selain pena mimpi, laptop acer aspire, modem dengan kartu XL atau Telkomsel, honda supra DK 5611 PF tanpa STNK, sepeda motor yamaha biru dengan suara super berisik, tentu hati berlentera, dan ester-C (suplemen vitamin selama di gunung. :) )!

Jadwalku beberapa minggu ini benar-benar padat, merapat, menumpuk bahkan menggunung, sibuk! (fiuh....) Menemani tiga anak-anak alam songan syuting Si Bolang Trans 7 keliling Bali, benar-benar menguras energi lagipula sebenarnya itu diluar skedulku. "Bli, sepertinya bli harus ada di sini, anak-anak tak mau akting tanpa bli. mereka sepertinya kaget lihat banyak orang dan tempat-tempat bagus!" mbak Ira membujukku untuk ikut jadi artis. week.... (gw jd malu lihat muka sendiri...) Jadilah aku ikut skedul mereka 12 hari. hem.. Ini salah satu pekerjaan terberat -walau juga menyenangkan- khususnya mengurusi si bolang made berlian yang rada autis (hiperaktif). tapi, itulah kriteria Si Bolang!

maka tak pelak aku hilang dari peredaran dan lupa bahwa anak-anak sudah mau masuk sekolah dan tlah selesai liburan. aku lupa bahwa tanggung jawab dan janji kami kepada anak-anak kelas 6 SDN belandingan bahwa akan menyekolahkan mereka ke SMP menunggu untuk ditepati. aku lupa ini tlah awal juli. (ini sebuah tanda segera butuh asisten pribadi... :) )

Lega. Hari ini syuting selesai. aku bisa kembali ke basecamp anak alam songan karena Deborah Mawsen (kalam dari Belanda) yang menginap selama 10 hari di basecamp telah menungguku. ia tlah booking bahwa akan tinggal di basecamp jauh-jauh hari. aku jadi merasa bersalah. walau ia tak marah! akhirnya kami bersua, setelah sebelumnya hanya berkomunikasi lewat email saja.

Ia aku tugaskan untuk mengajar anak-anak bahasa inggris saban hari, membersihkan sampah plastik di danau, sekaligus menemani mereka beraktifitas semacam latihan gamelan anak-anak.

Hari ini hari minggu. aku pergi ke sekolah untuk menemui bapak kepala sekolah SMPN 4 Kintamani di Songan. Ya ini minggu, aku tak salah baca kalender. Hehe.. kebetulan hari ini anak-anak masuk sekolah untuk gladi bersih, sementara hari ini aku membawa Made Sani, Badeng, Arniti, dan Simpen untuk mendaftar sekolah.

pendaftaran sekolah, 11 juli 2010

Sehari sebelumnya kebetulan aku tlah lebih dulu mengunjungi bapak Nengah Selamat di rumahnya untuk memberitahukan perihal terlambatnya anak-anak ini untuk mendaftarkan diri karena alasan tak sampainya informasi kami bahwa mereka telah kami siapkan uang untuk pendaftaran sekolahnya. Dan kebetulan pak Selamat memang seorang figur pendidik yang baik dan beliau tak mempermasalahakan sama sekali keterlambatan ini.

”Datanglah ke sekolah esok, silahkan mereka bisa langsung gabung dengan teman-temannya dan nanti saya bantu untuk mengurusi perihal berkas-berkas pendaftaran di tata usaha.”

malam harinya, aku mengajak deborah untuk menemui anak-anak alam di belandingan. sekalian mengecek keadaan anak-anak perempuan yang tadi pagi tak aku temui di sekolah SMP. "Bukannya di daftar beasiswa kami ada 12 anak, tapi kok yang muncul cuma 6 anak dan itupun yang laki-laki saja. sisanya dimana???" pikirku.

berkunjung ke rumah made badeng memberi uang pendaftaran, tas sumbangan dan sumbangan pakaian sekolah dari atik

dan ternyata, 2 minggu itu aku lupa dan hampir saja melewatkan satu janji kemarin lalu. mengurusi sekolah anak-anak. dan sepertinya informasi itu belum sampai kepada semua anak. hingga 4 anak perempuan tak tahu menahu dan memutuskan untuk tak melanjutkan sekolah karena tak punya biaya. sedang made ayu, dengan usaha keras kakaknya bisa mendaftar sekolah. sementara made ariani memang tak bisa kami selamatkan karena orang tuanya menginginkan ia kerja ke denpasar dan menjadi pembantu rumah tangga. (ada kalanya kita tak bisa berbuat apa-apa!)

oke, semalam aku mengunjungi rumah wayan badeng, made sani, arniti (yang kebetulan menginap di bubung) dan aku hanya menyampaikan pesan lewat orang tuanya di desa, serta terakhir ketut simpen yang tinggal di banjar bantas, sekitar 1 kilometer selatandesa belandingan. hingga malam itu semua orang tuanya mengizinkan anak-anak perempuan mereka SEKOLAH!

Dan sekali lagi aku harus bersyukur kembali. 2 jam waktu yang aku gunakan untuk mengunjungi satu-per satu rumah mereka benar-benar telah merubah jalan sejarah. Bukan sejarahku, bukan sejarah kita, tapi sejarah hidup bagi 4 anak perempuan dari 6 anak perempuan kelas 6 SDN Belandingan ini.

hari pertama sekolah, senin 12 juli 2010

tadi pagi mereka semua tampak sumringah. bangun sepagi-paginya berangkat ke sekolah beramai-ramai berjalan sekitar 1 jam menuruni bebukitan di barat desa menelusuri jalanan berpasir bekas sungai kering.

setidaknya keempat anak perempuan inilah yang tlah menjadi buah dari keringat kita, bunga dari tunas-tunas yang kemarin kita pupuk, jejak-jejak tangan kita, hasil dari pengorbanan kita, jawaban dari waktu yang tlah kita beri dan segala yang kita curahkan buat mereka.

Empat anak (ditambah dengan anak-anak kelas 6 SDN Belandingan lain yang kini bisa melanjutkan sekolah ke SMP seperti mimpi mereka) ini adalah harapan masa depan desa mereka. Empat anak ini semoga kelak akan melahirkan generasi-generasi terbaik untuk Bali dan Indonesia dalam kehidupan seperti apapun yang kelak mereka lalui (aku tak akan memprediksikan masa depan, lebih baik mencurahkan tenaga untuk hari ini) seiring perjuangan hidup mereka hingga mencapai tolak awal menggapai mimpi ini setidaknya memberi kesan buat jalan hidup mereka seterusnya.

Sepulang sekolah seperti biasa, mereka tetaplah anak-anak alam. Anak-anak yang hidup di alam. Anak-anak yang tingal di kampung terpencil dengan orang tua yang secara ekonomi kekurangan. Dan anak-anak ini tetap akan bekerja seperti biasa, menyabit rumput, menjaga adik mereka, mencari air di bak penampungan.

Terimakasih Garuda Bali atas beasiswa untuk anak-anak kelas 6 SDN Belandingan dan mbak dewi utari project leader beasiswa anak alam serta doa semua kalam, jejak tangan kita tak sia-sia. jejak tangan kita telah berbuah HIDUP! Jika saja semakin banyak orang mau berbagi untuk ribuan hidup anak-anak yang lain???


bersambung…


sekeranjang cinta,

Pande
basecamp anak alam songan
malam ini
13/7/2010
12:35 AM

Melongok Desa Belandingan Bersama Komunitas Anak Alam (DENPOST, Minggu 16/5/2010 hal.3)





Untuk sebuah tempat wisata dengan predikat ‘pulau wisata terbaik di dunia’ tentu hal ini adalah sesuatu yang mengejutkan. Ribuan anak-anak seumuran sekolah dasar yang tinggal di pelosok-pelosok pulau Bali tak pernah melihat Bali mereka dan tak melanjutkan sekolah. Tak luput juga 3000-an anak yang tinggal di kaldera danau batur.

Mentari pagi di desa Belandingan selalu memberi hangat yang berbeda bagi beberapa orang anak muda ini yang tergabung dalam Komunitas Anak Alam. Belandingan adalah salah satu desa paling terpencil dan adalah desa yang secara ekonomi, pendidikan dan kesehatan paling terkebelakang dibandingkan desa-desa yang mengitari kaldera danau batur. Namun hal ini sedikit memberi keuntungan, alam dan kehidupan disini masih terasa asri dan damai.

Komunitas Anak Alam didirikan oleh Pande Putu Setiawan seorang anak muda Bali yang unik dan nyentrik. Pande sendiri adalah lulusan Sekolah Pascasarjana UGM dan berkesempatan studi ke Kanada dalam sebuah pertukaran mahasiswa. Namun, diantara ribuan lulusan (bahkan S2) barangkali baru Pande lah yang berani berkantor di ’hutan’ dengan meja kerja keranjang rumput tanpa penghargaan status sosial dan gaji pemerintah. Ketika aku tanya perihal itu ia tersenyum dan menjawab ”Hidup adalah pilihan, bukan kesempatan. Lagipula ilmu pengetahuan sejatinya bukanlah alat untuk memenuhi hasrat pribadi, namun kemajuan sosial.”

Sabtu lalu Komunitas Anak Alam melaksanakan kegiatan Green Camp nya yang ketiga. Green Camp sendiri adalah sebuah kerja sosial untuk anak muda dimana mereka mengajar, bermain, bernyanyi dan tentu menginap di desa Belandingan. Dan keesokan harinya disusul oleh kegiatan pengembangan karakter dan kepemimpinan pemuda di alam dengan menjelajah alam.

Dan dalam Green Camp kali ini pula adalah sebuah sejarah tersendiri bagi Komunitas Anak Alam. Dengan koordinator Dewi Utari dan pendanaan mandiri dari Kawan-Kawan Anak Alam , mereka telah memiliki dan memberikan beasiswa bagi 11 orang anak dari 3000-an anak dengan masing-masing orang mendapatkan beasiswa sebesar Rp. 100.000. Program ini pun adalah sebuah program orang tua asuh, dimana para ’orang tua asuh’ ini akan mendapatkan laporan bulanan tentang anak asuhnya maupun kegiatan Komunitas Anak Alam yang lain.

Kegiatan Green Camp itu ditutup dengan pelepasan burung tekukur di pesisir utara danau batur. "Ini hanya sebuah pesan bahwa kedamaian itu indah. Alam yang lestari tanpa terlalu banyak hiasan tangan manusia itu indah. Dan kami juga ingin kelak anak-anak kami itu bisa merentangkan sayap seperti burung-burung yang terbang bebas itu. Bahwasanya ada dunia di luar sana untuk ditaklukkan selain ladang dan sapi-sapi mereka di bebukitan!" pungkas Pande.

~

terimakasih bli komang Sutrisna untuk termuatnya artikel ini.

salam/pande
8:20 AM

Anak Alam brings joy to children of Blandingan (the Jakarta Post, 22/4/2010) pp.23






It was arguably the most touching birthday party Kadek Purnami had ever had.

She struggled to fight her tears back as she looked at a group of around 50 children sitting before her. The children were dressed in worn-out clothes and most of them apparently hadn’t taken a bath for quite some time. Water is a precious commodity in that village and taking a bath regularly is a luxury most of the villagers cannot afford.

Standing next to Purnami was Pande Putu Setiawan, the founder of Anak Alam Community (www.anakalam.org). The children obviously adored this tall, dark-skinned young man. When Pande asked them about their day at school, the children answered spiritedly.

Pande turned to a little girl in the corner and asked her whether she would continue going to school. The girl, who was carrying her kid brother on her waist, had just finished her elementary education. In an almost inaudible voice, the girls answered.

“I want to enroll in the junior high school, but I don’t think it will be possible. My father will not allow me to [continue going to school],” she said as she tried to comfort her kid-brother.

At that point, Purnami couldn’t hold her tears. She turned her face away in a vain attempt to hide the tears.

Celebrating one’s birthday is supposed to be joyful affair. Yet, this year the native of Padangtegal, Ubud, wanted to celebrate her 29th birthday in a different, more meaningful way. She asked her friends to donate books, foods and used clothes for Anak Alam Community. Purnami admires the works that Pande has done for the children through his Anak Alam Community.

“He is so passionate about helping the kids and I want to do my share,” Purnami said.

On a cloudy Saturday afternoon, Purnami and his friends embarked on a trip from Ubud, that would eventually bring them face with face with the less celebrated reality of Bali, a reality comprises of poverty and suffering.

Upon reaching Kintamani, a tourist destination popular for its scenic view, they descended to Lake Batur, the giant caldera of a mighty volcano in ancient times. The villages surrounding the lake are populated by the descendants of proud warriors, whose rebellious nature was the source of constant headaches for the occupying troops of the might Majapahit empire in the 14th century.

The decent road ends in Songan, but their trip didn’t end in that village, where Pande was born and his father is a well-known and well-respected public medical officer.

The small group passed Songan, criss-crossed patches of cultivated land where the locals grow shallots and other seasonal plants, their primary source of income.

The road became narrower and steeper but Pande, standing on the open back of mini-truck, insisted that they must see the children.

“I have told the children we will be here. It is very difficult to bring them together because most of the time they will be scattered outside the village, helping their parents tend the farm or collecting firewood,” Pande said.

The group finally arrived at Blandingan, a small village perched on the northern rim of Lake Batur. Pande called Blandingan “one of the most underdeveloped villages in Batur”, Brick houses are a rare sight, most of the houses have woven bamboo walls, dirt floors and thatched roofs.

“There are around 300 households in this village, most of them shallot farmers,” an old man with untrimmed moustache and dirty clothes said, also the secretary to the village chief.

The awaiting children gathered at the village hall and took turns performing before their guests. Some recited poems, a little girl sung a popular love song, others performed a play.

“They are talented, hard-working children. The main problem is they don’t have access to education, the only thing that would enable them to break free from the bounds of poverty,” Pande said.

“There are around 3,000 children in villages spread along the rim of Lake Batur. So far, we have only managed to reach 200 children in Blandingan,” he sighed.

Pande, who holds a master degree, has traveled abroad and published a literary trilogy, believes that bringing education to these children is the only way to give them a better future.

One year ago he founded the Anak Alam Community, an organization of concerned individuals, who have put together various educational programs for the Blandingan children, from an English course to a photography workshop. Anak Alam now runs a small children library in Songan and is preparing to launch a computer course.

“All those programs were made possible by donations from generous individuals and institutions across the island. Several people have came here, spent two weeks with the children, teaching them the skills they use in their profession and in turn learning from the children about the various aspects of this beautiful place,” Pande said.

Now, concerned young men in Sumbawa, Riau and Semarang have established their own Anak Alam Community.

A thin curtain of mist descended upon Blandingan when the group prepared to leave. The children shouted and yelled when the car roared. In unison they screamed “I love you”. Purnami silently waved at them.

“This is the most meaningful birthday I have ever had. I will be back,” she said.



trims bli wayan juniartha
: pande