7:09 AM

Mimpi Kiud



Mimpi,. Kemauan.... semangat....
Mengapa harus menunda mewujudkannya.....
Dan kini harus MULAI MELANGKAH...

-kiud


Wow! Tak pernah saya membayangkan akan jadi seperti ini. Mimpi yang hanya memberikan beberapa adik-adik di desaku sebuah buku cerita saja kini akan menjadi mimpi yang lebih besar lagi. Saya benar-benar tak pernah menyangka sebelumnya.

Telah sejak beberapa lama setiap hari saya sisihkan beberapa ribu dari uang saku saya untuk memenuhi target di bulan desember. Bulan desember ulang tahun saya yang ke 20.

Sejak saya SMP saya mempunyai mimpi ingin sekali ulang tahun saya dirayakan sekali saja (sebab orang tua tidak pernah merayakan ulang tahun anaknya, selain dengan menyantap nasi goreng dalam 1 nampan bersama). Namun bukanlah perayaan 'party' dengan musik keras dan pakaian gaun dengan biaya berjuta-juta yang akan habis semalam??? Tidak...

Saya ingin konsep berbeda. Awalnya saya ingin membelikan baju untuk adik-adik di desa, namun stelah saya pikirkan lagi. Bulan desember yang identik dengan liburan semester, saya bermimpi memberikan buku kepada adik-adik. Meski 1 namun dengan judul yang berbeda. Dengan demikian mereka bisa saling tukar dan bergiliran membacanya. Cuma sebatas itu saja mimpi saya, yang barangkali saya bisa wujudkan. Sebab kerap kali ibu selalu melarang saya untuk bermimpi yang tidak-tidak.

Pun dengan itu , saya juga ingin memberi contoh kepada teman-teman seumuran saya di kampung untuk tidak sekedar ngobrol-ngobrol di pinggir jalan, main billiard, atau sekedar mempreteli motor dengan biaya jutaan... ( bukan maksud menjelekkan, namun fenomena itulah yang saya lihat di daerah saya, jangankan untuk bertukar pikiran, sekha muda-mudi pun tidak ada.. itu menjadikan kami semakin tidak peduli satu sama lain dan saling menjauh..)

Saya sebagai perempuan, juga ingin mengubah persepsi orang tua yang menganggap anak perempuan setelah SMA pasti akan menikah. Dulu saya berpikir, apa ini yang hasil yang kita dapatkan setelah sekian bayak waktu, biaya dan tenaga kita keluarkan untuk bersekolah dan hanya diakhiri dengan sebuah pernikahan???

Mengapa tidak melakukan hal yang berguna dulu sebelum pergi...?? Orang tua sibuk dengan pekerjaannya.. (yang rata-rata petani dan undagi) sedangkan remaja seumuran saya setelah tamat enggan tuntuk terjun ke sawah. Kecuali di sudah menikah, barulah mereka mau belajar (mewarisi pekerjaan orang tuanya) selain itu dihabiskan dengan diam.. atau sesekali minum-minum..

Saya takut kalau seandainya apa yang mereka kerjakan akan berimbas kepada anak-anak. Betapa tidak, seperti menjelang nyepi kemarin, saya lihat sendiri Anak-anak SD sudah pada ngecat rambut..
Ketika ketemu di kampung pun sudah ada yang tindikan dan merokok..

Sulit memang merubah. Namun pastilah ada cara untuk mencoba itu. Menyadarkan mereka...

Dikenalkan dengan Facebook, akhirnya mengenalkan saya dengan komunitas anak alam. Sering saya bergabung dengan berbagai grup peduli pendidikan di facebook, namun tidak se intens project anak alam: 1 buku untuk 1000 mimpi (yang saya kenal pertama ) dalam memberikan motivasi-motivasi...
Sehingga itu menggugah saya untuk sekedar berkomentar di grup itu...

Saya tidak menyangka, begitu cepat respon, dan mimpi saya yang hanya sebuah buku. Katanya bisa menjadi lebih besar lagi.

Membaca tulisan-tulisan di blog komunitas anak alam membuat saya semakin iri dan tak sabar ikut berbagi senyum pada mereka. Hingga di suatu senin tanpa pernah menduga, dapat bertemu langsung.. Ngobrol.... Dan ternyata memacu semangat saya...

Saya sempat ditanya sama Bli Pande:
“bagaiman kondisi pendidikan di tabanan??”
Saya yang jarang sekali keluar rumah kecuali dengan keluarga, sebenarnya sangat bingung menjawabnya...
Saya yang besar di wilayah tabanan kota ketika ditanya itu, dengan jujur seperti yang saya ketahui pendidikan di tabanan baik-baik saja...

Ketika ditanya apa yang bisa dibantu di daerah tabanan... ??
Saya menjawab "mungkin pemudanya yang perlu di sadarkan..."

Berbekal pertanyaan yang masih ada di benak saya. Saya iseng bertanya dengan orang tua.
(sebenarnya saya takut bilag ikut organisasi dengan orang tua Karena berbagai LSM yang saya coba pasti dilarang. Namun ini berbeda sekali, saya didukung oleh orang tua)

Orang tua saya menyarankan untuk mencari tau tentang kondisi pendidikan di wilayah tabanan pegunungn (wilayah selemadeg ke utara, wilyah gunung sari ) atau wilayah pupuan.

Ketika ditanya lebih detail oleh bapak, saya bilang saja kalau Komunitas Anak Alam perlu membuat rumah baca. Dan saya bertanya lagi.. kira-kira dimana ya yang cocok kita dirikan..??

Saya tak menduga respon bapak..
“coba bapa sudah bangun rumah di kampung, ...”, karena bapakku ternata dari dulu punya impian punya perpustakaan mini. dan ibu pun mendukung ini. semoga dalam waktu dekat ini saya berhasil merayu pak de (paman) tentang tempat untuk rencana mengoperasikan rumah baca.

Mulai setelah ketemu dengan bli pande, mbok nia, dan mbok eka (senin malam) saya lebih gencar lagi mengirim SMS pada temen2 di tabanan, menanyakan daerah yang patut kita sasar. Beberapa dari mereka memberi jawaban yang sama di sekitar selemadeg atau pupuan, juga wilayah baturiti, dan penebel, atau bagian kerambitan pedalaman, saya masih terus mencari informasi untuk itu.

Sambil pulang ke kampung, sambil ngobrol-ngobrol di warung dengan bapak2 disana, saya mendapat rekomendari tempat sekitar wilayah selemadeg.

Ketika mereka bertanya tentang program-program yang ada di komunitas anak alam, saya menjelaskan sebisanya, dan mereka tertarik sekali dengan apa yang saya sampaikan, terutama rumah baca, dan beasiswa.

Seorang dari mereka bertanya:
"Apa bikin rumah baca itu harus dirumah ya..??
Saya yang tidak tau apa2 menjawab sebisanya, "seperti di wilayah bangli.. itu memang ada yang mau menyumbangkan tempat..."

Mereka bertanya lagi:
"Apa tidak bisa bekerja sama dengan adat..??"
Wah ternyata bapak-bapak di kampung juga antusias terhadap kegiatan ini...

Selain itu, bapak-bapak itu juga memberikan informasi kepada saya. Kalau setiap liburan kenaikan, masing-masing banjar biasanya mengadkan pesraman untuk mengisi waktu liburan anak-anak.

Dengan info itu. Saya kemudian memiliki ide bagaimana kalau kita terjun juga pada waktu liburan sambil sedikit berbagi ilmu pada mereka. Benar yang dikatakan kak nia. setiap niat baik, pasti ada jalan.

Sore hari setibanya saya dari denpasar saya selalu menyempatkan diri ke perpustakaan Umum daerah Tabanan. (Letaknya di Belakang kantor bupati tabanan) hampir setiap miinggu saya dapat saja kesempatan untuk main-main kesana.

Perpustakaan umum di tabanan memang ada. Namun jarang sekali anak-anak SD yang melancong kesana. Paling hanya anak-anak SMP 2 tabanan, SMP 3 Tabanan atau SD 6 Delod peken yang ada di areal itu. Koleksi buku-buku yang kebanyakan lama. (meski sekarang sejak 2 bulan terakhir telah banyak buku-buku baru) namun karena kurang sosialisasi perpus pun kadang digunakan sebagai tempat pacaran .. ironis sekali..

sambil meminjam 3 buah buku, saya sedikit mengobrol dengan petugas disana tentang pengunjung perpustakaan, hingga mobil keliling, bapak itu membenarkan kalau kebanyakan anak-anak SD jarang yang ke perpustakaan, meski katanya sudah dibuatkan kartu perpustakaan dari sekolahnya secara gratis.. namun jarang yang memanfaatkannya...

prihal mobil perpustakaan keliling itu, perpustakaan tabanan hanya memiliki 1 buah mobil perpustakaan keliling dan itu biasanya beroprasi skatanya setiap hari.ke daerah-daerah.. (bapak itu tampak sedang mengingat-ingat)

Itu baru sedikit informasi yang dapat saya himpun dari Tabanan. saya dan teman-teman di Tabanan.. juga masih menghimpun informasi-informasi karena sejatinya kami belum mengetahui pasti tantang daerah2 pelosok di tabanan yang kondisinya kira-kira hampir mirip dengan di Blandingan.

Hehehhee.... Saya juga begitu kagum dengan teman saya di tabanan, juga di kampus yang juga semangat membatu adik-adik...
Terima kasih.....

Mereka (anak-anak itu.. ) mendorong saya untuk lebih berani....

^^

saya tidak bisa menulis.. tanpa bisa puitis...
jadi semoga saja mengerti maksud saya...


Penulis:
Ayu Kartika Kiud (19)
koordinator komunitas anak alam distrik tabanan bali


note:
dear Ayu Kartika Kiud. Kau telah menunjukkan apa yang tak kau bicarakan dalam pertemuan itu yang kau pendam. kau pantas mendapatkan penghargaan tertinggi dari kami. _Pande

0 comments:

Post a Comment