Showing posts with label My Favorite Story. Show all posts
Showing posts with label My Favorite Story. Show all posts
6:44 PM

PAMERAN FOTOGRAFI AMAL "UNTOLD STORY OF BALI"

Alliance Francaise Denpasar,
Jl Puputan I, no 13A, Renon Denpasar 80235
15 - 31 Januari 2011



denah lokasi pameran:
Allianz Francaise



Sebuah potret desa dibalik bukit dengan kehidupan yang jauh dari glamornya pariwisata Bali. Disini terdapat anak-anak yang jauh dari kata 'berkecukupan' dan disaat anak-anak seumuran mereka bisa bisa menikmati fasilitas pendidikan lengkap, gizi yang cukup, bermain play station, jalan-jalan ke mall, makan makanan cepat saji, ke salon setiap akhir bulan, anak-anak Desa Belandingan melewati keseharian dengan rutinitas yang sama, me...mbantu orang tua untuk menambah penghasilan tambahan, bekerja di lahan pertanian, menjaga adik-adiknya, mengambil air dari bak yang berjarak beberapa kilometer untuk dibawa pulang, bermain dengan mainan sangat sederhana, atau berjualan makanan kecil keliling kampung.

Sejak momen yang menyentuh itu kami bermimpi suatu ketika kelak bagaimana caranya agar kami bisa membantu mereka sehingga memiliki kesempatan untuk melihat dunia luar seperti anak-anak yang lain, memberikan pengalaman hidup yang lebih baik, akses terhadap pengetahuan, membentuk masa depan yang lebih layak. Dan dengan memulai hanya bermodalkan mimpi itu dan semangat, kami berharap mampu mewujudkan mimpi itu, tentu juga bersama kalian, meninggalkan jejak keringat kita bersama-sama!

Kita diajak melihat-lihat potret Desa Belandingan dari 6 sudut pandang anak-anak Desa Belandingan yang jujur dan polos. Tentang rumah, keluarga, teman, dan kegiatan mereka sehari-hari yang terekam dalam karya fotografi anak-anak.

Tempat : Alliance Française Denpasar,
Jl Puputan I, no 13A, Renon Denpasar 80235
Waktu :
- Opening : 15 Januari 2011 (18.00 - 22.00)
- Photography discussion : 22 Januari 2011 (18.00 - 22.00)
- Movie screening : 29 Januari 2011 (18.00 - 22.00)

Contact :
- Anggara Mahendra (081 856 36 73)
- Vifick (0856 580 254 17)
10:07 AM

di ujung ufuk INDONESIA. mengindonesiakan Merah Putih!


"Keep your love of nature, for that is the true way to understand art more and more."
Vincent van Gogh


huahmm.....

kabut tebal menyelimuti bebukitan pagi itu. bukit yang memagari sisi timur kaldera seperti lenyap. ada yang hilang, songan sunrise yang terkenal itu, tak dapat dilihat oleh kawan-kawan anak alam yang bermalam di basecamp anak alam semalam. namun, keberuntungan datang, dan berharap seterusnya begitu buat ANAK ALAM kita. trims buat IA!

mentari menyibak kabut sepotong demi sepotong. bubung pegat mulai tampak samar-samar. sementara mendung gelap di selatan bergeser, tak lupa mendung yang sama di sisi utara. "tak usah mandi, mari kita nikmati pagi!" aku mengajak kawan-kawan untuk segera beranjak, masuk mobil semua dan kabur ke lava di barat toya bungkah.

pagi adalah pagi dengan kecantikannya. pagi adalah pagi dengan segala kesederhanaannya. dan pagi ini dengan kabut beberapa masih melinting cemara, beberapa lainnya beranjak pelan, pagi memberikan lukisan terindahnya untuk kami. kini percaya kan alam adalah lukisan yang sangat indah? - yang dilukis hanya oleh helai kabut. ada tiada. tiada ada. kabut.

helai daun rumput liar tertiup angin danau. air danau tenang dalam mimpi pagi. kami memuaskan hasrat kenarsisan kami dengan berfoto-foto diantara ilalang. diantara rerumputan. diantara lava gunung.

hingga pagi membawa kita ke jam 7:30 yang berarti harus segera kembali beranjak ke basecamp untuk persiapan upacara bendera. semalam, Rawat memberitahuku bahwa upacara bendera akan dimulai jam 9:00. namun pagi ini, puspasena mengirim SMS bahwa upacara dimajukan menjadi jam 8:00. (puspasena kami ajak ikut pulang, dengan selembar surat sakti kita kirimkan ke sekolahnya, tak bisa ikut upacara bendera di SMK erlangga.) 30 menit adalah waktu yang tak banyak untuk bersiap-siap. akhirnya kami memang terlambat datang. 30 menit lepas jam 8 kami baru tiba di sekolah, namun ternyata upacara juga baru mulai pukul 8:35. it's just in time...! (apa memang mereka semua sengaja mengundurkan upacara karena menunggu kita? serasa bupati aja ditunguu-tunggu.... berkhayal. mode on. :) )

pagi itu kalam mulai berdatangan. gustra terlihat pertama, sendiri, kemudian disusul oleh rombongan bule perancis bersama mbak dayu, dan anggara bersama teman-teman. komposisi kami pagi itu cukup mengejutkan guru-guru SDN belandingan yang berseragam batik hijau lengan panjang.

anak-anak tampak sudah siap semua. dua bendera merah putih bertengger, berkibar di atas tiang bambu. sementara bendera lain dengan bangga dipangku oleh seorang anak perempuan SDN belandingan yang diapit oleh dua teman laki-lakinya di sisi barat. sementara di sisi timur lapangan, kernet bersama teman-teman mendapat giliran membaca undang-undang dasar 45, doa, pancasila, dan membawa acara.

"urutan pertama,... pemimpin upacara memasuki lapangan upacara!" anak yang bertugas membawakan acara mengambil alih tugasnya. semua bersiap termasuk para Kalam yang ikut berbaris di barisan paling barat di sisi kiri anak-anak kelas 1. barangkali ini adalah upacara 17-an pertama bagi mereka mendapatkan 'tamu' dalam barisan murid-muridnya.

kami semua mengikuti upacara dengan khidmat, sesekali tersenyum dalam hati menyaksikan anak-anak kita yang kali itu hampir lebih dari setengahnya mengenakan sepatu, topi, dasi, dan semua berpakaian seragam merah putih. sering sebelumnya aku lihat anak-anak itu menggunakan pakaian yang tak sama. sebagian pakaian pramuka 'dekil', sebagian baju olah raga biru langit 'kebanggaan mereka', sementara yang lain mengenakan pakaian putih mereka yang tlah berubah cokelat. hari ini pemandangan paling beda aku lihat.

namun belakangan aku tahu ternyata sebagian dari mereka saling meminjamkan topi, baju, sepatu. "kak, ini topi pinjaman" begitu kata salah seorang dari mereka, ketika kita mau ganti topi mereka tersebut dengan topi baru. dan topi itu rencananya kita ambil dan kita 'museumkan'.

hari itu kami menyanyikan lagu INDONESIA RAYA lagi. ya, INDONESIA RAYA! dengan mulut sendiri, bukan dengar dan lihat dari TV. oh.....

setelah upacara selesai, jamuan ala pak Guru Dangka sudah disiapkan di ruang guru. jamuannya adalah air putih saja. cukup. namun perkenalan kalam dengan guru-guru SDN belandingan adalah jamuan sebenarnya. kami saling berkenalan, berbagi cerita dan kesan khususnya bagi kawan-kawan yang baru pertama kali ini datang ke belandingan!

"Menyenangkan!"
"Terharu!"
"Akan datang lagi!"
"Apa yang bisa kami bantu!"
"dingin!'

itulah komentar yang keluar dari kawan-kawan yang baru pertama kali ini bertemu dengan anak-anak kita di kampung damainya ini. begitu juga kenal guru-gurunya.

mentari beranjak, waktunya kami mengajak mereka ke atas bubung tower. kami merubah rencana awal, alih-alih berjalan ke utara tower yang cukup jauh, kami pilih pos kelompok tani sari karya saja - yang berada persis di ujung jalan plesteran semen itu- sebagai tempat untuk membagi 130 pasang pakaian sekolah baru buat mereka. pakaian ini adalah sumbangan dari Mas Antok, yang juga tlah menyumbang 2 sepeda gunung untuk digunakan oleh puspasena dan karmajaya sekolah di denpasar. Mas Antok, kata-kata tak bisa lagi mewakili terima kasih kami. kami bangga!

perjalanan kali ini diikuti ratusan anak-anak SDN belandingan. barangkali baru kali ini kami bertemu anak-anak itu di luar sekolah mereka lengkap!

.... bersambung....

huahm......

sekeranjang cinta,
dari atas bukit.


part 2


"We have the power to make this the best generation of mankind in the history of the world - or to make it the last."

John F. Kennedy

berlari. berlari. berlari...


mereka semua sumringah meniti jalan nenanjak yang diplester semen itu menuju pos kelompok tani sari karya, untuk menunggu jatah sepasang baju sekolah BARU. aku masih ingat jalan ini, jalan yang dulu pernah membuat nyangkut karimun hitam pelat B itu kala naomi sengaja datang bertemu anak-anak alam kita jauh-jauh dari jakarta. pun juga jalan yang saban hari aku lewati ketika awal tahun ini hilang menemukan jalan di kedamaian belandingan. menjadi mereka. menjadi sama.

hari ini, akan menjadi hari terakhir aku bisa mengambil foto anak-anak ini dengan pakaian dekilnya. serasa ada kenangan yang hilang. namun bukankah memberikan mereka baju baru adalah mimpimu? pikiranku mendebat diriku sendiri. maka dari itu, aku akan menghabiskan kenangan itu disini hari ini. namun tenang, kamera-kamera yang kalam bawa telah 'memuseumkan' mereka semua. tunggu hingga waktunya kalian akan saksikan lebih dekat dalam sebuah pameran.

anak-anak alam masih seperti dulu. akan menyambit tangan kakak-kakaknya -persis seperti anak-anak di panti asuhan yang bertemu orang yang berkunjung-, berbagi senyum, ingin berbagi cerita, berbagi cinta. mereka masih sama walau telah lebih dari sebulan aku tak bertatap muka dengan malaikat-malaikat kecil kita ini. mereka yang kelak akan menggantikan kemunafikan kita. ya. kita.

jalanan menyusuri rimbun bambu itu akhirnya berakhir persis setelah kelokan terakhir yang menanjak. tampak beberapa warga sedang merapikan keranjang yang berisi tomat-tomat merah matang. tomat-tomat ini sepertinya akan jadi makanan sapi saja hari ini. kenapa? karena tomat yang matang tak lagi bisa dijual ke pasar. sampai pasar ia akan busuk. sementara pelajaran pengolahan tomat yang matang ini tak pernah diberikan di sekolah. pun juga mereka tak tamat sekolah dasar. begitu juga pelatihan yang sama tak diberikan oleh dinas pertanian tingkat 2, tingkat 1, nasional, apalagi dunia kepada warga-wagra desa yang (mungkin) sengaja dibiarkan bodoh ini. semoga saja pikiranku salah.

mereka butuh ilmu. bukan uang 100 ribu (pembodohan) saat pencontrengan kepala daerah langsung saja... fiuh.... (menyeka keringat sejenak!)

ruang sempit pos kelompok tani sari karya itu kini dipenuhi ratusan anak-anak SDN belandingan dari kelas 1 sampai 6. terpaksa pembagian pakaian dilakukan di halaman depan pos. tentu ruangan sempit itu tak bisa menampung semua anak-anak, kawan-kawan dan juga tas kresek pakaian. (aku menyebutnya halaman walau kenyataannya ini lebih berupa tempat kosong di bibir pos yang dipagari semak-semak saja. biar mereka semua senang.)

satu per satu anak-anak ini menerima seragam baru mereka. dengan sangat memohon kami mengambil beberapa pakaian 'bersejarah' mereka itu untuk kami museumkan. anak-anak tak pernah berkata 'tidak' untuk sesuatu yang mereka yakini baik yang kami inginkan kerjakan untuk mereka. apalagi hanya baju bekas mereka.

130 pakaian siang itu habis. dasi juga. topi juga. pos sari karya sepi. petani desa melambaikan salam dan memberi salam dari jauh. mereka bersiap kembali memutar roda hidupnya di balik bukit bersama sapi-sapi dan ladang tomatnya. memutar nasib. berharap. anak-anak pulang. menunggu barangkali nanti akan ada hadiah lain yang masih kami bisa berikan untuk mereka.

sementara team BEASISWA ANAK ALAM baru saja datang....

hari ini masih berlanjut!

...bersambung...

makan dulu.


sekeranjang cinta,

dari atas bukit


part 3


"kak putu, ada BERITA BURUK. made sani tak mau sekolah lagi. ia sekolah tiga kali saja seminggu. beasiswa belum datang. ia tak mau sekolah!"

-sms dari Rawat ke HPku.

whaaatttttttttttttt?????


ini benar-benar berita buruk. buruk benar-benar! maaf nak, kami agat terlambat. bagaimana pun juga kami semua memiliki kesibukan. namun jaga selalu semangat itu. mimpi itu. ada 1000 alasan kenapa kamu harus terus sekolah.

upacara bendera telah selesai, pembagian seragam sekolah telah selesai, lapar, haus, maka basecamp anak alam adalah mimpi paling diidam-idamkan oleh kalam yang manapun saat-saat seperti itu.

aku dapat tugas menyetir mobil mbak Dayu, berhubung katanya dia akan melepas setir jika saja ia yang menyetir dalam tanjakan, kelokan, dan jalan berlubang tersebut. maka aku, jika diberi setir, ini adalah obsesiku yang lain. hobiku yang lain. merasakan gerak ban dan putaran ban dari respon yang diberikan oleh tangan dan kaki yang menekan pedal gas dan kopling. butuh hati. seperti MENCINTA. walau sesekali akan seperti film Fast and Furious saat hati terbakar. :)

anak-anak baru saja pulang dari upacara bendera dan pembagian seragam sekolah di pos kelompok tani sari karya, dan ini akan menyulitkan kami memberikan beasiswa kepada anak-anak yang tinggal di balik bukit seperti Rata dan Ribut, tentunya akan lebih mudah bagi anak-anak yang tinggal di desa dimana rumahnya bisa kami kunjungi satu per satu siang itu.

namun walau sama saja, siang hari biasanya sebagian besar dari mereka akan pergi ke ladang membantu orang tua mereka masing-masing bercocok tanam, memberi makan ayam, atau menyabit rumput.

pilihan terburuk namun juga teraman adalah memilih orang yang tepat pegang amplop beasiswa tersebut untuk kemudian dibagikan kepada teman-temannya jika saja nanti mereka telah pulang. Ada Made Ratih dan Mara saat itu terlihat jadi sisa amplop beasiswa yang tak bisa kami berikan kami titipkan ke anak-anak ini. sebagian lagi kami titip ke Nopik, karena ia serumah dengan Made Sani.

Siang itu mbak Dewi, Pak Gde, Bu Rusma dari Surfer girl dan bapak satu lagi (aku lupa namanya) berkesempatan datang langsung memberikan beasiswa itu satu per satu. sungguh kerja yang tak mudah, sungguh kerja yang membutuhkan dedikasi, sungguh kerja yang hanya dibahan bakari oelh passion, hanya dengannya BEASISWA ini terus jalan dan itu dengan sangat berhasil selama ini dilakukan seorang wonderwoman macam Mbak Dewi Utari yang sangat didukung oleh Pak Gde suaminya. aku jadi ingat Bu Putu dan Wayan... bagaimana kabarnya malam ini???

BEASISWA ANAK ALAM adalah salah satu tulang punggung. beasiswa barangkali adalah salah satu program yang paling dibutuhkan anak-anak selain tentunya bantuan-bantuan yang lain. Beasiswa ini pula yang selama ini dinanti-nanti anak anak kita di belandingan yang sangat membutuhkannya.

nah, giliran siapa berikutnya mau datang. giliran siapa berikutnya yang mau bergandengan tangan dengan Rata dan teman-temannya yang berjalan kaki dari balik bukit untuk mengikuti upacara bendera 17 agustus-an di sekolahnya, (sementara kita malah ingin memisahkan MERAH dari PUTIHnya indonesia? whaaaatttt??????)

Harusnya kalian berani jawab: AKU!

aku akan datang. aku SEKARANG!

-end-

sekeranjang cinta
dari atas bukit

pande
dps
mlm ini.


9:16 PM

Inspirasi Sukses Bagi Indonesia. (Majalah Reader's Digest edisi Agustus 2010). Selamat Berburu!


dearset,


Aku dedikasikan note kali ini untuk kawan-kawan anak alam, dan anak-anak muda indonesia yang BERANI, kalian yang akan dan (telah) mencetak sejarah untuk hidup kalian sendiri. jelas, Hidup butuh keberanian!

nukilan:
Inspirasi sukses bagi Indonesia. Mereka adalah orang-orang biasa yang menjadi luar biasa karena tekad dan kerja keras. Berkat mereka pula Merah putih harum semerbak. Banyak inspirasi yang bisa kalian petik. Singgih Susilo Kartono 'Radio Lokal Selera Global'. Risa Susanty 'Berpikir positif dan Jadilah Juara'. Oke Rosgana 'Merambah Dunia Lewat Yoyo'. tentu juga 'Berbagi dan Menginspirasi' dan hal-hal yang tak pernah kalian tahu tentang Pande Putu Setiawan ada disitu. :)






Sepertinya kalian harus mengorbankan kocek 20 ribu, untuk memburu majalah Reader's Digest versi Indonesia edisi Agustus 2010 ini. Majalah Reader's Digest terbit dalam 50 Edisi dan 21 Bahasa di seluruh dunia.

bisa didapat di lapak-lapak koran besar, Gramedia, Carefour, dll di seluruh INDONESIA.

selamat berburu!


sekeranjang cinta,
untuk indonesia.

P
dps
hari ini
5:59 AM

Karena Aku Perempuan? (2 jam untuk 4 hidup)


SDN Belandingan, 11 januari 2010. 09:06 am

"pendidikan -yang baik- adalah hak setiap anak manusia. tanpa terkecuali. perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam hal menggapai kapasitas terbaik yang mereka mampu. titik.”
anak alam


Bersyukur kamera poketku merekam gambar anak-anak kelas 6 SDN Belandingan ini. Kala itu mereka tengah berbaris dan bersiap masuk ke ruang kelas. yang berdiri di depan di tengah-tengah barisan adalah wayan sepiawan (ketua kelas). Sementara keenam perempuan di baris paling kanan -dilihat dari depan- adalah made sani, arniti, made ayu, made ariani, ketut simpen, dan di ujung belakang barisan paling tengah adalah wayan badeng.

Dan hari ini foto itu tlah menjadi sebuah kenangan yang sangat berharga, sepenggal sejarah, apalagi buat anak-anak kelas 6 SDN Belandingan itu. Kamera ini (tak peduli SLR atau poket, mahal atau murah : tak penting sama sekali) ia tlah menjadi salah satu mesin kemanusiaan paling berharga buatku, selain pena mimpi, laptop acer aspire, modem dengan kartu XL atau Telkomsel, honda supra DK 5611 PF tanpa STNK, sepeda motor yamaha biru dengan suara super berisik, tentu hati berlentera, dan ester-C (suplemen vitamin selama di gunung. :) )!

Jadwalku beberapa minggu ini benar-benar padat, merapat, menumpuk bahkan menggunung, sibuk! (fiuh....) Menemani tiga anak-anak alam songan syuting Si Bolang Trans 7 keliling Bali, benar-benar menguras energi lagipula sebenarnya itu diluar skedulku. "Bli, sepertinya bli harus ada di sini, anak-anak tak mau akting tanpa bli. mereka sepertinya kaget lihat banyak orang dan tempat-tempat bagus!" mbak Ira membujukku untuk ikut jadi artis. week.... (gw jd malu lihat muka sendiri...) Jadilah aku ikut skedul mereka 12 hari. hem.. Ini salah satu pekerjaan terberat -walau juga menyenangkan- khususnya mengurusi si bolang made berlian yang rada autis (hiperaktif). tapi, itulah kriteria Si Bolang!

maka tak pelak aku hilang dari peredaran dan lupa bahwa anak-anak sudah mau masuk sekolah dan tlah selesai liburan. aku lupa bahwa tanggung jawab dan janji kami kepada anak-anak kelas 6 SDN belandingan bahwa akan menyekolahkan mereka ke SMP menunggu untuk ditepati. aku lupa ini tlah awal juli. (ini sebuah tanda segera butuh asisten pribadi... :) )

Lega. Hari ini syuting selesai. aku bisa kembali ke basecamp anak alam songan karena Deborah Mawsen (kalam dari Belanda) yang menginap selama 10 hari di basecamp telah menungguku. ia tlah booking bahwa akan tinggal di basecamp jauh-jauh hari. aku jadi merasa bersalah. walau ia tak marah! akhirnya kami bersua, setelah sebelumnya hanya berkomunikasi lewat email saja.

Ia aku tugaskan untuk mengajar anak-anak bahasa inggris saban hari, membersihkan sampah plastik di danau, sekaligus menemani mereka beraktifitas semacam latihan gamelan anak-anak.

Hari ini hari minggu. aku pergi ke sekolah untuk menemui bapak kepala sekolah SMPN 4 Kintamani di Songan. Ya ini minggu, aku tak salah baca kalender. Hehe.. kebetulan hari ini anak-anak masuk sekolah untuk gladi bersih, sementara hari ini aku membawa Made Sani, Badeng, Arniti, dan Simpen untuk mendaftar sekolah.

pendaftaran sekolah, 11 juli 2010

Sehari sebelumnya kebetulan aku tlah lebih dulu mengunjungi bapak Nengah Selamat di rumahnya untuk memberitahukan perihal terlambatnya anak-anak ini untuk mendaftarkan diri karena alasan tak sampainya informasi kami bahwa mereka telah kami siapkan uang untuk pendaftaran sekolahnya. Dan kebetulan pak Selamat memang seorang figur pendidik yang baik dan beliau tak mempermasalahakan sama sekali keterlambatan ini.

”Datanglah ke sekolah esok, silahkan mereka bisa langsung gabung dengan teman-temannya dan nanti saya bantu untuk mengurusi perihal berkas-berkas pendaftaran di tata usaha.”

malam harinya, aku mengajak deborah untuk menemui anak-anak alam di belandingan. sekalian mengecek keadaan anak-anak perempuan yang tadi pagi tak aku temui di sekolah SMP. "Bukannya di daftar beasiswa kami ada 12 anak, tapi kok yang muncul cuma 6 anak dan itupun yang laki-laki saja. sisanya dimana???" pikirku.

berkunjung ke rumah made badeng memberi uang pendaftaran, tas sumbangan dan sumbangan pakaian sekolah dari atik

dan ternyata, 2 minggu itu aku lupa dan hampir saja melewatkan satu janji kemarin lalu. mengurusi sekolah anak-anak. dan sepertinya informasi itu belum sampai kepada semua anak. hingga 4 anak perempuan tak tahu menahu dan memutuskan untuk tak melanjutkan sekolah karena tak punya biaya. sedang made ayu, dengan usaha keras kakaknya bisa mendaftar sekolah. sementara made ariani memang tak bisa kami selamatkan karena orang tuanya menginginkan ia kerja ke denpasar dan menjadi pembantu rumah tangga. (ada kalanya kita tak bisa berbuat apa-apa!)

oke, semalam aku mengunjungi rumah wayan badeng, made sani, arniti (yang kebetulan menginap di bubung) dan aku hanya menyampaikan pesan lewat orang tuanya di desa, serta terakhir ketut simpen yang tinggal di banjar bantas, sekitar 1 kilometer selatandesa belandingan. hingga malam itu semua orang tuanya mengizinkan anak-anak perempuan mereka SEKOLAH!

Dan sekali lagi aku harus bersyukur kembali. 2 jam waktu yang aku gunakan untuk mengunjungi satu-per satu rumah mereka benar-benar telah merubah jalan sejarah. Bukan sejarahku, bukan sejarah kita, tapi sejarah hidup bagi 4 anak perempuan dari 6 anak perempuan kelas 6 SDN Belandingan ini.

hari pertama sekolah, senin 12 juli 2010

tadi pagi mereka semua tampak sumringah. bangun sepagi-paginya berangkat ke sekolah beramai-ramai berjalan sekitar 1 jam menuruni bebukitan di barat desa menelusuri jalanan berpasir bekas sungai kering.

setidaknya keempat anak perempuan inilah yang tlah menjadi buah dari keringat kita, bunga dari tunas-tunas yang kemarin kita pupuk, jejak-jejak tangan kita, hasil dari pengorbanan kita, jawaban dari waktu yang tlah kita beri dan segala yang kita curahkan buat mereka.

Empat anak (ditambah dengan anak-anak kelas 6 SDN Belandingan lain yang kini bisa melanjutkan sekolah ke SMP seperti mimpi mereka) ini adalah harapan masa depan desa mereka. Empat anak ini semoga kelak akan melahirkan generasi-generasi terbaik untuk Bali dan Indonesia dalam kehidupan seperti apapun yang kelak mereka lalui (aku tak akan memprediksikan masa depan, lebih baik mencurahkan tenaga untuk hari ini) seiring perjuangan hidup mereka hingga mencapai tolak awal menggapai mimpi ini setidaknya memberi kesan buat jalan hidup mereka seterusnya.

Sepulang sekolah seperti biasa, mereka tetaplah anak-anak alam. Anak-anak yang hidup di alam. Anak-anak yang tingal di kampung terpencil dengan orang tua yang secara ekonomi kekurangan. Dan anak-anak ini tetap akan bekerja seperti biasa, menyabit rumput, menjaga adik mereka, mencari air di bak penampungan.

Terimakasih Garuda Bali atas beasiswa untuk anak-anak kelas 6 SDN Belandingan dan mbak dewi utari project leader beasiswa anak alam serta doa semua kalam, jejak tangan kita tak sia-sia. jejak tangan kita telah berbuah HIDUP! Jika saja semakin banyak orang mau berbagi untuk ribuan hidup anak-anak yang lain???


bersambung…


sekeranjang cinta,

Pande
basecamp anak alam songan
malam ini
13/7/2010
5:02 AM

Green Camp III 'Green camp di sebuah tempat terindah di bumi' (Day 1)




dan kami tahu anda bosan dijejali rasa yang sama...
SID

Day 1 (pagi-sore)


Hari ini aku harus mengakui bahwa Green Camp telah menjadi salah satu kegiatan favorit kami. Sebuah kegiatan yang membuat kami semua bisa bermain, belajar, bernyanyi bersama-sama berada di alam di sebuah ‘tempat yang tak tercatat dalam peta’ desa Belandingan, di atas kaldera danau batur. Barangkali hanya saat Green Camp, Berbagi dan Menginspirasi, dan Rumah Baca Anak Alam lah kegiatan kami yang memungkinkan kita untuk berada disini bersama-sama lebih lama. Dan hanya Green Camp yang memungkinkan kita untuk menjelajah alam indah ini seperti hari ini.

Sejenak menengok lagi ke belakang, setiap camp telah memberikan pengalaman dan kesan yang berbeda-beda kepada kami. Saat Camp I bersama geng lebay piranha, kawan-kawan anak alam yang solid dan ‘passionate’ dengan banyak permainan yang kita lakukan bersama anak-anak yang sangat mereka sukai. Dan dalam Camp ini pula kita berkesempatan membuat api unggun di pinggir danau hingga pagi dan berkeliling danau batur sisi utara dengan jukung.

Kemudian Camp II dimana genggonk yang kali itu ikut berbagi selama dua hari dan sekaligus memberikan banyak sumbangan tas, peta dunia, paket alat tulis dan tentu pelajaran tentang kesehatan untuk anak-anak di SDN Belandingan. Dan kebetulan pohon lengkeng di basecamp sedang berbuah jadi kita bisa berpesta legkeng hingga mabuk. :) Dengan ’passion’ yang juga tak diragukan lagi.

Dan kini ini Green Camp III, ada sesuatu yang berbeda?

Sabtu pagi ini semua kawan-kawan yang ikut Camp sumringah, khususnya bagi Nia, Widhi, Febri dan tentu Radha dan Tom, karena ini adalah pengalaman Camp mereka yang pertama kali dan tentu juga kunjungan mereka untuk bertemu anak-anak yang pertama kali juga. Sementara beberapa kawan yang lain yang telah mengkonfirmasi keikut sertaan mereka sebelumnya akhirnya berhalangan karena alasan tak diizinkan oleh pacar. Gpp, seperti biasa. Semesta telah mendesain semuanya.

Aku harus berucap syukur yang kesekian puluh atau bahkan ratus kali kepada IA (kau sebut apapaun ia yang menciptaku dan bumi ini.) Karena hingga kini semua kegiatan kami terbebas dari hujan dan begitu juga pagi ini. Sebelumnya waktu pramugari garuda itu ‘terbang’ dengan pick up kami padahal di Denpasar mendung, tapi sehari perjalanan kami bebas hujan. Dan pagi ini cuaca di denpasar dan bilangan Renon cerah!

Kebetulan hanya Nia dan Radha sebelumnya telah ikut beberapa kegiatan Anak Alam terkahir bertemu dengan anak-anak alam tunon Singakerta Ubud, tapi kali ini, ini adalah anak-anak alam ‘betulan’ mereka yang minum air hujan. Mereka yang ke sekolah pakai sandal jepit. Mereka yang tak punya tas. Mereka yang tak pernah mandi. Anak-anak alam desa Belandingan.

Tepat jam 9 pagi, Febri, Nia dan ada juga Eka Dewi -yang kali ini tak berkesempatan hadir namun menyempatkan diri bersua dengan kawan-kawan dan membawa sumbangan pakaian bekas dalam tas kresek untuk dikirimkan ke Belandingan-, telah berkumpul di Warung Be Pasih. Sementara aku datang sedikit terlambat karena disibukkan oleh urusan per-burung-an di pasar burung satria, membeli burung tekukur untuk nanti kita lepas di pinggir danau batur bersama-sama. Kemudian selang 15 menit tampak Mbak Dewi Utari datang mengunjungi kami (n.b. ia sendiri adalah pemilik Warung Be Pasih hehe...) Hingga dekat jam 10:00 tinggal Rani yang belum hadir karena masih ada urusan tiket untuk kembali ke Jakarta keesokan harinya.

Kita memutuskan untuk berangkat duluan, sementara semua barang-barang kita tinggal untuk diangkut oleh mobil Rani. Dengan konvoi sepeda motor – catat: sepeda motor / bukan mobil – kali ini kita memilih untuk melewati jalan payangan saja. Dalam kegiatan sosial seperti ini kita tetap kerja tanpa mobil dinas, kan? Kami bukan anak mami.

Nah, barangkali karena Nia memiliki bobot badan ’overweight’ hehe... (tapi manis kok Nia cup..cup..cup...) dan ditambah Widhi yang boncengan bersamanya memiliki tambahan berat ’banyak dosa’ motor mereka kempes di daerah Singakerta. Namun barangkali karena kita akan berangkat untuk kerja sosial, maka ujiannya diringankan, motornya Nia kempes persis di depan tukang tambal ban. Dan kebetulan juga di sebelah bengkel itu ada warung nasi. Maka kesempatan ini aku gunakan untuk beli nasi saja, sarapan pagi.

Segera setelah semua motor siap dan perutku juga terisi kami melanjutkan perjalanan hingga jam 12 kita sampai di Basecamp anak alam. Tentu ada yang tak boleh dilewatkan sebelum tiba di basecamp, setidaknya 1 kali photo session di salah satu spot favoritku. Dan inilah aksi ’terbang’ mereka. Klik!



Tiba terlambat di basecamp, mengurangi waktu kami untuk berleha-leha. Hanya sempat meneguk teh botol Sosro dan kue-kue kecil, dan segera berbagi kamar di basecamp, kami bergegas melanjutkan perjalanan kami menuju belandingan.

Persis di jalanan tanjakan pertama meunuju bubung pegat, HP-ku berdering. Ternyata Bli Kodrat Bunute menelepon dan menyampaikan bahwa ia telah sampai di belandingan dan tentu ia was-was karena melihat di wantilan tak ada kami, ”De, kamu dimana? barangkali saja saya salah jadwal?” pikirnya. Dan aku beritahu bahwa kami akan segera sampai tak lebih dari 5 menit, ia kembali tenang dan semangatnya kembali bulat untuk membagikan 100 pax makanan nasi kotak yang di dalamnya telah berisi chicken nugget, makanan termewah bagi anak-anak alamku. Tentu juga Aqua gelas, lupakan air hujan hari ini, Nak!

Dan inilah teman, inilah yang kami tunggu-tunggu, tikungan terakhir di balik rerimbun bambu dekat wantilan. Adrenalinku naik. Aku segera berdiri dan mengepalkan tangan sambil mengendarai sepeda motorku, sementara febri yang aku bonceng pasrah aja. Ketika motor kami lewat di jalan sebelah wantilan, mereka semua berteriak lantang! ’Hiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!’ Dan aku membalasnya sambil mengepalkan tangan dengan teriakan kencang ’yeaaaaaaa................! haloooo........!” fiuh... you rock kids!

(Inilah bahan bakar rahasiaku selama ini, teriakan anak-anak ini. Ia telah menjadi doping selain latar alam yang cantik yang mengelilingin belandingan.)

Aku segera menghampiri Bli Kodrat dan bersalaman dengannya, dan juga kawan-kawannya yang lain, dan aku memperkenalkan kawan-kawan anak alam yang ikut serta hari itu: Nia, Radha, Febri, Widhi, Tom. Dan bergegas aku menyuruh anak-anak untuk membantu Bli Kodrat menurunkan nasi kotaknya, beserta sumbangan dari teman-temannya dari komunitas VW Jakarta yang ikut serta hari itu, menyumbangkan beras, mie, pakaian bekas dan alat-alat tulis. Anak-anak berlarian menuju ketiga mobil aneh yang parkir di depan wantilan siang itu.

Setelah sebelumnya kita kedatangan ’si kodok’ yang disopiri oleh 2 orang cewek cakep dari semarang waktu 14 Februari ulang tahun Anak Alam, kini kita kedatangan saudara kandungnya yaitu VW SAFARI dan 2 COMBI. Anak-anak tak terlalu antusias dengan mobil aneh ini, tapi tidak bagi aku. Mobil SAFARI warna jingga itu adalah mobil impianku. :)

Seperti biasa, kami mulai ’bakar’ semangat semua orang yang hadir di wantilan siang itu dengan lagu wajib kami: Anak Alam ’... duhai kawan semua anak alam desa belandingan, mari kita sama-sama bernyanyi sambil bergoyang, agar hidup senang, gembira, bahagia....’ ketika tiba pada bait ’o anak alam janganlah kita malas, malas itu tak ada gunanya, mendingan kita rajin belajar!’ mereka berteriak semakin kencang.

Semangat mereka sama sejak dulu hingga kini, walau terkadang ada juga waktunya turun dan aku harus memutar otak untuk menaikkannya lagi.

Tak lama berselang Rani datang bersama Gusde, Gustu, dan 2 orang kawannya tentu satu kardus besar dan beberapa kardus lain sumbangan dari kawan-kawan kerjanya di Energy Consulting Indonesia jakarta yang ia bawa dengan pesawat. (Aku harus memberi penghargaan setinggi-tingginya atas semua semangatnya hingga harus menerbangkan baju bekas ini ke Bali, sementara sebagian besar kawan-kawan kita di Bali banyak yang hanya menjadi penonton saja walaupun mereka saban bulan bisa beli baju seharga ratusan ribu. Cih... )

Pembagian makanan siang itu berjalan tertib. Seperti biasa anak-anak alam telah terlatih tertib sejak awal. Namun ada yang tampak ganjil ketika mereka selesai makan dan membuang bungkus nasi itu bertumpukan, tampak sosis dan chicken nugget itu mereka tak makan dan mereka buang. Aku berpikir sejenak, apa yang aneh dengan makanan ini? Ternyata mereka lebih merasa bahagia mendapatkan nasi daripada chicken nugget. Perkiraanku di awal meleset. (oke, ini akan jadi koreksi kami. Hehe..)

Setelah kenyang, kita bermain dan bernyanyi lagi. Namun, berhubung Rani dan Bli Kodrat dan kawan-kawannya tak bisa ikut menginap dan hanya memiliki waktu hari itu saja bersama kami, maka sore itu kami melepas mereka kembali ke Denpasar dan Ubud bersama-sama. Dengan sebelumnya kita membagikan bantuan mereka bersama-sama di depan wantilan, sementara bantuan pakaian beas layak pakai masih harus kami sortir kembali.

Rani menyempatkan diri memberi pesan kepada anak-ana itu sebelum kembali pulang untuk rajin belajar dan salam perpisahan sekaligus keinginan untuk bertemu segera di kemudian hari. Dan ia beserta robongan segera menghidupkan mobil avanza hitamnya dibalas lambaian tangan anak-anak alam.

”Semangat belajar ya,....” bli kodrat menyusul mengacungkan tangan dari VW safari jingganya, sembari berlalu dengan pelan meninggalkan wantilan yang dibalas salam oleh semua anak-anak alam. (Aku sangat suka dengan foto yang kita ambil saat ia dan anak-anak saling mengepalkan tangan. Sebuah footage berharga kami.)



Hari sudah menuju jam 3 sore, khusus untuk Camp III kali ini kami memang tambahkan beberapa kegiatan baru satu diantaranya adalah melihat ladang anak-anak di balik bukit. Aku memilih bubung Batu Barak, ladang milik Made ratih untuk dikunjungi. Ada alasan khusus aku mengunjungi ladang Made Ratih, karena jalan melintasi ladang itu telah membuatku takjub beberapa kali sebelumnya.


Semua kawan-kawan peserta camp berbaur dan merasakan semangat dan kegembiraan anak-anak. Keseharian anak-anak. Alam indah milik anak-anak itu (note: 100% NOT FOR SALE! Dan jangan pernah mimpi loe f*cking st*pid investor untuk membeli alam ini, menanam beton, mencerabut pohon cemara ini. TIDAKKAH KAU MERASA CUKUP MEMAGARI PANTAI DREMLAND, SEMAWANG, TANAH LOT, BUYAN, SANUR, dll.!?)

Di puncak bubung aku bersua dengan seorang anak kecil yang baru kali ini aku temui yang belakangan aku berkenalan dengannya, ia adalah Kari Samiasih anak kelas 6 SD 1 Songan, beserta kakk, adik, ayah dan ibunya menenteng keranjang rumput bersiap untuk menyabit rumput di sekeliling bubung. Aku mendekati mereka dan menyempatkan diri untuk bertanya tentang sekolah anak yang aku kira- laki-laki ini yang ternyata perempuan tulen.


Ia kini telah tamat SD dan tak diizinkan melanjutkan sekolah ke SMP oleh ayahnya karena harus membantu ayahnya untuk menyabit. Dengan banyak sekali usaha, tentunya akan aku carikan beasiswa dari Program Beasiswa Anak Alam ayahnya luluh dan bahkan berbalik bersemangat. Ya, faktor ekonomi keluarga telah menjadi pengendala terbesar bagi 3000 anak-anak alam kami untuk melanjutkan sekolahnya selama ini. Dimana mereka diharuskan membantu orang tuanya untuk menyabit, menyangkul atau menjadi buruh tani membersihkan gulma di ladang bawang di perkebunan milik warga desa Songan di pinggir danau.

Jam 5 sore kami memutuskan untuk pulang, walau kami belum sempat sampai hingga ke ladang Made ratih yang harus menuruni balik bukit lagi, karena kawan-kawan kita ingin mandi air hangat alami di Toya Bungkah sore ini. lagi pula dari puncak bubung ini mereka sudah tahu keadaan ladang-ladang, anak-anak, dan setidaknya memiliki gambaran kehidupan mereka sehari-hari.

“Nak, sampai bertemu nanti malam!” kami ber enam melambaikan tangan dan kembali ke basecamp dengan 3 sepeda motor kami. Kawan-kawan menyimpan sesungging senyum dan wajah lelah namun cerah.

bersambung…
7:30 AM

GREEN CAMP 'di sebuah tempat terindah di bumi' (prolog)




"aku ingin terbang, aku ingin berlari."
wayan kerani anak alam

Pada suatu hari di bubung pegat aku melihat seorang anak kecil yang sedang menyabit rumput, aku menghentikan langkahku, menghamparinya dan menyapanya. Lima tahun berlalu, suatu pagi aku bertemu kembali dengan anak itu yang sedang berjalan menuruni jalanan bukit untuk menuju ke sekolahnya. Saat itu ia telah masuk Sekolah Dasar. Aku sempatkan bertanya “Dik, cita-citamu apa?” dan ia menjawab sumringah “Mau menjadi tukang mencabit [menyabit] kak!” ”....mmmm... oke...” gumamku dalam hati. 20 tahun berselang aku bertemu lagi dengan anak itu dan kini ia telah dewasa. Ia masih mengenaliku, “Kak Putu, anak alam? Apa kabar kak....?” Dan aku bahagia ia masih mengingatku dan tentu lebih bangga kini ia telah memiliki peternakan sapi dan memelihara lebih dari 1000 ekor sapi di ladangnya di atas bukit bersama warga desa! Dan darinya pula aku medapatkan kabar bahwa teman-temannya yang lain telah ada yang menjadi dokter, perawat, dan seorang teman dekatnya Wayan Kerani ia kini telah menjadi pengusaha telur ayam kampung. Aku masih ingat cita-cita mereka dulu saat aku tanyakan mereka kala itu di wantilan. Tentu aku juga masih ingat saat sama-sama kita manjat pohon nangka di sebuah kebun milik seorang anak dalam hujan, lalu berpesta di pos milik kelompok tani Sari Karya sembari membuat api unggun dari ranting kayu cemara.

*

Di halaman wantilan, dalam lingkaran penuh anak-anak ini merangkaikan tangan dan membiarkan kami berada di tengah, (tentu mereka tak sedang menonton sabungan orang) mereka dengan seksama mendengarkan setiap kata yang kami ucapkan, setiap pesan yang diantaranya kami selipkan, setiap percik api yang kami pantik untuk membakar semangat mereka, anak-anak alam.

Aku teringat kembali kala malam tahun baru lalu, dengan pijaran ratusan kembang api yang menerangi langit malam belandingan, aku membacakan sebuah puisi Rabindranath Tagore yang aku rubah di sana-sini agar puisi itu lebih gampang dicerna pesannnya oleh anak-anak, sebuah puisi tentang mimpi dan seorang teman. Tentang harapan dari atas bukit. Tentang kemungkinan apa saja yang bisa terwujud.

Dan malam ini kesempatan itu terulang untuk yang kedua kali. Kutipan cerita di atas, ’seorang anak kecil yang kini telah memiliki peternakan sapi dengan 1000 sapinya’, sekali lagi merupakan rekaan hasil dari sebuah spontanitas, saat aku harus kembali membuat akal-akalan, memanasi malam dingin itu dengan cerita heroik sederhana yang pemerannya adalah mereka-mereka juga, dan keluarlah cerita ’Bermimpi’ tersebut. (Ada pelajaran berharga kita bisa petik bahwa selain pekerja seni dan dalam industri kreatif, bahkan bagi seorang pekerja sosial dan kemanusiaan pun juga harus memiliki kreatifitas yang tinggi. Kreatif adalah salah satu bibit yang harus terus kami tumbuhkan.)

”Dik, jadi apapun mimpi kalian, bahkan jika itu hanya ingin menyabit, berpimpilah! Tak salah!”
”Dan 20 tahun lagi saat kak Putu bertemu kalian dan saat itu kalian telah menjadi orang sukses tentu kak Putu akan bangga, tentu juga kalian kan?.
”Dan saat itu kalian boleh melupakan kak Putu dan kakak-kakak yang lain yang pernah datang bertemu kalian. Namun satu hal yang tak boleh ’dan sangat tabu’ untuk kalian lupakan, kalian harus terus membantu adik-adik kalian yang lain. Seperti kami mengorbankan banyak hal buat kalian.”
”Itu tugas kalian!”
”Kalian dengar!”
”Karena kak Putu dan kakak-kakak yang lain juga harus membantu teman-teman kalian di kampung yang lain.”
Mereka terdiam membatu mendengarkan pesanku masih dalam posisi merangkai tangan, dalam dingin, di bawah naungan kubah langit yang diselimuti ribuan gemintang di ketinggian desa Belandingan, sebuah desa 'yang tak tercatat dalam peta.' Sementara aku berkeliling di dalam lingkaran.

”Jadi tugas kalian adalah harus berani apa......??????”
”BERMIMPI!” mereka semua menjawab dengan serempak dan kencang.

(oke, malam ini sudah mulai panas dan aku senang!)



bersambung...

foto lebih banyak

8:01 PM

GREEN CAMP III : Aku ingin terbang! (aku ingin bernyanyi.)



"Kami percaya bahwa setiap individu bisa membuat perubahan kepada lingkungan hidupnya. Ini tergantung pada masing-masing dari kita untuk menggunakan waktu sebaik mungkin membantu menciptakan bumi yang lebih indah.”
cinta alam anak alam

INVITATION:

GREEN CAMP III (YOUTH LEADERSHIP CAMP ANAK ALAM)
[mengajar anak-anak alam, bersihkan danau dari sampah plastik,
pelepasan burung di alam liar]
Hari: Sabtu - Minggu
Tanggal: 8 - 9 Mei 2010
Berangkat: pkl. 08:00 kumpul di Warung Be Pasih, Jl. Pemuda III/24 Renon - Denpasar, yang lain bisa berangkat dari tempat tinggal masing-masing.
Tempat Camp: BELANDINGAN 'sebuah tempat yang tak tercatat dalam peta'
Contact:
Pande : 0817 265028
Nia: 081999819090

Green camp anak alam adalah salah satu kegiatan rutin Komunitas Anak Alam diantara belasan kegiatan-kegiatan lain kami. Setelah sebelumnya kita telah memberi kesempatan beberapa kawan anak alam kita untuk mendapatkan salah satu pengalaman terbaik dalam hidup mereka dalam Green Camp, kini giliran kalian untuk ikut menjadi bagian dari Green Camp III Anak Alam.

Green Camp adalah sebuah kemah sosial [kemah: bukan saja berarti menginap di tenda di alam terbuka] dimana kawan-kawan anak alam melakukan kerja sosial di kampung tempat aktivitas anak alam, bersosialisasi dan melakukan aktivitas sosial semacam: mengajar di sekolah, bertukar budaya, konstruksi, dll.

Tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan kesempatan berinteraksi dan berbagi pengalaman antara kawan-kawan anak alam dengan anak-anak alam, dengan tinggal bersama anak-anak. Kalian semua akan saling belajar. (ya, kalian akan juga belajar tentang hidup dari anak-anak alam).

Green Camp minimal dilakukan selama 2 hari (1 malam) dan biasanya kami pilih waktu akhir pekan agar memungkinkan lebih banyak kawan-kawan anak alam yang bisa ikut kegiatan ini. Kita akan berangkat bareng di pagi hari dari denpasar, atau tempat lain dimanapun kawan anak alam tinggal.

Hari pertama akan kita habiskan dengan mengajar dan bermain dengan anak-anak di belandingan. Setibanya kita di basecamp anak alam di Songan, kita akan berbagi kamar dan segeranya kita menuju ke Belandingan. Untuk Green Camp III masih ada kemungkinan kita akan menginap di wantilan & balai desa belandingan. kedua alternatif itu adalah pilihan sesuai dengan keinginan sebagian besar peserta camp nanti.

Sementara hari kedua, disisipkan program 'youth leadership' dengan acara trekking, melintas danau dengan perahu, pembersihan sampah plastik di pinggiran danau batur, dan khusus untuk Green Camp III ini kita tambahkan pelepasan burung di alam: aku ingin terbang, aku ingin bernyanyi. (silahkan menyumbang 1 burung cerucuk, bisa dibeli di pasar burung satria.) ini hanya pesan: bahwa alam yang bebas jauh lebih cantik daripada alam yang kita pangkas sesuai dengan keinginan kita, apalagi ditanami beton!

Masing-masing peserta akan mendapatkan sertifikat green camp, dan tentunya akan mendapatkan pengalaman yang tak ternilai harganya. Silahkan bersiap dan segera konfirmasi keikut sertaan kalian.

*Persiapan: karena di kaldera danau dingin waktu malam dan juga kita akan trekking di pagi hari, jangan lupa bawa jaket, sepatu, dan tentu uang untuk belanja kalian disana. hehe. dan kalau bisa bawa juga sumbangan pakaian bekas layak pakai, buku tulis, alat tulis, buku bekas untuk disumbangkan ke anak alam (tak diharuskan.) :) o ya, yang bisa main gitar jangan lupa bawa gitar. buat para sponsor dan partner anak alam silahkan kirimkan logo kepada kami, atau bila punya banner, silahkan dibawa juga. we are very happy to support you too. :)

dipersilahkan share note ini kepada kawan-kawan yang lain.

SEE U SOON WITH SMILES ON.

salam anak indonesia,
salam anak alam

pande
denpasar
Mei 1 2010
please be prepare.

"Berkaryalah ketika kita masih muda,
setelah kesenangan usia remaja, dan beban usia tua,
bumi akan memeluk kita."


Green Camp I
Green Camp I
Green Camp I
Green Camp I
Green Camp I
Green Camp II
Green Camp II
8:20 AM

Anak Alam brings joy to children of Blandingan (the Jakarta Post, 22/4/2010) pp.23






It was arguably the most touching birthday party Kadek Purnami had ever had.

She struggled to fight her tears back as she looked at a group of around 50 children sitting before her. The children were dressed in worn-out clothes and most of them apparently hadn’t taken a bath for quite some time. Water is a precious commodity in that village and taking a bath regularly is a luxury most of the villagers cannot afford.

Standing next to Purnami was Pande Putu Setiawan, the founder of Anak Alam Community (www.anakalam.org). The children obviously adored this tall, dark-skinned young man. When Pande asked them about their day at school, the children answered spiritedly.

Pande turned to a little girl in the corner and asked her whether she would continue going to school. The girl, who was carrying her kid brother on her waist, had just finished her elementary education. In an almost inaudible voice, the girls answered.

“I want to enroll in the junior high school, but I don’t think it will be possible. My father will not allow me to [continue going to school],” she said as she tried to comfort her kid-brother.

At that point, Purnami couldn’t hold her tears. She turned her face away in a vain attempt to hide the tears.

Celebrating one’s birthday is supposed to be joyful affair. Yet, this year the native of Padangtegal, Ubud, wanted to celebrate her 29th birthday in a different, more meaningful way. She asked her friends to donate books, foods and used clothes for Anak Alam Community. Purnami admires the works that Pande has done for the children through his Anak Alam Community.

“He is so passionate about helping the kids and I want to do my share,” Purnami said.

On a cloudy Saturday afternoon, Purnami and his friends embarked on a trip from Ubud, that would eventually bring them face with face with the less celebrated reality of Bali, a reality comprises of poverty and suffering.

Upon reaching Kintamani, a tourist destination popular for its scenic view, they descended to Lake Batur, the giant caldera of a mighty volcano in ancient times. The villages surrounding the lake are populated by the descendants of proud warriors, whose rebellious nature was the source of constant headaches for the occupying troops of the might Majapahit empire in the 14th century.

The decent road ends in Songan, but their trip didn’t end in that village, where Pande was born and his father is a well-known and well-respected public medical officer.

The small group passed Songan, criss-crossed patches of cultivated land where the locals grow shallots and other seasonal plants, their primary source of income.

The road became narrower and steeper but Pande, standing on the open back of mini-truck, insisted that they must see the children.

“I have told the children we will be here. It is very difficult to bring them together because most of the time they will be scattered outside the village, helping their parents tend the farm or collecting firewood,” Pande said.

The group finally arrived at Blandingan, a small village perched on the northern rim of Lake Batur. Pande called Blandingan “one of the most underdeveloped villages in Batur”, Brick houses are a rare sight, most of the houses have woven bamboo walls, dirt floors and thatched roofs.

“There are around 300 households in this village, most of them shallot farmers,” an old man with untrimmed moustache and dirty clothes said, also the secretary to the village chief.

The awaiting children gathered at the village hall and took turns performing before their guests. Some recited poems, a little girl sung a popular love song, others performed a play.

“They are talented, hard-working children. The main problem is they don’t have access to education, the only thing that would enable them to break free from the bounds of poverty,” Pande said.

“There are around 3,000 children in villages spread along the rim of Lake Batur. So far, we have only managed to reach 200 children in Blandingan,” he sighed.

Pande, who holds a master degree, has traveled abroad and published a literary trilogy, believes that bringing education to these children is the only way to give them a better future.

One year ago he founded the Anak Alam Community, an organization of concerned individuals, who have put together various educational programs for the Blandingan children, from an English course to a photography workshop. Anak Alam now runs a small children library in Songan and is preparing to launch a computer course.

“All those programs were made possible by donations from generous individuals and institutions across the island. Several people have came here, spent two weeks with the children, teaching them the skills they use in their profession and in turn learning from the children about the various aspects of this beautiful place,” Pande said.

Now, concerned young men in Sumbawa, Riau and Semarang have established their own Anak Alam Community.

A thin curtain of mist descended upon Blandingan when the group prepared to leave. The children shouted and yelled when the car roared. In unison they screamed “I love you”. Purnami silently waved at them.

“This is the most meaningful birthday I have ever had. I will be back,” she said.



trims bli wayan juniartha
: pande
8:18 AM

Bintang Paling Terang!


"kita akan taklukkan gemintang, nak!"
untuk Wiranti


Sungguh ini adalah hari paling terhormat bagiku, bertemu dengan kalian, melihat kalian bermain, melihat kalian tertawa, dan tentunya bertemu dengan gadis ini Ni Ketut Wiranti, ia yang aku menangkan dalam lomba puisi pagi ini. Bahkan aku jauh lebih merasa terhormat menyaksikan penampilanmu nak, di depan mataku daripada gelar dosen di universitas yang sepertinya sebentar lagi aku sandang.

Semalam aku bergadang hingga jam dua menuntaskan puisi 'imaji ungu'-ku, dan hari ini pagi-pagi sekali aku harus bisa bangun. Maklum jam 9 kalian sudah mulai lomba di belandingan sementara kakak masih tidur nyenyak di denpasar. maka tak pelak jam weker aku setel jam 6 pagi, itupun aku kelewatan hingga jam 8 baru bangun.

tanpa mandi dulu (mahaf), namun menyempatkn meneguk segelas air putih, aku segera memanaskan motor anak alamku yang setia, untuk aku geber ala fast and furious mengejar jam 9 waktu belandingan. tentulah ini mustahil bin ajaib, tapi setidaknya aku coba menarik gas sekencang-kencangnya.

kali ini aku mengambil jalan lewat kintamani, kemudian belok kanan di penulisan untuk melewati sisi utara kaldera, melintas di desa pinggan dan akhirnya aku tiba di belandingan tepat jam 10:00. ya, tepat terlambat 1 jam. Namun tadi pagi aku sudah telepon dodik untuk memulai acara olah raga lebih awal saja, sedang yang akademik dijadwalkan belakangan. Dan taktik ini berhasil sempurna.

Baru tiba, beberapa anak-anak melihatku dan seperti biasa mereka menghampiriku dan bertanya, "kak, kok baru datang!!!!!!" Sementara, aku segera bergegas mencari Dodik agar segera mempersiapkan lomba akademik yang hari ini dilaksanakan.

Ya, hari ini karang taruna desa belandingan mengadakan lomba kegiatan anak-anak serangkaian ulang tahun mereka, dan khusus acara anak-anak ini tentu mereka harus kami bantu. Ini adalah tanggung jawab kami. 100%. Kami bantu mereka finansial, hadiah 200 lembar buku tulis, 100 penggaris plastik, sabun, pasta gigi, pensil, bolpoin, rautan yang tentu kesemua itu adalah sumbangan kalian Kawan Anak Alam yang sangat saya banggakan pula. Dan tak lupa sertifikat untuk hadiah. (biar karang taruna itu saja yang menandatangani sertifikat ini, kami sudah menandatanganinya dengan HATI.)

Kali ini kami mengadakan lomba akademik dan olah raga. lomba akademik dibagi menjadi 4 yaitu: 1. Menulis dan membaca cerita mini. 2. Menulis dan Membaca Puisi. 3. Menulis dan membaca Pantun. 4. Menjawab soal MIPA. Sementara olah raga dibagi menjadi 2 yaitu: futsal dan bola volly tentu ala anak-anak.

Kali ini (hei Kawan... kita telah meretas sejarah baru!), anak-anak alam kita bertambah. Legiun anak alam bertambah dengan kehadiran anak-anak dari SDN 1 Songan, SDN 3 Songan, SDN 1 Pinggan, SDN 4 Sukawana yang kini menjadi anak-anak alam kita, anak-anak yang tentu dengannya kita akan berbagi hidup.

Namun ada satu hal yang paling membuat hari ini menjadi spesial. Ia adalah anak ini. Ia adalah Ni Ketut Wiranti anak kelas 5 SDN 1 Songan. Ini untukmu nak: " Nak, kau telah menjadikan hari ini hari terindah. Menyaksikan penampilanmu hari ini, kakak seperti terlahir kembali! Kakak janji, kau akan ada di hati kakak sampai kapanpun. Kelak kakak menikah, kau adalah anak kakak juga!"

Anak ini adalah pemenang lomba puisi. Ia membacakan puisi dengan tema guru dengan ekspresi yang tak aku prediksikan di awal akan dipentaskan oleh anak-anak alamku. Lihat air matanya, ia menangis. Ia menangis. Dan ini menangis betulan. Penghayatan yang sangat luar biasa, dilakukan oleh seorang anak yang juga sangat luar biasa.

Berbincang-bincang dengan guru-gurunya, "memang anak ini adalah anak yang berprestasi", kata mereka. baik itu di bidang seni khususnya sastra maupun di bidang sains dan sedang disiapkan untuk olimpiade sains.

Sekali lagi, kakak bangga denganmu. Karenanya, kakak tak kan pernah pergi dari kalian.
Dan kawan, maukah kau menjadi keluarga baru untuk Wiranti?



cinta,
pande
belandingan
25 maret 2010
didedikasikan untuk seorang anak dengan bintang paling terang yang pernah aku temui.

tidurlah nak! esok kita bercerita lagi. yang nyenyak...
seperti juga kakak...
8:15 AM

Kartupos dari Surga: Cinta memberi, bukan menerima


CINTA : MEMBERI, BUKAN MENERIMA
i nyoman armada (10)

armada bersama adiknya
Ia yang bekerja menggunakan tangannya adalah buruh.
Ia yang bekerja menggunakan tangan dan pikirannya adalah pekerja.
Ia yang bekerja menggunakan tangan, pikiran dan hatinya adalah seniman.
-Louis Nizer
Nama saya I Nyoman armada. Nama ayah saya I Made Mudita umur 56 tahun nama ibu saya Ni Ketut Yem umur 42 saya punya saudara 6 yaitu: Ni Luh mara, I Made darmawan, I Nyoman Armada, Ni Ketut Budi, I Wayan Brata dan Kadek Anton

Sekarang saya kelas 4 SDN Belandingan. Saya bangun pagi sekitar jam 6 setelah bangun saya membelikan adik bubur di warung Wa Jro Guris. Saya membawa uang Rp. 1000 dan saya membeli bubur Rp. 500 untuk saya bagi berdua dengan adik dan sisanya saya belikan jajan. Setelah beli bubur saya mencuci muka langsung memakai pakaian sekolah langsung pergi ke sekolah. Sampai di sekolah saya mengurus teman yang tugas piket karena saya sebagai ketua kelas. Setelah itu saya belanja ke kantin, setelah belanja bapak guru menyuruh kami sembahyang. Di kelas saya mendapatkan mata pelajaran matematika lalu mengaso setelah itu masuk lagi dapat pelajaran bahasa Indonesia dan lagi dapat PPKN.

Saya pulang jam 12:00, saya mengganti baju terus saya makan dan saya langsung pergi ke ladang di balik bukit untuk menyabit. Setelah itu saya di suruh menjaga adik saya oleh bapak saya. Saya senang menjaga adik karena adik saya tidak suka menangis. Saat menjaga adik, saya membawa dia indeng-indeng (keliling-keliling) di mana saja sampai adik saya menangis. Setelah menangis diberikan ibu saya. Saya lebih senang mendapat tugas menjaga adik daripada menyabit karena saya tidak suka menyabit. Saya pulang dari balik bukit sekitar jam 5 sore bersama saudara saya, ayah dan juga ibu saya. Sampai di rumah saya memberikan ayam makan, mencuci pakaian adik saya sambil saya mandi.
armada sedang menjaga adiknya saat hujan di depan tungku api

Kakak saya I Made Darmawan berhenti sekolah tahun lalu karena orang tua tidak punya uang untuk menyekolahkan. Sekarang pekerjaan sehari-hari kakak saya menyabit dan mencangkul kerja menanam tomat dan itu agar mengasilkan uang. Untuk makan ia mengambil air di bak air akan di gunakan untuk memasak dan mencari kayu bakar untuk membuat api untuk memasak. Kami memiliki ladang di bubung tamblang dan di pupuan. Kakak saya kerja di situ. Kami punya sapi satu, kakak saya menyabitkan dia supaya besar dan bisa di jual.

Mulai 2 bulan lalu kakak saya bersekolah kejar paket B di gedung SDN Belandingan Kakak saya pergi ke sekolah jam 1 sore dan pulang jam 5 sore. Sekolah kejar paket tidak bayar dan mendapat buku pelajaran dari bapak guru.

Kakak saya yang lain bekerja di songan sebagai buruh harian mutbut bet bawang (mencabut gulma di ladang bawang) dan dia berjalan kaki ke sana.

Pekerjaan ayah saya mencangkul, menyabit dan meburuh (menjadi buruh tani) ke Songan karena tak punya uang untuk membiayai keluaga. Ibu memasak, setelah memasak ibu saya langsung ke ladang di pupuan untuk mutbutin bet bawang

Cita-cita saya ingin menjadi guru pelukis karena saya bisa melukis di sekolah. Saya senang melukis taman. Jika bisa terus sekolah saya ingin sekolah melukis agar bisa menjadi guru melukis.

Demikianlah cerita saya, terimakasih.

*

Note:

rumah armada di balik bukit
keluarga armada


Menemani Nyoman Armada beberapa hari ini benar-benar membuat aku kagum dengan anak ini, pun juga tak habis pikir, dan ia telah mengajariku pelajaran berharga tentang arti ‘tulus’ dan ‘tanpa lelah’. Waktu itu hanya untuk menemaniku di ladang, sambil menjaga adiknya ia tak makan nasi dari pagi hingga sore, (hanya makan mangga kecil yang ia pungut di jalan dan satu bungkus kecil biskuat cokelat yang aku beri yang dimakan oleh adiknya.) Mereka berdua tak mengeluh sedikitpun ketika menuruni bukit untuk sampai ke desa. Walau aku lihat mereka berdua sudah sangat kelelahan dan tentunya lapar. Setibanya di desa Belandingan, aku membelikan Armada pisang goreng untuk ia makan. Armada tak mau memakannya, ia hanya memberikannya kepada adiknya. Barangkali ia telah dididik untuk tidak suka minta-minta kepada orang lain (bahkan itu dari aku….)

Semalam kami bertemu lagi, seperti biasa ia selalu senang berada dekat denganku. Anak-anak lain sedang main ‘cedar-cedaran’ menggunakan busi sepeda motor dan kulit korek api, sementara aku dan dia memiliki cukup waktu bercerita dan ia bisa menuliskannya dalam selembar kertas dibantu oleh Puspasena. Malam itu ia memberiku hadiah ekstra sebuah lukisan dalam lembar kertas lain setelah ia menyelesaikan tulisannya.
lukisan armada malam itu

Ketika ia memegang pensil, tak ada satupun yang bisa menghentikannya. Teman-temannya pada meledek lukiannya yang katanya aneh, jelek, tak jelas, namun ia tetap melukis dengan suntuk tanpa peduli hingga ia merasa selesai. Namun buatku lukisan ini sangat bagus, figur-figur yang ia lukis memiliki karakter khas Armada.

Aku janji -pada diriku sendiri-, aku akan belikan ia crayon/pensil warna dan buku gambar, (sesekali kanvas dan cat akrilik) agar ia bisa melukis, melukis dan melukis seperti apa yang ia mimpikan.

Aku pastikan tak kan pernah malu sedikitpun (sebaliknya aku bangga.), jika kelak aku akan memajang satu lukisan yang ia buat di atas kanvas ukuran 1 x 1 meter di kamar tamu rumahku, atau di basecamp anak alam, bahwa lukisan itu dibuat oleh anak laki-laki dengan cinta menggunung yang hanya ia curahkan kepada adiknya dan lukisan-lukisannya.

Untuk kegiatan ‘bangun, buka mata, lihat dunia’ hari minggu berikutnya, aku pikir akan ajak ia ke museum NEKA untuk melihat-lihat lukisan. Aku ingin memicu hasratnya dengan karya-karya seniman besar, hingga matanya terbelalak, hasratnya menyala, hingga ia bangga dengan cita-citanya menjadi guru pelukis, dan bahkan mungkin kelak ia menjadi salah satu dari seniman besar itu, dan karyanya terpajang di museum. nothing is impossible.



love,
pande
Belandingan, jan 21
You are absolutely a real HERO for me son……
8:15 AM

Kartupos dari Surga: Tak Kan Lelah Memetik Bintang!

TAK KAN LELAH MEMETIK BINTANG
i nyoman puspasena (14)




Nama saya I Nyoman Puspasena. Nama orang tua saya I wayan Dana umur 36 tahun dan Ni Ketut Purni 34 tahun. Kakak pertama saya bernama I Wayan Urip umur 17 tahun ia membantu ayah bertani dan kakak saya yang kedua bernama Ni Made Asih umur 16 tahun ia berkerja sebagai pembantu rumah tangga di Denpasar. Kakak saya yang kedua jarang pulang dari Denpasar kecuali ada upacara agama. Saya mempunyai dua adik yaitu adik pertama saya bernama I Ketut Darmawan umurnya 11 tahun. Ia bersekolah kelas 6 SDN Belandingan dan adik yang kedua bernama Ni Wayan Kesumasari umurnya 8 tahun ia juga bersekolah sekarang kelas 2 SDN Belandingan.

Saat ini saya bersekolah kelas 3 SMP N 4 kintamani yang ada di Songan. Sekolah saya jauh dari rumah saya kurang lebih 5 kilometer. Untuk sampai di sekolah memerlukan waktu 1 jam. Saya pergi dan pulang sekolah dengan berjalan kaki. Saya berangkat sekolah jam 6 pagi sampai disekolah jam 7 pagi. Disekolah saya mendapat peringkat empat. Prestasi saya menurun dari SD ke SMP. Nilai saya waktu SD sangat bagus dan saya dapat juara 1 dari kelas dua sampai tamat SD. Dan saya berjanji di hati saya jika saya nanti melanjutkan ke SMA atau SMK saya akan belajar sungguh-sungguh agar prestasi saya meningkat dari prestasi SMP dan agar saya bisa menggapai cita-cita saya. Di sekolah pelajaran yang paling saya sukai adalah bahasa Inggris dan matematika. Saya di kasih uang jajan sekolah Rp 3.000 uang itu saya belanjakan Rp 2.000 dan sisanya 1.000 saya tabung untuk saya belikan alat pelajaran .

Saya pulang sekolah jam 2 sore. Di perjalanan pulang pada musim hujan saya sering kehujanan dan pada musim panas saya sering kepanasan. Tetapi hati saya tidak pernah putus asa di dalam menuntut ilmu pengetahuan dan saya selalu semangat menuntut ilmu pengetahuan agar saya bisa mencapai cita-cita yang saya inginkan. Cita-cita saya ingin kuliah ke luar negeri di Jerman.

Sepulang sekolah saya selalu membantu orang tua saya seperti menyabit, mencari kayu bakar, mengambil air dan membantu ayah bertani. Ladang ayah saya berada di balik bukit Penyalin Belandingan. Jaraknya jauh untuk sampai di ladang saya harus naik dan turun bukit. Selesai menyabit biasanya saya mengambil air di bak air Punggite atau di bak air Yeh Sau belandingan khususnya saat musim panas karena di rumah saya tidak ada bak air. Jarak antara rumah saya dengan bak air sangat jauh memerlukan waktu 1 jam kadang-kadang saya sampai kemalaman mengambil air karena disana saya sering mengantre karena banyak orang mengambil air ada yang membawa sepeda motor dan ada yang jalan kaki. Saya mengambil air dengan memikul jeriken dan saya jalan kaki.

Saat malam saya selalu belajar dengan adik saya sesekali saya pergi ke rumah teman saya yang bernama I nyoman Sepandi untuk belajar bersama.

Ayah saya tiap hari berkerja sebagai petani dan ngadas (memelihara) sapi orang lain. Di ladang saya ada 4 sapi. Hasil ngadas sapi kami nikmati setiap satu atau dua tahun sekali. Itupun hasilnya tak seberapa. Ayah saya tidak punya ladang dan tidak punya kebun tetapi ayah saya masih bisa bertani dan masih bisa berladang dengan meminjam kebun dan ladang orang lain. Sekarang ladang itu sudah di tagih oleh orang yang punya. Dan sekarang tinggal kebun pinjaman saja. Selain itu ayah saya juga sering berburuh untuk menapkahi keluarga saya dan untuk menyesekolahkan saya dan adik saya.

Ibu saya bekerja sebagai buruh tani di desa Songan dengan mendapatkan uang Rp 35.000. uang itu digunakan untuk beli beras, sayur-sayuran dan di berikan kepada saya dan juga adik saya Rp1000. Jika uang itu habis di belikan beras dan sayur-sayuran maka saya dan adik saya tidak dapat uang jajan.tetapi saya dan adik saya tidak marah.

Sekian cerita tentang kehidupan keluarga saya dan cita-cita saya. Jika ada kesalahan mohon dimaapkan.



Nama penulis
I Nyoman Puspasena
Desa Belandingan

love,
pande
belandingan, jan 20
tx god once again for the chance beeing here with them...
8:13 AM

Kartupos dari Surga: Untuk Ibu Moeryati Sudibyo

ni wayan ambarwati

kami kirim note ini untuk ibu Moeryati Soedibyo -ketua Yayasan Puteri Indonesia
bersiaplah bu, kelak salah satu dari kami akan mengambil gelar Puteri Indonesia itu.

-ni wayan ambarwati & ni made sukerti


bayangkan, jika gadis-gadis kecil ini duduk di jok mobil Jazz ber-AC, baru pulang creambath, mandi lulur, pedicure, manicure di salon (dan jika anak ini telah tumbuh dewasa), kalian tak kan pernah sangka ini anak-anak alam kami.
ni made sukerti

namun sepertinya itu hanya cerita fiksi saja. mari kita kembali ke jalan yang benar -realita. Nama anak-anak ini adalah Ni Wayan Ambarwati dan Ni Made Sukerti. Ambar, setiap bertemu jarang sekali bisa keluar satu kata. Sukerti tak lepas dari hidungnya selalu keluar ingus, dan hidungnya tampak meradang. adik kecilnya tak jauh berbeda, meradang karena luka di bagian mata. (walau kecantikan anak-anak ini tak kan pernah pudar)

ambar dan sukerti adalah anak dari pasangan I made desel dan ni luh maker. ayahnya hanya bekerja menyabit rumput untuk seekor sapi yang ia pelihara di bubung taum-taum, sedangkan ibunya saban hari bekerja sebagai buruh tani di desa songan.

dalam kunjunganku ke rumahnya malam ini, aku bisa mengorek isi hati dan pikiran anak cantik ini. Seperti sebagian besar anak-anak yang telah tamat SD, cita-cita ambar adalah 'mutbutin bet bawang' a.k.a bekerja mencabuti rumput bawang, menjadi buruh tani seperti ibunya. sekolah jelas-jelas adalah sesuatu yang tak penting baginya. namun, ketika aku mencoba memberi gambaran bahwa dengan bersekolah nanti ia bisa memiliki masa depan yang lebih baik, setidaknya menjadi kasir di mini market, atau menjadi waiteress di restoran, atau bahkan memiliki warung, ia berubah pikiran. Ia memilih untuk sekolah salon atau memiliki warung. (hah,.. setidaknya ia masih ingin sekolah.)

saat itu, tahun lalu aku duduk di arda chandra art center denpasar untuk menghadiri final pemilihan puteri bali. pemenang Puteri Bali Kala itu adalah anak seorang pengusaha dan pejabat. Kelak kita taklukkan panggung itu Nak!


ambar, sukerti dan adiknya
ambar, sukerti, ibu dan adik kecilnya
ambar, sukerti, bapak dan adiknya


love,
pande
belandingan, jan14
kakak senang kalian masih percaya sekolah...