

page 26-27
silahkan klik gambar di atas untuk tampilan lebih besar. kemudian klik sekali lagi untuk men-zoom. :)
tx. rera/kophi atas interviewnya.
pande
ubud
25/2/2011
www.anakalam.org




"seorang wanita cantik hanyalah kecelakan alamiah penciptaan saja,
namun seorang wanita tua cantik adalah karya seni."
-louis nizer
teruslah, teruslah bermimpi nak. yakinlah peri itu kelak akan datang untukmu. bermimpilah, terus, karena dalam mimpimu ada senyuman kami. tuh kan, jika waktunya tiba, ia akan tiba. ibu peri datang.
hari ini adalah hari yang spesial buat anak-anak. pahlawan-pahlawan kecil kita dikunjungi oleh Ayu Diandra Sari runner up putri indonesia 2008 dan puteri bali 2008 bersama kakak-kakak mereka yang lain. mereka semua bergemuruh, tak melewatkan pandangan matanya setitikpun dari wajah dea ketika Dea aku beri kesempatan untuk memperkenalkan diri.
"halo adik-adik....."
"nama kakak, kak Dea."
"jujur tadi kakak pas mau berangkat ke desa kalian ini capek jalan kaki dan naik mobil pickup, namun sekarang kakak merasa sangat senang sekali. melihat wajah-wajah kalian yang begitu bersemangat. melambaikan tangan kepada kakak dari atas wantilan ketika kakak baru datang. kakak sungguh senang."
"izinkan kakak datang lagi ya lain kali..............."
anak-anak menjawab serempak:
"iya kaaaaaaaaaaaaaakk........"
dea larut dalam riang anak-anak.
hari ini kami berhasil 'mengerjai' Dea, aku memintanya untuk bernyanyi di depan anak-anak alam di wantilan desa belandingan. anak-anak request lagu keong racun, namun akhirnya Dea memilih untuk menyanyikan lagu puteri cening ayu. betul berarti kata bu muryati soedibyo: beauty, brain, behavior. setidaknya ia masih mencintai budayanya sendiri. "keong racun bukan lagu untuk anak-anak" tegasnya.
perjalanan denpasar - songan dengan mobil all new jazz putih untuk siapa saja pasti menyenangkan. namun bukan itu inti dari perjalanan Dea hari ini. bukan di mobil ber-AC, dengerin musik, bercanda dengan teman-teman. namun ketika kali ini harus mendaki jalan di bubung dengan mobil pickup ia sedang memulai petualangan yang sebenar-benarnya. ujian keberanian sisi kemanusiaan kita.
Dea datang ditemani kawankawan anak alam Fak Kedokteran Universitas Udayana, cok devi, wistya, arim, dath, eko, yang ingin bergabung dalam pembagian beasiswa bulanan kami kepada anak-anak. kebetulan juga dari dulu sebenarnya Dea berkeinginan bertemu langsung dengan anak-anak namun baru kali ini mimpinya terwujud.
Dea berkesempatan membagikan beasiswa itu kepada anak-anak satu per satu kemudian disusul oleh teman-temannya membagikan pakaian bekas yang beberapa bulan ini kami kumpulkan dari kawan-kawan anak alam termasuk tiket movie screening kemarin lalu di toga mas. di sela-sela pembagian sumbangan, Dea menyempatkan diri mengirim fotonya bersama anak-anak lewat blackberry dan ia berbisik kepadaku, "bli, saya ingin membantu lebih banyak lagi, mencarikan sponsor."
"tx for anticipating your support dea.......". kebetulan juga pameran fotografi kami kami rencanakan akan diadakan di danes art veranda dan Dea adalah teman dari bu melati istri pemilik danes art veranda maka jadilah kontribusi dea bertambah lagi. membawakan proposal pameran ke bu melati. "once again another thanks...."
bonus untuk dea hari ini adalah, berjalan kaki lagi, mendaki bubung batu barak seperti biasa setelah pembagian sumbangan selesai. sayang hari itu kabut tebal menyelimuti sisi timur bubung, namun keceriaan kami tak pudar. tentu juga untuk Dea. apalagi anak-anak alam.
ketika petang segera menjelang, dan akhirnya kini aku sendiri yang harus menjadi sopir pickup itu berhubung sopirnya sedang main volly, maka petualangan ini akan dituntaskan dengan tibanya mobil ini dengan selamat di basecamp, menuruni jalanan terjal. Dea barangkali di belakang berucap doa sangat panjang agar sopir baru ini menjalankan tuganya dengan baik, namun sebagai petualang sejati, menyopiri pickup turun gunung belumlah tantangan yang memberatkan.
aku dengar Dea nangis tadi di jalan, takut jalan turunan, namun setelah dikonfiormasi ulang, ia bilang lelahnya terbalaskan oleh wajah-wajah lucu anak-anak. hup hah......
"kak, kami menunggu kak Dea datang lagi....."
"jangan lupa mahkota putri dan tongkat ibu peri....."
terimaksih tak terperi kak.
salam anak alam,
salam anak indonesia
pande
kawan-kawan anak alam
anak-anak alam
dps, siang ini.
"Keep your love of nature, for that is the true way to understand art more and more."
Vincent van Gogh
huahmm.....
kabut tebal menyelimuti bebukitan pagi itu. bukit yang memagari sisi timur kaldera seperti lenyap. ada yang hilang, songan sunrise yang terkenal itu, tak dapat dilihat oleh kawan-kawan anak alam yang bermalam di basecamp anak alam semalam. namun, keberuntungan datang, dan berharap seterusnya begitu buat ANAK ALAM kita. trims buat IA!
mentari menyibak kabut sepotong demi sepotong. bubung pegat mulai tampak samar-samar. sementara mendung gelap di selatan bergeser, tak lupa mendung yang sama di sisi utara. "tak usah mandi, mari kita nikmati pagi!" aku mengajak kawan-kawan untuk segera beranjak, masuk mobil semua dan kabur ke lava di barat toya bungkah.
pagi adalah pagi dengan kecantikannya. pagi adalah pagi dengan segala kesederhanaannya. dan pagi ini dengan kabut beberapa masih melinting cemara, beberapa lainnya beranjak pelan, pagi memberikan lukisan terindahnya untuk kami. kini percaya kan alam adalah lukisan yang sangat indah? - yang dilukis hanya oleh helai kabut. ada tiada. tiada ada. kabut.
helai daun rumput liar tertiup angin danau. air danau tenang dalam mimpi pagi. kami memuaskan hasrat kenarsisan kami dengan berfoto-foto diantara ilalang. diantara rerumputan. diantara lava gunung.
hingga pagi membawa kita ke jam 7:30 yang berarti harus segera kembali beranjak ke basecamp untuk persiapan upacara bendera. semalam, Rawat memberitahuku bahwa upacara bendera akan dimulai jam 9:00. namun pagi ini, puspasena mengirim SMS bahwa upacara dimajukan menjadi jam 8:00. (puspasena kami ajak ikut pulang, dengan selembar surat sakti kita kirimkan ke sekolahnya, tak bisa ikut upacara bendera di SMK erlangga.) 30 menit adalah waktu yang tak banyak untuk bersiap-siap. akhirnya kami memang terlambat datang. 30 menit lepas jam 8 kami baru tiba di sekolah, namun ternyata upacara juga baru mulai pukul 8:35. it's just in time...! (apa memang mereka semua sengaja mengundurkan upacara karena menunggu kita? serasa bupati aja ditunguu-tunggu.... berkhayal. mode on. :) )
pagi itu kalam mulai berdatangan. gustra terlihat pertama, sendiri, kemudian disusul oleh rombongan bule perancis bersama mbak dayu, dan anggara bersama teman-teman. komposisi kami pagi itu cukup mengejutkan guru-guru SDN belandingan yang berseragam batik hijau lengan panjang.
anak-anak tampak sudah siap semua. dua bendera merah putih bertengger, berkibar di atas tiang bambu. sementara bendera lain dengan bangga dipangku oleh seorang anak perempuan SDN belandingan yang diapit oleh dua teman laki-lakinya di sisi barat. sementara di sisi timur lapangan, kernet bersama teman-teman mendapat giliran membaca undang-undang dasar 45, doa, pancasila, dan membawa acara.
"urutan pertama,... pemimpin upacara memasuki lapangan upacara!" anak yang bertugas membawakan acara mengambil alih tugasnya. semua bersiap termasuk para Kalam yang ikut berbaris di barisan paling barat di sisi kiri anak-anak kelas 1. barangkali ini adalah upacara 17-an pertama bagi mereka mendapatkan 'tamu' dalam barisan murid-muridnya.
kami semua mengikuti upacara dengan khidmat, sesekali tersenyum dalam hati menyaksikan anak-anak kita yang kali itu hampir lebih dari setengahnya mengenakan sepatu, topi, dasi, dan semua berpakaian seragam merah putih. sering sebelumnya aku lihat anak-anak itu menggunakan pakaian yang tak sama. sebagian pakaian pramuka 'dekil', sebagian baju olah raga biru langit 'kebanggaan mereka', sementara yang lain mengenakan pakaian putih mereka yang tlah berubah cokelat. hari ini pemandangan paling beda aku lihat.
namun belakangan aku tahu ternyata sebagian dari mereka saling meminjamkan topi, baju, sepatu. "kak, ini topi pinjaman" begitu kata salah seorang dari mereka, ketika kita mau ganti topi mereka tersebut dengan topi baru. dan topi itu rencananya kita ambil dan kita 'museumkan'.
hari itu kami menyanyikan lagu INDONESIA RAYA lagi. ya, INDONESIA RAYA! dengan mulut sendiri, bukan dengar dan lihat dari TV. oh.....
setelah upacara selesai, jamuan ala pak Guru Dangka sudah disiapkan di ruang guru. jamuannya adalah air putih saja. cukup. namun perkenalan kalam dengan guru-guru SDN belandingan adalah jamuan sebenarnya. kami saling berkenalan, berbagi cerita dan kesan khususnya bagi kawan-kawan yang baru pertama kali ini datang ke belandingan!
"Menyenangkan!"
"Terharu!"
"Akan datang lagi!"
"Apa yang bisa kami bantu!"
"dingin!'
itulah komentar yang keluar dari kawan-kawan yang baru pertama kali ini bertemu dengan anak-anak kita di kampung damainya ini. begitu juga kenal guru-gurunya.
mentari beranjak, waktunya kami mengajak mereka ke atas bubung tower. kami merubah rencana awal, alih-alih berjalan ke utara tower yang cukup jauh, kami pilih pos kelompok tani sari karya saja - yang berada persis di ujung jalan plesteran semen itu- sebagai tempat untuk membagi 130 pasang pakaian sekolah baru buat mereka. pakaian ini adalah sumbangan dari Mas Antok, yang juga tlah menyumbang 2 sepeda gunung untuk digunakan oleh puspasena dan karmajaya sekolah di denpasar. Mas Antok, kata-kata tak bisa lagi mewakili terima kasih kami. kami bangga!
perjalanan kali ini diikuti ratusan anak-anak SDN belandingan. barangkali baru kali ini kami bertemu anak-anak itu di luar sekolah mereka lengkap!
.... bersambung....
huahm......
sekeranjang cinta,
dari atas bukit.
part 2
"We have the power to make this the best generation of mankind in the history of the world - or to make it the last."
John F. Kennedy
berlari. berlari. berlari...
mereka semua sumringah meniti jalan nenanjak yang diplester semen itu menuju pos kelompok tani sari karya, untuk menunggu jatah sepasang baju sekolah BARU. aku masih ingat jalan ini, jalan yang dulu pernah membuat nyangkut karimun hitam pelat B itu kala naomi sengaja datang bertemu anak-anak alam kita jauh-jauh dari jakarta. pun juga jalan yang saban hari aku lewati ketika awal tahun ini hilang menemukan jalan di kedamaian belandingan. menjadi mereka. menjadi sama.
hari ini, akan menjadi hari terakhir aku bisa mengambil foto anak-anak ini dengan pakaian dekilnya. serasa ada kenangan yang hilang. namun bukankah memberikan mereka baju baru adalah mimpimu? pikiranku mendebat diriku sendiri. maka dari itu, aku akan menghabiskan kenangan itu disini hari ini. namun tenang, kamera-kamera yang kalam bawa telah 'memuseumkan' mereka semua. tunggu hingga waktunya kalian akan saksikan lebih dekat dalam sebuah pameran.
anak-anak alam masih seperti dulu. akan menyambit tangan kakak-kakaknya -persis seperti anak-anak di panti asuhan yang bertemu orang yang berkunjung-, berbagi senyum, ingin berbagi cerita, berbagi cinta. mereka masih sama walau telah lebih dari sebulan aku tak bertatap muka dengan malaikat-malaikat kecil kita ini. mereka yang kelak akan menggantikan kemunafikan kita. ya. kita.
jalanan menyusuri rimbun bambu itu akhirnya berakhir persis setelah kelokan terakhir yang menanjak. tampak beberapa warga sedang merapikan keranjang yang berisi tomat-tomat merah matang. tomat-tomat ini sepertinya akan jadi makanan sapi saja hari ini. kenapa? karena tomat yang matang tak lagi bisa dijual ke pasar. sampai pasar ia akan busuk. sementara pelajaran pengolahan tomat yang matang ini tak pernah diberikan di sekolah. pun juga mereka tak tamat sekolah dasar. begitu juga pelatihan yang sama tak diberikan oleh dinas pertanian tingkat 2, tingkat 1, nasional, apalagi dunia kepada warga-wagra desa yang (mungkin) sengaja dibiarkan bodoh ini. semoga saja pikiranku salah.
mereka butuh ilmu. bukan uang 100 ribu (pembodohan) saat pencontrengan kepala daerah langsung saja... fiuh.... (menyeka keringat sejenak!)
ruang sempit pos kelompok tani sari karya itu kini dipenuhi ratusan anak-anak SDN belandingan dari kelas 1 sampai 6. terpaksa pembagian pakaian dilakukan di halaman depan pos. tentu ruangan sempit itu tak bisa menampung semua anak-anak, kawan-kawan dan juga tas kresek pakaian. (aku menyebutnya halaman walau kenyataannya ini lebih berupa tempat kosong di bibir pos yang dipagari semak-semak saja. biar mereka semua senang.)
satu per satu anak-anak ini menerima seragam baru mereka. dengan sangat memohon kami mengambil beberapa pakaian 'bersejarah' mereka itu untuk kami museumkan. anak-anak tak pernah berkata 'tidak' untuk sesuatu yang mereka yakini baik yang kami inginkan kerjakan untuk mereka. apalagi hanya baju bekas mereka.
130 pakaian siang itu habis. dasi juga. topi juga. pos sari karya sepi. petani desa melambaikan salam dan memberi salam dari jauh. mereka bersiap kembali memutar roda hidupnya di balik bukit bersama sapi-sapi dan ladang tomatnya. memutar nasib. berharap. anak-anak pulang. menunggu barangkali nanti akan ada hadiah lain yang masih kami bisa berikan untuk mereka.
sementara team BEASISWA ANAK ALAM baru saja datang....
hari ini masih berlanjut!
...bersambung...
makan dulu.
sekeranjang cinta,
dari atas bukit
part 3
"kak putu, ada BERITA BURUK. made sani tak mau sekolah lagi. ia sekolah tiga kali saja seminggu. beasiswa belum datang. ia tak mau sekolah!"
-sms dari Rawat ke HPku.
whaaatttttttttttttt?????
ini benar-benar berita buruk. buruk benar-benar! maaf nak, kami agat terlambat. bagaimana pun juga kami semua memiliki kesibukan. namun jaga selalu semangat itu. mimpi itu. ada 1000 alasan kenapa kamu harus terus sekolah.
upacara bendera telah selesai, pembagian seragam sekolah telah selesai, lapar, haus, maka basecamp anak alam adalah mimpi paling diidam-idamkan oleh kalam yang manapun saat-saat seperti itu.
aku dapat tugas menyetir mobil mbak Dayu, berhubung katanya dia akan melepas setir jika saja ia yang menyetir dalam tanjakan, kelokan, dan jalan berlubang tersebut. maka aku, jika diberi setir, ini adalah obsesiku yang lain. hobiku yang lain. merasakan gerak ban dan putaran ban dari respon yang diberikan oleh tangan dan kaki yang menekan pedal gas dan kopling. butuh hati. seperti MENCINTA. walau sesekali akan seperti film Fast and Furious saat hati terbakar. :)
anak-anak baru saja pulang dari upacara bendera dan pembagian seragam sekolah di pos kelompok tani sari karya, dan ini akan menyulitkan kami memberikan beasiswa kepada anak-anak yang tinggal di balik bukit seperti Rata dan Ribut, tentunya akan lebih mudah bagi anak-anak yang tinggal di desa dimana rumahnya bisa kami kunjungi satu per satu siang itu.
namun walau sama saja, siang hari biasanya sebagian besar dari mereka akan pergi ke ladang membantu orang tua mereka masing-masing bercocok tanam, memberi makan ayam, atau menyabit rumput.
pilihan terburuk namun juga teraman adalah memilih orang yang tepat pegang amplop beasiswa tersebut untuk kemudian dibagikan kepada teman-temannya jika saja nanti mereka telah pulang. Ada Made Ratih dan Mara saat itu terlihat jadi sisa amplop beasiswa yang tak bisa kami berikan kami titipkan ke anak-anak ini. sebagian lagi kami titip ke Nopik, karena ia serumah dengan Made Sani.
Siang itu mbak Dewi, Pak Gde, Bu Rusma dari Surfer girl dan bapak satu lagi (aku lupa namanya) berkesempatan datang langsung memberikan beasiswa itu satu per satu. sungguh kerja yang tak mudah, sungguh kerja yang membutuhkan dedikasi, sungguh kerja yang hanya dibahan bakari oelh passion, hanya dengannya BEASISWA ini terus jalan dan itu dengan sangat berhasil selama ini dilakukan seorang wonderwoman macam Mbak Dewi Utari yang sangat didukung oleh Pak Gde suaminya. aku jadi ingat Bu Putu dan Wayan... bagaimana kabarnya malam ini???
BEASISWA ANAK ALAM adalah salah satu tulang punggung. beasiswa barangkali adalah salah satu program yang paling dibutuhkan anak-anak selain tentunya bantuan-bantuan yang lain. Beasiswa ini pula yang selama ini dinanti-nanti anak anak kita di belandingan yang sangat membutuhkannya.
nah, giliran siapa berikutnya mau datang. giliran siapa berikutnya yang mau bergandengan tangan dengan Rata dan teman-temannya yang berjalan kaki dari balik bukit untuk mengikuti upacara bendera 17 agustus-an di sekolahnya, (sementara kita malah ingin memisahkan MERAH dari PUTIHnya indonesia? whaaaatttt??????)
Harusnya kalian berani jawab: AKU!
aku akan datang. aku SEKARANG!
-end-
sekeranjang cinta
dari atas bukit
pande
dps
mlm ini.
"pendidikan -yang baik- adalah hak setiap anak manusia. tanpa terkecuali. perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam hal menggapai kapasitas terbaik yang mereka mampu. titik.”
anak alam
It was arguably the most touching birthday party Kadek Purnami had ever had.
She struggled to fight her tears back as she looked at a group of around 50 children sitting before her. The children were dressed in worn-out clothes and most of them apparently hadn’t taken a bath for quite some time. Water is a precious commodity in that village and taking a bath regularly is a luxury most of the villagers cannot afford.
Standing next to Purnami was Pande Putu Setiawan, the founder of Anak Alam Community (www.anakalam.org). The children obviously adored this tall, dark-skinned young man. When Pande asked them about their day at school, the children answered spiritedly.
Pande turned to a little girl in the corner and asked her whether she would continue going to school. The girl, who was carrying her kid brother on her waist, had just finished her elementary education. In an almost inaudible voice, the girls answered.
“I want to enroll in the junior high school, but I don’t think it will be possible. My father will not allow me to [continue going to school],” she said as she tried to comfort her kid-brother.
At that point, Purnami couldn’t hold her tears. She turned her face away in a vain attempt to hide the tears.
Celebrating one’s birthday is supposed to be joyful affair. Yet, this year the native of Padangtegal, Ubud, wanted to celebrate her 29th birthday in a different, more meaningful way. She asked her friends to donate books, foods and used clothes for Anak Alam Community. Purnami admires the works that Pande has done for the children through his Anak Alam Community.
“He is so passionate about helping the kids and I want to do my share,” Purnami said.
On a cloudy Saturday afternoon, Purnami and his friends embarked on a trip from Ubud, that would eventually bring them face with face with the less celebrated reality of Bali, a reality comprises of poverty and suffering.
Upon reaching Kintamani, a tourist destination popular for its scenic view, they descended to Lake Batur, the giant caldera of a mighty volcano in ancient times. The villages surrounding the lake are populated by the descendants of proud warriors, whose rebellious nature was the source of constant headaches for the occupying troops of the might Majapahit empire in the 14th century.
The decent road ends in Songan, but their trip didn’t end in that village, where Pande was born and his father is a well-known and well-respected public medical officer.
The small group passed Songan, criss-crossed patches of cultivated land where the locals grow shallots and other seasonal plants, their primary source of income.
The road became narrower and steeper but Pande, standing on the open back of mini-truck, insisted that they must see the children.
“I have told the children we will be here. It is very difficult to bring them together because most of the time they will be scattered outside the village, helping their parents tend the farm or collecting firewood,” Pande said.
The group finally arrived at Blandingan, a small village perched on the northern rim of Lake Batur. Pande called Blandingan “one of the most underdeveloped villages in Batur”, Brick houses are a rare sight, most of the houses have woven bamboo walls, dirt floors and thatched roofs.
“There are around 300 households in this village, most of them shallot farmers,” an old man with untrimmed moustache and dirty clothes said, also the secretary to the village chief.
The awaiting children gathered at the village hall and took turns performing before their guests. Some recited poems, a little girl sung a popular love song, others performed a play.
“They are talented, hard-working children. The main problem is they don’t have access to education, the only thing that would enable them to break free from the bounds of poverty,” Pande said.
“There are around 3,000 children in villages spread along the rim of Lake Batur. So far, we have only managed to reach 200 children in Blandingan,” he sighed.
Pande, who holds a master degree, has traveled abroad and published a literary trilogy, believes that bringing education to these children is the only way to give them a better future.
One year ago he founded the Anak Alam Community, an organization of concerned individuals, who have put together various educational programs for the Blandingan children, from an English course to a photography workshop. Anak Alam now runs a small children library in Songan and is preparing to launch a computer course.
“All those programs were made possible by donations from generous individuals and institutions across the island. Several people have came here, spent two weeks with the children, teaching them the skills they use in their profession and in turn learning from the children about the various aspects of this beautiful place,” Pande said.
Now, concerned young men in Sumbawa, Riau and Semarang have established their own Anak Alam Community.
A thin curtain of mist descended upon Blandingan when the group prepared to leave. The children shouted and yelled when the car roared. In unison they screamed “I love you”. Purnami silently waved at them.
“This is the most meaningful birthday I have ever had. I will be back,” she said.
Komunitas Anak Alam | Design by Roam2Rome