12:35 AM

Melongok Desa Belandingan Bersama Komunitas Anak Alam (DENPOST, Minggu 16/5/2010 hal.3)





Untuk sebuah tempat wisata dengan predikat ‘pulau wisata terbaik di dunia’ tentu hal ini adalah sesuatu yang mengejutkan. Ribuan anak-anak seumuran sekolah dasar yang tinggal di pelosok-pelosok pulau Bali tak pernah melihat Bali mereka dan tak melanjutkan sekolah. Tak luput juga 3000-an anak yang tinggal di kaldera danau batur.

Mentari pagi di desa Belandingan selalu memberi hangat yang berbeda bagi beberapa orang anak muda ini yang tergabung dalam Komunitas Anak Alam. Belandingan adalah salah satu desa paling terpencil dan adalah desa yang secara ekonomi, pendidikan dan kesehatan paling terkebelakang dibandingkan desa-desa yang mengitari kaldera danau batur. Namun hal ini sedikit memberi keuntungan, alam dan kehidupan disini masih terasa asri dan damai.

Komunitas Anak Alam didirikan oleh Pande Putu Setiawan seorang anak muda Bali yang unik dan nyentrik. Pande sendiri adalah lulusan Sekolah Pascasarjana UGM dan berkesempatan studi ke Kanada dalam sebuah pertukaran mahasiswa. Namun, diantara ribuan lulusan (bahkan S2) barangkali baru Pande lah yang berani berkantor di ’hutan’ dengan meja kerja keranjang rumput tanpa penghargaan status sosial dan gaji pemerintah. Ketika aku tanya perihal itu ia tersenyum dan menjawab ”Hidup adalah pilihan, bukan kesempatan. Lagipula ilmu pengetahuan sejatinya bukanlah alat untuk memenuhi hasrat pribadi, namun kemajuan sosial.”

Sabtu lalu Komunitas Anak Alam melaksanakan kegiatan Green Camp nya yang ketiga. Green Camp sendiri adalah sebuah kerja sosial untuk anak muda dimana mereka mengajar, bermain, bernyanyi dan tentu menginap di desa Belandingan. Dan keesokan harinya disusul oleh kegiatan pengembangan karakter dan kepemimpinan pemuda di alam dengan menjelajah alam.

Dan dalam Green Camp kali ini pula adalah sebuah sejarah tersendiri bagi Komunitas Anak Alam. Dengan koordinator Dewi Utari dan pendanaan mandiri dari Kawan-Kawan Anak Alam , mereka telah memiliki dan memberikan beasiswa bagi 11 orang anak dari 3000-an anak dengan masing-masing orang mendapatkan beasiswa sebesar Rp. 100.000. Program ini pun adalah sebuah program orang tua asuh, dimana para ’orang tua asuh’ ini akan mendapatkan laporan bulanan tentang anak asuhnya maupun kegiatan Komunitas Anak Alam yang lain.

Kegiatan Green Camp itu ditutup dengan pelepasan burung tekukur di pesisir utara danau batur. "Ini hanya sebuah pesan bahwa kedamaian itu indah. Alam yang lestari tanpa terlalu banyak hiasan tangan manusia itu indah. Dan kami juga ingin kelak anak-anak kami itu bisa merentangkan sayap seperti burung-burung yang terbang bebas itu. Bahwasanya ada dunia di luar sana untuk ditaklukkan selain ladang dan sapi-sapi mereka di bebukitan!" pungkas Pande.

~

terimakasih bli komang Sutrisna untuk termuatnya artikel ini.

salam/pande

3 comments:

anggaramahendra said...

kalo bahasa di facebook "LIKE THIS" sambil mengacungkan jempol keatas dan senyum menawan ala Anggara Mahendra.. haha...

Senangnya bisa masuk koran, *punggungku dan pantat nia yang aduhai... haha!*

Semoga dengan ini bisa jadi satu langkah kedepan untuk "awareness" orang mampu lainnya di berbagai daerah... :)

Pande Putu Setiawan said...

: we are the 'HISTORY MAKERS' not the history witnesses. mari tinggalkan jejak-jejak pikiran dan cinta kita di bumi yang kita pinjam dari anak-anak kita ini. mereka lahir untuk melihat bumi yang indah bukan melihat mobil, hotel, lapangan golf, resort. bumi terlalu indah untuk dirusak.

:) P

arizona-bali said...

Saudara Putu,
Saya sangat terkesan atas usaha yang tidak kenal lelah. Andai saja setiap manusia di bumi ini memiliki kesadaran sosial seperti Bli Putu, saya yakin kita akan mendapatkan Pengalaman Surga di bumi ini. Saya pernah ke Belandingan dengan spd motor dari Pura Bukit penulisan, menuju Pura Balingkang terus tembus ke Belandingan dan melewati jalan setapak kemudian tembus di samping Pura Ulundanu. Perjalanan sangat menyentuh dan saya ingat dan nyanyikan Lagu Ebiet G Ade dalam hati :"Perjalanan ini terasa sangat Menyedihkan..Sayang engkau tak duduk disampingku Kawan...Banyak cerita yang mestinya kau saksikan , di tanah kering bebatuan..." dan pada akhir syair lagu itu kita disuruh menanyakan jawabnya pada rumput yang bergoyang. Yah rumput meskipun kering atau hujan dia tetap hidup. Meskipun dia sering diinjak2 namun dia memberikan kesejukan yang hijau. Sebagai saksi hidup yang membisu . Selamat dan terus berusaha ! Bila ada kesempatan saya akan sempatkan untuk ke sana melihat aktifitas bli Putu. Kalo boleh rek BCA yg bisa untuk donasi Program ANAK ALAM, mudah2an Tuhan Memberkati kita semua.

Post a Comment