2:41 AM

GREEN CAMP III day 1. malam hari. ada 1000 bintang. ada 100 anak-anak.




if we hold on together...


Day 1 (Malam Hari)


Kami tak jadi mandi di Toya bungkah sore itu, ternyata waktu tampak seperti berlari, kami tiba di basecamp jam 6 sore sementara kami janji untuk kembali lagi ke belandingan jam 7. 1 jam untuk mandi ke Toya Bungkah rasanya kurang waktu. Dan ternyata, bagaimana juga mau mandi di Toya Bungkah sementara permandian itu adalah permandian umum, yang saban sore dipenuhi orang, dan para cewek-cewek ini nggak bawa ‘maaf’ pakaian dalam ganti?

Hem… ya tak ada pilihan kali ini kita semua mandi di basecamp saja. Dan pilihan ini bukanlah pilihan yang salah, karena selama ini toh kami mandi di basecamp juga, kebetulan saja kali ini kami ingin mencoba suasana baru. Dan sekali lagi kami harus mandi air dingin atau lebih seperti air es saking dinginnya, melupakan air hangat ala natural spring Toya Bungkah. Di basecamp sendiri ada 2 kamar mandi, jadi kami berenam antri, dan Tom ternyata lebih malas dari aku. Aku pikir aku pasti yang paling malas? Hehe…

Mandi lumayan merubah pemandangan dalam wajah kawan-kawan. Setelah mandi semuanya tampak cantik-cantik lagi, (memang tadi nggak ya..??).

Makan malam telah disiapkan oleh pembantu ibuku, makanan spesial nasi dengan lauk ikan mujair sambal pedas ala danau batur. Ummm.. yummy….

Jam 7 kami kembali ke belandingan, sementara anak-anak sudah menunggu kami berkerumun di depan wantilan. Tiba di wantilan malam itu, wantilan tampak gelap. Ternyata lampu di wantilan mati dan anak-anak tampak kecewa, bukan kecewa kepada kami, tapi kecewa kepada diri mereka sendiri, orang-orang tua di kampung yang tak menyiapkan wantilan yang berlampu kepada kami. Mereka semua memutar akal, tentu kami juga memutar otak. Aha, ada ide. Aku teringat saat baca puisi di tengah lingkaran waktu tahun baru. Kini akan aku coba lagi.

Petikan cerita ’seorang anak yang memiliki peternakan sapi dengan 1000 ekor sapinya’ itu adalah hasilnya. Aku rasa dari diam dan seksamanya mereka mendengarkan ceritahu, dari ’api’ yang bahkan keluar dari kata-kata di bibirku hingga asap keluar dari kupingku, mereka semua terpantik. Bermimpi. Hanya itu.

Dan Patra salah satu pemuda kampung yang selama ini sering membantu kami mengambil inisiatif, mencarikan lampu neon, dan akhirnya setelah akal-akalan di atas –dan berhasil- kami memutuskan untuk kembali saja ke wantilan setelah Patra berhasil menerangi wantilan dengan lampu neonnya. (terimakasih banyak Patra.)



Malam baru saja beranjak, waktu masih jam 8. Masih ada 1 jam lagi untuk kami bermain, tentu kami masih menunggu Mbak Yuli yang hari itu juga konfirmasi untuk hadir dan kebetulan baru saja dia ngirim SMS sedang dalam perjalanan, baru turun di penelokan.

Kali ini Tom mengambil peran dan menampilkan penampilan terbaik kawan anak alam malam itu. Sebuah drama kecil tentang pelajaran bahwa kita tak boleh berbohong. Empat orang putri yang diperankan oleh Radha, Febri, Nia dan Widhi, sementara seorang pangeran dari Belandingan dengan pemeran Puspasena. Aha,.. pas. Kebetulan juga puspasena sudah terlatih untuk berakting, dan ia juga yang jadi talent anak belandingan saat shooting acara Homestay Trans 7 waktu lalu, drama malam itu sungguh penampilan yang cemerlang.



”Kok gerah ya,.... mandi yuuk......” salah satu putri mengajak puteri-puteri yang lain untuk mandi di danau.
"Yuuukkkkkkkkkkkk....." yang lain menjawab serempak.
Widhi, Radha, Nia dan Febri ternyata jago akting. Ditambah sutradara Tom, drama mereka menjadi sangat menarik.
Dan ketika putri-putri ini pulang mandi, ternyata salah satu dari mereka meninggalkan selendangnya di danau.
Begitulah seterusnya hingga akhirnya Puspasena 'beruntung' mendapatkan puteri yang salah ’yang mengakui selendang yang bukan miliknya’ putri yang ’overweight’ hehe....

(sekali lagi salut buat penampilan kalian.)

Dan setelah penampilan dari kawan-kawan, anak-anak juga tak mau kalah menampilkan dramanya. judulnya 'demo' mmmmm... (terlalu kreatif hehe...) mereka memerankan calon bupati dan wakil bupati yang sedang orasi di depan massanya. dak akhirnya yang kalah tak terima, lalu mendemo yang menang! (baru sadar mereka melek politik). dan sebagai hadiah, mereka semua masing-masing membawa pulang satu kantung beras 10 kg sumbangan dari teman bli Kodrat dari VW jakarta.



Dan tepat 15 menit sebelum jam 9, dengan suaraku yang benar-benar mau habis, rombongan mbak yuli datang dengan sumbangan pakaian bekas, buku, beberapa bungkus paket dari Telkomsel, dan sumbangan lain.

Kami bermain lagi 10 menit ini dengan sisa suaraku dan kelelahan kawan-kawan, hingga jam 9 lewat 5 menit kami harus pulang kembali ke basecamp anak alam di songan.

Fiuh, tiba di basecamp malam itu sungguh melegakan. Aku langsung menuju ke dapur dan meneguk secukup air yang aku mau. Nah ternyata kawan-kawan Kaskus kita pada tukang masak termasuk cowok-cowoknya. Di mobil mereka sudah tersedia gas, aqua gallon, sarden, mie, kornet, tentu banyak snack, juga kacang kulit.



Inilah camp yang bertabur makanan, ada juga wingko, dan terlalu banyak untuk aku tulis. Malam itu mbak yuli berinisiatif untuk masak bersama-sama kami di dapur. Sementara 2 orang cowok dari kaskus menjadi Chef-nya. Simsalabim….. indomie, sarden, kornet, dan semua makanan malam itu tersedia. Padahal aku juga punya sup kepala ikan. Mari kawan, kita berpesta!

Jumlah perserta camp yang ada malam ini cukup banyak. Masalahnya tentulah dimana kami semua akan tidur? Kamar yang biasa digunakan oleh peserta camp tentu sudah disi oleh Radha, Febri, Nia dan Widhi. Jadi kami terpaksa menggunakan bale bengong untuk tempat tidur kawan-kawan Kaskus, begitu juga teras bale bali, dan anak-anak alam yang ikut turun gunung tidur di gudang (rumah baca) yang ada tempat tidurnya.



Tinggal aku yang belum memiliki tempat untuk tidur malam itu. Dan sekali lagi ’it’s about leadership’ aku tidur di sebuah tikar di lantai rumah baca menemani anak-anak alam. Mereka sepertinya tengah bermimpi indah, sementara aku kedinginan karena semua selimut telah dipakai. Kali ini aku terpaksa menarik selimut anak-anak biar aku setidaknya bisa menyelimuti kakiku, karena aku telah mengenakan sweater hangat.

Malam ini kita tak jadi membuat api unggun di pinggir danau karena cuaca mulai tampak bergerimis, lagi pula kami cukup kelelahan. dan kami punya pilihan yang lebih baik, makan-makan dan bercerita bersama kawan-kawan di basecamp.

Malam hampir purna. waktunya tidur.
Selamat tidur. Nite! Sepagi mentari, kita bangun, mendekap hangat mentari, trekking!


bersambung...

0 comments:

Post a Comment