5:02 AM

Green Camp III 'Green camp di sebuah tempat terindah di bumi' (Day 1)




dan kami tahu anda bosan dijejali rasa yang sama...
SID

Day 1 (pagi-sore)


Hari ini aku harus mengakui bahwa Green Camp telah menjadi salah satu kegiatan favorit kami. Sebuah kegiatan yang membuat kami semua bisa bermain, belajar, bernyanyi bersama-sama berada di alam di sebuah ‘tempat yang tak tercatat dalam peta’ desa Belandingan, di atas kaldera danau batur. Barangkali hanya saat Green Camp, Berbagi dan Menginspirasi, dan Rumah Baca Anak Alam lah kegiatan kami yang memungkinkan kita untuk berada disini bersama-sama lebih lama. Dan hanya Green Camp yang memungkinkan kita untuk menjelajah alam indah ini seperti hari ini.

Sejenak menengok lagi ke belakang, setiap camp telah memberikan pengalaman dan kesan yang berbeda-beda kepada kami. Saat Camp I bersama geng lebay piranha, kawan-kawan anak alam yang solid dan ‘passionate’ dengan banyak permainan yang kita lakukan bersama anak-anak yang sangat mereka sukai. Dan dalam Camp ini pula kita berkesempatan membuat api unggun di pinggir danau hingga pagi dan berkeliling danau batur sisi utara dengan jukung.

Kemudian Camp II dimana genggonk yang kali itu ikut berbagi selama dua hari dan sekaligus memberikan banyak sumbangan tas, peta dunia, paket alat tulis dan tentu pelajaran tentang kesehatan untuk anak-anak di SDN Belandingan. Dan kebetulan pohon lengkeng di basecamp sedang berbuah jadi kita bisa berpesta legkeng hingga mabuk. :) Dengan ’passion’ yang juga tak diragukan lagi.

Dan kini ini Green Camp III, ada sesuatu yang berbeda?

Sabtu pagi ini semua kawan-kawan yang ikut Camp sumringah, khususnya bagi Nia, Widhi, Febri dan tentu Radha dan Tom, karena ini adalah pengalaman Camp mereka yang pertama kali dan tentu juga kunjungan mereka untuk bertemu anak-anak yang pertama kali juga. Sementara beberapa kawan yang lain yang telah mengkonfirmasi keikut sertaan mereka sebelumnya akhirnya berhalangan karena alasan tak diizinkan oleh pacar. Gpp, seperti biasa. Semesta telah mendesain semuanya.

Aku harus berucap syukur yang kesekian puluh atau bahkan ratus kali kepada IA (kau sebut apapaun ia yang menciptaku dan bumi ini.) Karena hingga kini semua kegiatan kami terbebas dari hujan dan begitu juga pagi ini. Sebelumnya waktu pramugari garuda itu ‘terbang’ dengan pick up kami padahal di Denpasar mendung, tapi sehari perjalanan kami bebas hujan. Dan pagi ini cuaca di denpasar dan bilangan Renon cerah!

Kebetulan hanya Nia dan Radha sebelumnya telah ikut beberapa kegiatan Anak Alam terkahir bertemu dengan anak-anak alam tunon Singakerta Ubud, tapi kali ini, ini adalah anak-anak alam ‘betulan’ mereka yang minum air hujan. Mereka yang ke sekolah pakai sandal jepit. Mereka yang tak punya tas. Mereka yang tak pernah mandi. Anak-anak alam desa Belandingan.

Tepat jam 9 pagi, Febri, Nia dan ada juga Eka Dewi -yang kali ini tak berkesempatan hadir namun menyempatkan diri bersua dengan kawan-kawan dan membawa sumbangan pakaian bekas dalam tas kresek untuk dikirimkan ke Belandingan-, telah berkumpul di Warung Be Pasih. Sementara aku datang sedikit terlambat karena disibukkan oleh urusan per-burung-an di pasar burung satria, membeli burung tekukur untuk nanti kita lepas di pinggir danau batur bersama-sama. Kemudian selang 15 menit tampak Mbak Dewi Utari datang mengunjungi kami (n.b. ia sendiri adalah pemilik Warung Be Pasih hehe...) Hingga dekat jam 10:00 tinggal Rani yang belum hadir karena masih ada urusan tiket untuk kembali ke Jakarta keesokan harinya.

Kita memutuskan untuk berangkat duluan, sementara semua barang-barang kita tinggal untuk diangkut oleh mobil Rani. Dengan konvoi sepeda motor – catat: sepeda motor / bukan mobil – kali ini kita memilih untuk melewati jalan payangan saja. Dalam kegiatan sosial seperti ini kita tetap kerja tanpa mobil dinas, kan? Kami bukan anak mami.

Nah, barangkali karena Nia memiliki bobot badan ’overweight’ hehe... (tapi manis kok Nia cup..cup..cup...) dan ditambah Widhi yang boncengan bersamanya memiliki tambahan berat ’banyak dosa’ motor mereka kempes di daerah Singakerta. Namun barangkali karena kita akan berangkat untuk kerja sosial, maka ujiannya diringankan, motornya Nia kempes persis di depan tukang tambal ban. Dan kebetulan juga di sebelah bengkel itu ada warung nasi. Maka kesempatan ini aku gunakan untuk beli nasi saja, sarapan pagi.

Segera setelah semua motor siap dan perutku juga terisi kami melanjutkan perjalanan hingga jam 12 kita sampai di Basecamp anak alam. Tentu ada yang tak boleh dilewatkan sebelum tiba di basecamp, setidaknya 1 kali photo session di salah satu spot favoritku. Dan inilah aksi ’terbang’ mereka. Klik!



Tiba terlambat di basecamp, mengurangi waktu kami untuk berleha-leha. Hanya sempat meneguk teh botol Sosro dan kue-kue kecil, dan segera berbagi kamar di basecamp, kami bergegas melanjutkan perjalanan kami menuju belandingan.

Persis di jalanan tanjakan pertama meunuju bubung pegat, HP-ku berdering. Ternyata Bli Kodrat Bunute menelepon dan menyampaikan bahwa ia telah sampai di belandingan dan tentu ia was-was karena melihat di wantilan tak ada kami, ”De, kamu dimana? barangkali saja saya salah jadwal?” pikirnya. Dan aku beritahu bahwa kami akan segera sampai tak lebih dari 5 menit, ia kembali tenang dan semangatnya kembali bulat untuk membagikan 100 pax makanan nasi kotak yang di dalamnya telah berisi chicken nugget, makanan termewah bagi anak-anak alamku. Tentu juga Aqua gelas, lupakan air hujan hari ini, Nak!

Dan inilah teman, inilah yang kami tunggu-tunggu, tikungan terakhir di balik rerimbun bambu dekat wantilan. Adrenalinku naik. Aku segera berdiri dan mengepalkan tangan sambil mengendarai sepeda motorku, sementara febri yang aku bonceng pasrah aja. Ketika motor kami lewat di jalan sebelah wantilan, mereka semua berteriak lantang! ’Hiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!’ Dan aku membalasnya sambil mengepalkan tangan dengan teriakan kencang ’yeaaaaaaa................! haloooo........!” fiuh... you rock kids!

(Inilah bahan bakar rahasiaku selama ini, teriakan anak-anak ini. Ia telah menjadi doping selain latar alam yang cantik yang mengelilingin belandingan.)

Aku segera menghampiri Bli Kodrat dan bersalaman dengannya, dan juga kawan-kawannya yang lain, dan aku memperkenalkan kawan-kawan anak alam yang ikut serta hari itu: Nia, Radha, Febri, Widhi, Tom. Dan bergegas aku menyuruh anak-anak untuk membantu Bli Kodrat menurunkan nasi kotaknya, beserta sumbangan dari teman-temannya dari komunitas VW Jakarta yang ikut serta hari itu, menyumbangkan beras, mie, pakaian bekas dan alat-alat tulis. Anak-anak berlarian menuju ketiga mobil aneh yang parkir di depan wantilan siang itu.

Setelah sebelumnya kita kedatangan ’si kodok’ yang disopiri oleh 2 orang cewek cakep dari semarang waktu 14 Februari ulang tahun Anak Alam, kini kita kedatangan saudara kandungnya yaitu VW SAFARI dan 2 COMBI. Anak-anak tak terlalu antusias dengan mobil aneh ini, tapi tidak bagi aku. Mobil SAFARI warna jingga itu adalah mobil impianku. :)

Seperti biasa, kami mulai ’bakar’ semangat semua orang yang hadir di wantilan siang itu dengan lagu wajib kami: Anak Alam ’... duhai kawan semua anak alam desa belandingan, mari kita sama-sama bernyanyi sambil bergoyang, agar hidup senang, gembira, bahagia....’ ketika tiba pada bait ’o anak alam janganlah kita malas, malas itu tak ada gunanya, mendingan kita rajin belajar!’ mereka berteriak semakin kencang.

Semangat mereka sama sejak dulu hingga kini, walau terkadang ada juga waktunya turun dan aku harus memutar otak untuk menaikkannya lagi.

Tak lama berselang Rani datang bersama Gusde, Gustu, dan 2 orang kawannya tentu satu kardus besar dan beberapa kardus lain sumbangan dari kawan-kawan kerjanya di Energy Consulting Indonesia jakarta yang ia bawa dengan pesawat. (Aku harus memberi penghargaan setinggi-tingginya atas semua semangatnya hingga harus menerbangkan baju bekas ini ke Bali, sementara sebagian besar kawan-kawan kita di Bali banyak yang hanya menjadi penonton saja walaupun mereka saban bulan bisa beli baju seharga ratusan ribu. Cih... )

Pembagian makanan siang itu berjalan tertib. Seperti biasa anak-anak alam telah terlatih tertib sejak awal. Namun ada yang tampak ganjil ketika mereka selesai makan dan membuang bungkus nasi itu bertumpukan, tampak sosis dan chicken nugget itu mereka tak makan dan mereka buang. Aku berpikir sejenak, apa yang aneh dengan makanan ini? Ternyata mereka lebih merasa bahagia mendapatkan nasi daripada chicken nugget. Perkiraanku di awal meleset. (oke, ini akan jadi koreksi kami. Hehe..)

Setelah kenyang, kita bermain dan bernyanyi lagi. Namun, berhubung Rani dan Bli Kodrat dan kawan-kawannya tak bisa ikut menginap dan hanya memiliki waktu hari itu saja bersama kami, maka sore itu kami melepas mereka kembali ke Denpasar dan Ubud bersama-sama. Dengan sebelumnya kita membagikan bantuan mereka bersama-sama di depan wantilan, sementara bantuan pakaian beas layak pakai masih harus kami sortir kembali.

Rani menyempatkan diri memberi pesan kepada anak-ana itu sebelum kembali pulang untuk rajin belajar dan salam perpisahan sekaligus keinginan untuk bertemu segera di kemudian hari. Dan ia beserta robongan segera menghidupkan mobil avanza hitamnya dibalas lambaian tangan anak-anak alam.

”Semangat belajar ya,....” bli kodrat menyusul mengacungkan tangan dari VW safari jingganya, sembari berlalu dengan pelan meninggalkan wantilan yang dibalas salam oleh semua anak-anak alam. (Aku sangat suka dengan foto yang kita ambil saat ia dan anak-anak saling mengepalkan tangan. Sebuah footage berharga kami.)



Hari sudah menuju jam 3 sore, khusus untuk Camp III kali ini kami memang tambahkan beberapa kegiatan baru satu diantaranya adalah melihat ladang anak-anak di balik bukit. Aku memilih bubung Batu Barak, ladang milik Made ratih untuk dikunjungi. Ada alasan khusus aku mengunjungi ladang Made Ratih, karena jalan melintasi ladang itu telah membuatku takjub beberapa kali sebelumnya.


Semua kawan-kawan peserta camp berbaur dan merasakan semangat dan kegembiraan anak-anak. Keseharian anak-anak. Alam indah milik anak-anak itu (note: 100% NOT FOR SALE! Dan jangan pernah mimpi loe f*cking st*pid investor untuk membeli alam ini, menanam beton, mencerabut pohon cemara ini. TIDAKKAH KAU MERASA CUKUP MEMAGARI PANTAI DREMLAND, SEMAWANG, TANAH LOT, BUYAN, SANUR, dll.!?)

Di puncak bubung aku bersua dengan seorang anak kecil yang baru kali ini aku temui yang belakangan aku berkenalan dengannya, ia adalah Kari Samiasih anak kelas 6 SD 1 Songan, beserta kakk, adik, ayah dan ibunya menenteng keranjang rumput bersiap untuk menyabit rumput di sekeliling bubung. Aku mendekati mereka dan menyempatkan diri untuk bertanya tentang sekolah anak yang aku kira- laki-laki ini yang ternyata perempuan tulen.


Ia kini telah tamat SD dan tak diizinkan melanjutkan sekolah ke SMP oleh ayahnya karena harus membantu ayahnya untuk menyabit. Dengan banyak sekali usaha, tentunya akan aku carikan beasiswa dari Program Beasiswa Anak Alam ayahnya luluh dan bahkan berbalik bersemangat. Ya, faktor ekonomi keluarga telah menjadi pengendala terbesar bagi 3000 anak-anak alam kami untuk melanjutkan sekolahnya selama ini. Dimana mereka diharuskan membantu orang tuanya untuk menyabit, menyangkul atau menjadi buruh tani membersihkan gulma di ladang bawang di perkebunan milik warga desa Songan di pinggir danau.

Jam 5 sore kami memutuskan untuk pulang, walau kami belum sempat sampai hingga ke ladang Made ratih yang harus menuruni balik bukit lagi, karena kawan-kawan kita ingin mandi air hangat alami di Toya Bungkah sore ini. lagi pula dari puncak bubung ini mereka sudah tahu keadaan ladang-ladang, anak-anak, dan setidaknya memiliki gambaran kehidupan mereka sehari-hari.

“Nak, sampai bertemu nanti malam!” kami ber enam melambaikan tangan dan kembali ke basecamp dengan 3 sepeda motor kami. Kawan-kawan menyimpan sesungging senyum dan wajah lelah namun cerah.

bersambung…

0 comments:

Post a Comment